Barangkali negara ini memahami kritik sebagai ancaman, sementara amarah dan kekecewaan dianggap sebagai tindakan melawan penguasa. Bagi rezim,...
Dalih memperkuat ketahanan negara, malah membuka jalan bagi dominasi militer dalam urusan sipil. Bangkitnya dwifungsi bahkan multifungsi militer...
Setiap April, negeri ini akan sibuk pada berbagai macam perayaan Kartini. Kalimat emansipasi Wanita, menjadi hiasan bibir. Tahun ini, Bulan...
Republik ini seperti tubuh yang masih berdiri, namun napasnya terasa pendek. Kita tidak sedang runtuh. Pemilu tetap digelar, parlemen bersidang,...
Penulis: Messa Adi Saputra
Fotografer: Messa Adi Saputra
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Yogyakarta
KENDARAAN roda tiga itu menjadi ciri khas Difa Bike di jalanan Yogyakarta. Bentuknya berbeda dari sepeda motor pada umumnya. Dengan modifikasi tertentu, kendaraan ini dirancang agar dapat digunakan oleh pengemudi dengan kondisi fisik yang berbeda, sekaligus memberikan ruang yang lebih aman dan nyaman bagi penumpang yang membutuhkan aksesibilitas tambahan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Antok, kembali bekerja sebagai pengemudi adalah sesuatu yang dulu terasa hampir mustahil. Satu hal yang sempat hilang dan kini hadir kembali. Hidupnya memang tak bisa lepas dari jalanan.
Antok (45) merupakan salah satu driver Difa Bike. Pengalaman Antok yang lama di jalanan sebagai supir bus pariwisata memudahkannya beradaptasi sebagai driver Difa Bike. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Antok, kembali bekerja sebagai pengemudi adalah sesuatu yang dulu terasa hampir mustahil. Satu hal yang sempat hilang dan kini hadir kembali. Hidupnya memang tak bisa lepas dari jalanan.
Pada 2013, ia mengalami kecelakaan tunggal saat mengemudikan bus pariwisata. Peristiwa itu mengubah segalanya. Kecelakaan tersebut, membuat salah satu kakinya harus diamputasi. Hidup Antok hancur dan ia sempat putus asa. Kaki yang menghidupinya, sudah tak lagi dimilikinya.
Setelah menjalani masa pemulihan, hidup Antok berubah drastis. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, membantu pekerjaan orang tuanya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi barunya. Di masa itu, tak sedikit pun terbersit olehnya bisa kembali mengemudikan kendaraan di jalanan.
Antok menggunakan kaki palsu sebagai alat bantu untuk bekerja menjadi driver Difa Bike. Antok mempunyai beberapa kaki palsu, akan tetapi banyak yang sudah rusak. (Messa Adi Saputra)
Empat tahun kemudian, tepatnya 2017, sebuah rekomendasi dari keluarga membawanya mengenal Difa Bike. Dari sanalah Antok perlahan menemukan kembali kesempatan untuk bekerja. Kali ini bukan bus, melainkan sepeda motor. Harapannya membuncah. Hidup Antok kembali bergairah.
Karena sebelumnya sudah terbiasa mengemudikan kendaraan besar seperti bus pariwisata, Antok tidak mengalami banyak kesulitan saat mulai mengendarai motor roda tiga yang digunakan oleh Difa Bike. Kendaraan tersebut telah dimodifikasi agar dapat digunakan oleh pengemudi dengan kondisi fisik yang berbeda seperti dirinya. Berat yang ia rasakan, dibayar rasa sabar dan tekun.
Kesulitan yang ia rasakan di awal justru bukan pada kendaraan, melainkan pada pelanggan yang masih sedikit. “Awal itu, masih sulit, Mas. Untuk urusan pelanggan, masih sepi,” ujarnya mengingat masa-masa pertama bekerja.
Seiring waktu, situasi perlahan berubah. Pelanggan mulai berdatangan dan beberapa di antaranya bahkan menjadi pelanggan tetap. Bu Yosin, misalnya, sering menggunakan jasa Antok untuk pergi ke rumah sakit. Ada pula Pak Irvan dan Bu Rubiyem, penyandang tuna netra yang rutin menggunakan layanan Antok untuk pergi ke pengajian.
Irvan (kiri) dan Rubiyem (kanan), merupakan pasangan suami istri penyandang tuna netra. Keduanya sering menggunakan jasa Antok. (Messa Adi Saputra)
Antok sedang mencoba menghidupkan motor roda tiganya. Antok akan mengantarkan pulang Pak Irvan dan Bu Rubiyem ke rumah. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian pelanggan, layanan seperti ini bukan hanya soal transportasi. Kehadiran pengemudi yang memahami kondisi penyandang disabilitas lainnya, membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Hubungan yang terbangun seringkali lebih personal, alih-alih sekedar penumpang dan pengemudi. Sebab, mereka memiliki pengalaman hidup yang tidak jauh berbeda.
Hubungan yang terjalin seringkali berkembang menjadi lebih dari sekadar hubungan jasa transportasi. Dalam perjalanan-perjalanan singkat itu, percakapan sederhana sering terjadi, menghadirkan rasa saling memahami di antara mereka. Namun perubahan terbesar yang Antok rasakan bukan hanya soal pekerjaan atau penghasilan.
“Rasa minder itu hilang, Mas,” katanya pelan. “Kalau waktu di kampung, cuma saya sendiri yang seperti ini. Tapi di sini jadi ada temannya.”
