AKU percaya segala bernyawa, tak hanya manusia. Benda, juga warna; bernyawa. Lelaki, perempuan, hitam, putih. Aku pemuja warna merah. Aku punya dua nyawa: diriku dan warna merahku.
Terang cita-citaku memperistri, demi hidupku. Perempuan? Pasti, karena aku lelaki. Sialnya perempuan yang kukehendaki penggila warna putih. Jodoh ya entah, nggak ya tak mengapalah.
Mulanya aku mau menyingkirkan kuliah putih dari semestaku. Jubah bersih, paras manai; semacam hantu.
Kumau hibuk, hiruk pikuk karena semuanya bernyawa. Bukan hanya manusia paling kuasa, paling benar, paling bersih. Ini tak kukehendaki. Bukan aku tak mengakui orang suci, beragama. Asal dia tak merasa paling, buatku tak apa. Semua punya nyawa, kehidupan, pilihan, kemungkinan-kemungkinan. Mungkin semua mau ceramah, kepingin punya kebenaran, pesan, tujuan pula.
Seperti yang kupikirkan sekarang. Bukan hanya perempuan ingin kucari, demi hidupku. Putih, hitam, merah yang bernyawa pun saling mencari. Betapa gemuruh riuh, ada banyak warna, benda, makhluk bernyawa.
Nyawa warna merah putih saja demikian rumitnya. Dahulu warna merah putih biru tentu kita telah punya cerita. Lalu nyawa putih dan hitam, hampir pula kita katam. Sebagaimana laki-laki atas perempuan, baik dan buruk, bersih dan puyan.
Pengalaman, pengetahuan, buku-buku bernyawa cukup lama mengisahkan demikian. Sekarang kuceritakan, perempuan yang hendak kujadikan istriku adalah pemuja warna putih. Hatinya sekeras nyawaku—nyawa warna merah diriku.
Perempuan bernama White ini rupanya beberapa kali menjalin hubungan asmara. Tentu aku nggak tahu persis mengapa gagal. Giliran takdirnya bersamaku. Dugaanku mungkin terkait nasabnya yang keturunan nabi laki-laki. Soal ini White telah sedikit bocorkan bagaimana ibunya sebelum meninggal ketika diurus para pegawai, dokter, perawat, rumah sakit yang banyak berpakaian putih-putih. Ibu White berdarah putih. Bukan berdarah biru pun merah sepertiku.
Aku berpikir dan yakin merah putih jodoh kami. Di negeri dwiwarna ini. Itulah sebabnya aku ngotot ihwal bukan hanya makhluk yang bernyawa; benda dan warna harus kuagungkan nyawanya karya Tuhan Maha Sempurna.
Sebelum dan sesudah ibunya tiada, satu persatu White semburkan kisah cintanya dengan laki-laki yang jatuh hati padanya. Tentu kuduga, kegagalannya karena tak satupun yang berpikiran semua di dunia karya Tuhan ini bernyawa. Sebaliknya para lelaki itu yakin dan percaya cuma manusialah—tepatnya lelakilah yang bernyawa, berkuasa, berpengetahuan, berijazah sarjana, punya kerjaan, banyak membaca, beruang, gagah perkasa, warga negara kita, dan lain sebagainya. Hanya itu.
Para lelaki yang sempurna, tapi satu ayat yang tak pernah mereka ingat: homo ludens. Hidup di dunia semuanya bermain. Sekadar diletakkan, sekalipun darahnya biru keturunan Belanda, misteri adanya, eksitensinya tergantung mereka sendiri.
Satu ayat itulah kemudian teguh kuyakinkan, tersebab White dan aku punya kesimpulan yang sama. Ya, satu-satunya nilai lebih diriku sebagai manusia adalah punya kesimpulan. Para lelaki yang jatuh hati pada White tak lain orang-orang ketakutan dalam hidup dan bahkan menjadikan dirinya sendiri hanyalah seonggok mayat, yang dimulainya dengan menganggap yang lain tak bernyawa.
