Skip to main content
-
Cerita Foto
Tenggelam dalam Dekapan Lumpur
Tragedi itu datang dua kali. Pertama saat ia terjadi, kedua ketika ia terlupakan. Seolah-olah, setelah transaksi yang mereka sebut ‘ganti untung’, semuanya tuntas dan hidup kembali bahagia. Oh tidak, mereka salah. Hidup bagi korban Lumpur Lapindo tak lagi sama. Ada bagian dari hidup mereka yang tenggelam dalam dekapan lumpur.

Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Sidoarjo

Seorang warga beraktivitas di atas tanggul penahan lumpur di Desa Polo Gunting, Sidoarjo. Meski telah berlalu 20 tahun sejak bencana Lumpur Lapindo terjadi, titik semburan masih aktif mengeluarkan lumpur dan gas hingga saat ini. Robertus Risky/Project Arek

DUA puluh tahun sudah semburan Lumpur Lapindo berlangsung. Ia tak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya malih rupa. Dari bencana menjadi kondisi, dari kondisi menjadi kehidupan sehari-hari yang terpaksa diterima tanpa pilihan. Dan 29 Mei 2006 menjadi titik kisar kehidupan warga. Rumah-rumah kelelep (tenggelam).

Namun, yang paling dalam tenggelam tak pernah bisa diukur dengan meteran. Itu adalah hidup, sejarah, ingatan, kenangan, kehidupan sosial mereka di tempat yang disebut desa. Tak tergantikan walau rumah baru terbeli dari uang ‘ganti untung’. Tak semua bisa dibeli karena tak semua bisa dinilai dengan uang, seperti yang kapitalis itu kira.

Sofiatul Izzah bersama sejumlah tetangganya bekerja sebagai pengupas udang untuk tambahan penghasilan mereka. Robertus Risky/Project Arek

Sofiatul Izzah tidak pernah benar-benar berhenti bekerja sejak tragedi itu. Seusai subuh, ia duduk bersama enam belas tetangganya, rata-rata perempuan, mengupas udang sebagai penghasilan tambahan. Suaminya, Khusairi, pergi ke ladang sewaan, yang kini sebagian besar tak lagi bisa ditanami.

Air tanah terkontaminasi. Pendapatan menyusut. Dan setiap tahun, satu setengah juta rupiah harus dikeluarkan bukan untuk menabung atau memperbaiki nasib, melainkan sekadar menambal dinding rumah yang terus keropos terkelupas digerus udara bercampur gas.

Ketika sebuah rumah tidak lagi bisa melindungi penghuninya dari udara di luarnya, apa yang tersisa dari gagasan tentang rumah? Gas yang sama, bau yang khas, itu sudah mereka hisap sejak 20 tahun silam. Tubuh mereka dipaksa menerima oksigen bercampur gas itu.

Eva, putri tunggal mereka, tumbuh dalam pertanyaan yang tidak pernah terjawab itu. Gatal-gatal dan sesak napas sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Yang lebih dalam menghantuinya adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kamera. Inikah yang dianggap tuntas itu? Masalah hidup korban Lumpur Lapindo tak pernah tuntas.

Yang selalu saya ingat ketika melihat lumpur Lapindo, ya kenangan tentang rumah nenek.” Kini, rumah itu ditelan lumpur, dan hanya bisa ia kunjungi dalam ingatan.

Suti’ah (kiri) dan Suryanto (kanan) berdiri di lokasi bekas rumah mereka yang terdampak perluasan tanggul. Mereka mengenang rumah dan kehidupan yang pernah tumbuh di tempat itu.

Sedang di fase yang lain, Suti'ah dan Suryanto menanggung kehilangan berlapis. Rumah lama digusur sebab perluasan tanggul. Memutuskan pindah ke sebuah kampung yang hanya selemparan batu jaraknya dengan tembok beton penahan lumpur. Mereka bertahan bertetangga dengan ancaman. Anak yang enggan jauh dari kawan sepermainan adalah alasannya. Sekali lagi, tak banyak pilihan bagi mereka.

Dulu, usaha tas rengkek mereka adalah salah satu yang terbesar di kawasan Porong dan Tanggulangin. Lima karyawan, pasar yang hidup, masa depan yang bisa dibayangkan. Semuanya berubah setelah lumpur datang. Penghasilan anjlok hingga tujuh puluh persen.

Tiga liter air harus dibeli saban hari. Mobil dijual. Barang-barang lain menyusul. Dan kecemasan itu terus bergentayangan. Terlebih, sejak tanggul penahan lumpur sempat jebol beberapa tahun silam, mengingatkan mereka bahwa tragedi bisa sewaktu-waktu hadir tanpa peringatan.

Suti’ah (kiri) dan Suryanto, mengerjakan pembuatan tas obrok di Rumahnya, Desa Polo Gunting, Tanggulangin, Sidoarjo. Robertus Risky/Project Arek

Tanah yang menolak bibit, udara yang mengandung gas, air yang harus dibeli. Semuanya berlangsung tanpa ledakan, tanpa momen tunggal yang bisa dijadikan berita. Itulah yang membuatnya mudah diabaikan. Oleh media, oleh pemerintah, oleh korporasi yang sudah lama mengalihkan perhatian ke tempat lain. Dan itulah yang membuatnya berbahaya.

Di sinilah letak kekerasan yang paling sulit untuk difoto. Ia tidak meledak, tidak mengalir deras, tidak menangis di depan kamera. Ia bekerja perlahan. Dalam tubuh yang gatal, dalam paru-paru yang keropos, dalam tanah yang tandus, dalam dinding yang lapuk, dalam kenangan yang tidak lagi punya tempat untuk pulang.

