Skip to main content
ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Hening Rindu
Suara dering telepon memecah keheningan malam, menyentakku dari lamunanku yang dalam. Itu adalah suara bapak, menyelipkan pertanyaan-pertanyaan sepele yang merangkai kisah sehari-hari. Angin sore mengusap wajahku yang lengket oleh air mata kering, sementara ilalang bermain-main dengan semilir angin.

Kebaya ungu di tubuhku menonjol di antara batu nisan yang membentang di tanah yang kian coklat. Topi wisuda masih tegak di kepalaku, menyiratkan gelar yang kini dimiliki di hadapan sebaris nisan. Setelah upacara wisuda, aku mengajak ibu dan kakakku ke pemakaman, memberi kabar ke bapak tentang keberhasilanku. Kusapu tulisan di batu nisan hitam itu, lagi-lagi mengalirkan rasa penyesalan.

Bayangkan, jika aku lulus lebih cepat, bapak bisa merayakan bersama teman-teman seperti yang lainnya. Ingatanku mengembara pada saat bapak membanggakan keterampilanku menjahit di depan teman-temannya. Suaranya yang riang, menciptakan kenangan manis di tengah sawah keluarga kecil kami. Namun, waktu bersama bapak semakin terbatas ketika aku melanjutkan pendidikan di ibu kota.

Pertanyaan bapak tentang desain busanaku, yang kini tak lagi bisa kuterima, menghantui pikiranku. Saat bapak sakit, ibu memberi kabar, dan aku berusaha pulang secepatnya. Namun, takdir berkata lain. Bapak meninggal sebelum aku tiba, menyisakan rasa sesal yang tak terkira. Hari berlalu tanpa kehadiran bapak, membuat rumah terasa hampa. Aku meratapi keputusasaan di tengah gelapnya malam, mencoba mengubur beban kesalahan yang tak terbayangkan. Setelahnya, hidupku menjadi sulit dipahami. Kenangan, mimpi, dan uang seolah-olah kehilangan makna.

Telepon dari kakak membawa kabar tragis. Bapak tak lagi ada. Aku berlari menuju kampung halaman, ke rumah yang kini dihiasi bendera hijau dan keluarga yang berkumpul. Di samping jenazah bapak, tangisku pecah tak terbendung. Wajahnya yang tenang dan senyuman tipis menghiasi tubuh yang kini terbungkus kain putih. Aku, ibu, dan kakakku bergandengan tangan, mencoba memahami kehilangan yang begitu dalam. Bersama-sama, kita pulang ke rumah yang tak lagi menyambut tawa bapak. Kita merasakan kehampaan yang tak bisa diisi oleh siapapun.

Begitu banyak yang ingin kukatakan pada bapak, tapi semua terkunci dalam keheningan malam. Hanya air mata yang mengalir sebagai ungkapan rindu dan penyesalan. Bapak, semoga kau beristirahat dengan tenang. Kami akan melanjutkan mimpi-mimpimu yang tak kesampaian, meski tanpamu. Terima kasih atas segalanya. Istirahatlah, bapak.

Beberapa hari setelah pemakaman, rumahku terasa sepi. Suasana duka yang melingkupi setiap sudut membuat hari-hari menjadi seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Kakakku berusaha keras untuk menguatkan ibu dan dirinya sendiri, namun kehilangan bapak tetap meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Pada suatu malam, aku duduk di teras rumah sambil menatap langit yang penuh bintang.

BACA JUGA : Sahabat dari Zogbya

Angin malam membawa getaran kesedihan dan kerinduan. Pikiranku melayang ke masa-masa bersama bapak, mengingat senyuman dan cerita-cerita ringan yang selalu menghangatkan hati. Ponselku berdering, mengalihkan perhatianku dari lamunanku. Suara lembut ibu terdengar di seberang sana, "Nak, ibu ingin bicara." Aku mengangguk meskipun tahu ibu tak bisa melihat gerakanku.

"Dengarlah, nak. Meskipun bapak tak lagi bersama kita, kita harus melanjutkan hidup. Bapak pasti ingin melihat kita tetap tegar dan bahagia. Kita harus menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat, sebagaimana yang selalu bapak ajarkan pada kita."

Aku meresapi kata-kata ibu dengan hati yang campur aduk. Meskipun begitu, aku tahu bahwa ibu benar. Bapak mungkin telah pergi, namun warisan semangat dan kebahagiaannya harus terus hidup di antara kita. Minggu-minggu berikutnya diisi dengan cobaan dan tantangan. Kami belajar untuk menjalani hari tanpa kehadiran bapak.

Kakakku, ibu, dan aku membantu satu sama lain, membangun kekuatan dari rasa kehilangan. Ibu mulai membuka usaha kecil menjahit, sesuai dengan keahlian yang pernah bapak banggakan. Aku pun kembali fokus pada studi dan merancang busana sebagai penghormatan kepada bapak.

Suatu hari, ketika matahari terbenam di ufuk barat, aku duduk di atap rumah mengenakan kebaya ungu bapak. Angin sore membuat rambutku berkibar seakan mendengar bisikan kenangan. Aku merasa kehadiran bapak di sekitar, merasakan semangatnya yang mengalir melalui alam. 