“Itulah sebabnya aku telah melihatmu sebelum kau datang hari ini, dan pertemuanku denganmu seperti aku melihat masa depan: Kehidupan yang gembira, kebahagiaan yang sesungguhnya, keindahan hidup yang bahkan nggak bisa kudefinisikan. Mungkin kita akan hidup seperti anak-anak,” ungkap White yang tentu berpakaian putih di hadapan anak-anak sekolah karena ia seorang guru di sebuah sekolah agama.
“Inikah kekasih Bu White? Kapan menikah, Bu?” sergah anak-anak itu.
Anak-anak selalu mengajarkan hidup yang sebenar-benarnya hidup, dengan kata, nyawa, dan mungkin pula puisi serta kitab suci.
Bila kitab suci White, juga orang-orang berpakaian putih-putih itu adalah agama, maka kitab suciku adalah My name is Red karangan Orhan Pamuk. Kitab suci fiksi. Kisah sejarah ketegangan antara Ottoman dengan negara di wilayah Persia. Kisah cinta di sebalik kehidupan seni Islam di Turki, dan kekaguman para miniaturist (pelukis dekorasi buku) pada seniman persia, Behjad.
Kitab suci yang mengajarkan padaku bermain, dan bukan manusia satu-satunya yang berhak kuasa, bersuara, bernilai. Anjingpun seperti manusia juga. Segalanya punya riwayat, misteri, takdir dan juga sirri.
Begitulah, nasab, kitab suci White yang kemudian jatuh cinta padaku adalah maha misteri. Bahwa cinta, hidup, adalah ajakan untuk bermain, bertarung! Bertarung lawan bersamaku. Bahkan ia pertaruhkan keyakinannya, pikiran, perasaan dan hatinya.
Pada akhirnya dalam kenyataan hidup sesungguhnya White gagal bisa hidup bersama dengan setiap laki-laki yang menawarkan cinta: cinta yang punya tujuan hidup bersama, perkawinan, pernikahan membuatnya terjungkal gagal. Bersamaku White menumpahkan sumpah serapah hidup tanpa tujuan, hidup yang sekadar hiburan, spontan, lepas, puas, gembira, hidup yang bukanlah kehidupan yang sesungguhnya. Permainan dalam hidup. Hidup yang bahkan akan menghapus merah, putih. Hidup yang di luar lingkungan norma-norma moral. Hidup yang pada diri kami sendiri ia tidak termaktup dalam dursila atau baik.
Kami bertemu dalam suasana cinta dan keyakinan. Aliran takdir yang tak pelik berbelit dan tak lain semangat kami, spirit kami huriah cinta, yang tak menuntut.
Kami sama-sama percaya diri berbagi. Buhulnya cinta adalah kebutuhan semua ini. Tentu saja, White membutuhkan Red. Merah membutuhkan Putih. Perempuan membutuhkan laki-laki sebagaimana laki-laki memerlukan perempuan.
Kami sama-sama tak menginginkan kegagalan. White gagal punya pasangan. Aku dan keluargaku berantakan. Tepatnya aku gagal memperjuangkan kepercayaan sebagai manusia, bahkan ketika merebut kembali dari kucing-kucing, buku-buku, tulisan, dan karya sastra. Aku terjungkal, terus ditangkal. Aku diabaikan. Aku terpisah dengan anak-anakku dan ibunya. Tanpa uang, tanpa kekayaan, tanpa doa. Akulah kesedihan, mewariskan hutang-hutang. Satu kata bagiku yang tersemat di dada dekat jantungku bahwa akulah kebodohan.
Aku bodoh. Kebodohan itu jawaban karena aku termakan tujuan, moral kebenaran, kebaikan, dan hasrat menjadi manusia yang terlampau manusia. Sandang, pangan, papan, kebahagiaan, kesehatan, pikiran, perasaan, pengetahuan, pengalaman, semuanya maunya berlebihan—lebih dari cukup.
Aku merah. Darahku merah.
