Bayu tumbuh sebagai anak bungsu yang selalu dimenangkan keadaan. Ia lahir dari keluarga keturunan ningrat, besar di rumah luas dengan pembantu, dan terbiasa hidup tanpa banyak penolakan.
Apa yang ia mau hampir selalu tersedia. Apa yang ia inginkan sering kali dianggap wajar. Namun, kelimpahan itu tidak menjadikannya pribadi yang beradab. Bayu kasar dalam tutur kata, malas dalam tanggung jawab, dan kerap merasa dunia yang harus menyesuaikan kehendaknya.
Ia sering meminjam barang kakaknya tanpa izin, memakan makanan orang rumah tanpa bertanya, bahkan meminta uang orang tuanya dengan dalih keperluan kuliah, padahal sebagian besar ia habiskan untuk mabuk bersama teman-temannya.
Ayah Bayu adalah penerus usaha keluarga, sementara Jaka, kakaknya, bekerja sebagai jurnalis. Meski keduanya sibuk, mereka berusaha menjaga keharmonisan keluarga. Harta warisan dari mendiang kakek Bayu sudah disiapkan untuk dibagi rata, tetapi sang ayah memilih menahannya sampai kedua anaknya cukup dewasa. Suatu pagi, Bayu kembali menagih janji tentang warisan itu.
“Ayah, kapan jatah warisan kakek dibagikan? Aku mau buka usaha kecil-kecilan,” katanya sambil menyandarkan tubuh di kursi ruang makan.
Ayahnya hanya terdiam. Lalu, Jaka membalas sinis, “Usaha apa? Bikin susah orang tua lagi?”
Ibu menegur Jaka, tetapi ayah tetap memilih diam. Permintaan Bayu tidak dikabulkan. Ia bangkit dari kursi dengan wajah masam dan pergi tanpa pamit.
Hari itu, nasib seperti sengaja mengajarinya sesuatu. Di tengah perjalanan menuju kampus, motor sport kesayangannya mogok. Bayu menggerutu, menendang aspal, lalu menelepon orang rumah. Namun, tak satu pun menjawab. Dengan kesal, ia menuntun motor sejauh lima kilometer menuju bengkel terdekat.
Di bengkel itulah ia bertemu Nia. Perempuan itu bekerja sebagai montir. Tangannya cekatan, wajahnya sederhana, dan suaranya lembut. Ia menjelaskan kerusakan motor Bayu tanpa nada menghakimi.
“Mas, businya mati. Kayaknya motor ini jarang dibawa servis, ya? Ini harus diganti. Biayanya lumayan dan perlu waktu.”
Bayu menelan ludah, menghitung uang dua ratus ribu di dompetnya.
“Ya, Mbak, nggak apa-apa, yang penting bisa selesai hari ini,” jawabnya lesu.
Sembari menunggu, Bayu merebahkan diri di kursi plastik, menyandarkan kepala, merasa lelah. Bukan hanya karena perjalanan, tetapi juga karena seharian ini tidak ada yang “melayani” dirinya seperti biasa. Satu-satunya keuntungan hari itu adalah ia bisa membolos kuliah dengan alasan mogok.
Bayu meneguk air mineral yang ia beli di warung sebelah bengkel. Napasnya masih memburu setelah perjalanan panjang tadi. Ia duduk di kursi plastik sambil memandangi montir perempuan itu bekerja. Tangan gadis itu cekatan, wajahnya teduh meski dilumuri debu oli.
Perempuan itu melirik sebentar padanya. “Mas, napasnya masih ngos-ngosan. Jalan jauh ya tadi?”
Bayu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. “Iya. Motor saya mogok di tengah jalan. Nggak ada satu pun keluarga saya yang angkat telepon. Jadi, ya… terpaksa jalan kaki.”
Gadis montir itu tak berhenti bekerja. Tangannya tetap sibuk mengencangkan baut, tetapi suaranya lembut saat menanggapi. “Capek, ya, Mas? Tapi biasanya, kalau dapat musibah gitu… ada hikmahnya, kok.”
Bayu langsung menegakkan badan. Matanya menyipit, nada bicaranya meninggi. “Hei, Mbak! Kerja tuh kerja aja. Nggak usah nasehatin orang segala.”