Antok menjemput Bu Yosin di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Bu Yosin sering menggunakan jasa Antok untuk mengantarkannya kontrol rutin dan mengantarkan untuk mengahmpiri teman-temannya. (Messa Adi Saputra)
Di Difa Bike, ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman hidup yang tak jauh berbeda. Ia tak lagi merasa sendiri. Mereka saling berbagi cerita, saling memahami, dan perlahan membangun kembali kepercayaan diri yang sempat hilang.
Sepuluh tahun lalu, Difa Bike bermula dari sebuah keinginan sederhana: bisa pergi ke mana saja dengan leluasa. Bagi banyak orang, hal tersebut mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Namun bagi penyandang disabilitas, mobilitas sering kali menjadi tantangan tersendiri. Akses transportasi yang terbatas membuat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain tidak selalu mudah.
Triyono (43), pendiri Difa Bike, memahami pengalaman itu secara langsung. Ia sendiri merupakan seorang penyandang tuna daksa. Sebelum mendirikan Difa Bike, Triyono menjalankan beberapa usaha di Yogyakarta, mulai dari usaha konveksi hingga membuka sebuah kafe. Kafe tersebut kemudian menjadi tempat berkumpulnya komunitas difabel di kota itu.
Dari obrolan-obrolan santai di tempat itu, berbagai pengalaman mulai dibagikan. Banyak di antara mereka menceritakan kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika harus bepergian atau mencari pekerjaan. Percakapan sederhana itu perlahan membentuk pemahaman yang lebih dalam tentang kebutuhan nyata yang dihadapi komunitas difabel.
Triyono (43) inisiator Difa Bike sedang bersiap untuk pergi menghadiri sebuah acara di dekat rumahnya dengan motor roda tiganya. (Messa Adi Saputra)
Dari situlah, Triyono mulai mendengar berbagai cerita tentang kesulitan yang dihadapi oleh teman-teman difabel. Cerita tentang sulitnya mendapatkan pekerjaan, keterbatasan akses pendidikan, hingga hambatan dalam mobilitas sehari-hari.
“Banyak cerita tentang kesulitan yang dialami teman-teman difabel. Sulit dapat kerja, mobilitasnya sulit juga,” kata Triyono. Salah satu pengalaman yang cukup sering ia dengar berkaitan dengan penggunaan transportasi umum maupun layanan ojek online.
“Kalau pakai kursi roda terkadang sulit akses saat menggunakan jasa ojek online mainstream,” ujarnya. Dari situ, muncul gagasan untuk menciptakan layanan transportasi yang dapat menjawab dua kebutuhan sekaligus: memudahkan mobilitas bagi penyandang disabilitas, sekaligus membuka peluang kerja bagi mereka.
Difa Bike kemudian hadir sebagai ruang untuk mewujudkan gagasan tersebut. Sepeda motor dimodifikasi dengan tambahan 1 roda ladi. Penyandang disabilitas tidak hanya dapat menggunakan layanan transportasi ini sebagai penumpang, tetapi juga sebagai pengemudi. Bagi sebagian pengemudi, ini menjadi kesempatan untuk kembali aktif bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat.
Triyono penyandang disabilias tuna daksa memulai perjalanan dengan Difa Bike dari sepuluh tahun lalu. (Messa Adi Saputra)
Perjalanan Difa Bike tentu tidak selalu berjalan mulus. Di awal kemunculannya, keraguan dari masyarakat masih sering muncul. Stigma terhadap kemampuan penyandang disabilitas menjadi tantangan yang harus dihadapi Triyono dan tim.
Namun mereka terus berupaya memperkenalkan layanan ini kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan secara perlahan, sambil terus melatih para pengemudi agar dapat memberikan pelayanan yang baik dan aman bagi para penumpang. Seiring waktu, Difa Bike mulai dikenal oleh masyarakat Yogyakarta. Motor-motor roda tiga itu kini menjadi pemandangan yang tidak asing di sudut-sudut kota.
Kehadiran Difa Bike tidak hanya memberikan pilihan transportasi alternatif, tetapi juga membuka ruang baru bagi para penyandang disabilitas untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Melalui pekerjaan sebagai pengemudi, mereka dapat kembali bekerja, berinteraksi dengan banyak orang, dan menunjukkan kemampuan yang sering kali dipandang sebelah mata.
Tidak hanya menjemput dan mengantar, Antok juga sering menunggu penumpangnya sampai acara selesai. (Messa Adi Saputra)
Antok menunjukkan bekas luka di kaki kanannya akibat kecelakaan yang dialami Antok pada tahun 2013 lalu. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian masyarakat, keberadaan Difa Bike juga menjadi pengingat bahwa aksesibilitas masih menjadi isu penting di banyak kota. Transportasi yang ramah bagi penyandang disabilitas belum selalu mudah ditemukan. Kehadiran layanan seperti Difa Bike menunjukkan bahwa inisiatif kecil dari komunitas dapat membuka peluang baru, tidak hanya bagi penyandang disabilitas, tetapi juga bagi masyarakat yang membutuhkan layanan transportasi yang lebih inklusif.
Bagi para pengemudinya, Difa Bike bukan sekadar pekerjaan. Tempat ini juga menjadi ruang untuk saling mendukung dan membangun kembali rasa percaya diri. Melalui perjalanan-perjalanan kecil di jalanan kota, mereka tidak hanya mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan kemampuan.
