Skip to main content
Ilustrasi: Robertus Risky / Project Arek
Arek Bercerita
Naskah dan Jelaga
Bung M, begitu ia mengenalkan diri ketika pertama kali aku berkunjung ke toko buku kecil di pinggiran Kalibata. Entah siapa yang mulai memanggilnya M. Aku menduga inisial kejam itu diberikan terkait luka bakar mengerikan di wajahnya.

TUNGGU. Aku punya sesuatu untukmu,” kata M, memamerkan senyum yang lebih mirip seringai. Tubuh jangkungnya lenyap di balik tumpukan buku bekas yang berdesakan di atas meja dan rak-rak usang yang mulai melengkung, kewalahan menanggung beban.

Ia kembali dengan amplop manila lusuh di tangan. Bekas luka bakar yang melintang dari mata kiri hingga ujung mulutnya seperti menerorku.

“Sebagian kecil memoriku berada di toko buku ini, sebagian besar ada di balik luka ini,” katanya, seraya mengusap luka di wajahnya. “Aku menulis cerpen untukmu.”

Hening sesaat. Bung M masih memegang amplop itu, seakan menimbang-nimbang niatnya.

"Sebagai arsiparis, mungkin kau akan membaca atau sekadar menyimpannya.” Akhirnya ia berkata, dan suaranya terasa tertekan. “Asal jangan membakarnya."

Tanganku refleks memegang erat amplop itu seakan takut M berubah pikiran.

“Naskah ini ingatan pengarangnya. Tidak boleh hilang apalagi dibakar.”

“Cerpen tentang apa?” sahutku.

“Memedi,” ujar M, pelan. “Seorang memedi 1998.”

Mataku terbagi antara wajah M dan amplop kusam yang ujungnya menghitam seperti jelaga.

"Selalu ada tempat untuk arsip dan sastra," kataku.

Noda hitam di ujung amplop itu kini semakin jelas. Sepertinya naskah ini pernah tersentuh api.

***

Tempat peristirahatanku di Kalibata memiliki ruang baca kecil dengan jendela menghadap barisan kamboja dan rumput liar. Di balik meja baca aku membuka naskah cerpen berjelaga itu. Bung M memilih menuliskan ceritanya dengan sudut pandang orang ketiga:

Ia berada di antara serpihan peristiwa 1998, di sebuah perpustakaan yang nyaris berubah menjadi asap dan abu, ketika pusat kekuasaan mulai keropos dan mendekati kehancuran. Pekerjaannya berpindah-pindah dari satu penyamaran ke penyamaran lain, bergerak di ruang sunyi, mengendap-endap di keramaian, menyelinap saat yang lain lengah, menyergap dari belakang di saat orang-orang lain maju. Namanya Al, Alan, atau Alamin, meski ia sebenarnya memiliki lebih banyak lagi nama alias. 

Ketika Ibu Kota mendidih karena gelombang pasang demonstrasi yang selalu berakhir rusuh, Al ditugaskan mengawasi sebuah perpustakaan di pinggiran kota yang juga dicekam isu kerusuhan dan penjarahan. Alamat perpustakaan tak jauh dari keraton, gedung pemda, instansi pemerintahan, atau apa pun itu yang biasa menjadi sasaran demonstrasi.

Al sebenarnya hanya melanjutkan tugas seorang rekan yang berakhir tragis karena penyamarannya terbongkar. Sang rekan diteriaki maling, ditelanjangi, dan dikeroyok sampai tewas. Aksi main hakim sendiri seperti ini banyak mewarnai fase terakhir menjelang runtuhnya kekuasaan di tahun goro-goro.

Mengawasi perpustakaan?! Pekerjaan sia-sia, pikir Al. Toko-toko buku dan perpustakaan komunitas sudah menjamur sebelum 1998, bibit-bibit ingatan dari masa lalu telah lama disemai dan tumbuh seperti belukar. Mereka kini beterbangan tertiup angin ke segala penjuru dan mustahil dibendung oleh kekuatan-kekuatan lama. Tapi bagaimanapun misi tak masuk akal ini harus ia tunaikan.

Al duduk di bawah pohon rindang yang biasa dipakai mangkal tukang kopi keliling. Matanya sesekali melirik perpustakaan di seberang jalan. Benaknya melayang ke masa-masa sekolah dulu. Rekan-rekannya mungkin takkan percaya bahwa ia pernah bermimpi punya perpustakaan sendiri.

