Skip to main content
Ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Yang Tidak Pernah Masuk Sistem
Di kelurahan itu, orang-orang tidak pernah benar-benar ada sebelum mereka masuk ke dalam sistem, seolah keberadaan seseorang bukan ditentukan oleh napas yang keluar masuk dari tubuhnya, melainkan oleh barisan angka yang tersimpan rapi di layar komputer yang bahkan tidak pernah mengenal wajah mereka. Namaku tidak pernah masuk di sana, dan aku tahu itu sejak pertama kali ibuku mencoba mendaftarkanku ke sekolah dasar.

PADA PAGI yang panas dengan udara yang terasa lengket di kulit kami berdiri cukup lama di depan meja kayu yang catnya mengelupas, serpihannya jatuh, seperti sesuatu yang perlahan kehilangan bentuknya. Seorang petugas duduk di balik meja itu, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard tanpa pernah benar-benar melihat kami, seolah ia sudah terlalu sering menghadapi orang-orang yang datang dengan harapan yang sama: ingin diakui, ingin tercatat, dan ingin dianggap ada.

“Nomor induk?” tanyanya datar, tanpa mengangkat kepala.

Ibuku menyebutkan kalimat yang panjang dengan suara pelan, seperti orang yang tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang ia katakan, dan aku masih ingat bagaimana tangannya sedikit gemetar ketika menggenggam ujung bajuku, seolah aku bisa hilang kalau ia melepaskannya.

Petugas itu mengetik, berhenti, lalu mengernyitkan dahi sedikit. Bukan karena bingung, tapi lebih seperti seseorang yang menemukan maksud yang sudah ia duga sejak awal.

“Tidak ada,” katanya singkat.

Ibuku tersenyum kaku dan mencoba lagi, meminta ia mengecek sekali lagi. Mungkin ada kesalahan. Mungkin ada sesuatu yang terlewat. Tapi hasilnya tetap sama, dan kali ini petugas itu menghela napas sebelum akhirnya menatap kami. Bukan dengan rasa iba atau dengan rasa bersalah, tapi dengan tatapan yang seperti ingin memastikan satu hal sederhana, yaitu apakah kami layak dianggap ada.

“Kalau tidak ada di sistem,” katanya pelan, “berarti tidak terdaftar.”

Kalimat itu sederhana. Sejak saat itu aku mengerti sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar penolakan masuk sekolah. Di tempat ini, keberadaan seseorang bukanlah soal ia hidup atau tidak, melainkan soal tercatat atau tidak, dan aku tidak termasuk dalam daftar itu.

Aku tetap masuk sekolah, tentu saja, tapi bukan sebagai murid resmi yang namanya dipanggil saat absensi atau yang nilainya dicatat dalam buku laporan yang rapi. Aku duduk di bangku paling belakang, dekat jendela yang engselnya rusak, sehingga selalu terbuka sedikit dan berderit pelan setiap kali angin lewat. Dari sana aku bisa melihat halaman sekolah tempat anak-anak lain berlari, tertawa, saling mengejar tanpa pernah memikirkan apakah mereka diakui atau tidak. 

BACA JUGA : Di Rahim Kata, Ibu Mengubur Suara

Aku tidak pernah dipanggil maju, tidak pernah menerima rapor, tidak pernah mengikuti ujian secara resmi, tapi aku selalu ada di sana; mendengarkan, mencatat, menghafal, seperti seseorang yang mencoba membuktikan keberadaannya tanpa pernah diberi kesempatan untuk melakukannya.

Guru-guru tahu aku ada, tapi mereka tidak pernah benar-benar tahu harus memperlakukanku seperti apa, jadi mereka memilih untuk tidak melakukan apa apa.

Kadang mereka menyebutku “yang di belakang”, kadang mereka hanya melirik sebentar lalu melanjutkan pelajaran seperti biasa, seolah kehadiranku adalah sesuatu yang tidak cukup penting untuk dipertanyakan. Teman-temanku juga begitu, mereka tidak mengusirku, tapi juga tidak pernah benar-benar mengajakku masuk ke dalam lingkaran mereka. Aku tumbuh dengan perasaan aneh: tidak sepenuhnya tidak ada, tapi juga tidak pernah benar-benar dianggap ada.

