Setiap hari aku memakan lumut yang begitu nikmat di lidahku, rasanya basah dan renyah. Abadikanlah parasku sesukanya, mungkin berguna bagi duri-duri yang tertancap di hati kalian. Hitungan dimulai dari satu, agar semuanya kebagian tiap potongan dari tubuhku hingga irisan yang terakhir. Kau pasti senang.
“Hai Kakek, gendonglah aku, selamatkan aku dari iblis yang akan melahap kepalaku. Kakek! Apa kau dengar?”
“Kau yang memanggilku?” Seekor kura-kura yang terlihat dari balik kerumunan manusia mengentikan langkahnya yang tanggung. “O, biji-biji kedelai ini memang ulahmu, ya?”
“Tentu, aku memanggilmu—malah dua kali,” tegasku gemas. “Aku juga yang sengaja menata biji kedelai itu untuk memancing hewan datang. Kenapa kau ke arah sini?”
“A, aku sendiri kurang tahu. Tuanku memberiku potongan tebu muda, dan ia bilang padaku supaya aku berjalan menjauh darinya. Apa maumu?”
Aku berteriak keras, “Gendonglah aku, di belakangmu. Ayo pergi dari manusia-manusia ini. Mereka sudah mulai berdatangan.”
“Tidak sebelum kau mengatakan apa alasanmu.”
“Alasan kau bilang, Kakek Kura? Baiklah.”
Kedua kakiku merambat ke atas tembok. Sekarang aku lebih tinggi dari manusia-manusia di hadapku. Mengapa aku merasa sangat puas dapat melihat semuanya tanpa perlu terbayang oleh hamparan kehidupan yang putus asa. Dari atas mereka penglihatanku seakan tergenapi.
“Aku hanya butuh pertolongan,” teriakku kesal. “Apakah kau mau menolongku, Kakek? Aku sudah lama menempel di tembok ini. Makan lumut terus membuat pencernaanku rusak. Aku kesakitan. Aku butuh tempat lain.”
“Oke. Turunlah dari sana, tetapi hati-hati. Terbanglah selihai mungkin supaya sayapmu tidak ternoda oleh lelehan es krim dari gadis-gadis itu.”
“Itu sangat gampang.” Berancang-ancanglah aku. Apabila aku salah sedikit saja mengepakan sayap, aku pasti menabrak mereka semua dan dipukul dengan gulungan koran lusuh sampai semua ususku terburai di tanah.
“Apa kau siap?”
“Siap!” jawabku ragu.
Kakek Kura jalan mundur ke belakang. Lehernya yang panjang menjulur keluar mengarah ke lalu-lalang kendaraan.
“Jangan lupa membawa barang-barang berhargamu, ya. Aku mau saja menanggung beban hidupmu, tetapi aku tak punya apa-apa.”
“Tenanglah, sudah kumasukan semuanya di dalam perut,” sahutku dengan sekilas mengikik, seakan meremehkan. Dari dulu aku tak menyukai sikap sok peduli dari semua hewan yang badannya lebih besar dariku. Mereka mesti melihat kami yang berbadan kecil ini lemah dan selalu butuh bantuan. Lambungku seketika jadi mual bila mengingatnya.
Kupersiapkan gairah, dan lalu kudorong tembok berlumut sekuat tenaga agar bisa menambah daya lontar. Kukepakan sayap tipis yang diciptakan oleh perut ibuku bagai pemanasan. Aku melesat, melewati selah-selah tak berbentuk dari pundak manusia. Aku menukik tajam ke bawah menghindari jepitan selangkangan dari seorang lelaki. Sesudah itu aku meluncur tanpa beban, dan bersengaja menyerempet telinga istrinya.
“Kakek, aku sudah dekat, bersiaplah!”
“Jangan ragu, mendaratlah sesukamu di atas tempurungku. Cuma awas terpeleset!”
Punggung Kakek Kura berbentuk kotak-kotak serupa di lantai rumah manusia. Bedanya berada di tekstur yang lunak dan licin seperti lama tak ada yang pernah memandikannya.
“Kakimu terasa kecil dan runcing, punggungku jadi terasa gatal,” kata Kakek Kura setelah aku mendarat tanpa cedera. Aku melangkah mondar-mandir. Tempurungnya tidak luas, masih lebih luas tembok. Akibatnya aku jadi tidak bebas berdiri di mana saja.
“Apa kau baru kali ini, ya merasakan kaki seekor belalang di punggungmu?”
“Mungkin, aku lupa. Usiaku sudah seratus tahun. Banyak serangga yang sudah pernah kutemui.” Kakek Kura memutar lehernya ke arahku, “Ke manakah tujuanmu?”
“Nanti aku akan memberitahumu, Kek. Lagi pula aku tak pernah hidup di satu tempat lama-lama. Membingungkan—perut kecil ini yang seringkali menentukan semua rencanaku.”
