“Besok aku akan melakukannya.”
“Kamu gila.”
“Iya, aku memang sudah gila. Rindu kebebasan membuatku gila.”
“Kalau begitu kamu orang paling goblok.”
“Ah, aku nggak peduli, aku harus melakukanya.”
“Sebaiknya kamu pikir-pikir dulu.”
“Semuanya sudah aku pikirkan secara matang.”
“Kamu yakin?”
“Yakin!”
“Ingat, tak ada satu orang pun yang berhasil melakukanya.”
“Soal itu aku sudah tahu.”
“Lalu mengapa kamu tetap ingin melakukannya?”
“Karena aku ingin perubahan. Perubahan hanya bisa diraih dengan pemberontakan.”
“Jangankan untuk melakukannya. Baru dengar ada pemberontak yang ingin melakukannya, pasti ia akan ditembak atau dipancung.”
“Kan sudah aku bilang, aku nggak peduli.”
“Kamu pasti akan menyesal dengan apa yang akan kamu lakukan.”
“Aku tak takut mati. Memangnya mereka siapa? Malaikat pencabut nyawa?”
“Ah, kamu memang keras kepala.”
“Itu memang benar. Sekarang yang diperlukan hanya orang yang memiliki kepala sekeras baja. Karena kalau tidak, ia akan mudah terombang-ambing, lalu dipecahkan.”
“Dasar edan, kamu memang keras kepala. Sebagai seorang kawan, aku hanya bisa mengingatkan. Mereka tak akan segan-segan untuk menumpas siapa saja yang melakukan pemberontakan. Bahkan, mereka akan menyiksa para pemberontak dengan cara-cara yang tidak masuk akal sebelum dibasmi.”
“Aku tetap akan melakukanya. Aku tidak takut dengan cerita-ceritamu. Aku hanya bisa berterima kasih atas segala wejanganmu. Tapi sekali lagi, aku masih teguh dengan pendirianku.”
“Lalu bagaimana kamu akan memulainya?”
“Oh, itu gampang. Pertama, aku akan mengirimi mereka sebuah surat. Isinya tentang ketidak-puasan karena ulah mereka di Tanah Air ini.”
“Memangnya surat itu kamu tujukan pada siapa?”
“Pada Gubernur Jenderal.”
“Hah, kamu benar-benar sinting. Orang edan. Kamu sungguh sudah tidak waras. Kamu bisa digantung, lalu mayatmu akan menjadi santapan anjing-anjing peliharaannya. Aku mohon dengan amat sangat padamu untuk mengurungkan niatmu.”
“Aku juga mohon dengan amat sangat padamu, jangan kau patahkan semangatku. Aku sudah nggak peduli dengan semuanya. Aku akan lawan semuanya. Aku nggak takut dengan apa pun. Dengan iblis sekali pun aku nggak takut, kalau aku berpijak pada kebenaran.”
“Jika itu memang sudah menjadi keputusanmu, apa boleh buat. Kalau boleh tahu bagaimana bunyi suratmu? Kamu sudah membuatnya?”
“Ya, aku sudah membuatnya. Bunyinya begini: Tuan Gubernur Jenderal yang terhormat, saya selaku orang pribumi merasa sangat tidak senang atas semua yang Tuan dan orang sebangsa Tuan lakukan di negeriku ini. Saya tidak suka dengan cara Tuan merampas semua yang terkandung di alam negeriku ini. Tuan menganggap kami sebagai budak. Sebenarnya, saya tidak membenci Tuan dan orang-orang sebangsa Tuan, jika tidak melakukan hal demikian. Kami hanya ingin merasakan kedamaian di negeri kami sendiri, tanpa adanya campur tangan dari bangsa Tuan yang culas. Kami sudah sangat terganggu oleh keberadaan Tuan dan bangsa Tuan di negeri kami ini. Oleh karena itu, kami mohon dengan terpaksa agar Tuan sudi untuk meninggalkan negeri ini. Jika tidak, maka akan terjadi pemberontakan di mana-mana. Terima kasih atas kesediaannya membaca surat ini. Tolong dipertimbangkan ucapan saya ini, setidak-tidaknya untuk kemanusiaan. Bukankah bangsa Tuan adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.”