Tentu saja sebagaimana diriku, White tak pernah punya keinginan menjadi perawan berlama-lama, hingga mencapai separuh abad usia diriku. Sejak kecil ia pekerja keras ajaran ibunya, pintar, cantik, elok, berpendidikan, hanif. Hebatnya, White memutuskan pijah dari tanggungjawab orangtuanya: mandiri, menentukan harmoninya sendiri.
Mandiri tidak sendiri. Justru bersama. Tepatnya belajar bersama. Ada banyak benda lain bernyawa. Barang. Tumbuhan. Pepaya. Kembang: Melati, pohon salam, anggrek, lidah buaya, daun sere, sirih, dan sebagainya. Semua teman. Bahkan dia bisa menjadi semacam binatang—tak semata manusia belaka. Bahkan lawannya. Bahkan dirinya ditentukan oleh lawannya—tak semata fundamentalnya. Ia mandiri dengan kepura-puraan, bertanding, menantang, melakukan pertunjukan, tampil, pamer, show.
Ia seperti nyawa puisi. Larut. Lenyap. Hilang. Inhern dalam semesta bermain. Lupa diri sikapnya, pikirannya. Mungkin adanya, adalah rasanya.
Hidupnya bagaikan sebuah mimpi.
Disinilah ia sendiri, keberadaannya menjadi dirinya sendiri. Ia sendiri dengan keindahannya: ketegangan, keseimbangan, selingan, kontras, variasi, jalinan cerita dan perkembangannya, penyelesaiannya. Permainan mengikat dan membebaskan. Ia memukau. Ia menyihir. Artinya ia mempesonaku dan merahku.
Begitulah, aku dan dia. Red White. Merah putih. Indonesia.
Kehidupan nyata yang sesungguhnya bagi White telah memberinya ajaran; sejarah orangtuanya, pria-wanita, agama, tepatnya seagama, tidak bahagia. Keluarga yang seagama bisa tidak bahagia. Kehidupan yang terlampau serius: ayah yang serius, dan ibu yang sungguh-sungguh. Keras sekali. Lembut yang berlebihan. Karena agama tak berani memainkan umatnya. Sebagaimana umatnya gak boleh memainkan agamanya. Bapak berbagi kekerasan pada ibu. Demikian ibunya menumpahkan segala kelembutan pada bapak. Anehnya semua itu terjadi atas nama kitab suci agama, hadist dan taklid sanad kitab-kitab panutan.
Sudah barangtentu Tuhan terlibat penuh seperti manusia. Mengatur pria, wanita, keluarga, dan takdir. Padahal manusia bisa mengurusnya sendiri. Sudah ada agama. Sudah ada pengetahuan. Sudah ada pengalaman.
Suatu saat, ibu White meninggal karena Tuhan dan karena sakit beberapa tahun melengkapi penderitaannya. Kesedihan dan penyakit komplikasi ibunya hanyalah membuktikan bahwa ibu White adalah manusia. Tak ada cerita ihwal bapaknya yang tentu saja manusia juga.
“Satu-satunya yang bisa kukatakan padamu sebagai manusia, bahwa aku adalah saksi dan mengetahui kehadiran masa laluku, “ ucap White.
White berhak mengungkapkan hal ini, dan bahkan boleh menyimpulkan.
“Kau dan aku hanyalah seniman dalam kehidupan sehari-hari. Kau sudah memahami seni rahasia masa silammu. Kau dan aku akan menyatu,” tedasku.
Begitulah kami akan buat karya seni. Kami ciptakan ikatan.
***
SEMENJAK itu White bungah luar biasa. Seperti juga diriku yang girang tak terkira. Kami sama-sama tak menunggu yang berkata kami telah cocok—dari semua bukan manusia, sebagaimana kami telah sepakat soal ini.
Kami bersepakat untuk menyusun permainan: Pernikahan, perkawinan.
White dan aku tak berpendapat, tak membuat pernikahan sebagai benda kecuali selaku ilusi, karena kami bukan semata-mata sepasang manusia. Yang terpenting, percaya dan yakin ilusi ini kami ciptakan sendiri, tanpa kuasa, tanpa ada yang memaksa.
