Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
Sejumlah anak-anak bermain di tengah-tengah rel kereta api. Kurangnya lahan terbuka membuat mereka tetap ceria. Tak jarang permainan harus terhenti karena terdapat kereta api yang melintas. (Robertus Risky/ Project Arek)
Cucu Habib melamun tak di samping rel. Tak jauh darinya, Habib, sang kakek mengawasi. (Robertus Risky/ Project Arek)
Semua bergegas menjauhi rel. Ada yang memilih masuk ke rumah, ada yang mengintip di balik pintu, ada pula yang memasukkan tubuhnya di antara sela-sela gang kecil. Itu semua demi keselamatan agar tak disambar kereta api. Mereka menjaga kehidupan di jalur maut.
Mereka adalah masyarakat Kota Surabaya, bukan entitas yang terpisah dari metropolitan. Lokasinya, di Jalan Dupak Magersari, Surabaya. Di sana, deretan pemukiman warga, layaknya perkampungan biasa. Namun hal yang membuatnya berbeda, warganya berdampingan dengan rel kereta api aktif. Ya, aktif.
Achmad Wiyanto (57), akrab disapa Habib, hampir seluruh hidupnya ia habiskan di Kawasan ini. Sejak kecil mantan Ketua Rukun Warga (RW) tinggal dan bermukim di kawasan tersebut. Mulai 1967 hingga saat ini. Ia hidup bersama istri, anak, dan ketiga cucunya.
Sejumlah warga menghabiskan waktu bersama di depan rumahnya yang kondisi berhadapan langsung dengan rel kereta api. Jalur rel kereta api sekaligus menjadi halaman rumah mereka. (Robertus Risky/ Project Arek)
"Jadi sekitar tahun ‘73 muncul gubuk-gubuk liar, Mas. Terus adanya pembaruan dan modernisasi makin banyak pendatang dan terus bertambah banyak," ungkap Habib, sapaan akrabnya.
Meski terbiasa hidup di jalur maut, Habib masih memiliki was-was keselamatan keluarganya. Ia selalu waspada saat cucunya bermain di atas rel. "Khawatir pasti, Mas. Soalnya kadang kereta lewat kecepatannya tinggi, kadang sewaktu-waktu juga lewat, kadang juga lewat gak membunyikan bel. Jadi kita selalu waspada," imbuhnya.
Kengerian itu beralasan. Ia masih mengingat tragedi 2012 silam. Saat itu, rangkaian kereta api anjlok merenggut nyawa seorang warga. Kengerian serupa terjadi pada 19 November 2025 lalu, rangkaian kereta api anjlok tak jauh dari rumahnya. Tidak berhenti di situ, kebisingan dan getaran yang ditimbulkan saat kereta api melintas, menjadi teror kala beraktivitas.
Habib menjemput cucunya dari sekolah tak lama setelah rangkaian kereta yang melintas tak jauh dari rumahnya anjlok. Peristiwa seperti ini, membuat warga yang tinggal di kawasan ini memendam rasa takut. (Robertus Risky/ Project Arek)
"Gimana ya, Mas, mau tidur lihatnya rel kereta, bangun juga lihatnya rel. Pemandangannya itu-itu. Kalau kereta lewat rasanya kayak gempa bumi, suaranya kayak sound horeg," kelakar Habib.
Habib memiliki toko kelontong dan membantu istri menghantarkan pesanan kue basah dan bubur. Ia berharap mendapatkan hunian lebih layak, jauh dari kebisingan suara kereta yang menghantui hidupnya selama ini. Namun ia ketar-ketir juga karena harga rumah di Surabaya sulit dijangkaunya.
"Ya gini, Mas, harapan saya itu pemerintah harus lebih jeli kepada masyarakat kecil. Karena selama ini bantuan yang disalurkan sama pemerintah itu jatuhnya enggak tepat sasaran, Mas. Jadi sekarang itu kayak lagu, Mas. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin," imbuhnya.
Bersama Suami, Hidup Di Jalur Kereta Api
Ketakutan yang sama juga dialami Munatun (47) istri dari Habib. Perempuan kelahiran Madura tersebut pertama kali tinggal di kawasan setelah dinikahi Habib pada 1993. Keluarga sederhana ini dikaruniai dua orang anak. Lebih tiga dekade, tak semua hal yang terjadi menjadi normal baginya.
Achmad Wiyanto alias Habib (57) dan Munatun (47) mengharapkan kehidupan yang layak. Sekaligus berharap kepada Pemerintah Kota Surabaya untuk lebih memperhatikan masyarakat kecil. (Robertus Risky/ Project Arek)
Foto Habib bersama putrinya, sejak kecil ia menghabiskan waktunya hidup diantara jalur maut bersama keluarganya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Suara kereta api dan getaran tetaplah membuatnya tak bisa tidur pulas. Bangunan rumah semi permanen, tak kuasa menahan getaran kereta api kala melintas. Rumah berukuran 3x4 itu, adalah warisan orang tua Habib. "Pertama kali tinggal disini ya takut, Mas. Nggak bisa tidur. Tapi ya gimana lagi rumahnya di sini. Berisik, Mas," ungkap Munatun.
Di waktu siang hari Habib bersama cucunya beristirahat, meskipun kondisi rumah dan kampung yang padat ditambah getaran dari rel kereta api membuatnya terlelepa tidur. Dirinya berdaptasi dari kebisingan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Sehari-hari Munatun menggelar lapak sederhananya untuk menjual bubur dan melayani pesanan kue basah. Tak banyak pilihan pekerjaan buatnya. Ia berjualan untuk membantu perekonomian keluarga. "Ya gapapa, Mas, dijalani aja. Kadang hasil jualan rame, kadang sepi. Pernah seminggu gak ada pemasukan. Gak mesti. Pokoknya buat makan sehari-hari," imbuhnya.
Achmad Wiyanto (57), biasa disapa Habib mengantarkan bubur pesanan para guru SD di dekat rumahnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari, Habib bersama istrinya berjualan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Munatun menghitung laba kotor hasil dari berjualan bubur dan toko kelontongnya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Selain bertahan di tengah kerasnya kehidupan, Habib dan Munatun juga menghabiskan masa senjanya untuk merawat ketiga cucu. "Selesai jualan saya nyuapin cucu saya yang paling kecil. Terus pagi sama siang pak Habib jemput cucu nomer dua yang sekolah, Mas," tuturnya.
Cucu kedua habib mandi selepas pulang pulang. Ruang dan rumah yang terbatas membuat mereka tetap melanjtukan kehidupan di tengah desakan ekonomi yang tidak berpihak kepada masyarakat miskin. (Robertus Risky/ Project Arek)
Ia juga berharap kelak dirinya bersama keluarga memperoleh kehidupan dan rumah yang lebih layak. Lebih baik hingga tak harus bergulat dengan maut, seperti yang dia dan Habib jalani saat ini.