Perpustakaan Borges, demikian nama perpustakaan ini, menempati salah satu rumah tua di perempatan kota. Konon nama perpustakaan ini diambil dari sastrawan masyhur Argentina. Barisan rak-rak berisi penuh buku terlihat dari dua jendela besarnya. Pemiliknya memasang banyak cermin agar perpustakaan terkesan lebih rumit dan berlapis-lapis seperti labirin.

Al menunggu hari gelap sambil membaca koran yang memberitakan kerusuhan dan penjarahan. Orang-orang tumpah ke jalan seperti rumput liar. Tugas Al memotong seorang penyemai benih-benih jalanan itu, setidaknya itulah yang digariskan perintah dalam misinya. Tapi dengan misi ini dan misi-misi sebelumnya, ia ragu siapakah sebenarnya yang menjadi sumber kekacauan ini? Jangan-jangan ia dan segala macam misinya.

Lalu lintas lengang, tapi kota ini sudah terbiasa sepi dengan atau tanpa isu kerusuhan. Di masa kecil ia sangat menggemari koran Minggu yang memuat cerpen, cerbung, dan serial kartun. Sejak itu ia bercita-cita menjadi pengarang. Namun ayahnya ingin ia menjadi penerusnya. “Kau bisa seperti agen mata-mata kayak di film-film barat,” kata sang ayah.

Kini ucapan ayahnya terasa omong kosong. Ia lelah menghadapi perang batin di setiap misi dan muak dengan segala macam tipu muslihat. Setahun belakangan ini keinginan mundur atau kabur dari pekerjaannya terus menguat. Di tengah kegamangan itu ia semakin sering terbetot ke masa lalu, ke masa-masa sekolahnya.

Pernah suatu hari gurunya menghukumnya membersihkan ruang perpustakaan, namun ia justru malah terpaku membaca buku dongeng selama berjam-jam sambil memimpikan suatu saat punya perpustakaan sendiri. Ia bahkan pernah menulis cerita tentang perpustakaan yang terus-menerus dibanjiri buku sampai menenggelamkan tubuh pustakawannya.

Pintu Perpustakaan Borges masih terbuka, tak ada tanda-tanda akan tutup. Al telah cukup menggali informasi tentang pemilik perpustakaan dan lingkaran komunitasnya. Pemiliknya bernama Kunto, pria 65 tahun, sastrawan eksentrik yang namanya hanya dikenal oleh komunitas-komunitas kecil.

Kunto jarang menginap di perpustakaan sejak anak gadisnya disebut-sebut menghilang dalam gelombang kerusuhan di Ibu Kota. Ia biasa pulang ke rumahnya di selatan keraton setelah magrib, di rumah mendiang istrinya.

Namun Al tidak yakin dengan kabar soal anaknya Kunto. Ia curiga Kunto sendiri yang menyembunyikan gadis itu.

Al telah diperingatkan betapa bahayanya orang sederhana seperti Kunto bersama perpustakaan dan anak gadisnya.

Matahari hampir tenggelam. Perpustakaan Borges sudah tutup. Al melempar korannya. Apakah Kunto pergi lebih cepat? Ia menyambar tas gendongnya lalu menyeberangi jalan. Menyelinap adalah pekerjaannya sehari-hari. Tapi pintu perpustakaan tak terkunci, mungkin Kunto lupa. Di balik pintu Al menemukan ruang perpustakaan yang nyaris gelap. Satu-satunya sumber cahaya datang dari langit senja yang menerobos melalui celah jendela dan memantul di antara cermin-cermin besar di setiap dinding perpustakaan.

Al memeriksa setiap sudut perpustakaan yang terasa lebih rumit karena keberadaan cermin-cermin. Tanpa cermin, luas perpustakaan tidak jauh berbeda dengan ruang tamu biasa, kecuali lima raknya yang penuh buku dengan tinggi nyaris menyamai langit-langit. Kunto mendesain perpustakaan ini seolah-olah tak terhingga.