Seperti sebuah bangsa, inilah kebenaran eksistensial kami dan wajar bila kelak wujud kami ambigu, tumpeng tindih.
Kulihat White bekerja keras memikirkan, merencanakan, merenungkan, menyusun, menyiapkan kebutuhan-kebutuhan fisik maupun psikis ihwal upacara perkawinan; tradisi, tafsir, resepsi, representasi dan lain sebagainya.
Sementara aku hanya membaca buku Imagined Communities karya Benedict Anderson. “Buatku pernikahan ibarat proklamasi kemerdekaan. Perkawinan bukanlah materi presentasi resepsi upacara, tapi bagaimana kita memahaminya,” ujarku sebagai sejoli pada calon istri.
Ada banyak yang mau berucap selamat pada White, istriku. Teman, rekan, handaitolan, benda-benda, bunga-bunga di taman dan lain-lain. Ada banyak membantu, menyumbang dana, doa, tenaga, dari seluruh daerah; Aceh, DIY, Siak, Madiun. Bahkan dari Jepang. Sonder Inggris, Yaman, Yahudi vandal—lewat sejarah para bonekanya, kaki tangan penjajah yang pedagang, penjual minyak wangi. Tentu akulah seniman, pencipta karya permainan ini, yang utama.
Tentu saja, aku pulalah pengelola transaksi makna dalam imaji. “Maka kamilah, yang bertekad menyingkap kemungkinan-kemungkinan yang mulanya tersembunyi menjadi cerita ini.”
Kulihat White di sela kesibukannya membaca buku Sartre: Psikologi Imajinasi. Katanya, ia sungguh-sungguh hendak melenyapkan perikemanusiaan dalam dirinya. Kulihat pula, telah lama sibuk berbicara dengan kembang, tumbuhan, harmoni dengan alam. Buah Markisa, surat dari langit, air, mata, air mata, wajah cahaya, uban seorang yang renta, seribu kubah, gerimis, batu bata neraka.
Aku tahu karena kemudian membaca dalam bukunya; Malikha dan Tujuh Jalan Bahagia yang Dilaluinya.
Memang yang paling sering selain berbicara dengan kembang, tanaman, tanah serta peralatan kecantikannya, dengan ponselnya juga seperti diskusi atau berdoa pada tuhannya.
Atas nama harmoni.
Aura, suasana magis, terungkap ketika lamaran, sisetan. Kami sepakat tadabur pada agama dan sejarah; menetapkan mahar sebesar cacah pasukan Nabi saat Perang Badar: 313.
Pada saat itu, kutahu bagaimana White khidmat berbincang, wawancara, berdiskusi sampai dari hati ke hati, menyingkap kesadaran segala ubo rampe dariku; kebutuhan perempuan, sandal, tas, baju, hijab, sampai pakaian dalam, cincin perkawinan—perihal komitmen, kesetiaan, keabadian cinta.
“Lingkaran tidak memiliki awal atau akhir, tidak terputus, yang melambangkan keabadian. Ini menggambarkan cinta yang abadi dan komitmen yang tanpa akhir antara pasangan.” Dia menakrifkan padaku dari tranfer suara kesadaran mereka.
Pukau White, seperti berbicara dengan belahan hatinya, saudaranya sendiri adalah tatkala majenun pada jadah—beras ketan yang tersingkap dari kata Arab; jadda, yajuddu, jaddan—yang artinya bersungguh-sungguh.
“Ia putih bersih, sepertiku. Dia serantakan kesucian pada kita agar menjaga diri dari sifat-sifat yang dapat membuat hati kotor seperti iri, dengki, sombong, tamak. Jadah dari beras ketan tajali dari keraketan, ulet, rekat, sungguh-sungguh. Sasmita eratnya tali silaturahmi, persatuan, kesatuan dan persaudaraan antar sesama manusia. Permufakatan keluarga pasangan pengantin tersebut bisa raket, akur, lengket. Konon ini ajaran Sunan Kalijaga—klosone bedah, tembelno jadah. Diri yang penuh dosa itu harus diperbaiki dengan sungguh-sungguh.”