Perempuan itu terdiam. Ia tidak membalas. Hanya mengangguk kecil, lalu kembali menunduk pada pekerjaannya, seolah kata-kata kasar Bayu bukan hal baru baginya.
Beberapa menit kemudian, mesin motor Bayu kembali menyala halus. Gadis montir itu menepuk-nepuk debu di tangannya sebelum menyerahkan kunci motor.
“Sudah, Mas. Bisa dipakai lagi. Hati-hati di jalan, ya.”
Bayu menyerahkan uang dan mengambil uang kembalian. Ia hendak pergi, namun perempuan itu menahan langkahnya dengan suara lirih. “Lain kali… jangan lupa servis rutin, Mas. Biar nggak capek lagi harus jalan jauh.”
Nada suaranya bukan sindiran, hanya perhatian sederhana. Untuk pertama kalinya pada hari itu, Bayu tak punya kata-kata ketus. Ia merendahkan pandangan, lalu bergumam pelan, “Iya… Mbak.”
Sore harinya, Bayu pulang ke rumah yang sunyi. Pembantu keluarga menyambutnya dengan wajah panik.
“Mas, Mas Bayu, ayah masuk rumah sakit.”
Bayu tersentak. Di ruang perawatan, ia melihat ayahnya terbaring lemah. Ibunya duduk di samping ranjang, menggenggam tangan suaminya dengan mata sembap.
“Ayah kelelahan. Pingsan di kantor,” kata ibunya lirih.
Selang satu Minggu ayahnya membaik. Rumah Sakit mengijinkan ayahnya untuk dirawat di rumah.
Saat itu Bayu membantu mengantar ayah pulang dan menjaganya hingga malam. Namun, ketika seorang temannya mengajak mabuk-mabukan, ia tergoda untuk pergi.
Hari itu ia pulang lewat tengah malam dengan langkah sempoyongan. Sesampainya Bayu di rumah, ia dikejutkan oleh suara Jaka dari ruang tamu.
“Bayu! Kamu ke mana saja?”
Bayu terhuyung. Bau alkohol menyengat.
“Santai, Kak… Aku cuma keluar seben…” Belum selesai ia bicara, Jaka melayangkan tamparan ke pipi adiknya. Sekali namun keras. Bayu terdiam, matanya melebar. Jaka maju lagi, tangan terangkat hendak memukul yang kedua kalinya.
“Kamu disuruh jagain Ayah, bukannya tanggung jawab malah mabuk! Dasar nggak tahu diri!”
Ibunya cepat-cepat memeluk Bayu dari belakang, menahan kakaknya. “Sudah, Jaka! Sudah! Jangan pukul adikmu lagi… biar Bayu masuk kamar. Dia capek.”
Jaka menatap ibunya dengan mata merah karena marah dan frustasi.
“Capek? Ibu! Ibu manjakan terus anak itu. Lihat sendiri kelakuannya. Anak itu nggak tahu diuntung!”
Bayu menunduk, kepalanya berat. Separuh karena mabuk, separuh karena kata-kata itu menusuk lebih dalam dari tamparan di pipinya.
Tanpa membalas sepatah kata pun, ia berjalan gontai menuju kamarnya. Pintu tertutup pelan, menyisakan keheningan yang tebal di ruang tamu. Dan untuk pertama kalinya pada malam itu, Bayu tidak langsung tertidur karena mabuk, tetapi karena lelah menghadapi dirinya sendiri.
Bayu terbangun dengan kepala berat, mulut kering, dan mata yang memerah seperti habis begadang. Ia duduk perlahan, memegangi pelipis sambil mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Namun ada satu hal yang begitu jelas mengusik: mimpinya.
Dalam mimpinya, ia berdiri di halaman rumah lama kakeknya. Angin sore berembus pelan. Dari arah belakang, seseorang menepuk pundaknya. Ketika ia menoleh, ia melihat wajah tua yang amat ia rindukan.