Aku belajar dengan cara diam, menghafal tanpa pernah diuji, menjawab dalam hati tanpa pernah dipanggil, dan mencatat hal-hal yang mungkin bahkan tidak akan pernah dibaca oleh siapa pun selain diriku sendiri. Kadang aku tahu jawabannya sebelum guru selesai bertanya, kadang aku ingin mengangkat tangan seperti yang lain, tapi selalu ada sesuatu yang menahanku, sesuatu yang mengingatkanku bahwa tidak ada yang akan benar-benar menunggu jawabanku, karena dalam daftar yang mereka pegang, aku tidak pernah ada.

Aku mencoba untuk tidak keberatan dengan itu, atau setidaknya belajar untuk hidup berdampingan dengan perasaan tersebut, sampai suatu hari seorang guru baru datang dan tanpa sengaja mengubah caraku dalam melihat diriku sendiri. Namanya Bu Rani, dan sejak pertama kali masuk kelas, ada sesuatu yang berbeda dari caranya berbicara, seolah setiap kata yang ia ucapkan benar-benar memiliki tujuan, dan setiap nama yang ia panggil benar-benar berarti sesuatu. Ia memanggil satu per satu, dengan suara yang jelas, tanpa terburu-buru, seolah memastikan setiap orang yang ada di ruangan itu diakui keberadaannya.

Ketika sampai di akhir daftar, ia berhenti, lalu matanya menyapu kelas perlahan sebelum akhirnya berhenti padaku, dan untuk pertama kalinya, seseorang melihatku bukan sekadar sebagai bayangan di sudut ruangan.

“Kamu belum saya panggil,” katanya.

Suasana kelas langsung berubah, bisik-bisik kecil mulai terdengar, tapi aku tetap menyebutkan namaku dengan suara yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri. Ia menunggu, lalu bertanya tentang nomor induk. Ketika aku tidak menjawab, ia tidak langsung mengalihkan perhatian seperti yang biasa dilakukan guru-guru lain. Ia terus menatapku dengan sesuatu yang sulit dijelaskan seperti seseorang yang sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak masuk akal.

“Nanti ikut saya ke kantor,” katanya.

Di kantor, ia mencoba mencariku di sistem, mengetik namaku, nama ibuku, bahkan alamat yang kami tempati, tapi tidak ada satu pun yang muncul, seolah kami benar-benar tidak pernah tercatat di mana pun. Ia terlihat bingung, bahkan sedikit marah, bukan kepadaku, tapi kepada sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang membuat keberadaan seseorang bisa hilang hanya karena tidak pernah didaftarkan.

“Ini tidak masuk akal,” katanya pelan, dan untuk pertama kalinya, aku merasa ada seseorang yang menganggap keadaanku sebagai masalah.

Sejak saat itu, ia mulai mencoba membantu, datang ke rumahku, berbicara dengan ibuku yang menjawab dengan hati-hati seperti setiap kata sengaja dipilih agar tidak terdengar salah. Kami mulai mengurus berbagai hal, pergi ke kelurahan, kecamatan, hingga dinas, tapi setiap tempat selalu meminta sesuatu yang tidak kami miliki, surat lahir yang membutuhkan bukti lain, kartu keluarga yang tidak pernah dibuat, dan berbagai dokumen yang semuanya saling bergantung satu sama lain dalam lingkaran yang tidak pernah selesai.

BACA JUGA : Jali Dipenjara

Aku melihat bagaimana harapan ibuku perlahan berubah menjadi kelelahan, dan bagaimana semangat Bu Rani yang awalnya penuh keyakinan mulai terkikis oleh kenyataan yang berulang.

Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari kantor kelurahan, aku bertanya sesuatu yang selama ini hanya ada di kepalaku: apakah aku benar-benar ada jika negara tidak melihatku? Bu Rani menjawab bahwa tidak semua yang tidak tercatat itu tidak ada, tapi memang seyogyanya itu tidak dianggap. Kalimat itu tinggal di kepalaku lama, berputar-putar, seperti sesuatu yang terlalu sukar untuk dipahami, tapi terlalu nyata untuk diabaikan.

