Skip to main content
ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Roro Oyi
Setelah ayahanda tahu hubungan kita, Oyi, aku dipanggil untuk menghadapnya bersama Kakek Pekik dan Tumenggung Wirorejo. Pemanggilan itu menjadikan aku dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak pernah kuharapkan. Haruskah aku berterus terang kepadamu?

AYAHANDA telah memintaku untuk menghilangkan nyawamu. Sungguh. Tidak bisa kubayangkan bila itu terjadi, bagaimana aku setelahnya. Rasa sakit dan bersalah akan mengurungku, seumur hidupku. Aku mencintaimu, Oyi, apakah tidak ada jalan keluar untuk menghindar dari situasi ini?

Aku tidak tahu persis dari mana ayahanda bisa mengetahui hubungan kita. Aku hanya bisa menduga. Bisa jadi, ada seseorang yang sudah lama mengamati kita dan melaporkan kepada ayahanda. Yang jelas, pemanggilan itu begitu tiba-tiba. Aku tidak pernah menduganya. Apa yang terjadi, Oyi?

Kakek Pekik dan Tumenggung Wirorejo dituduh telah mencoba mengkhianatinya. Semua itu hanya karena kita. Kakek Pekik meminta agar hubungan kita direstui—hal ini didukung oleh Tumenggung Wirorejo. Sebelumnya Kakek Pekik memohon supaya ayahanda mengalah denganku. Kau sudah menyampaikan kepadaku bukan? 

Jika kau sejatinya memberontak terhadap kemauan ayahandaku. Itulah mengapa sepasang matamu seolah berkaca-kaca, kala kita hendak berpisah pada setiap kali kita selesai bertemu. Ada semacam rasa takut dan kau menginginkan aku selalu ada di sisimu.

BACA JUGA : Yang Tidak Pernah Masuk Sistem

Takdir sudah digariskan, aku tidak pernah menyesal mengenalmu, mencintaimu, Oyi. Sekalipun aku tahu apa yang terjadi. Kakek Pekik dan Tumenggung Wirorejo dihabisi nyawanya. Hanya demi aku, demi kita. Inilah yang tidak kusuka dari ayahanda. Bertindak semena-mena jika ada yang tidak sejalan dengan dirinya. Siapa saja. Tidak pandang bulu. Dan kau tentu pernah mendengar perkara ini.

Saat ayahanda menetapkan Kakek Pekik dan Tumenggung Wirorejo akan dihabisi, aku mati-matian membela mereka dan menegaskan kalau mereka tidak bersalah. Entah, saat itu aku tidak ingat kalau yang sedang kuhadapi ayahandaku sendiri. Aku membentaknya. Namun, dua nyawa tetap melayang, tidak dapat terhindarkan.

Oyi, jika aku menghunus keris ke perutmu, sia-sialah pengorbanan Kakek Pekik dan Tumenggung Wirorejo.  Mereka mengharapkan kita bersama. Terang-terangan mereka di hadapan ayahanda mengemukakan hal itu. Sungguh, pilihan yang sangat sulit, Oyi. Aku diancam ayahanda tidak akan dapat menduduki tahta Mataram jika tidak melaksanakan perintahnya. Membunuhmu.

Aku tidak pasrah dengan keadaan meski aku tampak diam. Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa. Mulutku terkunci setelah ucapan berupa ancaman dari ayahanda itu. Oyi, bukan berarti rasa cintaku kepadamu sudah mulai sirna. Ada kobaran amarah di dada yang kutahan sekuat tenaga. Aku benar-benar berada di persimpangan, antara tahta Mataram atau dirimu. Sungguh pilihan yang begitu sulit, mengapa?

Masalahnya, jika aku memilihmu, aku tidak dianggap lagi sebagai anaknya. Ya, ayahanda juga mengeluarkan ancaman itu selain soal tahta Mataram. Itulah, alasannya mengapa pilihan ini begitu sulit. Aku cukup takut dengan ancaman itu. Seandainya aku memilih tahta Mataram, itu artinya aku telah melukaimu. Dan jiwamu akan tergoncang jika membiarkanmu tetap hidup. Bukankah itu bentuk kejahatan? Apalagi membunuhmu, Oyi!

