Penulis: Idealita Ismanto
Fotografer: Idealita Ismanto
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
Lee Syumee (56) bersama dengan kedua orang anaknya, Lolo Arvian (26) dan Fernando Ananda Saputra (21), mereka adalah generasi ke 4 yang akan meneruskan adat ritual sembahyang imlek di keluarga Lee Syumee. (17/02/2026)
DI rumah sederhana itu, persiapan Imlek bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen hangat yang merajut kembali kebersamaan keluarga. Surabaya, Selasa (17/2/2026), Lee Syumee atau biasa dipanggil Sumiati (56) dan keluarga adik perempuannya adalah keluarga Tionghoa Muslim yang tinggal dan menetap di Tambak Bayan. Sum telah menjadi mualaf sejak usia 12 tahun. Ia masih mengingat pesan orangtuanya ketika ia memberitahu mereka bahwa sudah pindah agama Islam, “Apa yang kamu yakini, jalani saja selagi membuat dirimu menjadi baik.”
Ya, Tambak Bayan menjadi contoh bagaimana lebur budaya terjadi secara alami, organik. Tidak ada yang paling ‘merasa’ di sana. Hidup mereka berbaur senasib sepenanggungan. Mereka, khususnya yang beretnis Tionghoa, kawin mawin dengan etnis atau suku lainnya. Kehidupan mereka harmonis, saling memahami. Sebab, mereka menjalani hidup yang penuh ragam perjuampaan. Belakangan kita memaknainya dengan kata toleransi.
Sehari sebelum Imlek tiba, Sumiati selalu mempersiapkan waktu untuk sebuah ritual yang tak pernah ia lewatkan. Dengan bantuan beberapa anggota keluarganya, ia bergerak dengan penuh khidmat dan menata hidangan persembahan di meja sembahyang. Sum lalu membakar uang arwah sebagai bentuk bakti kepada orang tuanya yang telah tiada. Baginya, menyiapkan makanan syarat dan menghaturkan doa kepada leluhur bukan sekadar tradisi, melainkan cara sunyi untuk menjaga ingatan, hormat, dan kasih yang terus hidup lintas generasi.
Keluarga Sumiati mempersiapkan ritual mendoakan para leluhur satu hari menjelang imlek. Tradisi ini selalu Keluarga Sumiati lakukan sebagai bakti dan mengenang orang tua yang telah berpulang. (21/01/2023)
Secara turun temurun, keluarga Sumiati selalu menyiapkan uang arwah dan makanan. Makanan yang telah didoakan saat imlek, disantap bersama keluarga besar Sumiati dengan bahagia. (31/01/2022)
Menjelang Imlek, semua keluarga melakukan ritual untuk menghormati keluarga yang telah meninggal. Pertama, mereka harus membakar dupa pada sembahyang Imlek yang dilakukan bersamaan dengan penyalaan lilin yang akan diletakkan di atas altar sesaji. Setelah itu mereka harus membakar uang kertas dan berdoa agar uang tersebut dikirim ke surga, proses terakhir adalah makan bersama untuk merayakan rasa terima kasih kepada leluhur. (21/01/2023)
Di tengah kemegahan Kota Surabaya, Sumiati dan sejumlah keturunan Tionghoa tinggal di ruang sempit, yang dahulu merupakan istal kuda zaman kolonial Belanda. Istal kuda tersebut dibagi dalam petak, masing-masing petakan berukuran 4x6 meter menampung lebih dari sekadar dinding dan atap, di dalamnya, kamar, ruang tamu, dan kamar mandi menjadi satu. Di ruang terbatas itulah beberapa anggota keluarga menjalani hari-hari mereka untuk bertahan hidup.
