Skip to main content
-
Cerita Foto
Para Puan Pengupas Harapan
Mereka tak butuh disebut tangguh. Publik harus tahu, para puan ini menjalani hidup karena himpitan ekonomi. Mereka tak punya banyak pilihan, selain memikul beban dalam kondisi kerja yang jauh dari kata layak. Mereka tak butuh diglorifikasi –betapa perkasanya mereka sebagai kuli angkut. Kalau ada pilihan pekerjaan yang lebih baik, mereka tidak ingin seperti ini, begitu kata mereka.

Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya

 

SETIAP PAGI bagi Samlah tak ubahnya seperti pagi-pagi sebelumnya. Bangun subuh, salat, kemudian ke Pasar Pabean. Demikian terus ia mengulang hidupnya setiap hari, sampai-sampai ia lupa sudah berapa lama menjalani aktivitas mengupas dan mengangkut karungan bawang. Tentu ia tak sendiri. Ada puluhan perempuan sepertinya yang menggantungkan nasib di pasar itu.

Suilah (31), Selami (60), dan Samlah (42) mengusung bawang merah untuk dipindahkan ke truk dan di kirim ke Kalimantan. Orderan mendadak membuat Samlah pulang hingga larut malam, bahkan dini hari. (Robertus Risky/ Project Arek)

Sinar matahari menyorot wajah puluhan perempuan buruh angkut. Teriknya kota metropolitan, membuat keringat mengucur meresap di pakaian, menambah berat beban yang harus mereka pikul. Peluh lelah mereka tenggelam dalam riuh tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Mereka sabar menanti datangnya permintaan mengangkut kerupuk, bawang putih, bawang merah, dan sebagainya.

Samlah dan puluhan perempuan ini, sanggup mengangkat beban seberat 25 sampai 30 kilogram dengan kepalanya. Ya, beban diletakkan tepat di atas kepala mereka. Beban berat yang mereka panggul, demi meringankan beban ekonomi. Semakin banyak yang diangkat, semakin banyak rupiah yang didapat. Suami Samlah, juga bekerja sebagai kuli angkut di Pelabuhan Tanjung Perak.

Tak jarang kelelahan tak tertahankan dan risiko kerja mereka hadapi. Namun mereka tak punya pilihan lain. Sulitnya mencari pekerjaan yang layak jadi salah satu penyebabnya. "Dulu awal-awal kerja, Mas, kepala sering sakit dan leher terkilir, Mas. Tapi lama-kelamaan sudah biasa," ungkap perempuan 42 tahun kelahiran Kabupaten Sampang, Madura itu.

Samlah mengaku, terpaksa. Menjadi kuli angkut bukanlah pilihannya. Meski suaminya melarang, ibu dua anak itu untuk bekerja sebagai buruh angkut dan pengupas bawang putih.Tak banyak yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup di Surabaya. Ketidakpastian ekonomi pasutri ini merantau ke Surabaya. Alih-alih mendapatkan kesejahteraan, ia malah berhadapan dengan kerasnya kehidupan kota.

"Ya mau gimana lagi, Mas, meski susah kayak gini, Mas, soalnya anak ya butuh (biaya) sekolah kalau bisa sampai kuliah," tuturnya. Tentu ia tak ingin anak-anaknya mewarisi pekerjaan ini. Ia tak sampai hati melihat anaknya merasakan beratnya bekerja sebagai kuli angkut. Ia tak ingin itu terjadi.

Selami (60), Suilah (31), dan Samlah (42) mendapatkan orderan tambahan untuk mengemas bawang merah, untuk di kirim ke Pulau Kalimantan. (Robertus Risky/ Project Arek)

Samlah memindahakan bawang merah untuk di angkut menuju pelabuhan. (Robertus Risky/ Project Arek)

Dengan bermodalkan tekad untuk merantau, ia rela meninggalkan kampung halaman dan berharap keluarganya bisa sejahtera, sehingga dapat mencari hunian sederhana untuk keluarganya. "Saya di sini kontrak di daerah Jalan Hang Tuah, Mas. Satu tahun sekitar 1,5 juta mas. Ya, tinggal seadanya mas," kata Samlah. 

Sehari-hari ia sanggup mengangkut 3 karung bawang putih dengan upah 5.000 rupiah. Itu sudah termasuk jasa mengupas kulit luar bawang putih.  Ia juga harus mengupasnya kemudian disetorkan kepada tengkulak di pasar. Tenaga dan kerja kerasnya tak sebanding dengan pendapatnya. Hal itu ia jalani sejak tahun 2022.

Samlah memilah bawang merah di Pasar Pabean. Aktivitas ini ia lakoni setiap hari. Selama ada yang membutuhkan jasanya, selama itu ia akan bekerja. Samlah menghidupi kedua orang anaknya, yang satu masih sekolah dan lainnya telah menikah. (Robertus Risky/ Project Arek)

"Ya, kalau dibilang cukup ya tidak cukup. Uang saku sekolah anak saya aja 10.000. Tapi ya gimana lagi mas, dijalani aja. Saya sendiri ya gak mau merepotkan saudara-saudara," katanya.

Samlah menuturkan, karena dirinya bekerja sebagai buruh angkut serabut, pendapatannya pun tidak pasti. Paling banyak ia pernah mengupas 3 hingga 5 karung. Tergantung banyaknya orderan yang diminta para pelanggan dan tengkulak. Untuk mengupas satu karung kulit luar bawang putih sendiri. Ia menghabiskan waktu kurang lebih 15 hingga 20 menit.

