KAMI MENYUSURI jalan setapak yang sempit. Permukaan tanah makadam, tak rata. Hanya berbekal sandal, kami nekat menapaki setiap langkah dengan hati-hati. Jalur itu membawa kami masuk ke hutan lebat, tempat pohon-pohon kopi tumbuh rapat di antara tegakan kayu yang menjulang.
Mungkin karena jarang berolahraga, napas kami tersengal saat mendaki lereng dengan kemiringan 25–40 derajat lebih. Vegetasi di sepanjang jalur cukup beragam: pakis merambat di tanah lembap, mahoni berdiri kokoh, kaliandra berbunga merah, ciplukan tumbuh rendah, disusul kopi berjubel menyemak dan cengkeh yang dikelola warga.
Ragam vegetasi merangkum sejuk kawasan ini. Kenikmatan yang tak kami dapatkan di kota. Dalam kondisi letih, kami bersimpuh sejenak di atas bebatuan dingin. Dari kejauhan, Revolver Langit Akbar, Manajer Pembelaan Hukum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur, memotret momen itu dengan ponselnya.
Pagi itu, gelak tawa pun pecah. Robertus Risky, Jurnalis Foto dari Project Arek, tersenyum geli melihat saya yang tampak lebih dulu kelelahan, seolah lebih tua dari usia yang sebenarnya masih terbilang muda. Oksigen seperti berjejal masuk ke tarikan napas saya. Segar. Namun tak disangka, hutan ini hendak diubah, dibabat menjadi perumahan mewah.
Hutan Menjamin Hidup Warga
Ikhsan Ulumuddin melangkah pelan, menyibak semak-semak yang menghalangi langkahnya. Semak belukar menandakan betapa kawasan ini menghidupi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Dengan tenang, ia menunjuk petak-petak kebun kopi seluas 1,5 hingga 2 hektare yang dikelolanya.
“Kami mulai (menanam) pada 2008. Dulu kawasan itu hampir tak ada tanaman, gundul. Lalu kami tanam kopi, alpukat, durian, dan berbagai tanaman lainnya,” kenang pria 40 tahun itu, 14 Februari 2026.
Di belakang Ikhsan, ada empat orang lainnya: saya, Robertus, Revolver, dan Abdul Haq dari Walhi Jawa Timur. Kami mengikuti ke mana pun ia melangkah. Sebagian dari kami sibuk merekam dan memotret suasana hutan itu, sambil tetap mengamati jalan setapak yang, jika sedikit saja salah langkah, bisa berakibat fatal.
Ya, kebun kopi itu umumnya dikelola secara turun-temurun oleh keluarga Ikhsan. Namun, pada waktu-waktu tertentu, ia melibatkan tenaga bantuan untuk membersihkan lahan, mengingat medannya luas, curam, dan menuntut energi dan kehati-hatian ekstra.
Bagi Ikhsan yang tergabung dalam Kelompok Tani Bumi Sejahtera, kopi menjadi komoditas unggulan. Ia menanam excelsa dan liberika, dua varietas dari spesies coffea liberica yang dikenal adaptif terhadap iklim panas dan lahan marjinal.
Excelsa, sering diposisikan sebagai subvarietas liberika, memiliki karakter rasa unik: asam ringan, body sedang, dengan nuansa fruity dan sedikit tart yang kompleks. Sementara itu, liberika beraroma lebih tajam, cenderung smoky dan kadang woody, dengan body tebal serta kadar kafein relatif lebih rendah dibandingkan Arabika.
Keduanya tumbuh sebagai pohon tinggi dengan sistem perakaran kuat, sehingga cocok ditanam di lahan gambut atau perbukitan karena lebih tahan terhadap tanah kurang subur dan fluktuasi cuaca ekstrem. Bagi warga, ini bukan sekadar pohon. Kopi menjadi salah satu vegetasi yang mengikat struktur tanah di ekosistem itu.