Kakek Kura berjalan lambat, meninggalkan manusia-manusia yang tetap menonton pertunjukan dari bocah gelandangan yang sedang bermain ukulele tak bersenar. Bocah itu meliuk dan mengetuk-ketuk ukulele miliknya. Tangan-tangan bertepuk riuh untuknya. Tangan-tangan menghujaninya dengan banyak koin. Bocah itu terberkahi oleh hasrat manusia untuk terus berbuat baik sesuai anjuran dokter kejiwaan mereka.
Dengan tulus, kulambaikan dua tanganku yang melengkung untuk mereka bak manusia yang berpamitan kepada orang yang tak pernah dicintainya.
Kami menyusuri lambat tanjakan dan turunan di tepi jalan serupa pasangan yang tidak sungkan mengumbar kepongahan. Walau begitu kami tak juga dianggap aneh oleh manusia. Tabiat mereka acuh. Padahal kami sepatutnya dapat menjadi hiburan untuk mereka yang kecanduan dengan hal-hal yang eksentrik.
“Berhenti, Kek berhenti! Aku melihat sesuatu—di sana, di antara tanaman merah itu. Kek, Kakek!”
“O, ya. Apa aku telah tertidur?!”
“Untung kita tidak menabrak. Kalau sudah tua memang suka begitu, ya?”
“Maaf, itu tak kusadari. Ajaklah aku bicara supaya tidak terulang lagi.”
“Dengan senang hati. Tapi tunggu, berhentilah sebentar.”
Aku tidak terbang tapi melompat kalau untuk jarak yang dekat. Aku berjalan ibarat manusia yang sedang mengendap-ngendap. Kulihat seekor kecoa terbaring lemas di tepi pot kembang mawar seperti mati, maka kutetapkan jarak sebelas centi darinya.
Kusapa ia, “Hai, apa kau baik-baik saja?”
Ia berguman pelan, “Aku, tidak baik. Kepalaku terasa pusing sekali. Ah, aku terbalik.”
Kecoa itu hidup. Ia menghentakan seluruh kakinya, menendang-nendang ke langit, kesulitan membalikan badannya.
“Badanku linu sekali. Seingatku, aku sedang mencari makanan di tumpukan sampah. Tapi tiba-tiba saja ada yang menghempasku, dan aku terbalik, lalu pingsan.”
Suara isak kecoa menggelisahkan.
“Sayapmu, memang begitu?” tanyaku penasaran.
“Tidak juga. Ini perlahan rontok. Mungkin karena aku terlalu jauh menggelinding dan tertindih. Tidak apa-apa kok, masih ada satu sayap lagi.”
“Aku harus pergi. Ayo kubantu kau memalingkan badanmu.”
Tubuhya terlampau berat. Aku mendongkraknya dengan sebatang lidi sebagaimana wajar dilakukan oleh manusia ketika seiris daging tersangkut di gigi mereka.
Kecoa hitam itu bangkit terhuyung ke kanan-kiri sebentar, lalu mengibas-ngibaskan, dan memeriksa sayapnya yang rontok—yang pelan-pelan ternyata mudah untuk tumbuh kembali.
“Kau tidak mau ikut dengan kami?” Aku berniat mengajaknya, tapi ia berat hati sebab anak-anaknya sedang menanti makananan darinya.
“Aku ingin, tapi aku tidak bisa. Anak-anakku menunggu. Mereka ada puluhan jumlahnya. Merepotkan aku tiap hari. Mereka tak punya penjaga lain selain aku.”
“Terserah kau. Saranku carilah makanan di restoran cepat saji. Bila kau beruntung, kau bisa dapat potongan hamburger. Di sana aman waktu pagi dan siang, tidak ada gangguan manusia.”
Ia mengangguk dan berkata akan mengajak semua keluarganya untuk mencari makan di sana.
“Terima kasih, ya. Kau belalang kecil yang baik. Aku tidak akan melupakanmu.”
Kecoa itu terbang rendah meninggalkanku dengan seutas tanya: apakah sayapku bisa tumbuh dengan mudah seperti miliknya bila tiba-tiba rontok? “Sepertinya tidak mungkin,” gerutuku dalam hati, “Aku bukan serangga yang baik.”
Aku menunggangi Kakek Kura kembali, tetapi dalam diam kegelisahan.
“Kau suka alam yang indah?” Kakek Kura menanyaiku.
“Ya, alam ini indah, tapi tebang pilih,” jawabku sinis. “Ia hanya boleh diisi oleh yang sedap dipandang mata saja: kupu-kupu, gunung hijau, pohon rindang, udara berembun, ombak yang tenang, senyum pramusaji dan wangi bunga. Kalau begitu, di manakah tempat yang pantas buatku, buat kecoa, untuk kita yang tidak indah juga tidak buruk ini?”