“Asu! Sungguh gila. Kamu benar-benar sudah bosan hidup.”
“Memang, aku sudah bosan hidup. Lebih baik aku mati ketimbang hidup dalam ketertindasan.”
“Baiklah kalau begitu. Aku hanya bisa berdoa agar kamu selalu diberi keselamatan. Semoga apa yang kamu lakukan dapat berguna bagi negeri kita tercinta. Dan aku berada di pihakmu, karena aku juga pribumi. Sama sepertimu, juga orang-orang di sekeliling kita. Lantas, bagaimana kamu akan mengirimkan surat itu.”
“Oh, itu gampang. Aku tinggal melemparkannya ke Istana Gubernur Jenderal. Surat itu aku masukkan ke dalam sebuah botol beling yang dicantoli lonceng kerbau agar memancing kegaduhan.”
“Sambar gledek, hebat benar idemu. Melihat semangat dalam dirimu, aku jadi terlecut untuk membela pribumi yang terjajah. Pokoknya seratus persen aku akan mendukungmu.”
“Terima kasih atas semuanya. Memang seharusnya begitu, kalau tidak kita yang melakukannya, lantas siapa? Kebebasan bukan barang gratis. Kita harus bersusah payah untuk mendapatkannya, kalau perlu dengan darah sekali pun.”
Tiga hari kemudian.
“Bagaimana ceritanya kamu bisa sampai ke tempat ini?”
“Karena sebuah surat.”
“Surat?”
“Ya, surat.”
“Memangnya surat apa? Aku masih belum jelas.”
“Aku menulis surat kepada Gubernur Jenderal.”
“Hah, kepada Gubernur Jenderal. Isinya?”
“Isinya adalah sebuah pemberontakan tertulis. Aku menuliskan sebuah rintihan hati yang aku alami, dan juga yang dialami pribumi kebanyakan.”
“Rintihan hati? Memangnya apa rintihan hati pribumi? Aku benar-benar nggak paham. Maklum aku sudah tinggal di penjara ini sekitar 30 tahun.”
“Hah, 30 tahun. Dahsyat! Memangnya kamu melakukan apa? Sampai-sampai kamu bisa mendekam di tempat ini selama 30 tahun.”
“Ah, aku hanya melakukan hal sepele. Bahkan lebih sepele dari perihal suratmu. Waktu itu aku tak sengaja melempar kotoran kuda ke jalan, lalu arak-arakan kereta Gubernur Jenderal kebetulan lewat di jalan itu. Waktu itu yang lewat Gubernur Jenderal yang ke berapa dan siapa, aku lupa.”
“Hmm. Gila, benar-benar gila. Sekarang sudah Gubernur Jenderal yang ke berapa dan siapa, aku juga tak tahu. Persetan! Jadi kamu sudah merasakan kepemimpinan Gubernur Jenderal sebanyak tiga kali, bila tidak meleset dugaanku. Aku saja masih berumur 20 tahun. Lalu umurmu sendiri berapa? Dan bagaimana kelanjutan perihal kotoran kuda itu?”
“Umurku kurang lebih 79 tahun. Kotoran kuda yang aku lepar ke jalan itu akhirnya terinjak oleh kereta kuda Tuan Gubernur Jenderal. Mengetahui hal itu, Gubernur Jenderal kebakaran jenggot. Dengan bantuan anak buahnya, ia melacak siapa yang telah membuang kotoran kuda itu. Ya, seperti yang kamu lihat. Para anak buahnya menemukan siapa yang telah membuang kotoran kuda itu. Dan, mereka menggelandangku ke dalam penjara laknat ini. Ngomong-ngomong, kita kembali ke masalah rintihan pribumi tadi. Aku benar-benar nggak paham tentang rintihan itu.”