Di jalanan Yogyakarta, motor-motor roda tiga itu terus melaju. Perlahan namun pasti, mereka membawa lebih dari sekadar perjalanan, tetapi juga harapan akan ruang yang lebih inklusif bagi semua orang. Semua berharap, transportasi inklusif hadir pula di kota-kota lain seperti Surabaya.
Penulis: Idealita Ismanto
Fotografer: Idealita Ismanto
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
Lee Syumee (56) bersama dengan kedua orang anaknya, Lolo Arvian (26) dan Fernando Ananda Saputra (21), mereka adalah generasi ke 4 yang akan meneruskan adat ritual sembahyang imlek di keluarga Lee Syumee. (17/02/2026)
DI rumah sederhana itu, persiapan Imlek bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen hangat yang merajut kembali kebersamaan keluarga. Surabaya, Selasa (17/2/2026), Lee Syumee atau biasa dipanggil Sumiati (56) dan keluarga adik perempuannya adalah keluarga Tionghoa Muslim yang tinggal dan menetap di Tambak Bayan. Sum telah menjadi mualaf sejak usia 12 tahun. Ia masih mengingat pesan orangtuanya ketika ia memberitahu mereka bahwa sudah pindah agama Islam, “Apa yang kamu yakini, jalani saja selagi membuat dirimu menjadi baik.”
Ya, Tambak Bayan menjadi contoh bagaimana lebur budaya terjadi secara alami, organik. Tidak ada yang paling ‘merasa’ di sana. Hidup mereka berbaur senasib sepenanggungan. Mereka, khususnya yang beretnis Tionghoa, kawin mawin dengan etnis atau suku lainnya. Kehidupan mereka harmonis, saling memahami. Sebab, mereka menjalani hidup yang penuh ragam perjuampaan. Belakangan kita memaknainya dengan kata toleransi.
Sehari sebelum Imlek tiba, Sumiati selalu mempersiapkan waktu untuk sebuah ritual yang tak pernah ia lewatkan. Dengan bantuan beberapa anggota keluarganya, ia bergerak dengan penuh khidmat dan menata hidangan persembahan di meja sembahyang. Sum lalu membakar uang arwah sebagai bentuk bakti kepada orang tuanya yang telah tiada. Baginya, menyiapkan makanan syarat dan menghaturkan doa kepada leluhur bukan sekadar tradisi, melainkan cara sunyi untuk menjaga ingatan, hormat, dan kasih yang terus hidup lintas generasi.
Keluarga Sumiati mempersiapkan ritual mendoakan para leluhur satu hari menjelang imlek. Tradisi ini selalu Keluarga Sumiati lakukan sebagai bakti dan mengenang orang tua yang telah berpulang. (21/01/2023)
Secara turun temurun, keluarga Sumiati selalu menyiapkan uang arwah dan makanan. Makanan yang telah didoakan saat imlek, disantap bersama keluarga besar Sumiati dengan bahagia. (31/01/2022)
Menjelang Imlek, semua keluarga melakukan ritual untuk menghormati keluarga yang telah meninggal. Pertama, mereka harus membakar dupa pada sembahyang Imlek yang dilakukan bersamaan dengan penyalaan lilin yang akan diletakkan di atas altar sesaji. Setelah itu mereka harus membakar uang kertas dan berdoa agar uang tersebut dikirim ke surga, proses terakhir adalah makan bersama untuk merayakan rasa terima kasih kepada leluhur. (21/01/2023)
Di tengah kemegahan Kota Surabaya, Sumiati dan sejumlah keturunan Tionghoa tinggal di ruang sempit, yang dahulu merupakan istal kuda zaman kolonial Belanda. Istal kuda tersebut dibagi dalam petak, masing-masing petakan berukuran 4x6 meter menampung lebih dari sekadar dinding dan atap, di dalamnya, kamar, ruang tamu, dan kamar mandi menjadi satu. Di ruang terbatas itulah beberapa anggota keluarga menjalani hari-hari mereka untuk bertahan hidup.
Go Siok Yong (77) dan Dwi Nesti (65). Walau berbeda agama, mereka tetap saling menghormati saat perayaan-perayaan hari besar agama lain. Go Siok Yong telah berpulang di tahun 2025. (22/01/2023)
Ang Feha (60), Faith (10) dan King Hope(5), potrait keluarga Ang di Tambak Bayan. Ang Feha takut tidak bisa mempunyai rumah lagi apabila terjadi pengusiran secara tiba-tiba oleh pihak hotel. (29/06/2023)
Chik Jun (80) tinggal rumah berukuran 4x6 meter. Ia telah terbiasa dan tidak khawatir dengan ruang sempit yang ada. (26/02/2020)
Kampung Tambak Bayan pernah menjadi perhatian banyak pihak karena mengalami konflik agrarian dengan Hotel Vini Vidi Vici (V3). Konflik yang bermula sejak 2006 itu belum juga menemukan ujung, menyisakan ketegangan yang merembes ke kehidupan sehari-hari warga. Warga berjuang dengan berunjuk rasa dan melawan dengan gerakan-gerakan budaya yang diinisiasi dengan banyak pihak. Dulu sebelum separuh tanah Tambak Bayan digusur, ada sekitar 100 keluarga mendiami kampung ini.
Arsip foto warga Tambak Bayan yang ikut melakukan demonstrasi di wihara Tambak Bayan tahun 2009 (29/06/2023).
