Skip to main content
Ilustrasi: Robertus Risky / Project Arek
Arek Bercerita
Gunung Swarga
Bapak bilang gunung Swarga adalah tempat bermainnya waktu kecil. Dulu gunung itu benar-benar gunung; tanahnya menanjak tinggi dan dari puncaknya bisa melihat rumah-rumah yang ada di desa. Waktu kecil, bapak biasa main layang-layang, mengetapel burung bersama teman-teman atau mencari buah dari semak-semak yang tumbuh liar di sekitar kaki gunung. Bapak bercerita tentang buah ciplukan yang rasanya sedikit manis, agak kecut, namun sangat disukai anak-anak pada masa dulu.

BAPAK bilang gunung Swarga adalah tempat bermainnya waktu kecil. Dulu gunung itu benar-benar gunung; tanahnya menanjak tinggi dan dari puncaknya bisa melihat rumah-rumah yang ada di desa. Waktu kecil, bapak biasa main layang-layang, mengetapel burung bersama teman-teman atau mencari buah dari semak-semak yang tumbuh liar di sekitar kaki gunung. Bapak bercerita tentang buah ciplukan yang rasanya sedikit manis, agak kecut, namun sangat disukai anak-anak pada masa dulu.

Di punggung gunung itu dulu ada sumber air yang tidak pernah kering meski sepanas dan sepanjang apapun kemarau melanda desa. Ketika sumur-sumur tidak lagi mengeluarkan air, warga desa berduyun-duyun membawa ember untuk mengambil air tiap pagi dan sore. Biasanya anak-anak yang melakukan tugas itu, termasuk bapak dan teman-temannya. Berangkatnya mungkin mudah, tapi pulangnya menenteng ember penuh air melewati jalanan yang naik-turun dan berkelok-kelok sangat berat. Saat itu, tidak ada pilihan lain bagi warga desa.

Itu semua tinggal cerita. Aku ingat ketika kecil dulu gunung Swarga memiliki puncak yang lebih tinggi dari sekarang. Menurut bapak, yang kulihat itu bahkan tidak sampai setengah tinggi aslinya. Setelah tambang batu kapur di gunung Swarga ditutup, tempat itu kembali bebas dimasuki anak-anak sehingga kami bisa bermain layang-layang lagi di sana. Tapi aku sudah tidak bisa menemukan buah ciplukan kegemaran bapak waktu kecil.

Burung-burung masih sering terbang melayang di atas kami. Tapi, anak-anak seumuranku sudah terlanjur tidak tahu cara bermain ketapel. Lalu sumber air di punggung gunung yang kata Bapak tidak pernah kering itu, sejak jauh-jauh hari sudah tidak mengeluarkan air lagi. Ada yang bilang itu gara-gara penambangan. Tapi kami tidak bisa menjelaskan bagaimana orang-orang mengambil batu kapur bisa membuat sumber air menghilang. Padahal air tidak dihasilkan dari memeras batu.

Tambang itu ada semenjak bapakku masih remaja. Bupati waktu itu datang ke desa bersama dengan seorang pengusaha. Katanya mau memberi pekerjaan buat pemuda-pemuda desa yang banyak menganggur, termasuk bapak. Dia bilang pemuda-pemuda bisa dapat uang dengan menjadi kuli tambang.

Desaku adalah desa miskin. Orang-orang seperti kakekku kebanyakan hanya bekerja sebagai petani yang menanam sayur atau umbi-umbian. Padahal desaku tidak begitu subur tanahnya. Pada musim kemarau air susah di dapat dan hanya bisa diambil dari sumber di punggung gunung.

Semua orang mau uang, oleh karena itu warga senang tambang berdiri. Gunung Swarga dikepras sedikit demi sedikit. Ketika aku lahir, tingginya tinggal separuh. Lalu terus berkurang, bahkan terus digali hingga kini malah berlubang ke bawah. Kami masih menyebut tempat itu gunung, meskipun sebenarnya gunung Swarga sudah tinggal hamparan sisa-sisa.

Perkara sumber air yang kering, itu terjadi sejak aku belum ada. Bapak sudah menikah dengan ibu ketika itu, namun masih menunggu kelahiranku sebagai anak pertama. Warga geger karena pada musim kemarau, sumber air yang selalu jadi andalan mereka hanya sedikit mengeluarkan air, itupun berwarna keruh, tidak seperti sebelumnya yang selalu jernih.

Namun, beruntungnya saat itu tambang masih beroperasi, sehingga pengusaha masih mau berbaik hati menolong warga desa dengan menyediakan tangki-tangki air untuk kebutuhan minum dan mandi. Meskipun jatahnya tidak banyak, warga tidak perlu susah-payah menenteng ember melalui jalan naik-turun dan berkelok-kelok. Bagi yang punya uang bisa mendapat air melebihi jatah dengan membayar.

Ketika musim kemarau berikutnya sumber air itu kering sama sekali, kami sudah tidak terlalu peduli. Perkara kenaikan harga air yang dijual dari tangki-tangki lebih jadi perhatian daripada menghilangnya sumber air.

Keringnya sumber air baru terasa dampaknya tiga tahun yang lalu, ketika akhirnya tambang sudah ditutup karena batu kapur sudah habis. Pengusaha tambang sudah tak punya urusan untuk memberi jatah air. Tangki-tangki itu masih berfungsi sebagian, namun harga per jerikennya naik tinggi dan mutlak kami harus beli. Tidak ada jatah gratis seperti dulu, kecuali kepala desa sedang berbaik hati menalangi dengan kas desa.