Kekerasan yang sudah tidak lagi terlihat seperti kekerasan, justru karena negara dan korporasi telah berhasil mengubahnya menjadi keseharian yang mau tak mau harus diterima. Semua dianggap selesai, tuntas. Padahal, getir hidup terus mengalir seperti lumpur itu sejak dua dekade silam. Tubuh dan pikiran dipaksa bertahan, berjejal dengan kenangan yang dijaga.

Eko Saifudin (40) mengisi jeriken dengan air bersih yang akan dijual kepada warga, termasuk Suryanto. Akibat kondisi air yang tercemar, banyak warga terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam sepekan, satu keluarga setidaknya membutuhkan 5–6 liter air bersih. Air tersebut dijual seharga Rp3.000 per liter. Robetus Risky/Project Arek

Karya-karya dalam foto yang dipamerkan memperingati 20 tahun tragedi itu, tidak hadir untuk mendramatisasi penderitaan. Derita mereka tak butuh lensa untuk terlihat. Foto-foto ini hadir untuk menolak jarak yang terbentuk ketika sebuah tragedi perlahan bergeser dari halaman depan menjadi catatan kaki, dari berita menjadi arsip, dari krisis menjadi sesuatu yang dianggap sudah tuntas padahal sedikit pun belum.

Dengan menempatkan Yuli, Khusairi, Eva, Suti'ah, dan Suryanto sebagai pusat narasi visual, pameran ini menolak cara pandang yang mereduksi mereka menjadi angka kerugian atau sebatas data korban. Mereka adalah manusia, punya nama, kenangan, rasa kehilangan yang sangat kompleks.

Dan hak-hak dasar mereka selama dua dekade terus dirampas tanpa ada yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban. Pada akhirnya, pameran ini adalah tentang deru napas yang terus mencari jalan sintas. Tentang kehidupan jentaka yang belum khalas. Dari tepian tanggul itu, suara masih bergema. Dua puluh tahun. Dan, sudahkah kita menjawabnya?

Suryanto menunjukkan air keruh di rumahnya yang tercemar. Robertus Risky/Project Arek

Sisa bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Islamiah menjadi saksi yang masih bertahan di tengah hamparan lumpur. Dinding-dinding yang tersisa menyimpan jejak kehidupan, tawa anak-anak, dan aktivitas belajar yang pernah mengisi ruang-ruangnya sebelum semuanya berubah. Robertus Risky/Project Arek

Hingga pertengahan tahun 2026, semburan lumpur beracun itu masih berlangsung, meskipun tidak lagi sebesar ketika awal menyembur. Volume semburan kini bersifat fluktuatif, dengan rata-rata mencapai sekitar 86.270 m³ per hari. Belum lagi gas metana yang dikeluarkan yang mencapai 100.000 ton per tahun.

Penelitian yang dilakukan WALHI Jawa Timur menunjukkan, adanya kandungan logam berat seperti timbal, tembaga, dan kadmium, serta senyawa PAH yang jauh melampaui ambang batas aman. Kandungan gas itulah yang saban hari dihirup warga. Hidung mereka tak memilah udara jenis apa yang bisa dihirup, sampai tubuh merespons dampaknya.

Pencemaran karena lumpur ini tak henti-hentinya dialami warga. Dampaknya langsung pada kesehatan mereka, yang ditandai dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, risiko stunting pada anak-anak, serta berbagai gangguan kesehatan lainnya akibat kualitas air dan udara yang teramat buruk.

Dengan semua yang mereka alami hingga saat ini, lalu bisakah kita semua mengatakan, “Ah, warga korban Lumpur Lapindo sudah hidup enak setelah dapat ganti untung?”

Patok penanda ketinggian lumpur bercampur air masih tertancap di bantaran tanggul, menjadi saksi bisu perubahan lanskap yang ditinggalkan tragedi Lumpur Lapindo. Penanda sederhana itu menunjukkan seberapa tinggi lumpur pernah menggenangi kawasan ini, sekaligus mengingatkan bahwa jejak bencana yang terjadi dua dekade lalu masih membekas hingga kini. Robertus Risky/Project Arek

Foto udara permukiman warga yang berhadapan langsung dengan tanggul penahan lumpur. Kehidupan mereka tak pernah lepas dari rasa waswas akan kemungkinan tanggul jebol, ancaman yang pernah menjadi kenyataan beberapa waktu silam. Robertus Risky/Project Arek

Titik-titik air yang mengandung garam muncul di permukaan dinding rumah Sofiatul Izzah di Desa Glagaharum, Porong, Sidoarjo. Saat mengering, air tersebut meninggalkan bercak putih yang menempel di tembok. Robertus Risky/Project Arek.

Seorang warga beraktivitas di sekitar tanggul saat sore hari. Di balik rutinitas yang tampak biasa, tersimpan kecemasan akan kemungkinan terulangnya jebolnya tanggul seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Robertus Risky/Project Arek

Pencemaran akibat Lumpur Lapindo tak hanya dirasakan manusia. Ekosistem di sekitarnya turut terdampak, mengganggu kehidupan berbagai makhluk hidup yang bergantung pada lingkungan tersebut. Robertus Risky/Project Arek

*Foto cerita ini adalah hasil kolaborasi projectarek.id dengan Walhi Jatim dalam memperingati Hari Anti Tambang (HATAM) yang diperingati setiap 29 Mei. Project Arek menjadi media partner HATAM 2026 yang digelar pada 29-30 Mei 2026 di Porong, Sidoarjo.