Go Siok Yong (77) dan Dwi Nesti (65). Walau berbeda agama, mereka tetap saling menghormati saat perayaan-perayaan hari besar agama lain. Go Siok Yong telah berpulang di tahun 2025. (22/01/2023)
Ang Feha (60), Faith (10) dan King Hope(5), potrait keluarga Ang di Tambak Bayan. Ang Feha takut tidak bisa mempunyai rumah lagi apabila terjadi pengusiran secara tiba-tiba oleh pihak hotel. (29/06/2023)
Chik Jun (80) tinggal rumah berukuran 4x6 meter. Ia telah terbiasa dan tidak khawatir dengan ruang sempit yang ada. (26/02/2020)
Kampung Tambak Bayan pernah menjadi perhatian banyak pihak karena mengalami konflik agrarian dengan Hotel Vini Vidi Vici (V3). Konflik yang bermula sejak 2006 itu belum juga menemukan ujung, menyisakan ketegangan yang merembes ke kehidupan sehari-hari warga. Warga berjuang dengan berunjuk rasa dan melawan dengan gerakan-gerakan budaya yang diinisiasi dengan banyak pihak. Dulu sebelum separuh tanah Tambak Bayan digusur, ada sekitar 100 keluarga mendiami kampung ini.
Arsip foto warga Tambak Bayan yang ikut melakukan demonstrasi di wihara Tambak Bayan tahun 2009 (29/06/2023).
Hingga sekarang pun mereka masih berjuang memenangkan sengketa lahan tersebut. Kasus sengketa ini bukan hanya menyangkut persoalan perebutan ruang secara fisik, yakni penggusuran rumah warga, tapi juga menimbulkan kerugian secara ekonomi bagi warga, karena sejumlah usaha kecil dan mikro warga semakin hari semakin sepi. Selain itu, penggusuran ini juga mengakibatkan hilangnya keterhubungan warga Surabaya pada umumnya dan warga Tambak Bayan khususnya dengan sejarah dan ingatan masa lalu.
Bagi banyak keluarga, persoalan ini bukan sekadar soal kepemilikan lahan, melainkan tentang keberlanjutan ruang hidup dan identitas. Ketidakpastian hukum membuat rencana masa depan terasa menggantung. Sebagian warga memilih bertahan dengan segala keterbatasan, sementara yang lain mulai diliputi kekhawatiran akan kemungkinan terburuk. Di tengah tekanan itu, kehidupan sehari-hari tetap berjalan pelan, seolah warga berusaha menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat meninggalkan mereka.
Imlek kemarin dalam suasana kesederhanaan, selain permasalahan tempat tinggal yang belum selesai, sebuah kekhawatiran mucul. Sumiati mengkhwatirkan keluarganya tidak lagi meneruskan tradisi imlek. Hanya dengan menjaga tradisi inilah, ia merasakan ikatan dengan leluhur. “Saya sering berpikir, nanti siapa yang akan melanjutkan, tradisi ini?” tuturnya lirih, sambil merapikan perlengkapan sembahyang.
Salah satu anak Sumiati, Fernando memaknai ritual keluarga bukan sekadar tradisi tahunan. Pemuda 21 tahun itu merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan apa yang telah dirintis ibunya, menghormati leluhur sekaligus merawat nilai toleransi. Ini menjadi nilai hidup yang diajarkan orang tuanya. “Saya sebagai darah keturunan mama merasa harus meneruskan tradisi ini,” ujarnya mantap.
Baginya, lelah dalam menyiapkan ritual bukanlah beban. Justru ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan setiap kali dupa dinyalakan. Ia mengingat, sebelum sang Ibu menghadirkan kembali ritual itu, keluarga mereka nyaris tak lagi menjalankannya. Kini, selama sekitar 15 tahun, prosesi itu terus hidup dari tahun ke tahun. Fernando bertekad, apa yang sudah diawali ibunya, akan terus dilestarikan kepada anak cucunya kelak.
Potret keluarga Sumiati tahun di 2024 dan 2026 saat berkumpul di momen imlek di Tambak Bayan, Surabaya. Terkadang tidak semua anggota keluarga bisa hadir karena ada keperluan lain, dan kebetulan di tahun ini juga bersamaan dengan dimulainya bulan Ramadhan. (17/02/2026)
Saat imlek, Tanto (50), Kakak dari Sumiati sedang menelpon saudara-saudaranya melalui panggilan video. Walaupun jauh jarak, kebersamaan selalu terjalin di keluarga besar Sumiati. (01/02/2022)
Sumiati sendiri memiliki pandangan yang lebih lentur. Ia memahami betul, tidak semua generasi mampu atau siap melanjutkan. Jika suatu saat tradisi itu berhenti, ada tata cara penutup yang bisa dilakukan keluarga besarnya, foto leluhur bisa dibalik selama tujuh hari, kemudian dilepas dan diserahkan ke klenteng untuk dibakar. Setelah itu, keluarga tetap bisa berdoa setiap tahun di klenteng tanpa kewajiban kaku.
“Tidak ada ketentuan harus sembahyang atau tidak,” tuturnya, seolah memberi ruang bagi anak-anaknya untuk memilih jalan mereka sendiri.
Tradisi yang telah dilakukan Sumiati dan warga Tambak Bayan lainnya yang sudah berpindah keyakinan menjadi tonggak lahirnya Tambak Bayan sebagai kampung toleransi. Kini dengan perubahan zaman, nasib mereka terus diuji antara kehilangan tempat tinggal dan kehilangan ajaran nenek moyang. Tambak Bayan bukan sekedar ruang hidup. Ia menjadi memori kolektif, manusia yang menjejaki manis getir hidup di lintasan zaman. Mereka menolak punah dengan perlawanan kolektif.
Tradisi ritual berdoa sebelum imlek selalu Sumiati lakukan sebagai bakti dan mengenang orang tua yang telah berpulang. (21/01/2023)
Sumiati selalu berdoa dan berharap agar permasalahan konflik tanah segera berakhir dengan hasil yang baik. (17/02/2019)
Suasana kampung Tambak Bayan di malam hari.
Edi Murdiono (50) dan istrinya Fauria (48) sudah berjualan ayam bakar dan mie ayam semenjak 2010 untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Konflik tanah di Tambak Bayan sangat mempengaruhi pendapatan keluarganya saat ini yang semakin menurun. (29/06/2023)
Alhusna Adinda (13) dan Diavana Triani (19) tidur di ruangan bawah di sela-sela membantu Ibu dan Ayahnya menerima pesanan makanan ayam bakar. Tempat tidur dan ruang tamu yang menyatu sudah menjadi pemandangan biasa di kampung Tambak Bayan. (29/06/2023)
Adelia Isya Puspasari (18) merupakan generasi ke 4 yang masih tinggal dan menetap di Tambak Bayan. (21/01/2023)
Cucu Go Siok Yong, Adit (7) tinggal di Jalan Demak Surabaya, ia selalu datang bersama dengan ibunya saat ada perayaan Imlek di Tambak Bayan. (22/01/2023)
Agnes Savitri (25) selalu membantu Iie nya Sumiati memasak makanan persembahan untuk perayaan imlek. (21/01/2023)
Di Tambak Bayan sendiri, penduduknya telah berubah sedemikian rupa menyesuaikan dengan adat setempat. Mereka hidup rukun dalam keberagaman. (21/01/2023)
Rumah Liang Tje Jow (40) dan Munti (22) walau berukuran 4x6 meter persegi, mereka telah terbiasa hidup di Tambak Bayan sejak kecil dan bertahan hidup dengan berjualan mie ayam di kampung Tambak Bayan. (26/02/2020)
Rumah Ce Jay (42) dan Jo Kai (55) berukuran 4x6 meter persegi. (21/01/2023)
---
*) Pada Senin, 2 Maret 2026, dilakukan koreksi atas penulisan awal konflik sengketa tanah di Tambak Bayan. Tahun yang semula tercantum 2011 diperbaiki menjadi 2006.