Buatku, pernikahan sebagaimana proklamasi, berlangsung dalam suatu ruang permainan mental, dalam suatu dunia yang diciptakan oleh jiwa bagi dirinya sendiri. Bahkan kesungguhan bermain pada White kulihat di wajah cantiknya terlukis kehidupan yang tak biasa, bahkan sulit terhubung semata ikatan-ikatan logika.
Pada hari perkawinan itu, aku teguhkan syahadat dan panjikan Pancasila.
Dahulu sebelum melucuti peri kemanusiaan, takdir telah menghukumnya. Betapa berat seorang perempuan, pekerja keras, tanpa suami, penyuka warna putih, bernama White.
Ngeri. Perempuan suci, menghibur diri ingin jadi nabi—terlanjur semua laki-laki.
White menjadi pecinta laiknya Rabi’ah al-Adawiyah; segala cinta semata karena Allah, mahabbah, tanpa perintah tanpa larangan, dan zahid.
“Perjumpaanku denganmu mendasari itu. Tak berpikir ihwal harta tahta dunia. Engkau hanyalah gambaranku karena Tuhan. Hanya gambaran. Cinta adalah cinta. Begitulah cintaku padamu, sebagaimana cintamu padaku. Dunia cinta yang berpusar pada cinta itu sendiri—bukan berpusar pada kita, manusia.”
Begitulah seolah White mengawali ajakannya padaku kegilaan, kelakar, permainan. Kami akan menjadi sejoli yang bertanding dalam bercinta, memperebutkan sesuatu—demi sesuatu, dalam sesuatu, dengan sesuatu.
Edan ya…
Bila suntuk demikian, White selalu berbalas: Pertemuan dengan kekasihku, lelakiku, adalah puncak dari hidupku. Kesucian. Perawan. Tetap kupertahankan. Aku memulai yang baru. Puncak itu cinta, puisi, mimpi. Hanya dengan kegilaanlah, puncak ini terbebas dari lingkungan norma-norma moral, yang bisa membuatmu gendeng. Inilah puncak pada dirinya sendiri. Ia tidak buruk atau baik. Pada dirinya sendiri tidak ada merah, tidak ada putih. Putih adalah merah. Sebagaimana merah adalah putih.
Setiap yang putih pasti beresiko kotor. Tak mudah atas pilihan White itu. Ia memelihara hantu dengan pilihannya itu. Hantu yang telah inhern dalam dirinya, yang pembayun sejak belia bekerja membantu ibu, bapak, menyekolahkan adik-adiknya. Tak mudah menghapus wajah dan lakon rudin mereka yang mungkin bisa menjadi noda bagi pakaian putihnya.
“Separuh dari kita mungkin manusia, sisanya entah, ilusi, hantu, atawa penghuni dunia lain; jin, jembalang sejenisnya,” ucapnya.
Tentu saja tak semua hal masa silam adalah kenangan buruk dan busuk. Bahkan jika pun tanpa catatan.
Semua orang adalah guru, dan White guru madrasah di tempat lahir seorang Hadratus Syekh.
Buatku White guru dalam ilmu berpadu—menyatu. Seperti air putih.
***
Rasa sakit sejak kecil saksi penghayatan ibu dan bapaknya, membuatnya tak mau hidup seperti orangtuanya. Disakiti hampir 40 tahun mungkin ujian dari Tuhan: kuat ataukah edan. Tuhan punya kuasa aneh atas derita itu, dan manusia seperti murid demi kenaikan tingkat harkat. Pertengkaran mereka seperti berbagi sayatan pada ibunya di nukilan rasa sampai tipis, sampai habis.
Mungkin satu-satunya cara White menghilangkan rasanya adalah dengan tidak menikah. Sebelum melenyapkan kemanusiaan, menutup telinga dan membekukan pikiran di depan teror saudara orangtuanya: “Kapan menikah? Kucarikan jodoh sudikah?”