Al terpaku di hadapan salah satu cermin yang tampak ganjil karena ukurannya lebih kecil, mirip cermin rias atau cermin pintu lemari. Ia mengamati setiap sisi cermin, tatapannya lalu jatuh pada sosok lelaki jangkung dengan tubuh tegap dan ramping. Wajahnya yang lusuh dan lelah seperti meminta ia agar berhenti dari pekerjaannya sekarang juga. Masih ada kesempatan untuk lari, bersembunyi di pinggiran kota, lalu hidup menyepi sambil mewujudkan mimpinya mendirikan perpustakaan seperti yang dilakukan Kunto.

Al berbalik. Ia tak suka lama-lama bercermin. Ia kembali mendekat ke pintu masuk. Di sana ia menurunkan tasnya untuk mengeluarkan isinya. Beberapa saat ia hanya tertegun memandangi rak yang penuh buku dari atas sampai bawah. Rak ini khusus menyimpan koleksi buku sejarah. Sebagian buku bersampul tebal, beberapa berjilid kulit. Menurut anggota komunitas yang pernah ia tanyai, buku sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, ia adalah cermin ingatan sesungguhnya.

Al berdiri ragu dengan botol bensin di tangan. Sejak kecil ia menyukai buku. Pekerjaannyalah yang justru menjauhkan dari buku-buku. Tiba-tiba ia kembali dihinggapi rasa muak. Namun sekarang bukan saat yang tepat untuk mundur. Membangkang perintah sama dengan mengundang mimpi buruk seperti yang dialami rekannya ketika penyamarannya terbongkar.

Al membuka tutup botol pertama dan mulai menyiram lantai rak buku sejarah itu dengan bensin. Ia tak kuasa menyiram langsung buku-bukunya. Botol kedua ia keluarkan dan kembali menyiramkan isinya ke lantai. Cukup dua botol untuk memusnahkan sejarah yang ditulis bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun. Ia kembali menggendong tasnya yang masih menyisakan beberapa botol bensin lagi. Anehnya tas ini terasa lebih berat dari sebelumnya.

Di dekat pintu keluar ia menyulut rokok dan mengisapnya dalam-dalam, aroma bensin turut masuk ke hidungnya. Lampu-lampu jalan di luar sudah menyala. Cahayanya berkilauan saat mendarat di atas genangan bensin yang memantul di antara cermin-cermin. Jemarinya sudah siap menjentikan rokok ke lantai.

Tiba-tiba cermin rias itu bergeser, seisi perpustakaan seperti bergerak bersamanya. Seseorang berdiri kaku di sana.

Detak jantung Al seolah berhenti saat matanya bertabrakan dengan tatapan tajam anak gadis Kunto. 
 
“Jangan lakukan!” kata gadis itu. Suaranya pelan seperti berasal dari kejauhan.

Al membeku. Waktu berhenti. Bahkan rokok pun mendingin di sela jarinya.

“Yang mereka inginkan adalah aku.”

“Tidak ada pilihan,” jawab Al. Ia masih menghindari tatapan tajam perempuan itu.

“Selalu ada pilihan. Lihatlah dirimu di cermin!” Perempuan itu semakin berani, seakan sudah menangkap kegamangan Al.

Kali ini Al menatap perempuan itu lekat-lekat. Kunto telah lama menyemai benih di perpustakaan ini. Gagasannya tumbuh liar di mana-mana. Bagaimana jika perempuan ini benar? 

“Bunuh saja aku. Jangan bakar perpustakaan ini,” ucap perempuan itu. Kali ini suaranya tak lagi lantang tapi masih menghujam telinga Al.

Al mengalami kecamuk batin yang hebat. Hawa bensin membuat kepalanya pening. Perpustakaan itu seperti berputar dan berkilauan. Ia teringat rekan kerjanya yang penyamarannya terbongkar. Ia dihakimi massa setelah diteriaki maling oleh rekannya sendiri. Itulah mimpi buruk yang akan ia alami jika gagal atau meninggalkan misi.

“Bunuh aku dan tinggalkan perpustakaan ini,” kata gadis kembali.

“Diam!” Al merasa asing dengan suaranya. “Biarkan mimpi buruk itu datang padaku.”

Al membuka pintu dan melemparkan puntung rokok yang sudah padam ke tanah.
 
“Kau bisa membuat mimpi burukmu sendiri,” teriak si gadis.

Al tak menoleh.
 
“Kau bisa menjadi memedi!”

