KUSNIATI sebetulnya masa bodoh jika indekos miliknya tak dibayar. Ia percaya Tuhan pemilik kastil putih di ketinggian kota itu sudah menakar porsi makannya. Semburat sinar kekuningan terpancar lewat jendela-jendela tinggi kastil. Tampak mencolok seolah sedang membusungkan kesakralannya di tengah rumit semrawut kabel, rapuh rumah susun, remang lampu jalan, dan sempit kehidupan gang. Bahkan, para pemabuk, atau orang jarang berdoa yang lupa jalan tikus pun tak pernah benar-benar melupakan keberadaannya bak mercusuar di tengah lautan beton kusam.
Kusniati masih di sini, di tempat yang katanya akan dibangun mal, perumahan, dan gedung pemerintahan. Penginapannya masuk peredaran. Tapi, sepertinya bukan perkara enteng mengusir si payah Kusniati. Sekali pun dijanjikan besaran kompensasi yang mampu menghidupinya sampai pengurusan makam, wanita empat puluh tahun itu tak sedikit pun bergeming. Bukan karena gedung jerih payah yang bikin kakinya pengkor itu hasil tunggang-tunggit membanting tulang. Sekalipun seonggok emas, bukan, seonggok semesta di depan mata, Kusniati enggan untuk kalah dalam taruhan ini.
Lima belas tahun lalu, sementara orang-orang dengan suka cita menyeruput hangat segelas pop mie, jalanan meriah oleh alur manusia yang mengalir tanpa pasti, terompet-terompet bernyanyi dengan nada awut-awutan, dan bunga-bunga api bermekaran membelah langit, Kusniati menyambut tahun dua ribu delapan dalam sunyi ratusan bunga krisan putih. Ruangan berkoridor selebar empat meter itu kian terasa sesak oleh puluhan papan bunga belasungkawa yang turut berjejer rapi.
Berpuluh-puluh pelayat, bapak, ibu, rekan, tua, muda, membungkuk khidmat. Menyatukan segenap duka di depan seorang laki-laki yang terbingkai manis figura hitam. Kusniati terus mendongak ke arah figura itu. Tatapannya kosong. Wajahnya merah padam. Hatinya terbakar. Ingin rasanya ia hentakkan kaki pengkor itu sekuat-kuatnya sampai dunia gempa sepuluh skala Richter.
BACA JUGA : A & T
Ingin rasanya ia sambar ratusan bunga krisan, dicabik-cabik, lalu dijejalkannya ke tenggerokan sampai mulutnya robek. Ingin rasanya ia gebug otak payah itu sembari menarik berhelai-helai rambut bondolnya sampai leher pun ikut putus.
Namun, raganya terlalu lemah.
Pikirannya terus berimajinasi. Kusniati terbayang saat ia berdiri terpaku di tengah hiruk pikuk jalanan. Gumulan langkah kaki yang menapak. Suara klakson mobil yang bersahut-sahutan. Kusniati kehilangan arah. Suara gema lonceng kastil dan kicauan sirine mobil memenuhi pendengarannya. Pemandangan malam itu. Gerombolan polisi, profiler, dan detektif yang bertengger. Kilauan bodi ambulan dan mobil polisi yang terpantul sinar rembulan. Gelimang rona merah pekat yang mewarnai lorong di samping rumah.
Kusniati berlari terkulai, membelah kerumunan mata yang asyik memandang. Menyerbu bisik bibir yang berucap iba dan ngeri. Kusniati melihat sesosok jiwa yang sedang terbaring. Ah, mengapa wujudnya seperti itu? Baju yang sama, tas yang sama, dan sepatu yang sama. Terlalu asing untuk dikatakan itu adiknya.
Di antara puluhan orang yang berpaling dan berusaha mencegah bubur perutnya memancur, Kusniati tak bergeming. Menatap lamat-lamat. Dalam pemandangan kacau itu, Kusniati mencoba mencerna itu Rusniadi, seolah menatap mayat itu bisa mengembalikan adiknya seperti semula.
“Sadarlah, Saudara!” Kusniati tersentak dari imajinasinya.
“Janganlah terlalu bersedih. Tuhan sedang menyiapkan rencana besar!”
Rencana besar? Kalau begitu, mengapa bukan putra atau keluarganya saja yang menjadi korban rencana besar-Nya? Kusniati merangkak mengejar pendeta di hadapannya.