Meski situasi ini begitu sulit, aku tidak akan menyalahkan takdir. Kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Aku ditakdirkan mengidap debar di pandangan pertama. Aku sama sekali tidak siap dan tidak akan pernah siap, jika kau kemudian dinikahi ayahanda. Meski kelak aku bertahta di singgasana Mataram. Tidak, aku tidak sanggup untuk itu. Membayangkan setiap hari hatiku digerogoti rasa cemburu dan marah saja rasanya sudah perih, apalagi kalau benar itu terjadi.

Dua hari ini aku mengutus beberapa orang kepercayaanku untuk mempersiapkan tempat pertemuan kita. Tempat yang sekiranya jauh dari keramaian dan nyaman untuk bertemu sepasang kekasih. Mereka menemukan sebuah tempat yang kuharapkan, di arah tenggara dari kraton. Letaknya cukup jauh. Tempat itu berupa perbukitan. Aku telah menyuruh orang kepercayaanku untuk menyiapkan sesuatu di sana.

Aku datang. Dan kau pun juga datang diantar orang yang kuutus menjemput di kediamanmu. Sebuah keris telah menunggu dari balik batu, tidak jauh dari tempat kita duduk. Rasa gelisah menggelayutiku. Mungkin kau menangkap kegelisahanku. Aku memang bukan orang yang pandai berpura-pura, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang. Tatapan matamu seakan berubah menjadi serpihan kaca yang melukaiku. Hal yang sama sekali tidak pernah kuduga, kau mengutarakan untuk mengakhiri semua ini. Dari nada bicaramu, justru menyiratkan yang sebaliknya. Ketidakrelaan. Air mataku hampir saja pecah.

BACA JUGA : Di Rahim Kata, Ibu Mengubur Suara

“Aku tahu, aku adalah sumber masalah,” katamu. “Jangan bodoh, Anom. Hanya gara-gara aku, kau tidak menjadi seorang raja.”

“Tidak perlu menjadikan diri sendiri sebagai kambing hitam,” tanyaku.

“Kau pernah berkata, kalau semua ini sudah menjadi takdir yang digariskan. Dan kukira mengakhiri adalah bagian dari takdir kita.”

“Kau begitu berputus asa. Ucapanmu yang terakhir itu bukan takdir, belum terjadi. Bukankah segala permasalahan selalu mempunyai pasangannya, tidak lain adalah solusi?”

Aku berusaha menguatkanmu.

“Jika memang ada, lalu apa?”

Pertanyaanmu menjelma sebilah tombak yang menusuk ulu hati. Aku tidak bisa menjawabnya. Aku memelukmu dan basah kurasakan di dada. Jika kukatakan kalau ajakanku ke tempat ini sebenarnya untuk menuruti ayahanda yang kian mendesakku—membunuhmu, keadaan akan kian pelik. Ada kemungkinan juga kau malah berada dalam kemenangan, sebab keinginanmu tercapai. Kisah ini berakhir.

Sayangnya aku tidak mampu jujur. Kupendam dalam-dalam soal keinginan ayahandaku. Biarlah sementara menjadi rahasia yang tidak kau ketahui. Aku tidak mau kalah, kisah cinta kita berakhir di sini dengan begitu menyesakkan. Aku telah memutuskan, kau akan tetap hidup. Kau tidak layak mati hanya gara-gara penguasa yang lalim.

Tangismu mereda.

“Yang perlu kau sadari, Oyi. Aku adalah anak seorang raja. Mengakhiri semua ini, berarti kau telah menempatkanku sebagai orang yang pengecut. Seorang yang pengecut tidak patut menjadi pemimpin,” ujarku. Terpaksa aku membawa-bawa siapa aku untuk memojokkanmu.

Kau beranjak dari dadaku.

“Aku percaya kau tidak cukup tega, aku tersiksa menjalani hari-hari karena kata pengecut telah ada di dalam diriku.”

“Beban ini terasa berat, Anom,” ucapmu lirih.

“Kita hilangkan bersama-sama.”

“Bagaimana caranya?”

