Skip to main content
Ilustrasi: Robertus Risky / Project Arek
Arek Bercerita
Belitan Hayat
“Lihatlah wajahku, aku tidak pernah mencuri sajadah, tapi mereka tetap menuduh. Lihatlah pakaianku, meski awut-awutan begini aku tidak pernah mencuri apa-apa di gereja. Mereka selalu menggeledah tasku di pintu masuk. Apa yang mereka cari, aku bingung. Dasar penuduh. Mereka pikir aku teroris? Minta kopi!” Kuberikan padanya segelas kopi yang sudah setengah dingin.

“Aku tidak gila,” tegasnya, “Tidak bolehkah aku masuk ke Tumah Abedah buat tidur, nyanyi-nyanyi, atau makan kacang rebus?”

Tiba-tiba saja orang itu melaporkan keadaan malangnya padaku. Aku belum yakin apakah dia orang sinting. Baju dan celananya compang-camping, tetapi bicaranya lancar. Temanku juga dandan laksana orang gila, tapi dia waras. Ia mendaku dirinya adalah seniman kutang putih. Ajaibnya hanya keluarganya yang memercayai bahwa ia adalah seniman sebab bagi banyak orang bicaranya tidak pernah masuk akal.

“Manis, kopimu terlalu manis.” katanya setelah mencucup habis kopiku. “Bagi rokok! Mana, mana?”

“Sudah-sudah, pergilah, dan ceritakan itu pada orang lain. Aku sedang tidak mau diganggu.” Aku mulai merasa kesal dengannya. Ia tetap berjongkok sambil memutar-mutar bola mata.

“Dengarkan,” bisiknya, “Aku suka Tumah Abedah; dalamnya sejuk-orangnya busuk.” Ia memperkeras suaranya saat menyebut kata “sejuk” dan “busuk”. Sorot mata pengguna jalan mengarah ke kami penuh canda.

“Namaku Limbung Jata,” ia memperkenalkan diri. “Asalku tidak dari sini tapi dari Kolong Cempaka. Jangan beritahu yang lain. Ini rahasia kita.”

Ia pura-pura berpikir sebentar dan lama menggaruk dada, serta menutup kilau matahari yang mempesona matanya menggunakan tangan kanan.

Daerah asal yang Limbung Jata sebut bukan karangan belaka. Kolong Cempaka letaknya di puncak daratan tinggi di selatan daerah sini. Tentang namanya aku sangsi jika itu adalah nama yang sebenarnya, sebab terlalu gagah untuk orang seperti dia. Nama itu cocoknya disematkan pada punggung seorang seniman—tentunya yang waras, seperti temanku si kutang putih, seorang seniman yang kadang bepergian tanpa sehelai serat katun pun mengandangi kemaluannya.

Di Seberang jalan, tak jauh dariku duduk, seorang pemuda sedang memikul dagangannya. Limbung Jata bergaya seolah mengenalinya. Namun aku tak percaya sama sekali dengan perangai lidahnya.

“Itu Subakan, bekas orang gila. Jatuh miskin jadi gila. Rumahnya jauh. Sekarang waras, syukurlah. Bagus-bagus.”

Kuhela nafas penuh kesabaran. “Kau kenal dengannya?”

Pria sinting itu memandang Subakan lama. “Kau tidak perlu tahu soal itu. Itu urusanku dengan Subakan dan Garcia dari Argentina.”

Kubasuh keringatku dengan sapu tangan. Aku tunjukan padanya rasa geram yang sudah mencapai ubun-ubun.

“Garcia, ya? Si gelandang bertahan itu,” sahutku.

“Salah. Dia itu pelatih,” jawabnya penuh keyakinan.

“Oh, pelatih apa?” tanyaku kembali meraih nafas panjang.

“Ya, pelatih lempar lembing—masak orang Argentina melatih catur.”

Barangkali baginya olahraga lempar lembing memang terdapat posisi gelandang bertahan. Aku kurang mengerti dunia olahraga selain sepak bola. Posisi yang aku gemari adalah posisi almarhum Kobe Bryant sebagai gelandang serang. Sungguh, aku tidak sedang melantur seperti Limbung Jata. Kobe Bryant memang pemain inti di klubnya, FC Copenhagen.

“Aku mau berlari-lari menggoda Subakan ah. Aku akan mencuri buah mangganya.” Limbung Jata menyeberang jalan tanpa aba-aba berniat mengganggu Subakan yang sedang rehat. Sepeda motor bebek nyaris saja menabraknya.

Rasanya luar biasa juga melihat orang dewasa macam Limbung Jata. Ia memakan buah mangga tanpa dikupas kulitnya. Subakan tak berbuat apa-apa pada mangga yang sudah diembat di depan matanya langsung.

“Permisi. Bisa berikan gelasmu?”

Kuberikan gelas yang hanya bersisa ampas kopi pada seorang pelayan sekolah.

“Di mana anak dan istriku?” tanyaku sebelum pelayan itu pergi.