“Oh, wahai hamba Tuhan dan penyebar kebajikan! Apa pendapatmu terkait adikku, pendeta? Apa benar ini rencana besar Tuhan?”
Pendeta hanya diam seribu bahasa.
“Pendeta? Di mana Tuhan saat adikku tiada? APA YANG SEDANG DILAKUKAN TUHAN SAAT ADIKKU MEREGANG NYAWA? DI MANA DIAA??”
“HAMBA MANA YANG SEDANG DIURUSNYA?? SEMENTARA ADIKKU SEDANG MENGUCURKAN DARAH, SEPULUH TUSUKAN SEDANG MENGHUJAM, DAN SARAFNYA MERONTA-RONTA KESAKITAN KETIKA TUBUHNYA DIPOTONG. DOSA APA YANG AKU LAKUKAN SAMPAI TUHAN MENGABAIKAN ADIKKU?”
Kusniati terdiam sejenak. Meraih kitab yang didekap pendeta dengan tangan bergetar.
“APA INI? PENYELAMATAN? AKU TAK BUTUH INI!” Kusniati mencabik-cabik setiap bagiannya. Baris dan deret huruf terasa ditulis dari kucuran darah adiknya. Serpih-serpihnya kemudian dihambur-hamburkan. Kali ini darah di kepalanya tak tahan lagi untuk meletus.
Mengapa kematian begitu kejam memisahkan dua insan. Mengapa denting detik, menit, dan jam begitu cepat mengubah kenangan menjadi kehilangan. Jangankan kenangan, mengapa dengan satu kali kesempatan persinggahan di dunia ini, Kusniati yang gila bekerja tak sempat mengetuk pintu kamar adiknya setiap pagi. Atau berebut kamar mandi saat keduanya kesiangan. Atau saling meringis mengapa sampo lebih lekas habis dari yang seharusnya. Atau sarapan bersama dengan nasi goreng sambil menyeruput teh hangat. Atau berjalan kaki maupun bersepeda motor ke kampus bersama sambil mengeluh tentang dosen maupun pelanggan restoran yang menyebalkan. Mengapa semua jadi malah terabaikan?
BACA JUGA : Jali Dipenjara
Tahun baru itu, ya kala itu. Mengapa terlalu terlambat baginya untuk menyadari bahwa seharusnya ia memasak jagung bakar. Atau menghiasi halaman rumah dengan gemerlap lampu warna-warni. Atau menyusuri ramainya jalanan sembari bersulang dan meminum coca cola. Atau menghafal tawa adiknya kalau leluconnya cringe. Atau menghitung mundur dari hitungan kesepuluh bersama kerumunan orang asing untuk menyambut Januari dengan tawa merekah sambil meniup terompet. Mengapa kematian dengan cepat membingkis rapi semua hal dan menguburnya dalam kata andai?
Kusniati membuka pintu rumah. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Lalu tatapannya terhenti pada sebuah pintu lusuh. Orang bilang pedih dan kehilangan akan memudar seiring waktu masih mengayun. Tapi, bagi Kusniati rasa itu tetap konstan. Kusniati membawanya di sepanjang hayat. Beban tak terlepaskan. Beban tak terelakkan.
Kusniati masih di sini. Mendedikasikan lima belas tahun hidupnya menanti psikopat biadab yang menghabisi adiknya, berharap muncul kembali. Namun, saat ini, detik ini, Kusniati berpikir apakah harapnya itu hanya sebatas mimpi di siang bolong. Meski telah kongkalikong dengan Tuhan lewat doa yang terus dipanjatkan, bagaimana jika impiannya hanya sebatas pinta yang tak menembus awan. Atau, apakah sebenarnya Tuhan mendengar pinta itu, namun tak dikabulkan karena tahu hamba-Nya pasti akan berbuat durhaka. Entahlah.
Kusniati hanya mendesah. Memutar pengunci pintu. Lantas menghempaskan tubuhnya ke atas dipan. Hingga saat ini ia masih berpikir. Jika ia tak sanggup lagi menahan beban, dan kesedihan melumpuhkannya, apakah pantas baginya untuk mengemas beban itu dalam kantong plastik dan meninggalkannya di suatu tempat?
***
Kusniati tersentak. Cahaya lembut mentari menyibak kelopak matanya yang masih tertutup rapat. Dering Samsung SGH-M610 keluaran dua ribu tujuh itu sukses membuat Kusniati berucap sial berkat polifoniknya yang bikin bising.