“Bayu… anak baik… cucu kesayangan kakek…”
Suara itu lembut, lebih lembut dari yang ia ingat. Bayu ingin menjawab, ingin memeluk, tetapi tubuhnya seperti membeku. Saat ia ingin mendekat, sosok itu perlahan memudar dan Bayu tersentak bangun. Masih linglung, ia ke kamar mandi membasuh muka, lalu turun ke ruang makan. Ayah, Ibu dan Jaka sudah duduk di meja makan.
“Pagi…” ucap Bayu singkat sambil duduk.
Ayahnya menatap mata Bayu pelan. “Kamu kurang tidur?”
Bayu mengangguk. “Aku mimpi… ketemu kakek.”
Jaka mendengus kecil. “Hah, paling mimpi karena kebanyakan mabuk.”
Ibunya menegur Jaka dengan lirih, tapi Bayu hanya diam. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sesuatu yang tidak ia pahami.
Setelah sarapan, ia pamit kuliah dengan suara yang lebih sopan dari biasanya. Ibunya sampai terkejut kecil melihatnya.
Sepulang kuliah, Bayu tidak langsung pulang. Hari itu malam minggu, dan entah mengapa ia ingin pergi sendirian ke taman kota. Ia kali ini benar-benar berpamitan, “Yah, Bu, Kak… aku keluar sebentar. Jalan-jalan aja.”
Jaka menyindir tanpa menoleh, “Tumben pamit.” Tapi Bayu memilih diam dan pergi.
Di pertigaan dekat kampung, lampu merah menyala. Tetapi Bayu, terburu ingin cepat sampai, tetap memelankan motor tanpa benar-benar berhenti. Saat itulah seorang bocah menyeberang di zebra cross. Naas, motor Bayu menyerempet tangan si anak, membuatnya jatuh terduduk.
“Hei! Kamu gimana, sih jalan?!” bentak Bayu panik bercampur kesal.
Bocah itu ketakutan. “Aku di zebra cross, Mas, lampunya merah!”
Beberapa warga menoleh. Salah satunya berkata, “Mas-nya yang salah. Tadi ngebut, kok malah nyalahin anak kecil?”
Bayu terdiam sejenak. Wajahnya memanas. Untuk pertama kalinya, ia merasa malu, bukan marah. Dengan kikuk, ia membantu bocah itu berdiri, memastikan lukanya hanya lecet, lalu buru-buru pergi sebelum semakin banyak orang melihat.
Di sepanjang jalan menuju taman, kata-kata bocah itu berputar-putar di kepalanya.
Bayu duduk di bangku taman, menghisap rokok sambil memandangi lalu-lalang orang. Tetapi pikirannya tidak tenang. Semua kejadian beberapa hari terakhir menumpuk menjadi satu: motor mogok, ayah jatuh sakit, pertengkaran dengan Jaka, mimpi kakeknya, dan insiden dengan anak kecil itu.
Saat ia memijit pelipis, matanya menangkap sosok yang tidak asing. Namun kali ini pakaiannya berbeda: baju sederhana, tas selempang lusuh, dan di tangannya ada nampan berisi kue-kue kecil. Sosok itu berjalan mengelilingi taman sambil menawarkan dagangan kepada pengunjung.
Bayu berdiri dan menghampiri. “Mbak! Montir yang kemarin, kan?”
Gadis itu menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum sopan. “Iya, Mas. Tumben ke sini?”
Bayu nyengir. “Lagi suntuk. Oh iya, jualan kue juga?”
“Iya, Mas. Kalau malam jualan. Pagi sampai sore di bengkel.”
Bayu melihat nampan yang hampir kosong. “Aku beli semua, deh.
Gadis itu tertawa kecil, “Beneran, Mas? Banyak, lho!”
“Gapapa, lagi laper juga.”
Mereka duduk di bangku taman. Bayu membuka satu kue seadanya.
“Mbak kerja di dua tempat? Capek dong?”
Gadis itu tersenyum. Senyum yang tidak dibuat-buat.
“Namanya juga hidup sendiri, Mas. Harus kuat. Saya yatim piatu, nggak punya saudara. Jadi harus kerja keras. Siang jadi montir, malam jualan. Alhamdulillah, bisa buat bayar kos dan makan.”
Bayu tercekat. Ia tak menyangka perempuan yang ia bentak sebelumnya menjalani hidup sekeras itu.