“Masih ada pertemuan dengan guru. Lama, Pak, mungkin satu jam lagi. Akan kubawakan makan siang. Kau mau apa?”

Kulihat daftar makanan. Aku memesan mie ayam dan pencuci mulut es krim rasa stroberi.

“Seperti biasa, Mas, kesukaan istri dan anak saya saja.”

“Baik. Tunggulah sebentar. Jangan ke mana-mana, ya.”

Tak lama pelayan sekolah kembali dengan pesananku. Kulihat Limbung Jata sudah bersantai di atas pohon sembari bersiul-siul. Subakan hanya bisa mengerang seperti kucing yang sedang kawin setelah Limbung Jata mengacak-acak dagangannya hingga berserakan.

***

Bel berbunyi. Semua orang berkumpul dalam rumah ibadahnya masing-masing untuk menghadiri doa bersama. Istriku juga hadir di dalam gereja buat mengaku dosa. Sedangkan anakku hanya cukup sekadar menemani kesendirian ibunya dan mengunyah biskuit bayi tanpa perlu mengaku dosa terlebih dulu karena sejatinya ia tidak pernah melakukan dosa selain menggigit puting ibunya. Tuhan pasti mengampuni bayi itu.

Di tempat ibadah lain juga ramai dihadiri oleh banyak umat. Pakaian mereka cerah-meriah tetapi terlihat saling berbeda membuatku heran sendiri. Mengapa mereka tidak memakai baju tidur saja ke tempat ibadah agar sama bagusnya dengan yang lain?

Ada tiga tempat ibadah yang dibangun oleh sekolah untuk tiga agama dengan umat terbanyak. Mulanya itu disebabkan semakin padatnya jumlah siswa-siswi sekolah dan seringnya protes dari para keluarga karena anaknya cuma bisa melongo ketika teman-temannya beribadah. Tiga tempat ibadah itu berdiri saling berdekatan. Tak ada pengeras suara pada masing-masing tempat ibadah. Menurut kepala sekolah itu sangat mengganggu proses belajar. Seorang pemimpin ibadah hanya diperbolehkan bicara lantang sesuai kebutuhan.

Di dalam gereja suasana hening dengan semilir angin berbau pasir basah. Kepala sekolah berkeliling rumah-rumah ibadah untuk mengontrol keadaan. Apabila dirasa sudah aman ia akan kembali ke ruangannya dengan setumpuk kertas-kertasnya yang tertulis laporan perkembangan siswa-siswi.

Aku menyusul anak dan istriku, namun aku duduk di barisan paling belakang. Pelayan sekolah melarangku duduk bersebelahan dengan mereka. Alasannya karena ibadah itu hanya diperuntukan bagi ibu dan anak-anak saja. Juga duduk di bangku yang sama denganku para bapak-bapak. Bangku yang panjangnya dua meter penuh sesak.

Pemimpin ibadah berjalan masuk diiringi oleh dayang-dayang kecil yang berhiaskan rekaan baling-baling pesawat. Rambut mereka panjang tergerai apa adanya. Sajian-sajian berupa uang hingga kemenyan tertadah di atas tangan mungil mereka. Sambutan lagu puji-pujian bagi Tuhan dan bagi manusia bergema. Nada cemplang saling berebut mencipta irama yang tumpang-tindih; antara reseptif dan menyebalkan perbedaanya tipis.

“Lucu sekali,” kata bapak-bapak di sebelah kiriku.

“Diamlah! Proses ini sakral,” sahut temannya.

Pelayan sekolah menegur mereka secara halus, “Kalian berdua jagalah ketenangan, ya.”

Lonceng berdenting berulang-ulang. Kami berdiri dan lekas merapikan poni rambut. Pemimpin ibadah mendaraskan doa-doa seraya mengangkat tangannya dengan agung. Dayang-dayang kecil membungkuk hormat pada kami. Lalu pemimpin ibadah bersabda: “Ya Tuhan, semoga yang sakit diberikan kesembuhan, dan yang sembuh akan bertobat, serta yang sudah bertobat senantiasa menyembuhkan yang sakit.”

Aku sadar dia hanya berputar-putar mengulangi kalimatnya saban hari Sabtu di dalam benak siswa-siswi, namun bahana terdengar serak dan lembut. Meski begitu aku menyukai pengaruhnya yang menenangkan.

Tanpa tornado dan banjir, pintu yang semula tertutup terbuka begitu saja. Semua gerakan terhenti. Limbung Jata mendobraknya. Ia berdiri tegap bagaikan tentara yang sedang menghayati upacara bendera. Ia berjalan ke arah panggung orkestra. Langkah kakinya gaduh. Ia penuh niat melangkah selayaknya pahlawan perang yang sedang baris-berbaris.

“Hentikan orang sinting itu!” Perintah pemimpin ibadah kepada pelayan sekolah. Limbung Jata tak mengindahkan. Dua pelayan sekolah berupaya menahannya. Limbung Jata melawan dan mereka terpelanting di bawah kaki umat—semaput.