Pilihan untuk melanjutkan kehidupan ini dengan penuh semangat dan kebahagiaan adalah keputusan yang tepat. Meskipun bapak telah tiada, jejaknya yang penuh cinta dan dukungan terus memberi arahan. Setiap langkah yang kami ambil, setiap senyuman yang kami bagikan, adalah cara kami untuk mengenang dan meneruskan warisan bapak.

Dalam keseharian yang penuh perjuangan, kami belajar bahwa kehidupan terus berlanjut, dan cinta bapak tetap hadir dalam setiap detiknya. Melalui cerita hidup yang terus berkembang, kami menyadari bahwa bapak telah meninggalkan jejak kebijaksanaan dan cinta yang akan terus membimbing kami di perjalanan ini.

Begitulah, meskipun perpisahan itu sulit, namun kita belajar untuk menjalani hidup dengan penuh semangat dan menghargai setiap momen. Bapak, walaupun kini tak lagi bersama kami secara fisik, namun kenanganmu dan semangatmu tetap hidup di dalam hati kami. Istirahatlah dengan tenang, bapak. Kami akan menjaga warisanmu dan melangkah maju dengan cinta yang kau tanamkan dalam setiap langkah kami.

Bulan-bulan berlalu, dan rumah kami mulai menyembuhkan lukanya. Meskipun kehadiran bapak tetap terasa, tapi kami belajar untuk menjalani hidup tanpa keberadaannya secara fisik. Setiap hari, ibu terus menata usaha menjahitnya, sementara aku mengejar mimpi di dunia desain busana. Suatu pagi, ketika sinar matahari mulai menyinari kota kecil kami, aku duduk di ruang kerja kecil yang kubuat sendiri di pojok kamar.

Selembar kertas kosong tergeletak di meja, menunggu untuk diisi dengan ide-ide kreatifku. Matahari pagi itu memberikan inspirasi baru, dan aku mulai merancang sebuah koleksi busana yang menggambarkan perjalanan kehidupan, harapan, dan cinta.

BACA JUGA : Blangkon

Pekerjaan itu membuatku merenung tentang pertemuan khusus di bioskop dan keputusan besar yang diambil Arjun. Aku menyadari bahwa kehidupan ini memang seperti sebuah film yang terus diputar, dan kita adalah sutradara dari cerita kita sendiri. Bagaimana kita menjalani setiap adegan, memilih soundtrack yang akan mengiringi, dan menentukan arah cerita, semuanya ada di tangan kita sendiri. Dalam proses merancang koleksi busana tersebut, aku menggabungkan elemen-elemen yang mewakili kehidupan Arjun.

Kain-kain yang lembut dan warna-warna yang hangat mencerminkan kebijaksanaan dan kehangatan Tuhan. Desain yang penuh perincian mencitrakan kompleksitas hidup dan kisah yang tak terduga. Aku ingin setiap busana yang aku rancang memiliki makna yang lebih dalam, mengajak orang untuk merenung tentang arti hidup dan perjalanan mereka sendiri.

Hari pemutaran perdana koleksi busana itu tiba, dan kota kecil kami dipenuhi dengan semangat dan antusiasme. Aku melihat wajah-wajah yang tersenyum di antara kerumunan penonton, dan aku tahu bahwa aku telah berhasil menyampaikan pesan yang ingin aku sampaikan. Selesai acara, beberapa orang datang padaku untuk berbicara tentang bagaimana busana-busana itu menginspirasi mereka.

Suatu malam, aku duduk di teras rumah, menatap langit yang penuh bintang. Aku merasa kehadiran bapak begitu dekat, seperti senyuman Tuhan yang memberikan keberkahan pada setiap langkahku. Aku merasa bahwa aku telah menemukan makna yang lebih dalam dalam desain dan karya seniku. Koleksi busana itu bukan hanya tentang penampilan fisik, tapi juga tentang merayakan kehidupan, menghormati masa lalu, dan membuka pintu untuk masa depan yang tak terduga.

Dalam perjalanan hidup ini, aku menyadari bahwa keberanian untuk melangkah maju dan menghadapi tantangan adalah kunci untuk menemukan makna yang lebih dalam. Bapak, meskipun tak hadir secara fisik, memberikan arahan dan keberanian melalui jejak-jejaknya yang tak terlupakan. Aku berjanji untuk terus menghormati warisan itu dan melangkah maju dengan penuh semangat.

Setiap kali aku melihat langit malam yang penuh bintang, aku merasa bahwa bapak ada di sana, menjagaku dan memberikan ziarah rohaniah. Dalam bisikan angin malam, aku mendengar pesan cinta dan dukungan yang melembutkan hati. Dan setiap kali aku melihat kumpulan bintang yang bersinar di langit, aku tahu bahwa setiap bintang adalah sebuah cerita, dan kehidupan kita adalah bagian dari kisah yang tak terbatas.