Diraihnya spidol yang tersandar di ujung kalender untuk disilangnya hari yang telah berlalu. Namun, jarinya terhenti. Mata sayunya membelalak. Dilayangkannya pandang ke bagian atas kalender. Dua ribu tujuh. Tiga puluh Desember.
Wanita dari dua ribu dua puluh tiga itu masih terhenyak. Tanpa berpikir logika yang bekerja di belakangnya, Kusniati berlari. Sebuah harapan terbentang di hari yang baru saja melahirkan adiknya kembali. Dua ribu tujuh saat trotoar melahirkan kembali pohon. Rumah susun melahirkan kembali kafetaria. Dinding beton kusam melahirkan warna-warni mural. Dan semrawut kabel melahirkan meriah pancawarna bendera.
Kusniati terus berlari. Ia tak cukup waktu untuk sekadar menunggu daun gugur meraba tanah. Menunggu bulir jatuh membasuhi wajah. Menunggu kuncup bunga merekah. Atau menunggu bayangan berpindah.
Kusniati terus berlari. Sekali lagi, ia merasa tak cukup waktu untuk peduli pada menghentikan kejatuhan Lehman Brothers. Atau memberi tahu dunia bahwa senator bernama Barack Obama akan mengubah politik Amerika. Atau memperingatkan studio Avatar akan menjadi fenomena dunia. Atau peristiwa besar lainnya yang lebih genting. Kusniati hanya terpikir adiknya.
Sementara mentari terus naik ke singgahsana seperti algojo waktu yang kapan saja bisa melumpuhkannya, Kusniati terus berlari. Menaruh benih harap di tiap punggung yang familier seperti rumput yang tumbuh di tanah tandus. Dan setiap wajah yang berbalik membuat harapnya kembali pupus sebelum sempat berbunga.
Waktu terus bergerak. Tenang. Mematikan.
Ketika senja telah menumpahkan semburat jingganya. Ketika bayangan-bayangan memanjang, dan ketika burung-burung kembali ke sarang, Kusniati semakin hilang arah. Hilang di antara kaki-kaki yang tak kunjung membawanya pada harapan. Hilang di antara tempat-tempat yang tak kunjung menyibakkan kenangan. Dan hilang di antara wajah-wajah yang tak kunjung mengembalikan apa yang pernah dirampas darinya.
BACA JUGA : Di Rahim Kata, Ibu Mengubur Suara
Ketika malam pun akhirnya turun. Ketika lelah dan keputusasaan telah menggerogoti tulang-tulangnya. Kusniati pun akhirnya pulang. Apakah mungkin yang dirasakannya hanyalah sebatas ilusi? Apakah ketika ia kembali ke kamar akan ada hari esok sebagai kesempatan?
Kusniati mendesah. Diputarnya pengunci pintu kamar. Lantas engsel berderit lirih. Diperhatikannya sesosok duduk di tepi ranjang kamar. Tanpa cahaya ilahi atau sayap yang terbentang. Hanya semburat sinar rembulan yang menyibak silau rambut lusuh. Seorang lelaki yang membolak-balik buku. Sebuah wajah yang susah payah dikubur Kusniati selama lima belas tahun. Wujudnya sempurna. Seolah hanya melewati hari-hari biasa.
“Udah lama ya, Kak?” Rusniadi tersenyum.
Kusniati membatu. Takut jika selangkah saja ia melangkah semua akan menjadi abu. Suara sama yang berusaha ia cari di keramaian. Dadanya begitu sesak. Jantungnya berdebar. Dirinya dipenuhi perasaan yang terlalu bahagia untuk dikatakan kesedihan, dan terlalu sakit untuk dikatakan kebahagiaan.
Kusniati hanya mematung. Menangis dalam hening. Kematian begitu kejam. Kusniati pernah berharap. Jika suatu saat atau mungkin ia mampu menjelajahi ruang dan melampaui waktu, ia akan memilih masa ini. Masa di mana tersenyum tidaklah teramat berat. Hanya satu kata yang akan diucapkan tanpa berpikir. Maaf.
***
“Pagi ini Anda menyaksikan berita terkini. Pembunuh berantai H yang menjadi dalang pembunuhan dua puluh lima tahun terakhir, tadi malam ditangkap polisi setelah membunuh seorang wanita yang teridentifikasi sebagai Kusniati.”
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.