***

Sejak peristiwa itu Al benar-benar meninggalkan pekerjaan laknatnya. Ia bersembunyi di sepetak kontrakan pinggiran kota. Suatu malam ia duduk menghadapi baskom berisi rendaman handuk. Ia mengambil botol bensin di tas kerjanya, menuangkan sebagian isinya ke secarik kasa lalu menempelkannya ke sebagian wajahnya. Aroma bensin menusuk hidungnya, bahkan paru-parunya. Tangannya bergetar saat menyalakan geretan.

Api geretan bergoyang-goyang karena tangan yang gemetar. Lalu padam. Al kembali menyalakan geretan. Api semakin mendekat dan menari-nari di matanya, lalu menyambar kain kasa di wajahnya. Ia terjengkang sambil menjerit tertahan.

Tangannya menggapai-gapai handuk basah di baskom. Tapi baskom itu malah tumpah. Ia terus meraba-raba sambil mengerang dan menggelepar saat wajahnya berdesis-desis dan melepuh. Akhirnya tangannya bisa menggapai handuk itu. Ia terlentang dengan wajah tertutup handuk basah. Asap mengepul bersama aroma daging gosong bercampur bau bensin dan lelehan kain.

Al terbangun dari pingsannya dengan tubuh menggigil. Tergopoh-gopoh ia menuju cermin. Wajah seorang memedi mengawasinya. Ia tersentak mundur, air matanya menggoreskan perih di wajahnya.

Tak akan ada satu pun orang yang akan mengenalinya. Rekan-rekannya menyangka ia telah mati. Ia tak lagi khawatir mimpi buruk karena lari dari misi. Sekarang ia adalah mimpi buruk itu sendiri. Ia tak perlu lagi melakukan penyamaran karena wajah buruknya adalah penyamaran yang sempurna. Cermin yang retak pun lebih buruk rupa dari wajahnya.

Al hidup sebatang kara dalam penyamaran abadi. Penyesalan, kesepian, dan kutukan menjadi teman sehari-hari. Hidungnya seolah tersumbat bau bensin dan darah dagingnya sendiri. Suara gadis itu dan wajah memedi seperti mengikutinya ke mana pun ia pergi.

Al baru bisa keluar dari kontrakannya setelah luka di wajahnya mengering. Setiap orang yang ia temui selalu membuang muka. Ingatan-ingatan di masa lalu muncul dan tenggelam. Kenangan di masa kecil tentang perpustakaan sekolah datang silih berganti.

Langkah kakinya mengantarkan ia pada penjual buku bekas di pinggir jalan. Cerita yang pernah ia tulis tentang perpustakaan yang menenggelamkan pustakawannya seakan bangkit kembali. Al memborong buku-buku bekas tersebut dan menumpuknya di petak kontrakannya. Esoknya ia kembali larut mencari toko-toko buku di tiap penjuru kota, membeli buku-buku sejarah, mengumpulkannya, dan begitu seterusnya.

Ia akhirnya mendirikan toko buku kecil tak bernama. Di sinilah ia akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama jelaga-jelaga ingatannya. Di toko buku ini ia meratapi masa lalu yang berlumuran darah dan api, tenggelam di antara buku-buku sejarah lapuk yang ia kumpulkan sendiri. Satu-satunya hiburan, kalau istilah ini tepat, muncul saat ia memberi diskon buku sangat miring kepada pembeli yang kebanyakan orang-orang muda dari komunitas entah berantah. Di tangan mereka sejarah akan tumbuh dengan beragam wajah dan segala kerumitan labirinnya.

Al tak berani menceritakan atau menulis masa lalunya dalam otobiografi atau teks sejarah, walaupun pengalaman dan buku-buku yang ia koleksi memungkinkan untuk itu. Biarlah para pembeli buku menuliskan sejarah mereka sendiri.

“Bung Jassin yang baik, bagaimana aku menulis sejarah di saat tanganku penuh jelaga?”

***

Beberapa saat aku hanya tertegun menghadapi naskah dan amplop lapuknya. Ada yang lebih mengejutkan dari penyebutan namaku di akhir cerpen ini. Si penulis sepertinya sadar mengapa ia memilih penceritaan dari sudut pandang orang ketiga: ia merasa tak layak menjadi orang kedua, apalagi orang pertama.

 

Bandung, September 2025

Iman Herdiana

Jurnalis dan Penulis Fiksi.

 

-- -- --

Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.