Aku hanya bisa berjanji akan menghilangkan keluhanmu. Perkara bentuk dari janjiku seperti apa, aku belum dapat menjelaskan. Yang jelas aku tidak mau menuruti keinginanmu yang semu itu. Kita akan masih bersama. Aku tidak peduli denganmu yang masih memikirkan nasibku, soal tahta Mataram yang seakan tidak lagi begitu penting bagiku. Aku memilihmu, Oyi. Keris yang bersembunyi di balik batu tidak jauh dari tempat kita duduk itu mungkin kecewa. Ia tidak menikmati darah segar manusia. Aku hanya berpura-pura menuruti ayahanda semata datang ke tempat ini atas dasar terus didesak. Dengan memilihmu, tidaklah sia-sia pengorbanan Kakek Pekik dan Tumenggung Wirorejo.

Janji tetaplah janji. Akan kucarikan jalan keluarnya. Aku sudah siap dengan risikonya, termasuk tidak diakui anak oleh ayahanda. Demi kau, demi kita, Oyi. Kuyakin ayahanda tidak bisa untuk itu, meski ayahanda itu orang yang kejam pernah menghilangkan nyawa beribu-ribu orang karena menentangnya. Anak tetaplah anak. Tidak ada yang namanya mantan anak. Di dalam tubuhku, mengalirlah darah ayahandaku, Amangkurat I, penguasa Mataram. Aku yakin, sekali lagi, ayahanda tidak bisa untuk itu.

Seperti yang sudah kuprediksi, ayahanda marah besar. Tidak perlu lagi ada yang kututupi. Aku telah memutuskan, siap melepas tahta Mataram. Bahwa kau tidak kubunuh. Kupastikan kau tetap hidup, aku telah mengutus beberapa orang kepercayaanku untuk mengamankanmu. Keris dihunus dari wadahnya oleh ayahanda. Sama sekali tak gentar aku. Kulihat tangannya gemetar. Aku masih berdiri dengan tegak. Keris itu disarungkan kembali. Mungkin ia tersadar bahwa yang dihadapi adalah anaknya.

BACA JUGA : Singgasana Kertas Lembana

Ayahanda berteriak, menyuruh beberapa prajurit untuk menyeretku, memasukkanku ke dalam penjara. Berarti aku telah ditetapkan sebagai penjahat. Beberapa hari kemudian aku diasingkan ke Hutan Lipura. Dari kraton, bisa berjalan ke arah barat. Butuh waktu sekitar setengah hari untuk mencapai tempat itu. Tak ada penyesalan dan tak perlu menyesali apa yang sudah terjadi.

Oyi, kita akan tetap bersama. Aku telah menemukan jalan untuk itu. Akan segera tiba waktunya, kau dan aku akan bertemu kembali. Dan kau tahu, Oyi? Semesta memang mendukung kisah kita untuk dilanjutkan. Rombongan Puruboyo dan Trunojoyo datang ke Hutan Lipura. Mereka ialah orang-orang yang sangat membenci ayahanda. Mereka menemuiku. Rupanya mereka mengetahui apa yang sedang terjadi padaku.

“Kami melakukan ini semua, mohon maaf atas dasar prihatin terhadap ayahanda Gusti Pangeran,” kata Trunojoyo. “Jika tidak dihentikan, mempercepat Mataram berada di ambang kehancuran.”

“Betul, Gusti Pangeran. Saya akan mengerahkan orang-orang yang tidak sejalan dengan pemerintahan ayahanda Gusti Pangeran. Saya pribadi mendukung, Gusti Pangeran segera berada di tampuk kekuasaan,” ucap Puruboyo.

Mereka berdua mengajakku untuk melakukan pemberontakan terhadap ayahanda. Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya. Penguasa Mataram kejam itu memang harus segera diturunkan dari tahtanya. Tidak peduli, meski ayahandaku sendiri. Puruboyo dan Trunojoyo mempunyai kekuatan massa yang cukup besar. Menurut perhitungan kemenangan dapat dicapai meski tidak mudah. Benar-benar tak kunyana, Oyi. Aku tidak bisa membayangkan betapa senangnya dirimu jika kau mendengar kabar ini.

Tergambar senyummu di anganku. Kita akan tetap bersama. Kau tetap milikku dan aku tetap menjadi seorang raja yang bergelar Amangkurat II.

 

Bantul, November 2025 – Februari 2026

 

*Penulis lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Pleret, Bantul, Yogyakarta. Dapat dihubungi di Instagram @risendhawuhabdullah.


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.