Tapi khianat adalah derajat teratas yang berakibat luka paling dalam di sisa renjananya yang tersayat. White dikhianati kekasihnya, pacarnya, calon suaminya.
Di sepanjang akad kasih sayang, setia, cinta, lelaki itu menikah dengan wanita lain, ketika White berjuang jauh di pulau seberang—Pulau Malang.
Kemalangan itu berulang. Pengkhianat masih menghubunginya. Biadabnya ia berkata: Malam pertamanya membayangkan White.
White yang mengisahkannya padauk, “Aku tak sampai hati mendengarnya.”
Aku ingin membunuh penghianat itu.
Aku marah meski itu pasal bayangan. Justru White meneguhkan dengan kata yang persis padaku: hanya soal bayangan.
Semenjak kemarahanku, kabar lelaki itu tak ada lagi; pembicaran, hubungan, selentingan. Mungkin mereka penuh pertengkaran, dipicu masalah tidur dan bayangan. Itu bukan urusanku. Urusanku sekarang melindungi White, terus belajar menyatu, padu dan terbebas dari setiap penghianatan.
Tepatnya, urusan hubungan sebelum dan sesudah perkawinan, dengan segala kebimbangannya.
Perihal hubungan sebelum penikahan, kami banyak melibatkan satpam perumahan.
Jantungku sering berdetak kencang, karena kucing-kucingan. Percobaan-percobaan terhadap tubuh; digerayangi, panas, gemetar, berkeringat sebagaimana wajar sebagai pacar.
Ketakutan membuat pergolakan yang putih dan merah seakan pekik: Merdeka atawa mati!
“Pengkhianatan, sebagaimana takdirnya terus mengusik, mengancam, dan bahkan membobol pertahanan kalian,” bisiknya.
“Pacaran, keluarga, seperti suatu bangsa, negara, pemerintah yang sah; juga terus dibombardir pengkhianatan. Bahkan memakan korban—bukan hanya perasaan, kehilangan kesabaran.”
Seberapapun kami krisis, mental, kepercayaan, harapan, dan gempuran bayangan, juga pengkhianatan itu. White memastikan, meneguhkan: “Aku masih perawan. Aku hanya untukmu, kekasihku. Merahku.”
White pecinta sejati: Cantik, baik, apik, dan asyik.
Dari para pecinta kami belajar menerima keikhlasan. Kepedihan, luka, rasa sakit, juga pilu oleh masa lalu tak lagi berarti apa-apa.
***
SEJAK silam, khianat paling menggetarkan bukanlah pemberontakan, angkat senjata, petaka para nyawa. Melainkan atas sukma, cita-cita; pembodohan, penghinaan, zindik. Karena yang demikian bukan lagi khianat pada manusia, makhluk atau bangsa tapi kepada Sang Khalik.
Buat bangsa, kesesatan harus tamat.
“Tersebab itu, Ibu selalu tulus mendoa anak-anaknya. Cinta dan keikhlasan bisa kulihat dari pandang teduh matanya. Ibu bersikeras aku menempuh pendidikan tinggi,” kenang White tuk hasrat ibunya sebelum berpulang.
White yakin, ibunya berpulang dalam damai ke surga. Sementara kupercaya atas situasi White kini—mengampu pada sanad ibu. Aku dihardik ujaran Averroes1; “Bisnis paling menguntungkan adalah jualan agama kepada masyarakat yang bodoh. Kalau kau ingin menguasai orang-orang bodoh, maka bungkuslah kejahatan dengan kemasan agama.”
Sejoli yang peduli masa depan adalah hari ini, ‘perdagangan’ adalah pengkhianatan jika ‘perjuangan’ yang dijual-belikan. Sekalipun yang dijual sekadar buntel dan kemasan.
Betapa White dan ibunya hanyalah perempuan ugahari yang menjaga khalis kekhalifahan dari Ilahi.
Di luar kesederhanaan ini, saban hari di depan mata, wajah orang-orang mengerikan sekali. Seperti tak hidup, amuk dan kecamuk. Jual-beli segala rugi. Bisnis ironis, sinis, sebuah bangsa merdeka tapi orang-orangnya bodoh jahat berbaju agama.