“Rintihan hati ya rintihan hati. Masa kamu nggak ngerti? Kita ini sedang dijajah oleh bangsa Gubernur Jenderal. Selama ini rakyat tidak menyadari kalau dirinya sedang dijajah. Selama ini kita hanya dinina-bobokan oleh para pembesar pribumi; kalau orang-orang sebangsa Gubernur Jenderal adalah saudara jauh yang datang untuk membantu pribumi. Padahal jelas-jelas mereka telah menjajah kita. Kita dijadikan budak di Tanah Air sendiri.”
“Cilaka!”
“Maka sekaranglah saatnya kita melepaskan diri dari belenggu. Kita harus berjuang. Kita harus bebas dan merdeka.”
“Iya… Itu memang benar. Dan aku baru saja menyadarinya. Benar anak muda, kita harus merdeka. Dan semoga cita-cita perjuanganmu dapat terwujud.
“Tentu, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk meraih kebebasan itu. Tentunya perjuanganku ini harus mendapat dukungan dari semua lapisan masyarakat.”
“Kalau masalah dukungan atau tidak didukung… itu pintar-pintarnya kamu saja, bagaimana menarik massa untuk diajak dalam sebuah perjuangan.”
“Betul.”
“Terus sampai kapan kamu akan bertahan di penjara ini? Secepatnya kamu harus bisa meloloskan diri dari tempat ini, kalau tidak, maka perjuanganmu akan tertunda.”
“Oh, soal itu aku sudah memikirkannya. Dalam beberapa hari ini aku akan merencanakan untuk kabur dari tempat ini.”
“Kabur?”
“Ya!”
“Caranya?”
“Itu gampang. Aku akan kabur lewat gorong-gorong yang terletak tepat di bawah sel ini. Aku akan menggali kurang lebih sedalam tiga meter untuk mencapai gorong-gorong itu. Gorong-gorong pasti akan bermuara ke sebuah sungai besar di kota ini.”
“Lalu kapan kamu akan melakukannya?”
“Tergantung situasi. Kalau situasinya memungkinkan, aku akan segera melakukannya. Dan kita akan kabur bersama-sama.”
“Kita?”
“Ya, kita.”
“Lebih baik kamu pikirkan dirimu sendiri. Jangan pikirkan aku. Aku sudah tua, barangkali akan mati membusuk di tempat ini. Lagian aku tak mempunyai sanak saudara. Jadi lebih baik aku menghabiskan sisa umurku di tempat ini saja.”
Indonesia 1995
“Besok aku akan melakukannya.”
“Kamu sudah gila? Lebih baik pikirkan dulu semuanya secara matang-matang sebelum kamu melakukannya.”
“Aku memang gila. Percuma saja kita hidup di negeri yang sudah merdeka 50 tahun kalau kita tidak bisa bebas melakukan segala hal. Seolah-olah lidah kita dipotong. Kita tidak bisa berbicara banyak.”
“Tapi itu hanyalah sebuah kekonyolan. Kamu akan menerima balasan tentang apa yang akan kamu perbuat. Kamu pasti akan dihukum, diasingkan. Bahkan kamu bisa didor.”
“Tentang segala macam imbasnya, aku sudah memikirkannya. Aku sudah jijik dengan kebusukan orang-orang di pemerintahan sana. Jelas-jelas telah terjadi korupsi di dalamnya, tapi tak ada seorang pun yang berani membongkarnya. Malahan mereka ikut memperkaya diri dengan korupsi serupa. Bangsa ini benar-benar di ambang kehancuran.”
“Sejak dulu sifat keras kepalamu sulit dihilangkan. Tentunya kamu masih ingat tentang surat yang kamu kirimkan pada Gubernur Jenderal, 70 tahun silam. Gara-gara surat itu kamu harus mendekam di dalam penjara.”
“Ai, aku masih ingat peristiwa itu. Dan aku akan mengulanginya.”
“Mengulanginya? Ingat, kamu sudah tua. Sudah bau tanah.”
“Ya, aku akan mengulanginya. Aku akan mengirim surat kepada penguasa rezim ini. Aku akan melancarkan kritik kepadanya.”
“Hati-hati, penembak misterius akan melubangi kepalamu.”