Kata bapak, itu kekeringan terparah yang pernah melanda desa sejauh yang dia tahu. Kakekku pun yang telah hidup lebih lama dari bapak, mengatakan hal yang sama.

Tetanggaku punya anak kecil yang meninggal karena sakit panas. Kami percaya itu akibat kekurangan air. “Istriku tak keluar air susunya, anakku tak bisa minum. Macam mana dia bisa meneteki kalau dirinya sendiri tak cukup minumnya,” kata tetanggaku itu.

Tapi beruntungnya, kini mereka sudah beranak satu. Berita hamil lagi si istri datang hampir bersamaan dengan kembalinya air ke gunung Swarga kami. Setelah sempat ada ketakutan kekeringan akan memanjang, gunung Swarga kembali menyelamatkan hidup kami.

Saat itu musim hujan datang. Cekungan bekas tambang di gunung Swarga menampung curahan air hujan, menggenang, menciptakan danau Swarga bagi kami. Hebatnya, danau itu terus bertahan melewati musim, tak kering sepanjang tahun meski tinggi airnya tentu berkurang banyak di musim kemarau.

Pada waktu-waktu berikutnya, kami hidup dari air danau itu. Orang-orang yang masih ingat bercocok tanam membuka ladang di pinggir-pinggir gunung Swarga, menanam sayuran, dan umbi-umbian dengan air yang diambil dari danau. Pada musim kemarau pun kami masih bisa menanam. Ibuku adalah salah seorang yang paling giat menanam. Dia senang bisa menanam sayur-sayuran. Aku suka makan sayur hasil panen ibu, rasanya nikmat sekali, terutama ketika mengingat kedua tanganku sendiri telah turut merawat dan menyirami sayuran itu. Aku juga turut menyaksikan bagaimana sayuran tumbuh dari masih benih sampai bisa dipanen.

Tapi kehidupan semacam itu juga tidak berlangsung lama. Tahun kemarin, Bupati kembali datang ke desaku. Bupati yang baru tentu saja, bukan Bupati lama yang datang dua puluh tahun lalu untuk membuka tambang batu kapur. Dia datang bersama dengan seorang pengusaha pariwisata. Pengusaha itu bilang jika desa kami punya danau yang indah. Dia ingin membangun tempat wisata di sana.

Danau Swarga kami memang punya warna yang eksotis: biru jernih keputih-putihan karena sisa kapur yang mengendap di dasar danau. Jika di sana didirikan tempat wisata, pengusaha itu yakin pasti ramai pengunjung datang dengan membawa banyak uang untuk warga desa yang miskin. Pengusaha itu ingin membangun tempat peristirahatan di sana. Akan ada hotel dan restoran. Selain kami bisa bekerja di hotel dan restoran miliknya, katanya kami juga masih bisa bercocok tanam. Bahkan, dia akan membina petani untuk bisa bercocok tanam dengan lebih baik dari sebelumnya.

Yang pertama dia ajarkan adalah air untuk menyirami sayuran di kebun kami tidak boleh lagi diambil dari danau. Katanya, air danau yang masih mengandung kapur tidak bagus untuk menyiram sayuran. Selain itu, kalau air danau surut karena diambil, danaunya akan jadi jelek dan tidak ada wisatawan yang mau datang. Oleh sebab itu, kami tidak boleh lagi mengambil air danau untuk keperluan apapun. Sebagai gantinya, pengusaha itu menyediakan air yang dialirkan dari luar desa melalui pipa-pipa, baik untuk menyiram sayuran maupun untuk kebutuhan minum dan mandi kami sehari-hari.

Lalu, pelan-pelan pengusaha itu mengatur semua yang terjadi di gunung Swarga kami. Pada kebun-kebun kami, dia menentukan sayuran apa yang boleh dan tidak boleh kami tanam. Dia datangkan benihnya, dia juga yang sediakan pupuknya, supaya kami mudah menanamnya. Untuk menyiraminya, dia yang menentukan kapan sayur harus disiram, dan seberapa banyak air yang digunakan. Tapi memang, tangan kami yang menanamnya, merawatnya, lalu kami pula yang memetik panennya.

Setelah hasil panen terkumpul, kami akan menjual sayur-sayuran pada pengusaha itu. Selanjutnya akan dia jual lagi pada wisatawan-wisatawan melalui pasar yang dibangun di samping hotel miliknya. Kami juga yang menunggui lapak-lapak jualannya. Lalu, dari pengusaha itu kami mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk sekolah anak-anak, membeli seragam atau pakaian, dan kebutuhan dapur. Tetapi untuk air minum kami harus membeli. Pada pipa-pipa yang terpasang di rumah kami telah dipasangi meteran. Katanya, bukan maksudnya untuk menjual air, tapi air butuh biaya untuk penjernihan, dan juga untuk pemeliharaan pipa-pipa.

Lagi-lagi kami harus membayar untuk air kami.

 

Sidoarjo, 2 Desember 2025

Hasan ID

Pengajar di SMP Negeri 2 Sukodono,
aktif di komunitas Malam Puisi Sidoarjo

 

-- -- --

Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapapun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.