Pertama kali menjajaki pekerjaan itu dirinya pernah mengalami luka ditangan. "Perih di mata dan kulit tangan, Mas. Sampai tangan saya panas dan luka kecil di tangan. Dulu awal-awal juga perih di mata. Sekarang sudah biasa. Dijalani aja, namanya juga kerja,” tuturnya lirih.

Meski rasa capek dan kecemasan melandanya, Samlah tak pernah merasakannya. Yang terpenting baginya, hidupnya dan keluarga harus terus berjalan. Hasil dari menjadi kuli angkut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Itu yang terpenting, kata Samlah.

Ia berharap anak bungsunya yang saat ini mengenyam pendidikan di lingkungan pondok pesantren mampu berkuliha hingga sarjana. "Kadang kalau dipikir pusing, Mas. Waktu itu anak saya bilang kalau ingin berkuliah. Bingung uang dari mana, minta bantuan ke siapa. Tapi dilihat nanti aja ke depannya. Saya berusaha supaya dia bisa kuliah,” imbuhnya sembari tersenyum tipis.

Kegigihan dan asanya tak menyurutkan Samlah untuk mandiri secara ekonomi. Walaupun rejeki tak kunjung datang.

Samlah dan Misgimah mengupas bawang putih di sela-sela gang perkampungan. (Robertus Risky/ Project Arek)

Hidup di pasar tak pernah menentu. Pernah juga berhari-hari ia tak mendapatkan pelanggan sama sekali. Ia hanya bisa menunggu dengan cemas di sebuah gudang dan pulang dengan tangan kosong. Pekerjaan ini, membuatnya sulit berkumpul bersama keluarga. Setibanya di rumah, tubuhnya terasa lelah untuk sekadar bercengkrama.

"Pernah berangkat jam 8 pagi baru pulang jam 2 dini hari, Mas. Dapat telepon mendadak dari juragan. Jadinya lembur, saya telepon suami ngasih kabar," imbuhnya.

Karena usia yang tak lagi muda, Misgimah hanya mampu mengangkut 2 karung bawang perhari. (Robertus Risky/ Project Arek)

Misgimah mengupas kulit luar bawang putih di gang-gang kampung dekat pasar Pabean, Surabaya. (Robertus Risky/ Project Arek)

Tua muda, berkumpul menjadi satu di pasar ini. Misgimah, perempuan 75 tahun menjadi kuli angkut dengan tubuhnya yang terus merenta. Dahulu ia merantau ke Surabaya bersama suami. Namun suami meninggal karena sakit beberapa tahun lalu. Nenek dengan 12 cucu itu kini hidup di sepetak kamar kontrakan.

Ia menekuni pekerjaan sebagai buruh angkut untuk memenuhi kebutuhan kedua anak dan cucu yang berada di Madura. Beberapa anaknya masih bekerja serabutan, sehingga mau tak mau Misgimah ikut membantu memberi uang buat cucunya.

Misgimah berangkat pukul 5 pagi dan bekerja hingga 4 sore. Meski usianya tak lagi muda dan fisiknya terus melemah, ia tetap menekuni pekerjaan yang menguras tenaga demi bisa bertahan hidup. Karena fisik yang mulai terbatas, tak jarang dirinya hanya mampu mengangkat 1 sampai 2 karung bawang putih per hari.

Terkadang juga ia tertolong mendapatkan orderan dari langganannya untuk mengangkut kebutuhan lain, seperti kerupuk mentah. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, ia juga membantu warga sekitar di warung makanan di sekitar pasar dengan upah perharinya Rp55 ribu. "Saya juga nyambi bantu-bantu jualan nasi Bu RT di sini, Mas. Sama jualan kue. Kalau cuma jadi kuli angkut saja, ya tidak cukup," ceritanya.

Misgimah mencuci beras dan menanak nasi di warung makan dekat Pasar Pabean, Surabaya. Tidak hanya menjadi buruh angkut, dirinya pun kerja serabutan membantu usaha warga yang berjualan. (Robertus Risky/ Project Arek)

Bawang merah menjadi salah satu komoditas utama yang diperdagangkan di Pasar Pabean. Samlah, Selami, Suilah dan puluhan perempuan lainnya menguas bawang-bawang secara manual. Bawang kupasan lantas dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. (Robertus Risky/ Project Arek)

Samlah bersama salah satu pelanggan yang menggunakan jasanya. Dalam satu hari, rata-rata ia bisa mengantongi Rp50 ribu. Uang itu ia dapatkan dari aktivitas mengupas bawang sekaligus menjadi buruh kuli angkut. (Robertus Risky/ Project Arek)

Uang hasil kerjanya, Samlah gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Usia tak bisa menipunya. Samlah mengaku, selama kondisi tubuhnya masih kuat, ia akan terus bekerja sebagai pengupas bawang dan kuli angkut. (Robertus Risky/ Project Arek)

Selami menenggak air minum dalam kemasan yang dibawanya. Cuaca terik, suhu udara di Pasar Pabean yang lembab dan aktivitas fisik berat yang dilakoninya, membuatnya cepat haus. Dalam satu hari, ia biasa menghabiskan 1,5 liter air. (Robertus Risky/ Project Arek)

Di sela hiruk-pikuk pekerjaan, Suilah dan Samlah sesekali mencuri waktu untuk duduk melepas lelah. (Robertus Risky/ Project Arek)

Potrait Selami duduk di atas karung-karung bawang merah. Setiap hari, ia bergulat dengan bawang merah yang membuat mata perih. Baginya, pekerjaan mengupas bawang dan menjadi kuli angkut pasar menjadi pilihan terakhir untuk berjuang hidup di Surabaya. (Robertus Risky/ Project Arek)