“Biarin, aku nggak peduli. Lebih baik mati dari pada hidup dalam ketertindasan.”
“Kalau boleh tahu bagaimana bunyi surat itu?”
“Surat itu sengaja aku ketik, biar kelihatan resmi. Bunyinya begini: Bapak Penguasa yang terhormat, sudikah Bapak menghentikan segala upaya untuk menguasai negeri ini. Karena ulah Bapak itu, banyak rakyat yang sengsara dan menderita. Saya selaku rakyat yang Bapak pimpin, merasa diperlakukan secara tidak adil. Saya merasakan ketidak-beresan dalam pemerintahan. Banyak penyelewengan yang terjadi, salah satunya adalah korupsi yang semakin merajalela. Untuk itu sudikah bapak meninggalkan jabatan Bapak demi kelangsungan bangsa ini di masa akan datang. Terima kasih atas kesediaannya membaca surat ini. Mohon dipikirkan baik-baik ucapan saya ini.”
“Sungguh nekat! Gila. Kamu benar-benar akan dibunuh.”
“Ya, setidaknya itulah buntutnya. Habisnya aku sudah tak tahan dengan semuanya.”
“Kali ini kamu benar-benar tak bisa selamat. Kalau dulu kamu bisa meloloskan diri dari penjara Gubernur Jenderal dengan jalan menjebol gorong-gorong, maka sekarang kamu akan tewas. Kamu akan dibunuh oleh orang-orang suruhan penguasa rezim ini. Tapi kalau kamu bernasib baik, kamu hanya diasingkan saja. Kamu akan diasingkan di Pulau Buru seperti para tahanan politik yang dicap sebagai orang komunis.”
“Rupanya kamu masih ingat tentang bagaimana aku lolos dari penjara itu. Waktu itu sebenarnya aku akan kabur dengan seorang kawan. Tapi ia juga seorang yang keras kepala, sama seperti aku. Ia memilih untuk menghabiskan sisa umurnya di tempat itu. Jadi aku hanya kabur seorang diri, tentunya aku dapat kabur atas bantuannya. Ia yang membantuku menggali tanah untuk sampai ke gorong-gorong. Kalau teringat dengan peristiwa itu, rasa-rasanya aku adalah orang yang paling berdosa; meninggalkan seorang kawan yang sudah tua, meninggalkannya sebatang kara.”
“Mendengar cerita itu, aku tersentuh. Lalu kapan kamu mengirimkan surat itu?”
“Besok. Aku akan mengirimkannya lewat Pos.”
“Lewat Pos?”
“Ya!”
“Akan kamu tujukan ke mana?”
“Tentu saja aku kirimkan langsung ke rumah penguasa rezim itu.”
“Ah, rasanya aku tak berani membayangkan apa yang akan kamu derita setelah mengirimkan surat itu. Apakah kamu dibunuh atau apalah, aku sungguh tak berani membayangkannya. Yang jelas aku selalu berdoa untuk keselamatanmu. Aku tak tega melihatmu menderita seperti peristiwa 70 tahun silam, yang hanya karena sepucuk surat kamu harus mendekam di dalam penjara, walaupun itu hanya beberapa hari.”
“Jangan membawa peristiwa yang dulu. Yang dulu biarlah berlalu, yang penting adalah masa depan. Kita harus memperjuangkan masa depan kita. Dan untuk doa-doamu, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih, walaupun doa-doamu tak pernah terkabul. Mungkin Tuhan belum berpihak pada kita; kita yang selalu tertindas dan teraniaya.
Dua minggu kemudian.
“Karena kasus apa kamu bisa diasingkan di pulau ini?”
“Hanya karena sebuah surat.”
“Surat?”
“Ya, surat.”
“Surat untuk siapa?”
“Untuk Bapak Penguasa. Dalam surat itu aku menghujatnya habis-habisan, dan memintanya supaya sudi untuk mengakhiri masa kepemimpinannya.”
“Uh, dasar bandot tua. Sinting! Kamu memang sudah bosan hidup. Tapi aku salut dengan keberanianmu. Ngomong-ngomong, besok semua tahanan politik di pulau ini akan dihukum pancung.”