“Eh, itu motor bebek tua yang Mbak pakai... yang ada di bengkel, ya?
Gadis itu mengangguk. “Iya. Peninggalan almarhum Ayah. Nggak bagus-bagus amat, tapi itu yang saya punya. Setidaknya masih bisa jalan.”
Bayu menatapnya lama. Ada sesuatu dalam kata-kata gadis itu yang menusuk. Tentang hidup, tentang perjuangan, dan tentang tidak bergantung pada siapa pun. Dan Bayu, yang setiap hari hanya menyusahkan orang rumah, mendadak merasa kecil. Tanpa sadar, ia berkata, “Boleh… aku bantu jualan?”
Gadis montir itu terkejut, lalu tertawa. “Mas Bayu mau bantu? Serius?”
Bayu mengangguk pelan, “Iya. Daripada duduk bengong.”
Malam itu, Bayu berjalan mengelilingi taman sambil menjajakan kue bersama gadis montir itu. Dan anehnya, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak merasa gengsi sama sekali.
Sejak saat itu, Bayu sering membantu Nia. Ia juga mulai rajin beribadah, menolak ajakan mabuk, dan belajar dengan sungguh-sungguh. Nilai ujian semester keluar. Semuanya tuntas. Bayu tersenyum bangga, bukan karena angka, tetapi karena usaha.
Suatu malam, Bayu mengajak Nia makan bersama keluarganya untuk merayakan ulang tahun Jaka. Ayah dan ibu Bayu menerima Nia dengan hangat. Mereka mendengar kisah hidup Nia dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, mereka melihat Bayu berbicara dengan sopan.
Sepulang dari restoran, Bayu mengantar Nia ke kosnya. Di depan gerbang, Nia meminta Bayu menunggu. Nia kembali membawa sebuah kotak kain kecil. “Ini untuk Mas,” katanya.
Bayu membuka kotak itu dan terdiam. Sebuah blangkon tua terlipat rapi di dalamnya.
“Ini milik almarhum Ayah,” lanjut Nia pelan. “Ayah selalu bilang, blangkon bukan sekadar penutup kepala. Ia tanda bahwa seseorang siap menjaga sikap dan tanggung jawab.”
Bayu menolak dengan halus, tetapi Nia tersenyum. “Aku percaya Mas pantas memakainya. Bawa pulang blangkonnya ya, Mas.”
Pria muda itu membawa pulang blangkon itu dengan rasa sungkan sekaligus terharu.
Beberapa hari kemudian, ibunya menemukan blangkon itu tergeletak di meja belajar anak bungsunya. Ia meminta Bayu mencobanya. Saat Bayu berdiri di depannya, sang ibu menahan air mata.
Hari pertunangan Jaka pun tiba. Keluarga besar berkumpul. Bayu keluar dari ruang persiapan mengenakan busana adat Jawa dan blangkon pemberian Nia. Ruangan mendadak hening. Semua mata tertuju padanya.
Jaka tersenyum lebar, “Akhirnya, adikku benar-benar jadi laki-laki.”
Nia juga menatap Bayu dengan mata berkaca-kaca. “Mas mirip Ayahku.”
Bayu mengangguk pelan.
Blangkon itu tergantung rapi di dinding kamarnya. Setiap kali melihatnya, Bayu teringat bahwa wibawa tidak diwariskan, tetapi dibentuk dari perjalanan menjadi manusia yang lebih santun. Ia belajar bahwa kesopanan bukan aturan kaku, melainkan kesadaran untuk menghormati hidup dan sesama.
S. Hera
Penulis reflektif-humanis asal Surabaya yang menekuni dunia kepenulisan sejak akhir bulan September 2025. Berangkat dari pengalaman hidup dan pergulatan batin, S. Hera menulis cerita-cerita yang menyoroti relasi keluarga, iman, dan keheningan-keheningan kecil yang membentuk manusia. Mulai menulis kembali setelah 5 tahun vakum, belasan cerpen, sejumlah artikel, serta beberapa naskah yang terbit dalam antologi. Baginya, menulis adalah cara merawat luka dan merekam makna. Kini saya terus mengasah diri melalui tantangan 180 hari menulis dan berbagai kompetisi literasi.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.