Hingga sekarang pun mereka masih berjuang memenangkan sengketa lahan tersebut. Kasus sengketa ini bukan hanya menyangkut persoalan perebutan ruang secara fisik, yakni penggusuran rumah warga, tapi juga menimbulkan kerugian secara ekonomi bagi warga, karena sejumlah usaha kecil dan mikro warga semakin hari semakin sepi. Selain itu, penggusuran ini juga mengakibatkan hilangnya keterhubungan warga Surabaya pada umumnya dan warga Tambak Bayan khususnya dengan sejarah dan ingatan masa lalu.
Bagi banyak keluarga, persoalan ini bukan sekadar soal kepemilikan lahan, melainkan tentang keberlanjutan ruang hidup dan identitas. Ketidakpastian hukum membuat rencana masa depan terasa menggantung. Sebagian warga memilih bertahan dengan segala keterbatasan, sementara yang lain mulai diliputi kekhawatiran akan kemungkinan terburuk. Di tengah tekanan itu, kehidupan sehari-hari tetap berjalan pelan, seolah warga berusaha menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat meninggalkan mereka.
Imlek kemarin dalam suasana kesederhanaan, selain permasalahan tempat tinggal yang belum selesai, sebuah kekhawatiran mucul. Sumiati mengkhwatirkan keluarganya tidak lagi meneruskan tradisi imlek. Hanya dengan menjaga tradisi inilah, ia merasakan ikatan dengan leluhur. “Saya sering berpikir, nanti siapa yang akan melanjutkan, tradisi ini?” tuturnya lirih, sambil merapikan perlengkapan sembahyang.
Salah satu anak Sumiati, Fernando memaknai ritual keluarga bukan sekadar tradisi tahunan. Pemuda 21 tahun itu merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan apa yang telah dirintis ibunya, menghormati leluhur sekaligus merawat nilai toleransi. Ini menjadi nilai hidup yang diajarkan orang tuanya. “Saya sebagai darah keturunan mama merasa harus meneruskan tradisi ini,” ujarnya mantap.
Baginya, lelah dalam menyiapkan ritual bukanlah beban. Justru ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan setiap kali dupa dinyalakan. Ia mengingat, sebelum sang Ibu menghadirkan kembali ritual itu, keluarga mereka nyaris tak lagi menjalankannya. Kini, selama sekitar 15 tahun, prosesi itu terus hidup dari tahun ke tahun. Fernando bertekad, apa yang sudah diawali ibunya, akan terus dilestarikan kepada anak cucunya kelak.
Potret keluarga Sumiati tahun di 2024 dan 2026 saat berkumpul di momen imlek di Tambak Bayan, Surabaya. Terkadang tidak semua anggota keluarga bisa hadir karena ada keperluan lain, dan kebetulan di tahun ini juga bersamaan dengan dimulainya bulan Ramadhan. (17/02/2026)
Saat imlek, Tanto (50), Kakak dari Sumiati sedang menelpon saudara-saudaranya melalui panggilan video. Walaupun jauh jarak, kebersamaan selalu terjalin di keluarga besar Sumiati. (01/02/2022)
Sumiati sendiri memiliki pandangan yang lebih lentur. Ia memahami betul, tidak semua generasi mampu atau siap melanjutkan. Jika suatu saat tradisi itu berhenti, ada tata cara penutup yang bisa dilakukan keluarga besarnya, foto leluhur bisa dibalik selama tujuh hari, kemudian dilepas dan diserahkan ke klenteng untuk dibakar. Setelah itu, keluarga tetap bisa berdoa setiap tahun di klenteng tanpa kewajiban kaku.
“Tidak ada ketentuan harus sembahyang atau tidak,” tuturnya, seolah memberi ruang bagi anak-anaknya untuk memilih jalan mereka sendiri.
Tradisi yang telah dilakukan Sumiati dan warga Tambak Bayan lainnya yang sudah berpindah keyakinan menjadi tonggak lahirnya Tambak Bayan sebagai kampung toleransi. Kini dengan perubahan zaman, nasib mereka terus diuji antara kehilangan tempat tinggal dan kehilangan ajaran nenek moyang. Tambak Bayan bukan sekedar ruang hidup. Ia menjadi memori kolektif, manusia yang menjejaki manis getir hidup di lintasan zaman. Mereka menolak punah dengan perlawanan kolektif.
Tradisi ritual berdoa sebelum imlek selalu Sumiati lakukan sebagai bakti dan mengenang orang tua yang telah berpulang. (21/01/2023)
Sumiati selalu berdoa dan berharap agar permasalahan konflik tanah segera berakhir dengan hasil yang baik. (17/02/2019)
Suasana kampung Tambak Bayan di malam hari.
