Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
INGATKAH dengan nama Sarip, Said, Taskan, Pardi, Woyo, Tarno, Karno atau Lutfi? Yang terlahir di sekitaran 1980 dan 1990-an, gali ingatan kalian tentang kenangan di lapak buku Pasar Blauran. Mungkin merekalah yang menemani masa sekolah kalian dengan buku-buku yang apik dijajakan di sudut Pasar Blauran. Merekalah yang memastikan para pekerja berpenghasilan pas-pasan bisa menyediakan buku sekolah bagi anak-anak mereka.
Deretan lapak buku ini dibiarkan begitu saja. Pemiliknya meninggal beberapa tahun lalu dan tidak satu pun anak-anaknya yang mau diwarisi buku-buku dagangan orang tuanya. Pasar yang sepi dan tak lagi menjanjikan, menjadi alasan utama mengapa lapak ini tak lagi menjajakan buku. Pedagang buku yang masih bertahan pun mengaku bisa saja bernasib sama. (Robertus Risky/ Project Arek)
Nama-nama itu kini terlupakan. Tak lagi ada suara mereka menawarkan buku. Mereka telah meninggalkan dunia. Bukan hanya kenangan, mereka meninggalkan juga buku-buku yang menjadi hari-hari mereka dahulu. Lapak mereka tertutup rapat. Tumpukan buku dibalut sepi terpal yang tak tembus lampu pasar yang juga temaram tak seterang dahulu.
Buku-buku itu tak terwariskan. Anak-anak pedagang buku itu, tak sanggup menapaki jalan hidup ayahnya. Hidup ayah mereka yang jenuh berteman sepi, sesepi pasar ini. Mereka memilih membiarkan lapak itu menjadi kuburan buku. Dibiarkan begitu saja hingga meresap bersama bangunan Pasar Blauran yang tak lagi sama seperti dua, tiga dekade silam.
“Banyak lapak yang kosong yang ditinggalkan karena pedagangnya meninggal. Sama keluarganya nggak diteruskan. Ya sudah, dibiarkan begitu saja sama buku-bukunya. Mungkin anak-anak ini tidak mau karena memang sepi pembeli,” kata Zaiful Anwar, salah satu penjual buku yang tersisa.
Napas Pasar Blauran kini megap-megap, tenggelam digilas zaman, terkubur dalam kebisingan Kota Pahlawan, dan terpuruk dalam memori ingatan. Desak riuh antar pembeli yang berebut buku dan pedagang yang sibuk menjajakan dagangan, kini menjadi suasana yang dirindukan. Dahulu, makin malam, tambah ramai, hingga pekik kebisingan memenuhi telinga. Lagi-lagi, pembeli memadati lapak pedagang ini. “Dulu sehari bisa dapat 500 ribu rupiah,” kenangnya.
Salah satu tulisan pengumanan pembukaan lapak buku baru di momen 14 tahun silam. Kini lapak buku itu menjadi salah satu lapak yang kosong ditinggal pemiliknya. Dari 40 penjual di awal 1990, kini menyisahkan hanya 7 pendagang saja. Di era kejayaannya, buku-buku bekas ramai diserbu pembeli dari Surabaya dan berbagai kota di Jawa Timur. Robertus Risky/ Project Arek
Tapi itu dahulu. Kini semua itu berubah dalam sekejap demi sekejap. Sudut lapak buku di pasar ini bak lorong waktu, yang menyulap segalanya menjadi berbeda sama sekali. Saat ini, yang tersisa hanyalah lorong sunyi, penuh kehampaan. Aroma buku yang biasanya menyambut dan menggoda pembeli, kini menyisakan tumpukan kertas usang yang diselimuti debu-debu tebal dan jaring laba-laba.
Pada 1994, ada sekitar 40 pedagang mengisi lapak buku di sana. Beberapa di antara mereka pindahan dari pelapak buku di Jalan Semarang, Surabaya. Dinding-dinding pasar menjadi saksi di masa kejayaan. Peminat datang silih berganti. Mereka saling akrab satu sama lain, saling bantu ketika dagangan salah satu penjual belum laku terbeli. Hari ini hanya tersisa 7 pedagang dengan tegar menyandarkan hidupnya dengan berjualan buku bekas.
Stan-stan kosong itu, kini menyisahkan debu tebal, menjadi sarang laba-laba serta tumpukan buku usang tak bertuan, karena beberapa pedagang meninggal. “Dulu di sini ramai, Mas. Sekarang tinggal ini saja pedagangnya. Banyak yang pindah cari pekerjaan lain. Nggak kuat karena pasar sepi. Ada yang narik ojek online, buka warung kopi, dan jual makanan,” ungkap Zaiful sembari menata dan membersihkan buku dagangannya.
Apa sebab? Banyak, begitu jawaban mereka. Singkat tapi tak sesederhana mengucapkannya. Hakim Muslim (60), pedagang buku di sana menilai, kesewenang-wenangan pemerintah dalam mengambil kebijakan berdampak pada wajah-wajah pedagang yang menopang ekonomi. Pergantian kurikulum pendidikan, berganti pula aturan dalam proses belajar dan mengajar di sekolah membuat buku bekas tak lagi bisa dimanfaatkan.
Zaiful Anwar menunggu pembeli di lapak kosong yang ditinggal pemiliknya. Robertus Risky/ Project Arek
Yahman (75) di lapak miliknya. Robertus Risky/ Project Arek
Kusdi yang merupakan adik kandung Kusnan, termenung menunggu pembeli datang di Pasar Blauran. Robertus Risky/ Project Arek
“Sekarang begini, Mas. Ganti menteri, ganti kurikulum. Terus di sekolah disuruh ganti buku paket. Ini kami susah, buku yang dulu belum laku, terus kami harus cari lagi untuk dijual. Lama-lama dagangan kami nggak laku mas,” kata Hakim.