Ikhsan mengelola lahan ini sejak lima tahun lalu karena kondisi fisik orang tuanya yang kian menua dan menurun. Ia mengungkapkan, meskipun pengelolaan excelsa memiliki tingkat penyusutan yang tinggi, mencapai 70-80 persen dari petik hingga menjadi roasted bean, peluang pasarnya masih sangat besar karena sedikitnya kompetitor di wilayah tersebut.
Secara finansial, sektor kopi menjadi tulang punggung ekonomi keluarga para petani di sana. Ikhsan menyebutkan, dari lahan yang dikelolanya, ia mampu mencatat perputaran uang rata-rata Rp40 juta hingga Rp50 juta per tahun. Benar, itu untuk kopi yang belum matang. Sungguh angka yang lumayan baginya dan keluarga. Sungguh hutan menjamin hidup warga, kata Ikhsan.
Jika dijual dalam bentuk matang atau bubuk, harganya meningkat drastis dari Rp80 ribu menjadi Rp200 ribu sampai Rp220 ribu per kilogram, dengan potensi pendapatan mencapai Rp60–80 juta atau lebih per tahun. Kelestarian alam membawa berkah buat warga.
Selain kopi, Ikhsan menanam cengkeh. Namun, alasan utama tidak maksimalnya hasil cengkeh ialah faktor tekstur tanah. Tanaman cengkeh umumnya membutuhkan tanah merah, sedangkan lahan di wilayah tersebut didominasi tanah hitam yang dinilai tidak cocok untuk pertumbuhan optimal cengkeh.
Sebab, tanah hitam seperti tanah andosol di pegunungan vulkanik memang sangat subur namun memiliki karakteristik drainase dan keasaman yang berbeda dengan tanah merah seperti latosol atau podsolik yang secara tradisional lebih disukai untuk perkebunan cengkeh. Ikhsan fasih menjelaskan itu semuanya kepada saya.
Selain bertani, Ikhsan menambahkan, sebagian warga di daerah itu juga beternak kambing. Mereka membangun kandang di sekitar hutan dan memanfaatkan rumput setempat sebagai pakan ternak. Menurutnya, inilah ekosistem yang saling bergantung antara manusia dengan ruang hidupnya.
Akan tetapi, rencana pembangunan proyek real estat seluas 22,5 hektare dari PT Stasionkota Saranapermai itu dinilai berpotensi memutus urat nadi ekonomi para petani. Jika proyek tersebut tetap berjalan, Ikhsan meyakini akses menuju lahan akan tertutup dan kebun kopi mereka terancam tergusur.
“Otomatis, itu hampir hilang semua karena pihak pengembang menganggap itu sudah menjadi tanahnya. Jadi, kami tidak akan memiliki penghasilan. Itu yang jelas,” tegasnya.
Ya, bukan semata persoalan ekonomi, Ikhsan juga menyoroti krisis lingkungan yang kian terasa. Tanaman kopi sangat bergantung pada ketersediaan air dari kawasan hutan di lereng Gunung Arjuno-Welirang. Dalam 5-10 tahun terakhir, ia merasakan penurunan debit air yang signifikan, baik di area hutan maupun di permukiman warga di bagian bawah.
Penyebabnya beragam, mulai dari krisis iklim yang memicu anomali cuaca hingga kebakaran hutan pada 2023 yang kembali menggundulkan lahan. Akibat berkurangnya pasokan air, Ikhsan mencatat hasil panennya merosot lebih dari 50 persen. Kondisi tersebut kian diperparah oleh degradasi kualitas tanah. Kata Ikhsan, petani kini terpaksa bergantung pada pupuk kimia untuk menjaga produktivitas, sesuatu yang sebelumnya jarang mereka lakukan.
Rencana pembangunan proyek real estat dari PT Stasionkota Saranapermai juga dikhawatirkan menambah tekanan bagi keberlanjutan sumber daya air di wilayah tersebut. Ikhsan menilai, pembangunan 51 kavling vila berpotensi meningkatkan kebutuhan air secara signifikan, sementara pasokannya sudah semakin terbatas.