Aku bersaksi mereka berjubah kilau bersih, putih, wajah suci bercelak, berhidung mancung, senyum tata laku yang santun, seperti malaikat. Di sebalik ini mereka berilmu rahasia yang tinggi: menyimpan aib ngeri sepanjang hidup, ahli transaksi agama, bangsa negara, dan diri sendiri.
Kami muak dan bahkan muntah. Mungkin buah dari lelah. Kami bekerja keras, berburu kilat, lantaran tak mau menikah lebih telat. Keluar masuk pintu birokrat. Kami terkadang jeri bersitatap. Cemas berwajah seperti mayat.
Demonstrasi terus bergelombang memperpanjang saat pernikahan kami yang kian terlambat. Dari soal korupsi, begal konstitusi, gaduh jagal nasab, pencemaran nama baik, atas nama kelompoknya sendiri, pendukungnya sendiri, partainya sendiri, anak turunnya sendiri.
Mereka tumpah ke jalan, bagai menghadang perkawinan kami. Kami terjebak suasana tengah pasar, ketika orang membludak: jual-beli, basabasi, strategi, atur perangai.
Akhirnya Dewa Eros turun ke bumi. Setelah sukses keluar masuk pintu kerani, kami menikah di Kantor Urusan Agama.
Kami mufakat menyunggi cinta dengan bestari. Biar yang di luar mendapati posisi, syukur menyadari diri jual-beli yang rugi.
Kami menikah di situasi yang nyaris cutel kesabaran ini—menganggit hidup bagaikan menyeduh bratawali.
Samar kudengar isak tangis White, dan desis aku meringis, usai panji-panji suci kuterbangkan.
Aku tidak boleh tahu pasti artinya. Semacam lelatu, aku hanya ngerti ini karya seni dan permainan bunyi.
Betapa ini seni rahasia. Berbulan-bulan aku merahasiakan. Haru biru gelombang demonstrasi terjadi lagi. Entah apalagi yang dijual dan yang dibeli. Yang berselisih ihwal ahli turunan nabi berubah suhu pesilat lidah. Aku masih rahasiakan, tak pernah kukatakan: Kami belum malam pertama.
Kami belum bercinta. Aku belum sentuh tubuh White yang telah menjadi istriku, biarpun atas nama agama. Kami kira inilah semesta cinta paling inspiratif, eksotis, otentik dan terindah.
Sanggama menyatu dengan ilmu berpadu. Kami tak pernah berkisah pada siapapun. Hidup kami berdenyar, larat muncrat: Darah juitaku merah dan darahku putih.
1 Dikenal pula Ibnu Rusyd (1126–1198), filsuf Kordoba, Andalusia.
S. JAI.
Buku terbarunya, Posthumanism (Kumpulan Esai)—terpilih sebagai Nomine Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Kategori Kumpulan Esai Sastra/Kritik Sastra Tahun 2025. Kumpulan Cerpen terbarunya Rumah di Atas Air dan Cerita Lainnya (2024). Novel perdananya Tanah Api (LKiS, 2005); Novel paling mutakhir Ngrong (Pagan Press, 2019) masuk 10 besar penghargaan sastra Nongkrong.co award (2021). Kumara— Hikayat Sang Kekasih adalah novelnya yang memenangi sayembara Dewan Kesenian Jawa Timur 2012, menyusul Rembulan Terperangkap Ranting Dahan yang terpilih sebagai pemenang utama sayembara cerita pendek berdasarkan Cerita Panji oleh lembaga yang sama. Buku kumpulan esainya Postmitos, (Pagan Press, 2018) meraih penghargaan Anugerah Sotasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur untuk bidang kritik sastra 2019. Penerima anugerah penghargaan seni dari Gubernur Jawa Timur tahun 2015 ini kini tinggal di Jombang dan mengelola penerbitan Pagan Press. Facebook: s.jai.589; Instagram: misterjaikumara.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.