“Termasuk kita?”
“Ya, semua tahanan politik di Pulau Buru akan dipancung.”
“Tapi… hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Bukan algojo.”
Indonesia 2025
“Harusnya kamu sekarang sudah kuliah S2 di Harvard.”
“Harusnya, sih.”
“Aku sudah mengingatkanmu. Tapi kamu keras kepala.”
“Ya mau bagaimana lagi. Aku sudah muak dengan para koruptor di negeri ini.”
“Aku paham! Kita semua sudah muak dengan korupsi yang sudah menggurita.”
“Nah…”
“Tapi ya, awalnya aku menganggap artikelmu di situs berita online itu hanya akan menguap begitu saja. Bakal dilupakan.”
“Kamu keliru. Aku sudah memprediksinya. Kejanggalan Pemerintah Kota dalam mengurus anggaran, yang kutulis dalam artikel itu, pasti akan memantik gerak aparat penegak hukum.”
“Dan benar! Itu kan yang ada di benakmu.”
“Yang jelas aku tidak asal menulis. Artikelku berdasarkan data-data empiris di lapangan dan kesaksian sejumlah warga. Semua mengarah pada penyelewengan anggaran.”
“Kalau dipikir-pikir, artikelmu menjadi cikal-bakal penyebab yang menjebloskan Wali Kota dan kroni-kroninya ke sel penjara.”
“Memang! Penyidik bekerja karena tergiur dengan data yang kusampaikan dalam artikel itu.”
“Dari artikel itu pula, kamu batal ke Harvard. Pemerintah Kota membatalkan beasiswa bagi para putra daerah yang sudah dijanjikan untuk kuliah ke luar negeri.”
“Tapi aku tidak menyesal. Aku tak ingin kuliah dibiayai oleh pemerintahan yang korup.”
“Tapi kamu sekarang merana. Simpatisan Wali Kota menghambat kariermu. Kamu susah mendapatkan pekerjaan dengan berbekal ijazah S1 di kota ini.”
“Itu tidak masalah. Sebut saja yang kulakukan ini adalah pemberontakan. Dan setiap pemberontakan pasti ada imbasnya. Kamu baca sejarah, kan?”
“Sejarah apa?”
“Dahulu, seratus tahun lalu, tepatnya 1925, ada pemberontak yang bernasib sial sama sepertiku.”
“Oh, aku ingat.”
“Dia memberontak terhadap Pemerintahan Hindia Belanda. Dia mengirim surat pemberontakan itu kepada Gubernur Jenderal.”
“Kemudian terjadi lagi di masa Orde Baru. Ada pemberontak yang dikirim ke Pulau Buru, lalu kepalanya dipenggal.”
“Nah, demikianlah. Sejarah akan selalu menggelinding, terus berulang. Pergerakannya akan selalu sama, tapi masanya yang berbeda.”
“Benar!”
“Manusia, sekecil apa pun porsinya, memang selalu ditakdirkan untuk menjadi pemberontak.”
“Ya! Hal itu mengingatkanku pada Albert Camus.”
Eko Darmoko
Prosais kelahiran Surabaya. Rudi adalah nama panggilannya. Masuk dalam daftar 10 Penulis Emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival 2022. Buku kumpulan cerpennya Revolusi Nuklir (Basabasi, 2021) terpilih sebagai 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Buku lainnya yang sudah terbit adalah novel Jagat Rajawali (Penerbit KPG, 2025), novel Anak Gunung (Pelangi Sastra, 2022) dan kumpulan cerpen Ladang Pembantaian (Pagan Press, 2015).
Cerpen-cerpennya dimuat Harian Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Detik.com, Kompas.com, Basabasi.co, BacaPetra.co, dll. Berpartisipasi dalam Borobudur Writers and Cultural Festival 2019 dan 2023. Menjadi salah satu cerpenis terbaik dalam sayembara menulis cerpen Dewan Kesenian Surabaya 2019. Bergiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya. Lulusan Sastra Indonesia Unair Surabaya. Instagram @ekodarmoko
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.