Edi Murdiono (50) dan istrinya Fauria (48) sudah berjualan ayam bakar dan mie ayam semenjak 2010 untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Konflik tanah di Tambak Bayan sangat mempengaruhi pendapatan keluarganya saat ini yang semakin menurun. (29/06/2023)
Alhusna Adinda (13) dan Diavana Triani (19) tidur di ruangan bawah di sela-sela membantu Ibu dan Ayahnya menerima pesanan makanan ayam bakar. Tempat tidur dan ruang tamu yang menyatu sudah menjadi pemandangan biasa di kampung Tambak Bayan. (29/06/2023)
Adelia Isya Puspasari (18) merupakan generasi ke 4 yang masih tinggal dan menetap di Tambak Bayan. (21/01/2023)
Cucu Go Siok Yong, Adit (7) tinggal di Jalan Demak Surabaya, ia selalu datang bersama dengan ibunya saat ada perayaan Imlek di Tambak Bayan. (22/01/2023)
Agnes Savitri (25) selalu membantu Iie nya Sumiati memasak makanan persembahan untuk perayaan imlek. (21/01/2023)
Di Tambak Bayan sendiri, penduduknya telah berubah sedemikian rupa menyesuaikan dengan adat setempat. Mereka hidup rukun dalam keberagaman. (21/01/2023)
Rumah Liang Tje Jow (40) dan Munti (22) walau berukuran 4x6 meter persegi, mereka telah terbiasa hidup di Tambak Bayan sejak kecil dan bertahan hidup dengan berjualan mie ayam di kampung Tambak Bayan. (26/02/2020)
Rumah Ce Jay (42) dan Jo Kai (55) berukuran 4x6 meter persegi. (21/01/2023)
---
*) Pada Senin, 2 Maret 2026, dilakukan koreksi atas penulisan awal konflik sengketa tanah di Tambak Bayan. Tahun yang semula tercantum 2011 diperbaiki menjadi 2006.
Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
INGATKAH dengan nama Sarip, Said, Taskan, Pardi, Woyo, Tarno, Karno atau Lutfi? Yang terlahir di sekitaran 1980 dan 1990-an, gali ingatan kalian tentang kenangan di lapak buku Pasar Blauran. Mungkin merekalah yang menemani masa sekolah kalian dengan buku-buku yang apik dijajakan di sudut Pasar Blauran. Merekalah yang memastikan para pekerja berpenghasilan pas-pasan bisa menyediakan buku sekolah bagi anak-anak mereka.
Deretan lapak buku ini dibiarkan begitu saja. Pemiliknya meninggal beberapa tahun lalu dan tidak satu pun anak-anaknya yang mau diwarisi buku-buku dagangan orang tuanya. Pasar yang sepi dan tak lagi menjanjikan, menjadi alasan utama mengapa lapak ini tak lagi menjajakan buku. Pedagang buku yang masih bertahan pun mengaku bisa saja bernasib sama. (Robertus Risky/ Project Arek)
Nama-nama itu kini terlupakan. Tak lagi ada suara mereka menawarkan buku. Mereka telah meninggalkan dunia. Bukan hanya kenangan, mereka meninggalkan juga buku-buku yang menjadi hari-hari mereka dahulu. Lapak mereka tertutup rapat. Tumpukan buku dibalut sepi terpal yang tak tembus lampu pasar yang juga temaram tak seterang dahulu.
Buku-buku itu tak terwariskan. Anak-anak pedagang buku itu, tak sanggup menapaki jalan hidup ayahnya. Hidup ayah mereka yang jenuh berteman sepi, sesepi pasar ini. Mereka memilih membiarkan lapak itu menjadi kuburan buku. Dibiarkan begitu saja hingga meresap bersama bangunan Pasar Blauran yang tak lagi sama seperti dua, tiga dekade silam.
“Banyak lapak yang kosong yang ditinggalkan karena pedagangnya meninggal. Sama keluarganya nggak diteruskan. Ya sudah, dibiarkan begitu saja sama buku-bukunya. Mungkin anak-anak ini tidak mau karena memang sepi pembeli,” kata Zaiful Anwar, salah satu penjual buku yang tersisa.
Napas Pasar Blauran kini megap-megap, tenggelam digilas zaman, terkubur dalam kebisingan Kota Pahlawan, dan terpuruk dalam memori ingatan. Desak riuh antar pembeli yang berebut buku dan pedagang yang sibuk menjajakan dagangan, kini menjadi suasana yang dirindukan. Dahulu, makin malam, tambah ramai, hingga pekik kebisingan memenuhi telinga. Lagi-lagi, pembeli memadati lapak pedagang ini. “Dulu sehari bisa dapat 500 ribu rupiah,” kenangnya.
Salah satu tulisan pengumanan pembukaan lapak buku baru di momen 14 tahun silam. Kini lapak buku itu menjadi salah satu lapak yang kosong ditinggal pemiliknya. Dari 40 penjual di awal 1990, kini menyisahkan hanya 7 pendagang saja. Di era kejayaannya, buku-buku bekas ramai diserbu pembeli dari Surabaya dan berbagai kota di Jawa Timur. Robertus Risky/ Project Arek
Tapi itu dahulu. Kini semua itu berubah dalam sekejap demi sekejap. Sudut lapak buku di pasar ini bak lorong waktu, yang menyulap segalanya menjadi berbeda sama sekali. Saat ini, yang tersisa hanyalah lorong sunyi, penuh kehampaan. Aroma buku yang biasanya menyambut dan menggoda pembeli, kini menyisakan tumpukan kertas usang yang diselimuti debu-debu tebal dan jaring laba-laba.
Pada 1994, ada sekitar 40 pedagang mengisi lapak buku di sana. Beberapa di antara mereka pindahan dari pelapak buku di Jalan Semarang, Surabaya. Dinding-dinding pasar menjadi saksi di masa kejayaan. Peminat datang silih berganti. Mereka saling akrab satu sama lain, saling bantu ketika dagangan salah satu penjual belum laku terbeli. Hari ini hanya tersisa 7 pedagang dengan tegar menyandarkan hidupnya dengan berjualan buku bekas.