Ia berhasil tiba di panggung orkestra. Pemimpin ibadah hanya termangu melihat lelaki kumel dan bau itu duduk sangat angkuh di atas singgasanannya.

“Sunggingsona Tumah Abedah,” kata Limbung Jata dengan percaya diri, “Hanya punyaku seorang. Pergilah kalian semua! Saya mau tidur.”

Kegaduhan terdengar sampai ke ruangan kepala sekolah. “Pasti Limbung,” katanya dalam hati. Ia bergegas ke gereja.

“Limbung! Turun dari sana!” Bentak kepala sekolah setengah memaki. Kali ini Limbung Jata tidak melawan, bahkan dengan kata-kata. Ia turun dalam keadaan damai. Langkahnya tenang seolah-olah sudah menang undian kuis berhadiah rumah tipe tiga enam.

Namun tahu-tahu ia berhenti di ambang pintu dan membuat semua umat terpana karena seruannya: “Sunggingsona Tumah Abedah adalah warisanku. Percayalah padaku dan sembahlah aku, saudara.”

***

Aku terbaring penuh keringat di atas kasur berangka besi. Tubuhku cepat lelah pada hari Sabtu yang panjang, hari yang ingin kuhapus dari kalender. Pada hari itu pula aku harus bekerja sedari pagi sampai malam datang berlabuh. Selain itu aku harus bertemu dengan banyak tamu undangan. Terus tersenyum pada banyak orang sangat menguras energi. Mereka membuat pipiku kram.

“Selamat malam!” Suara pria memasuki kamarku dalam suasana remang oleh karena pijar lampu kuning. Bayangan yang ketara menyiratkan bahwa ia sedang membopong seorang pria. Ia membaringkannya pada kasur di sebelahku. Aku terkesan menyaksikan kekuatannya mengangkut manusia yang separuh sadarkan diri itu.

Ia menoleh ke wajahku dan seketika memelankan suara, “Tidak bisa tidur, Pak?”

“Lelah, aku sepertinya kelelahan,” jawabku merasa heran dengan keakrabannya.

“Anak dan istrimu menunggu di luar. Kepala sekolah memberi waktu untuk bertemu selama lima menit. Temuilah mereka.”

Anakku? Istriku? Aku bertambah gelisah dengan ucapannya. Mengapa mereka di luar? Bukankah seharusnya sekarang adalah jam tidur keluarga kecilku.

Rasa ingin tahu mendorongku bangun dari rebahan.

Kubuka pintu kamar. Berdiri dekat kotak darurat sesosok wanita berparas cantik sedang menimang bayi dalam dekapannya. Istriku bercakap serius bersama kepala sekolah dengan stetoskop yang masih tergantung di lehernya. Samar-samar kudengar percakapan mereka.

“Perkembangan jiwa suami anda baik. Ia saya tugaskan membersihkan sekolah agar tidak merenung sepanjang waktu. Sekarang kami memindahkannya ke kamar khusus untuk pasien-pasien yang “pintar”. Saya juga membawa teman baiknya selama di sini, namanya Limbung Jata. Ia mendaku seniman, seniman kutang putih katanya.”

Kepala sekolah tertawa ringan. “Lucu sekali,” tambahnya.

Istriku terlihat lega bercampur gembira saat kepala sekolah memberikan panduan. Anakku masih tertidur dalam dekap hangat ibunya.

Limbung Jata adalah teman dekatku. Tetapi sebagai pasien? Aku pasien? Kenapa hamba tidak mengingatnya sama sekali—ya, Tuhan! Aku sakit.

“Sayang,” panggilku.

“Kau tidak bisa tidur, ya?” balas istriku sambil memelukku erat.

“Nampaknya aku kelelahan.”

“Kepala sekolah menitipkan ini.” Istriku menunjukan sebutir pil berwarna ungu. “Dia bilang ini anggur. Minumlah agar tidurmu lelap.”

Sebelum pergi kepala sekolah menyerahkan selembar kertas dan bungkus plastik kecil kepada istriku. Pada momen yang sama, anakku sayup-sayup melindur dan menyebut namaku untuk pertama kalinya. Tak bisa kucantumkan di sini rasa haru yang kala itu kurasakan kepada semua orang.

Di mataku pil ungu itu memang terlihat sebuah anggur yang sudah masak. Bulatnya sempurna. Tak ada cacat di kulitnya. Saking nyatanya buah anggur itu aku sangat tergiur sehingga air liur dengan cepat membanjiri mulut.

“Sayang!” seru wanita yang aku nikahi dua tahun lalu itu. Suaranya memecah lamunanku yang tengah membayangkan peristiwa Limbung Jata saat di gereja. “Kata kepala sekolah, sebentar lagi kita sudah bisa berkumpul kembali. Bulan depan kau akan sembuh tepat di tanggal ulang tahun anak kita yang ke satu tahun. Kau senang, bukan?”
 

Surabaya, 27 November 2025
 

Darius Tri

Penulis

 

-- -- --

Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.