Beberapa minggu kemudian, ada yang berubah di kelas. Namaku muncul di papan tulis, ditulis oleh Bu Rani dengan kapur putih yang sedikit miring, tapi cukup jelas untuk dibaca semua orang. Hari itu, untuk pertama kalinya aku dipanggil dengan namaku sendiri, dan ketika aku menjawab, suaraku terdengar seperti milik orang lain, seperti sesuatu yang baru saja ditemukan setelah lama hilang.

Aku mulai ikut pelajaran seperti yang lain, ikut ujian meski nilainya tidak tercatat, berdiri saat upacara meski tidak termasuk dalam daftar, dan untuk pertama kalinya, aku merasakan bagaimana rasanya menjadi bagian dari sesuatu, meskipun hanya dalam ruang kecil bernama kelas.

Namun, dunia di luar kelas tidak berubah. Suatu hari, seorang petugas datang membawa daftar, dan ketika ia melihat namaku di papan tulis, ia langsung mempertanyakannya, dan setelah memastikan bahwa aku tidak ada dalam sistem, ia mengatakan sesuatu yang sederhana tapi menghancurkan, bahwa jika aku tidak tercatat, maka aku bukan tanggung jawab mereka. Beberapa hari kemudian, namaku hilang dari papan tulis, dihapus begitu saja, seolah tidak pernah ada, dan tidak ada yang menjelaskan apa pun padaku.

Aku kembali ke bangku belakang, ke tempat di mana aku tidak akan diakui agar bisa tetap berada di sana. Tapi kali ini rasanya berbeda, karena aku sudah tahu bagaimana rasanya dipanggil, dan kehilangan itu terasa jauh lebih berat daripada tidak pernah mengalaminya.

Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tidak terlalu kupedulikan; bagaimana setiap nama dipanggil dan dijawab, bagaimana setiap nilai dicatat, serta bagaimana setiap orang memiliki jejak yang bisa ditelusuri—sementara aku hanya memiliki ingatan, barang gaib yang tidak bisa digunakan sebagai bukti apa pun.

Suatu malam, aku mendengar ibuku berbicara pelan. Ia mengatakan bahwa jika memang tidak bisa jangan bersedih, yang penting sekarang aku tetap hidup untuknya.

Aku tidak tahu apakah kalimat itu ditujukan untuk dirinya sendiri atau untuk sesuatu yang lebih besar dari kami. Keesokan harinya, aku tetap pergi ke sekolah seperti biasa, duduk di tempat yang sama, dan mendengarkan pelajaran seperti biasa. Tapi kali ini aku melakukan sesuatu yang berbeda, yaitu aku berani mengangkat tanganku. Semua orang menoleh, dan aku bisa merasakan bagaimana udara di ruangan itu berubah, seolah sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.

Ketika diberi kesempatan, aku menyebutkan namaku dengan jelas, tanpa ragu, dan tanpa gemetar. Meskipun tidak ada yang menuliskannya, tidak ada yang mencatatnya, aku tahu semua orang mendengarnya. Dan di saat itu, aku mengerti sesuatu yang selama ini tidak pernah kupahami bahwa mungkin aku tidak ada di dalam sistem, mungkin aku tidak pernah tercatat, mungkin aku tidak pernah diakui secara resmi, tapi selama aku masih bisa menyebut namaku sendiri dan masih ada orang yang mendengarnya, aku belum sepenuhnya hilang.

BACA JUGA : Joko, Lalu Terbangkah Ia

Sejak hari itu, aku mulai menyebut namaku lebih sering, dalam hati, dalam diam, kadang hampir seperti doa, bukan untuk didengar orang lain, tapi untuk memastikan bahwa aku masih ada, bahwa keberadaanku tidak sepenuhnya bergantung pada sesuatu di luar diriku. Di luar sana, mungkin akan selalu ada orang-orang seperti aku, yang hidup tanpa data diri, tumbuh tanpa bukti, belajar tanpa diakui, bekerja tanpa dicatat, dan mungkin suatu hari mati tanpa pernah tercatat jika pernah hidup.

Tapi selama masih ada yang menyebut nama, masih ada yang mendengarnya, dan masih ada yang percaya bahwa keberadaan seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh sistem, maka kami belum sepenuhnya hilang. Kami hanya belum ditemukan oleh dunia yang terlalu sibuk.

 

Nur Kamilia

Pengeja sastra, penyuka musik dan penikmat kopi.


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.