Stan-stan kosong itu, kini menyisahkan debu tebal, menjadi sarang laba-laba serta tumpukan buku usang tak bertuan, karena beberapa pedagang meninggal. “Dulu di sini ramai, Mas. Sekarang tinggal ini saja pedagangnya. Banyak yang pindah cari pekerjaan lain. Nggak kuat karena pasar sepi. Ada yang narik ojek online, buka warung kopi, dan jual makanan,” ungkap Zaiful sembari menata dan membersihkan buku dagangannya.
Apa sebab? Banyak, begitu jawaban mereka. Singkat tapi tak sesederhana mengucapkannya. Hakim Muslim (60), pedagang buku di sana menilai, kesewenang-wenangan pemerintah dalam mengambil kebijakan berdampak pada wajah-wajah pedagang yang menopang ekonomi. Pergantian kurikulum pendidikan, berganti pula aturan dalam proses belajar dan mengajar di sekolah membuat buku bekas tak lagi bisa dimanfaatkan.
Zaiful Anwar menunggu pembeli di lapak kosong yang ditinggal pemiliknya. Robertus Risky/ Project Arek
Yahman (75) di lapak miliknya. Robertus Risky/ Project Arek
Kusdi yang merupakan adik kandung Kusnan, termenung menunggu pembeli datang di Pasar Blauran. Robertus Risky/ Project Arek
“Sekarang begini, Mas. Ganti menteri, ganti kurikulum. Terus di sekolah disuruh ganti buku paket. Ini kami susah, buku yang dulu belum laku, terus kami harus cari lagi untuk dijual. Lama-lama dagangan kami nggak laku mas,” kata Hakim.
“Dulu ramai, Mas. Kalau mau beli buku sampai desak-desakan. Biasanya disuruh guru-guru cari buku paket. Anaknya pulang sekolah, malamnya orang tua pasti cari buku paket di sini mas,” timpal Kusdi (67), pelapak buku lainnya. Bukan hanya buku pelajaran, buku lain seperti komik juga sepi dan novel pun peminat.
Ia mengatakan kondisi semakin buruk ketika pandemi Covid-19 melanda. Penujualan buku mereka semakin terjerembab. Pasar ditutup. Mereka tak lagi bisa bejualan dan ketika dibuka, situasi sudah tak kunjung membaik bagi mereka. Penjualan online juga tak menjadi opsi mereka. Mereka mengaku terlalu senja untuk bersaing di dunia maya.
“Saya itu sudah tua, Mas. Tidak paham teknologi. Jualan buku online tidak paham caranya. Malah dengan adanya jualan buku online, Pasar Blauran ini makin sepi,” tuturnya Yahman. Ia tetap setia duduk termangu di tumpukan bukunya, menunggu datangnya pembeli seperti hari-hari lainnya yang ia jalani selama 30 tahun. Itu semua ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Meski demikian, mereka tak mau tumbang dan tetap bertahan dalam kegigihan. Termasuk Kusdi, yang setia menggelar tumpukan buku-buku dan menunggu datangnya calon pembeli. Situasi suram tidak mematahkan asahnya. Kusdi tetap rajin berjualan dari pukul 10 pagi hingga 4 sore. Ia mengaku usianya tak lagi muda dan terbatas pilihan pekerjaan, sehingga berjualan buku menjadi satu-satunya yang dapat menopang ekonomi keluarga.
“Alhamdulilah, Mas. Ditekuni saja. Kadang seminggu belum tentu dapat pengelaris. Dapat 20 ribu rupiah sehari saja belum tentu. Tapi tidak apa-apa, disyukuri saja,” imbuhnya dengan senyum kecil. Hal itu, ia lakukan sehingga tidak menganggur dan tidak merepotkan anaknya, kendati anaknya sudah memiliki pekerjaan tetap.
Kusdi (67) membaca buku di lapak miliknya sembari menunggu pembeli. Selama 14 Tahun ia berjualan buku bekas untuk pelajar dan masyarakat umum. Robertus Risky/ Project Arek
Potrait Yahman (75) di lapak miliknya. Penjualan online mengakibatkan buku-buku di stan miliknya sepi peminat. Robertus Risky/ Project Arek
Potrait Wahyu Puji Astutik (50) di lapak miliknya. Ia berjual buku sejak 20 tahun yang lalu, dari hasil berdagang ia menguliahkan anaknya hingga lulus. Astuti merasa terus terpanggil untuk bertahan menjajakan buku. Robertus Risky/ Project Arek
Potrait Hakim Muslim (60) di lapak miliknya. Ia Berharap kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib pedagang. Robertus Risky/ Project Arek
Mereka yang tersisa tak ingin lagi mengenang masa lalu. Yang mereka tahu bagaimana bisa bertahan. Bagi mereka, tetap datang di pasar yang sepi sebenarnya bukan sekadar berjualan, melainkan bisa tetap menyambung rasa dengan pelapak buku lainnya yang sudah seperti saudara. Hari-hari mereka dihabiskan di sudut Pasar Blauran yang temaram itu. Mereka tentu rindu, tapi hidup musti terus diperjuangkan.
Kepada saya, mereka menitip pesan untuk penguasa kota. Mereka berharap Pemerintah Kota Surabaya, agar lebih memperhatikan nasib pedagang buku di Pasar Blauran dengan menciptakan inovasi dan tidak membiarkan mereka terbengkalai, sehingga geliat ekonomi pasar ini bangkit kembali seperti dahulu.