“Dulu ramai, Mas. Kalau mau beli buku sampai desak-desakan. Biasanya disuruh guru-guru cari buku paket. Anaknya pulang sekolah, malamnya orang tua pasti cari buku paket di sini mas,” timpal Kusdi (67), pelapak buku lainnya. Bukan hanya buku pelajaran, buku lain seperti komik juga sepi dan novel pun peminat.
Ia mengatakan kondisi semakin buruk ketika pandemi Covid-19 melanda. Penujualan buku mereka semakin terjerembab. Pasar ditutup. Mereka tak lagi bisa bejualan dan ketika dibuka, situasi sudah tak kunjung membaik bagi mereka. Penjualan online juga tak menjadi opsi mereka. Mereka mengaku terlalu senja untuk bersaing di dunia maya.
“Saya itu sudah tua, Mas. Tidak paham teknologi. Jualan buku online tidak paham caranya. Malah dengan adanya jualan buku online, Pasar Blauran ini makin sepi,” tuturnya Yahman. Ia tetap setia duduk termangu di tumpukan bukunya, menunggu datangnya pembeli seperti hari-hari lainnya yang ia jalani selama 30 tahun. Itu semua ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Meski demikian, mereka tak mau tumbang dan tetap bertahan dalam kegigihan. Termasuk Kusdi, yang setia menggelar tumpukan buku-buku dan menunggu datangnya calon pembeli. Situasi suram tidak mematahkan asahnya. Kusdi tetap rajin berjualan dari pukul 10 pagi hingga 4 sore. Ia mengaku usianya tak lagi muda dan terbatas pilihan pekerjaan, sehingga berjualan buku menjadi satu-satunya yang dapat menopang ekonomi keluarga.
“Alhamdulilah, Mas. Ditekuni saja. Kadang seminggu belum tentu dapat pengelaris. Dapat 20 ribu rupiah sehari saja belum tentu. Tapi tidak apa-apa, disyukuri saja,” imbuhnya dengan senyum kecil. Hal itu, ia lakukan sehingga tidak menganggur dan tidak merepotkan anaknya, kendati anaknya sudah memiliki pekerjaan tetap.
Kusdi (67) membaca buku di lapak miliknya sembari menunggu pembeli. Selama 14 Tahun ia berjualan buku bekas untuk pelajar dan masyarakat umum. Robertus Risky/ Project Arek
Potrait Yahman (75) di lapak miliknya. Penjualan online mengakibatkan buku-buku di stan miliknya sepi peminat. Robertus Risky/ Project Arek
Potrait Wahyu Puji Astutik (50) di lapak miliknya. Ia berjual buku sejak 20 tahun yang lalu, dari hasil berdagang ia menguliahkan anaknya hingga lulus. Astuti merasa terus terpanggil untuk bertahan menjajakan buku. Robertus Risky/ Project Arek
Potrait Hakim Muslim (60) di lapak miliknya. Ia Berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib pedagang. Robertus Risky/ Project Arek
Mereka yang tersisa tak ingin lagi mengenang masa lalu. Yang mereka tahu bagaimana bisa bertahan. Bagi mereka, tetap datang di pasar yang sepi sebenarnya bukan sekadar berjualan, melainkan bisa tetap menyambung rasa dengan pelapak buku lainnya yang sudah seperti saudara. Hari-hari mereka dihabiskan di sudut Pasar Blauran yang temaram itu. Mereka tentu rindu, tapi hidup musti terus diperjuangkan.
Kepada saya, mereka menitip pesan untuk penguasa kota. Mereka berharap Pemerintah Kota Surabaya, agar lebih memperhatikan nasib pedagang buku di Pasar Blauran dengan menciptakan inovasi dan tidak membiarkan mereka terbengkalai, sehingga geliat ekonomi pasar ini bangkit kembali seperti dahulu.
Potrait Kusnan (71) setengah abad dalam hidupnya iya habiskan untuk menjual buku bekas dan baru untuk memenuhi kehidupannya. Robertus Risky/ Project Arek
Potrait Zaiful Anwar (40) di lapak miliknya. Ia merindukkan kenangan kejayaan masa lalu, banyaknya pembeli yang berdatangan. Robertus Risky/ Project Arek
Kusdi dan Kusnan berdialog. Keduanya merupakan kakak dan adik. Robertus Risky/ Project Arek
Kusnan beristirahat diantara lapak-lapak buku yang ditinggal pemiliknya. Meski usianya tak lagi muda ia tetap gigih untuk terus berjualan buku bekas. Robertus Risky/ Project Arek
Kusnan melayani calon pembeli . Berdagang buku merupakan profesi yang ia tekuni untuk menyambung kehidupannya. Robertus Risky/ Project Arek
Kusdi menunjukkan pendapatan perharinya. Terkdang seminggu buku yang ia jajakan belum tentu laku terjual. Robertus Risky/ Project Arek
Kusdi melayani calon pembeli di Pasar Blauran, Surabaya. Terkadang seminggu ia tak dapat penghasilan. Robertus Risky/ Project Arek
Buku cerita anak-anak yang ia beli dari dari salah satu tengkulak, untuk di jual kembali. Robertus Risky/ Project Arek
Kusnan merapikan buku cerita yang siap ia jajakan bagi pembeli. Robertus Risky/ Project Arek
Tumpukan buku-buku bekas yang ditinggal oleh pemiknya untuk banting setir menjadi ojek online. Robertus Risky/ Project Arek