“Di rumahmu sendiri, benar, kan?” tebak Kakek Kura.
“Kau benar,” kujawab singkat. Ia riang sembari menggigit potongan tebu muda yang terselip di lehernya.
Akan tetapi aku yakin tempat yang pantas untukku sekarang hanya tempurungnya. Ia tidak akan menendang atau mengusirku seperti manusia, sebab dalam usia senjanya kini ia telah diutus oleh alam sendiri agar menjadi wahyu bagi serangga sepertiku.
“Benar usiamu seratus, Kek?”
“Bisa jadi. Aku tak pandai berhitung. Ke manakah kita sekarang?”
“Tempat kelahiranku.”
“Rasanya akan lama. Kau harus sabar. Aku tidak bisa jalan cepat. Kenapa kau tidak terbang saja? Itu kan lebih cepat.”
“Di mana puasnya terbang ke tempat tujuan bila hanya sendirian, Kek. Aku sudah terbang ke sana-ke sini, dan tanpa tujuan selain berburu apa yang menyenangkan.”
Kakek Kura memiringkan kepalanya melihatku. Ia terpaku heran dengan apa yang baru saja kusampaikan padanya.
“Banyak manusia sudah kutemui. Semuanya dalam kepura-puraan. Tak pernah ada satu pun dari mereka yang mengindahkan keberadaanku sebagai seekor belalang. Anak-anak juga tak ubahnya pemangsa yang tersenyum seram sewaktu melihat temannya memburuku,” kataku menekankan.
“Ternyata begitu. Kau pernah punya tuan yang jahat padamu? Dan sampai sekarang kau tidak punya teman?”
Wajahku terpana dengan kesimpulannya. Terdengar kurang akurat. Lantas aku membalasnya dengan jujur.
“Anak-anak itu hanya ingin bernyanyi dan melihatku bertingkah konyol karena nyanyian mereka. Bila sudah bosan denganku mereka akan mencabuti kaki dan tanganku. Kau tahu, itu benar-benar kejam.”
Kakek Kura sigap menanggapi seraya menahan kantuk. “Kau pernah melihat anak-anak itu melakukannya, atau itu cuma kecurigaanmu saja? Anak-anak tuanku selalu baik kepadaku; ya, menyediakanku kasur untuk tidur, dan kadang menyuapiku dengan makanan kucing—tapi, saat itu aku masih muda.”
Kakek Kura tampak senang setelah mengatakannya, tetapi kemudian ia tertunduk lesu, seolah sedang menyembunyikan duka dari kamera pengawas di lampu merah.
“Perlakuan anak-anak tuanku berubah saat aku sudah rapuh seperti sekarang,” tambahnya, “Mereka tak pernah lagi menggosok tempurungku. Jatah makananku sudah tak lagi enak. Dulu tiap hari mereka memberi buah-buahan atau sayuran. Kemarin tiada makanan apa-apa buatku.”
Ia memaksakan senyum dari bibirnya yang keriput dan terucap protes: “Kenangan yang indah.”
Walau nasibnya memilukan aku tetap iri dengannya. Ia pernah hidup dengan manusia yang baik hati. Meski sekarang boleh jadi ia sedang dicampakan oleh tuannya. Tapi tetap saja itu artinya ia pernah menjadi hewan yang berharga. Bukannya binatang sudah sepatutnya harus mempunyai tuan, ya? Bila tidak berarti ia bukanlah binatang, melainkan tudung saji. Ah, mulai sekarang aku bukanlah seekor belalang, jadi sebutlah aku tudung saji—sebab itulah julukan yang kupilih sekarang, dan aku cukup menyayangi itu dengan separuh hati.
“Tebu?” Kakek Kura menawari, tapi aku hanya menggelengkan kepala tak mau.
“Apa tempat kelahiranmu sudah dekat?” tanyanya.
“Jalan terus saja, Kek. Sudah dekat.”
“Kau yakin, Belalang kecil?”
Kubiarkan pertanyaannya menggantung di ranting-ranting pohon trembesi tua dalam waktu yang singkat.
“Sesungguhnya aku berbohong padamu. Aku tak punya tempat kelahiran. Aku hanya butuh teman bertualang. Kau mau?”
Aku memaksakan diri untuk jujur. Kura-kura sebaik dia tak boleh dicampakan untuk kedua kalinya.
Kakek Kura lama membisu, seperti menimbang-nimbang permintaanku. Ia masih tidak menjawab hingga awan gelap semakin dekat.
“Apa yang baru saja kau katakan, Belalang Sembah? Rupanya aku tertidur lagi. Bisa kau ulangi kata-katamu itu? Aku tidak mendengarnya, maaf.”
Hujan turun untuk pertama kalinya di kota wisata paling termasyur di seluruh negeri: Zogbya.
Darius Tri
Penulis
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.