Ketakutan Ikhsan terdengar personal, namun ini sebenarnya masalah kolektif yang menyangkut keselamatan ekosistem dan ruang hidup. Rumahnya dan ribuan warga lainnya, berada tepat di bawah area yang direncanakan menjadi lokasi proyek PT Stasionkota Saranapermai.
Dengan kemiringan lahan yang curam serta riwayat banjir bandang dan erosi tinggi di kawasan tersebut, risiko tanah longsor menjadi ancaman yang nyata. Ikhsan tergiang, bencana Sumatra melanda akibat alih fungsi lahan yang membuat alam tak lagi mampu membendung dampak krisis iklim.
“Karena rumah saya persis berada di bawah PT Stasionkota Saranapermai, longsor menjadi salah satu kekhawatiran terbesar. Longsor itu pasti akan terjadi jika proyek ini tetap dilaksanakan, apa pun skema yang disiapkan oleh pihak PT Stasionkota Saranapermai,” ungkapnya.
Sebelum PT Stasionkota Saranapermai muncul di tahun 2025, lahan tersebut di bawah pengelolaan PT Kusuma Raya Utama yang awalnya merencanakan proyek pariwisata. Pada periode 2010-2011, warga setempat melakukan aksi penolakan besar-besaran, termasuk demonstrasi di DPRD Kabupaten Pasuruan.
Kini, rencana tersebut tiba-tiba berubah fungsi menjadi real estat tanpa adanya dialog transparan dengan warga terdampak. Ikhsan menyatakan, kelompok tani tidak pernah diajak berkomunikasi mengenai penerbitan Hak Guna Bangunan (HGB). Mereka baru mengetahui rencana proyek tersebut dari informasi publik di kelurahan.
Ikhsan secara tegas menyatakan, warga menolak skema relokasi atau tukar guling lahan. Bagi mereka, mempertahankan fungsi hutan adalah harga mati untuk mencegah bencana yang lebih besar di masa depan. Ia merujuk pada bencana di Sumatra dan Jawa sebagai pelajaran pahit jika manusia tidak menghargai hutan.
"Biarkan fungsi hutan ini tetap menjadi hutan. Karena ini adalah penopang terakhir, sabuk terakhir. Ingatlah bahwa keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi atau Salus Populi Suprema Lex," pungkasnya.
Flora dan Fauna di Ujung Tanduk
Sebelum kami menjajaki lokasi kebun kopi, Priya Kusuma (50), Ketua Aliansi Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (Gema Duta), sempat ikut memasuki hutan yang akan terdampak proyek. Namun, ia kemudian memilih tinggal di depan untuk menunggu kami kembali. Priya menyuarakan kegelisahan ribuan warga yang bergantung pada kelestarian hutan.
Baginya, hutan bukan sekadar pepohonan, melainkan benteng terakhir penyangga ekosistem dan ruang hidup masyarakat. Ia menyebut, kawasan ini didominasi Pakis yang tumbuh subur, serta semak bermanfaat seperti ciplukan dan salam. Keberadaan kaliandra juga krusial karena menjadi sumber pakan utama lebah penghasil madu, yang menopang keberlanjutan ekonomi warga.
Jika proyek real estat dijalankan, ribuan pohon kaliandra ini dipastikan akan dibabat habis, yang secara otomatis akan memutus siklus produksi madu alami dan menghilangkan sumber pendapatan masyarakat lokal. Ancaman yang jauh lebih mengkhawatirkan muncul pada sektor fauna.
“Di dalam hutan tersebut masih sering dijumpai babi hutan, monyet ekor panjang, landak, lutung jawa atau budeng, hingga trenggiling yang kini statusnya semakin terancam,” katanya, 14 Februari 2026.
Hutan di kawasan ini juga menjadi habitat luwak. Keberadaan luwak di wilayah ini bahkan memberikan nilai ekonomi unik, di mana warga sering mengumpulkan kotoran luwak yang memakan biji kopi di atas batu-batu hutan untuk dijadikan kopi luwak alami bernilai tinggi.