Potrait Kusnan (71) setengah abad dalam hidupnya iya habiskan untuk menjual buku bekas dan baru untuk memenuhi kehidupannya. Robertus Risky/ Project Arek
Potrait Zaiful Anwar (40) di lapak miliknya. Ia merindukkan kenangan kejayaan masa lalu, banyaknya pembeli yang berdatangan. Robertus Risky/ Project Arek
Kusdi dan Kusnan berdialog. Keduanya merupakan kakak dan adik. Robertus Risky/ Project Arek
Kusnan beristirahat diantara lapak-lapak buku yang ditinggal pemiliknya. Meski usianya tak lagi muda ia tetap gigih untuk terus berjualan buku bekas. Robertus Risky/ Project Arek
Kusnan melayani calon pembeli . Berdagang buku merupakan profesi yang ia tekuni untuk menyambung kehidupannya. Robertus Risky/ Project Arek
Kusdi menunjukkan pendapatan perharinya. Terkdang seminggu buku yang ia jajakan belum tentu laku terjual. Robertus Risky/ Project Arek
Kusdi melayani calon pembeli di Pasar Blauran, Surabaya. Terkadang seminggu ia tak dapat penghasilan. Robertus Risky/ Project Arek
Buku cerita anak-anak yang ia beli dari dari salah satu tengkulak, untuk di jual kembali. Robertus Risky/ Project Arek
Kusnan merapikan buku cerita yang siap ia jajakan bagi pembeli. Robertus Risky/ Project Arek
Tumpukan buku-buku bekas yang ditinggal oleh pemiknya untuk banting setir menjadi ojek online. Robertus Risky/ Project Arek
Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
Sejumlah anak-anak bermain di tengah-tengah rel kereta api. Kurangnya lahan terbuka membuat mereka tetap ceria. Tak jarang permainan harus terhenti karena terdapat kereta api yang melintas. (Robertus Risky/ Project Arek)
Cucu Habib melamun tak di samping rel. Tak jauh darinya, Habib, sang kakek mengawasi. (Robertus Risky/ Project Arek)
Semua bergegas menjauhi rel. Ada yang memilih masuk ke rumah, ada yang mengintip di balik pintu, ada pula yang memasukkan tubuhnya di antara sela-sela gang kecil. Itu semua demi keselamatan agar tak disambar kereta api. Mereka menjaga kehidupan di jalur maut.
Mereka adalah masyarakat Kota Surabaya, bukan entitas yang terpisah dari metropolitan. Lokasinya, di Jalan Dupak Magersari, Surabaya. Di sana, deretan pemukiman warga, layaknya perkampungan biasa. Namun hal yang membuatnya berbeda, warganya berdampingan dengan rel kereta api aktif. Ya, aktif.
Achmad Wiyanto (57), akrab disapa Habib, hampir seluruh hidupnya ia habiskan di Kawasan ini. Sejak kecil mantan Ketua Rukun Warga (RW) tinggal dan bermukim di kawasan tersebut. Mulai 1967 hingga saat ini. Ia hidup bersama istri, anak, dan ketiga cucunya.
Sejumlah warga menghabiskan waktu bersama di depan rumahnya yang kondisi berhadapan langsung dengan rel kereta api. Jalur rel kereta api sekaligus menjadi halaman rumah mereka. (Robertus Risky/ Project Arek)
"Jadi sekitar tahun ‘73 muncul gubuk-gubuk liar, Mas. Terus adanya pembaruan dan modernisasi makin banyak pendatang dan terus bertambah banyak," ungkap Habib, sapaan akrabnya.
Meski terbiasa hidup di jalur maut, Habib masih memiliki was-was keselamatan keluarganya. Ia selalu waspada saat cucunya bermain di atas rel. "Khawatir pasti, Mas. Soalnya kadang kereta lewat kecepatannya tinggi, kadang sewaktu-waktu juga lewat, kadang juga lewat gak membunyikan bel. Jadi kita selalu waspada," imbuhnya.
Kengerian itu beralasan. Ia masih mengingat tragedi 2012 silam. Saat itu, rangkaian kereta api anjlok merenggut nyawa seorang warga. Kengerian serupa terjadi pada 19 November 2025 lalu, rangkaian kereta api anjlok tak jauh dari rumahnya. Tidak berhenti di situ, kebisingan dan getaran yang ditimbulkan saat kereta api melintas, menjadi teror kala beraktivitas.
Habib menjemput cucunya dari sekolah tak lama setelah rangkaian kereta yang melintas tak jauh dari rumahnya anjlok. Peristiwa seperti ini, membuat warga yang tinggal di kawasan ini memendam rasa takut. (Robertus Risky/ Project Arek)
"Gimana ya, Mas, mau tidur lihatnya rel kereta, bangun juga lihatnya rel. Pemandangannya itu-itu. Kalau kereta lewat rasanya kayak gempa bumi, suaranya kayak sound horeg," kelakar Habib.
Habib memiliki toko kelontong dan membantu istri menghantarkan pesanan kue basah dan bubur. Ia berharap mendapatkan hunian lebih layak, jauh dari kebisingan suara kereta yang menghantui hidupnya selama ini. Namun ia ketar-ketir juga karena harga rumah di Surabaya sulit dijangkaunya.
"Ya gini, Mas, harapan saya itu pemerintah harus lebih jeli kepada masyarakat kecil. Karena selama ini bantuan yang disalurkan sama pemerintah itu jatuhnya enggak tepat sasaran, Mas. Jadi sekarang itu kayak lagu, Mas. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin," imbuhnya.
Bersama Suami, Hidup Di Jalur Kereta Api
Ketakutan yang sama juga dialami Munatun (47) istri dari Habib. Perempuan kelahiran Madura tersebut pertama kali tinggal di kawasan setelah dinikahi Habib pada 1993. Keluarga sederhana ini dikaruniai dua orang anak. Lebih tiga dekade, tak semua hal yang terjadi menjadi normal baginya.
Achmad Wiyanto alias Habib (57) dan Munatun (47) mengharapkan kehidupan yang layak. Sekaligus berharap kepada Pemerintah Kota Surabaya untuk lebih memperhatikan masyarakat kecil. (Robertus Risky/ Project Arek)
Foto Habib bersama putrinya, sejak kecil ia menghabiskan waktunya hidup diantara jalur maut bersama keluarganya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Suara kereta api dan getaran tetaplah membuatnya tak bisa tidur pulas. Bangunan rumah semi permanen, tak kuasa menahan getaran kereta api kala melintas. Rumah berukuran 3x4 itu, adalah warisan orang tua Habib. "Pertama kali tinggal disini ya takut, Mas. Nggak bisa tidur. Tapi ya gimana lagi rumahnya di sini. Berisik, Mas," ungkap Munatun.
Di waktu siang hari Habib bersama cucunya beristirahat, meskipun kondisi rumah dan kampung yang padat ditambah getaran dari rel kereta api membuatnya terlelepa tidur. Dirinya berdaptasi dari kebisingan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Sehari-hari Munatun menggelar lapak sederhananya untuk menjual bubur dan melayani pesanan kue basah. Tak banyak pilihan pekerjaan buatnya. Ia berjualan untuk membantu perekonomian keluarga. "Ya gapapa, Mas, dijalani aja. Kadang hasil jualan rame, kadang sepi. Pernah seminggu gak ada pemasukan. Gak mesti. Pokoknya buat makan sehari-hari," imbuhnya.
Achmad Wiyanto (57), biasa disapa Habib mengantarkan bubur pesanan para guru SD di dekat rumahnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari, Habib bersama istrinya berjualan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Munatun menghitung laba kotor hasil dari berjualan bubur dan toko kelontongnya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Selain bertahan di tengah kerasnya kehidupan, Habib dan Munatun juga menghabiskan masa senjanya untuk merawat ketiga cucu. "Selesai jualan saya nyuapin cucu saya yang paling kecil. Terus pagi sama siang pak Habib jemput cucu nomer dua yang sekolah, Mas," tuturnya.
Cucu kedua habib mandi selepas pulang pulang. Ruang dan rumah yang terbatas membuat mereka tetap melanjtukan kehidupan di tengah desakan ekonomi yang tidak berpihak kepada masyarakat miskin. (Robertus Risky/ Project Arek)
Ia juga berharap kelak dirinya bersama keluarga memperoleh kehidupan dan rumah yang lebih layak. Lebih baik hingga tak harus bergulat dengan maut, seperti yang dia dan Habib jalani saat ini.
Setiap April, negeri ini akan sibuk pada berbagai macam perayaan Kartini. Kalimat emansipasi Wanita, menjadi hiasan bibir...
Barangkali KIP Kuliah adalah program yang membantu banyak orang, itu benar, terutama mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu. Namun, program itu...
Perpanjangan izin Freeport di Papua sampai 2061 menandai kelanjutan eksploitasi sumber daya alam yang panjang dan kompleks. Sejak masuknya...
Sikap yang diambil pemerintah Indonesia di kancah internasional, yang katanya netral atau non-blok, kini semakin dipertanyakan. Sebab, keputusan...
Remang-remang yang mengintip dari jalan tiba-tiba lenyap ditelan gelap gulita. Sambil mendesis menahan desakan di kandung kemihku, aku berusaha memasukkan kunci pada pintu belakang. Tanpa belas kasihan kunci itu jatuh bersama angin dingin yang membelai tengkukku. Saat aku membungkuk mengulurkan...
Sabdo tidak punya riwayat penyakit kejiwaan, tetapi akhir-akhir ini dia memiliki kebiasaan buruk melukai dirinya sendiri. Pagi ini, Sabdo menyundutkan lagi rokok ke batang reproduksinya. Dia melakukan itu setiap menatap punggung Sumeleh ketika penjual gempol itu berlalu.
Aku bisa memahami perasaannya. Aku melihat gejala yang puncaknya mewujud secara terang-terangan baru-baru ini sudah sejak lama. Aku menghargai keinginannya, terlepas dari fakta bahwa ia memang bukan putra mahkota. Tiga hari yang lalu ia datang kepadaku.
Tuan, mungkin dalam benak Anda ini terasa risih, berkisah tentang asmara pedesaan. Kolot karena mitosnya juga, ya? Namun, percayalah Tuan, daripadanya itu tersingkap makna saling tunggu yang menghilangkan udara.
Kota ini adalah lambung raksasa yang tak pernah kenyang. Aku hanyalah salah satu enzim di dalamnya—mengunyah sisa-sisa yang dimuntahkan kerongkongan beton dan aspal. Namaku Lembana. Sebuah nama yang mulai kedaluwarsa, layaknya wajahku yang dipahat oleh debu jalanan dan jelaga knalpot.