Dalam perjalanan ini, aku belajar bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sesuatu yang baru. Kami, sebagai keluarga yang kuat, terus melangkah maju, menghormati masa lalu, dan merangkul masa depan dengan penuh semangat. Bapak, walaupun kau pergi, namun warisanmu terus hidup dalam setiap langkah kami. Kami merindukanmu, namun kami juga tahu bahwa cintamu mengalir dalam setiap hembusan angin, dalam setiap bintang yang bersinar di langit malam.

Bulan-bulan berlalu, dan rumah kami semakin menyesuaikan diri dengan kepergian bapak. Ibu, kakak, dan aku membentuk sebuah keluarga yang semakin erat, saling mendukung satu sama lain. Ibu terus menjalankan usaha menjahitnya dengan penuh semangat, dan aku fokus mengembangkan karir di dunia desain busana. Setiap tahun, kami menyelenggarakan ritual ke kuburan bapak. 

Bunga-bunga segar kami letakkan di atas batu nisan, dan doa-doa terucap untuk rohnya. Meskipun bapak tidak hadir secara fisik, tapi keberadaannya terasa dalam setiap momen keluarga kami. Kami melanjutkan tradisi yang dulu pernah dibangun bersamanya, merayakan hari-hari spesial dengan ceria dan kebersamaan.

Aku mendirikan sebuah butik kecil di kota kecil kami, tempat di mana koleksi busanaku dipamerkan. Butik ini bukan hanya tempat untuk menjual pakaian, tapi juga menjadi wadah untuk menyampaikan pesan tentang kehidupan dan perjalanan yang penuh makna. Aku menyelenggarakan acara-acara kecil, seperti pameran seni dan lokakarya, untuk melibatkan komunitas lokal.

Suatu hari, aku menerima undangan untuk berbicara di sebuah acara di kota besar. Aku diundang untuk berbagi cerita inspirasionalku tentang bagaimana kehilangan dapat menjadi pendorong untuk mengejar impian dan mencari makna yang lebih dalam dalam hidup. Tanpa ragu, aku menerima undangan tersebut, membawa cerita keluargaku sebagai bukti bahwa cahaya dapat bersinar terang meskipun dalam kegelapan.

Di atas panggung, aku berbicara dengan penuh semangat, membagikan pengalaman hidupku dan bagaimana kepergian bapakku telah membentuk diriku. Aku melihat mata-mata yang penuh perhatian dari para pendengar, dan aku merasa bahwa pesanku menyentuh hati mereka. Setelah acara selesai, beberapa orang mendekat untuk berbagi kisah mereka sendiri, bagaimana ceritaku memberi mereka inspirasi untuk mengatasi cobaan dalam hidup mereka.

Dalam perjalanan pulang, aku merenung di dalam taksi, menatap langit yang penuh bintang. Aku tersenyum, merasa bahwa perjalanan ini adalah bagian dari takdir yang lebih besar. Meskipun kehilangan bapak adalah pengalaman yang sulit, tapi melaluinya, aku menemukan panggilan hidupku untuk memberikan inspirasi dan semangat kepada orang lain.

Kembali ke kota kecil, aku terus menjalani kehidupan dengan penuh arti. Aku tidak hanya mendesain busana, tapi juga mendesain kehidupan, mengisi setiap adegan dengan kebahagiaan, cinta, dan semangat. Aku belajar bahwa meskipun kita tidak dapat mengontrol semua aspek dalam hidup, tapi kita dapat memilih bagaimana kita meresponsnya.

Setiap tahun, pada ulang tahun bapak, kami mengadakan acara amal untuk mengenangnya. Kami mengumpulkan dana untuk membantu anak-anak di komunitas kami yang kurang beruntung. Ini adalah cara kami memberikan kembali kepada masyarakat dan menjaga warisan bapak hidup dalam kebaikan dan kepedulian.

Dalam perjalanan panjang ini, aku tahu bahwa bapak selalu menyertai langkah-langkahku. Dia adalah bintang yang terus bersinar di langit malam, memberikan petunjuk dan kehangatan. Kami, sebagai keluarga, telah menemukan cara untuk mengatasi kehilangan dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan untuk berkembang dan memberi kepada orang lain.

Setiap kali aku melihat koleksi busanaku di butik, aku tahu bahwa setiap benang, setiap pola, dan setiap desain memiliki cerita yang dalam. Mereka adalah kisah perjalanan, harapan, dan cinta yang terus berkembang. Aku bersyukur atas semua yang telah aku alami, dan aku siap menyongsong setiap babak baru yang menanti di depan.

Begitulah, hidupku terus berlanjut, menjadi sebuah kisah yang terus ditulis di setiap halamannya. Meskipun ada kehilangan, tapi ada pula kebahagiaan, keberanian, dan keajaiban yang ditemukan di sepanjang jalan. Bapak, di dalam hatiku, kau akan selalu menjadi bagian dari kisah ini, membimbingku dalam setiap langkahku.

 

M. Hikmal Yazid 

Manusia berparas sederhana. Lahir di kota Udang. Kolega buku suka berkelana ke dalam hutan.


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.