Temuan paling mengejutkan adalah kemunculan elang jawa di kawasan tersebut. Burung langka itu terekam kamera para pengamat saat melakukan observasi intensif di hutan. Kehadirannya menjadi indikator penting bahwa ekosistem hutan masih cukup sehat untuk menopang predator puncak.
"Sampai elang jawa itu terpantau ada. Saya ada teman yang bird-watching sempat mengadakan pengamatan, elang jawa itu tertangkap kameranya," kata Priya.
Selain elang jawa, burung paok yang sudah sangat jarang ditemukan juga dilaporkan masih menghuni kawasan hutan Arjuno-Welirang ini. Lalu, suara burung pelatuk masih sering terdengar, warga setempat pun pernah melakukan aksi pelepasan liar burung jalak hitam untuk menjaga populasi burung di hutan tersebut.
BACA JUGA : Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuno Welirang (1)
Pengetahuan Priya mengenai flora dan fauna tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia sangat memahami seluk-beluk ekosistem hutan. Kecintaannya terhadap satwa pun tercermin dari hobinya memelihara burung, tak kurang dari puluhan ekor burung kini menghuni sangkar di rumahnya.
Lelaki berpenampilan nyentrik itu memberi perumpamaan kuat tentang risiko hilangnya satu spesies di kawasan tersebut. "Kalau misalkan satu mata rantai terlepas, akan mempengaruhi rantai yang lainnya. Kayak rantainya motor itu. Misalnya lepas satu ya mesti merotoli, tidak bisa jalan," tuturnya.
Alih fungsi hutan menjadi kawasan real estat juga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi bagi warga di lereng bawah. Priya menyoroti kemiringan lahan hutan yang terjal, sehingga selama puluhan tahun kawasan ini berperan sebagai daerah resapan air utama yang menahan banjir bandang dan mencegah longsor.
"Fungsi resapan air demikian tinggi. Jadi tidak akan cuman merusak flora dan faunanya, yang kami takutkan adalah ketika terjadi air bah dan longsor," jelas Priya.
Ya, ia berkaca pada bencana besar yang terjadi di daerah lain seperti Sumatra, yang menurutnya dipicu oleh keserakahan manusia yang mengalihfungsikan lahan tanpa memikirkan dampak lingkungan. Keserakahan segelintir manusia, dijawab alam dengan menghadirkan tragedi bagi lebih banyak manusia lainnya.
Priya menegaskan, perizinan bukanlah "kitab suci" yang tidak bisa diubah. Ia mendesak para pemangku kebijakan untuk berani merevisi dengan mencabut izin demi kepentingan rakyat yang lebih luas. Menurutnya, hutan ini bukan hanya milik warga Tretes, melainkan mahluk hidup yang menerima manfaat dari keberadaannya.
"Harapannya cabut saja, kembalikan hutan menjadi hutan, sebagai sumber oksigen, sebagai resapan air, sebagai tempat tinggal keanekaragaman hayati, baik flora dan fauna," tutupnya.
Revolver Langit Akbar, Manajer Pembelaan Hukum Walhi Jawa Timur menegaskan, alih fungsi lahan ini mengancam keberlangsungan hidup berbagai flora dan fauna endemik yang menjadi penyangga ekologis wilayah tersebut.
Menurut pantauan di lapangan dan kesaksian warga, kawasan yang akan dibangun tersebut merupakan habitat bagi satwa-satwa dilindungi yang kini berada di ambang kepunahan lokal. Hutan tersebut merupakan koridor penting bagi berbagai satwa liar, mulai dari mamalia besar hingga predator langka.
Beberapa spesies kunci yang teridentifikasi mendiami wilayah tersebut antara lain elang jawa, rusa, macan kumbang, dan macan rembah. Keberadaan jenis kucing besar ini ditandai dengan jejak kaki di sekitar pondok petani. Satwa langka ini berkeliaran di sana lantaran kawasan itu habitat babi hutan yang menjadi sebagai sumber makanannya.
“Di kawasan ini sempat terpantau keberadaan elang jawa, sering disebut garuda oleh warga. Selain itu, ada rusa. Untuk satwa karnivora, warga melaporkan pernah melihat jejak kaki macan kumbang. Burung-burung endemik yang biasa menghuni wilayah ini pun mulai turun dari habitatnya,” ujarnya.
Fenomena turunnya satwa liar ke permukiman warga ini menjadi sinyal terjadinya pengurangan ruang hidup secara drastis akibat alih fungsi lahan menjadi zona pemukiman. Kerusakan habitat satwa ini, berpotensi memicu konflik manusia dengan satwa. Pada ujungnya, satwa-satwa inilah yang menjadi korban, entah mati atau terusir dari habitatnya.
"Burung-burung yang endemik itu mulai turun. Bahkan ada monyet-monyet pun juga turun, yang artinya di atas tidak baik-baik saja," jelasnya.
Tidak hanya fauna, sektor flora juga menghadapi kehancuran. Revolver menyoroti hilangnya ribuan pohon yang berfungsi vital sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) dan penghasil oksigen.
Jika tutupan hutan atau vegetasi ini dibuka untuk 51 kavling vila, maka ribuan ton karbon lepas dan daya serap karbon akan hilang, yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan suhu udara dan efek rumah kaca di wilayah sekitar, termasuk Surabaya.
Salah satu kekayaan flora yang sangat krusial bagi masyarakat lokal adalah keberadaan pohon kopi peninggalan zaman Belanda yang hingga kini masih produktif. Pohon-pohon kopi tua ini dirawat petani lokal, yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen kopi tersebut.
Revolver memperingatkan, jika proyek real estat berjalan, nutrisi dan sumber mata air bagi pohon kopi ini akan terganggu, yang pada akhirnya mematikan ekonomi warga. "Memotong pohon juga salah, memotong tumbuhan pun salah. Walhi Jawa Timur hadir di sini sebagai walinya lingkungan. Dalam artian pohon itu juga punya hak gugat," tegas Revolver.
Kawasan yang berada di ketinggian 883 hingga 1.018 MDPL ini merupakan daerah tangkapan air deras Ketunggarangan yang sangat vital bagi pasokan air di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Sungai Brantas mengalir dari kawasan hulu hingga hilir di tiga kota itu.
“Jika wilayah hulu di lereng Gunung Arjuno–Welirang terdampak proyek, maka konsekuensinya berpotensi dirasakan masyarakat di tiga kota tersebut,” ungkapnya.
Hal serupa berlaku pada kondisi vegetasi di hulu. Jika flora dirusak akibat proyek, sistem hidrologi akan terganggu. Dampaknya bisa berupa peningkatan risiko banjir saat musim hujan dan kekeringan ekstrem ketika kemarau. Tingkat erosi diprediksi mencapai 180 hingga 480 ton per hektare per tahun dapat memicu bencana longsor yang mematikan.
Saat hendak turun ke permukiman, kami singgah di tempat penampungan mata air. Di sana, kami mencicipi air yang segar dan dingin, mengalir langsung dari lereng gunung. Ke depan, kami berencana mengunjungi pusat mata air yang oleh warga setempat disebut “Alap-Alap”.
Namun, belum tentu kami bisa menuju ke sana. Perjalanan memakan waktu sekitar dua hingga empat jam, dengan medan makadam yang terjal dan cukup menantang. Jalan yang tak mulus ini ada baiknya juga. Ini membuat kawasan itu sulit dijamah manusia demi kelestariannya. Toh, kelestarian sumber mata air itu untuk manusia juga.
Saat dihubungi, Diah Susilowati, yang sempat menjadi konsultan PT Stasionkota Saranapermai menjelaskan, dirinya telah putus kontrak terkait AMDAL dan tidak lagi melanjutkan peran sebagai konsultan. “Dengan pihak pemrakarsa saja, silakan,” ujarnya singkat, 20 Februari 2026.
Hingga artikel ini diterbitkan, Teguh Jatmiko dari PT Stasionkota Saranapermai belum memberikan tanggapan atas permohonan wawancara yang diajukan oleh projectarek.id.
*) Liputan ini merupakan bagian dari serial “Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuno-Welirang”, kolaborasi antara Project Arek dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur.