SEKARANG, kau malah berniat berganti ke penulis lokal yang mesumnya kebablasan. Kau mau menyumpal jiwa sastramu dengan lemak jenuh dari tangan para posmo? Kau tega. Tega sekali. Benar-benar tega, seolah tak menghargai rakyat jelata yang sedang mengais tulang ayam di TPA. Kau mending mencatat resep mengelola ayam tiren yang Minggu lalu sudah disampaikan ke awak media oleh Bu Masem, bukan malah tiduran sambil baca sastra porno.
Memang aku tak lihai menilai sastra demikian itu seperti para politisi atau rohaniawan. Tetapi biarkanlah kali ini mulutku meracau. Kuserahkan saja makna itu kepada para begawan sastra yang mungkin dapat memugarnya untuk anak-anak pegawai negeri. Bagi mereka yang lirih dan kolusif itu adalah pekerjaan yang ringan. Tak ada yang sulit untuk dipercantik sesuai moralitas mereka, kecuali itu gejala ambeyen yang mulai muncul di pantat.
Keterlaluan dunia ini. Sejujurnya uangku menipis. Orderan kunang-kunang sepi peminat. Tampaknya aku harus ganti profesi. Kau toh pandai memasak makanan laut dan aku lihai mengomentari rasa makanan. Bagaimana kalau kau coba lobi Puja Astiti supaya ikan-ikan yang sudah terdampak ledakan disimpan pada kulkas dulu. Berton-ton itu. Apa istilahnya? Bagaimana kalau diplomasi isi perut? Kita bisa kaya dari dampak kebijakan hiperbola penguasa.
“Nggak usah macam-macam sama orang itu. Kan kamu bisa ganti kunang-kunangmu itu dengan tawon, atau apalah terserah. Satwa di dunia ini banyak, nggak cuma kunang-kunang.”
Pam, berhentilah membelakangiku. Tadi kau bilang mau buat teh. Aku yang menyeduhnya. Jangan ragu. Kita membagi tugas seperti keinginan para feminis vulgar: pembagian kerja di antar laki-laki dan perempuan dimulai dari ranah domestik. Begitu, kan mau mereka! Kebebasan perempuan untuk memilih busana apa yang pantas dan pekerjaan apa yang mereka kehendaki walaupun itu justru lebih dalam lagi mengubur kebebasan mereka ke dalam eksploitasi. Kau paham, kita membagi porsi ketertindasan di antara kaum lelaki dan perempuan. Di dalam, di antara pasangan. Kau pertama aku kedua. Kau kedua aku ketiga. Kau di kanan, sedangkan aku di kiri. Kalau mau sehat walafiat kita harus mufakat.
“Gimana aku bisa menyelesaikan bab ini kalau kamu terus mengoceh, Ree.”
Kau mengatakan itu sembari mendekap sebuah buku bersampulkan paha wanita dengan hak tinggi warna merah. Bukankah, harusnya kau suka? Kau pernah bilang bila diam bukanlah bentuk perjuangan. Lalu, bagaimana bentuk yang sesuai dengan kaidahmu? Kau lupa memanasi mobil sehingga semua rencana kita tertunda beberapa hari.
Di losmen seharga cabe dua kilo kita terpaksa menginap. Mobil bobrok sedang diperbaiki oleh Supir Truk yang tinggal di kamar sebelah. Entah apakah dia mampu memperbaikinya atau itu sekadar hanya untuk memperoleh dua botol bir milik kita. Tukar tambah jasa ini menjemukan; di saat kita sangat membutuhkan bir itu untuk minum di perjalanan, malah justru kita harus menukarnya dengan tenaga Supir Truk agar ia mau mengutak-atik mesin klasik.
Ia menolak uang. Ia tahu bahwa bir lebih berharga daripada uang di tempat terlantar ini. Apa boleh buat. Kita tidak punya daya tawar lagi. Satu hari katanya selesai. Tapi dua hari menurutku baru rampung. Mesin itu akan hidup kembali dalam 48 jam. Dia berusaha meyakinkan kita demi dua botol bir. Kita harus merugi dua kali lipat: kehilangan dua botol bir dan seratus lima puluh ribu untuk losmen tanpa handuk.
“Kamu kan yang memaksa buat memberinya bir aja daripada uang. Kenapa sekarang melenguh?”
Jadi begitu, ya tuduhanmu terhadap pria yang sudah menemanimu hampir 627 km ini. Kau kira aku adalah hewan ternak para petani gurem di Majalengka yang kurus kering, yang dipecuti punggungnya, lantas meludah ke tanah pertanian? Itu baru namanya melenguh. Maka itu kuberitahu! Kau tak boleh terlalu berlebihan dengan sastra yang hanya mengupas kancut manusia dan pernak-perniknya. Biarkan saja kata-kata itu ditelan mentahan oleh pujangga yang ingin menjadi selebritas di negara ini.
“Kita sedang rekreasi, Ree. Kita harus senang-senang, ya. Jangan kamu teruskan,” katamu tiba-tiba menirukan orang saleh.
Betapa irinya seorang penyair yang sedang haus kemasyuran seandainya mereka tahu bila senyummu yang membuatku ngilu dan bukan paragraf yang sedang kau baca sekarang.
Sebenarnya kita bisa lebih riang daripada sekarang kalau saja kau tak biarkan mobil kakekmu itu ‘kedinginan’. Kau selalu menganggap dirimu serupa seni surealis yang faktanya sulit dipahami oleh buruh pabrik kaos kaki dan sales pencukur jenggot. Kau suka menerka-nerka semuanya dan bahkan perasaanku; kau mencabik-cabiknya menjadi beberapa bagian dan lantas memberinya secara cuma-cuma kepada kucing di jalan.
“Kamu marah sama aku karena dua botol bir, atau gara-gara adegan mesum di buku ini? Pilih salah satu!”
Pertanyaanmu itu tak mampu kujawab lugas di dalam losmen ini. Barangkali ketika kita sudah tak saling menutup diri aku akan menjawabnya tanpa satupun ada pertanyaanmu yang terabaikan.
Asal kau tahu saja bila adegan mesum lumrah ditemui pascapembantaian 65. Tubuh-tubuh yang menyublim satu sama lain. Kulit yang saling menempel. Napas yang menyatu. Tubuh dan tubuh lagi sehingga semua terlupakan karena tak ada apa-apa di pasar selain manusia dan kelaminnya. Saat itu banyak sastrawan dibunuh dan diasingkan. Kekuasaan berada di tangan Suharto dan sastrawan liberal. Dunia sastra mengekalkan dirinya atas nama kebebasan. Ketika terbit matahari, Sastra Indonesia diterbangkan ke planet Mars oleh Pedagang Kata untuk didoakan setiap hari dalam kurun waktu tiga dekade.
“Begitu lirih, Ree. Tapi, mungkin kamu ada benarnya. Tubuh dan darah menjadi seperti ritus tunggal di buku ini. Kamu harus lebih bersabar. Nggak semua cerita bisa menyenangkanmu, Ree. Kamu pikir, seorang penulis sama dengan seorang peramal, apa?”
Begitulah sejarah. Kita pantas mengumpat untuk kekacauan yang serba terlambat ini. Kau pantas berucap apapun sesuka hatimu. Dengan celana dalam kita yang masih terpasang erat, kurasa semua akan baik-baik saja. Apa manfaat dari kondom yang sudah kau beli untuk mengantisipasi senggolan badan kita? Benda itu tak berguna kalau kau sendiri tidak mengerti apa fungsi sastrawinya.
***
Mengapa kau melakukannya padaku, Ree? Apa kau tak tahu betapa susahnya berunding dengan ibu, tentang keadaan di rumah sekarang agar aku bisa pergi denganmu? Menyentuh pipiku saja kau tak mau. Sepertinya kau tak berminat pada gumpalan dagingnya. Andai kau punya satu kelebihan untuk menerawang seseorang sepertiku—kau akan menemukan banyak sekali kata “selesai” di dalamnya: Aku selesai dengan semua sepatuku, dengan rambut panjangku, dengan gaun-gaun pesta dan parfum wangi—dengan lagu-lagu Barat dan dengan rumah itu.
Aku pergi bersamamu selama tiga malam bukan untuk lapuk seperti kusen pintu losmen. Bersama aku ingin membicarakan sesuatu yang murni. Tanpa tedeng aling-aling. Hanya nelangsa. Kita mengurai batinku satu demi satu sebagai wanita. Wanita yang tak bisa lagi memeluk tiang-tiang di rumahnya—duduk di beranda rumahnya yang megah—menyapu halamannya dari dedaunan kering—memberi makan burung kenari, dan menunggu semangkuk sup dari pembantu.
Tak kusangka kau mampu bertahan dua malaman denganku tanpa sedikit saja menyentuh rambutku. Kau gila. Hatiku kau bedah dan kau koyak seenaknya, tetapi kau jarang menatap mataku. Apa tubuhku tidak menarik buatmu? Apa buah dadaku tidak cukup montok seperti yang diceritakan di dalam novel ini? Apa lagi yang harus aku tunjukan pada tetapan jantanmu—dan juga untuk kelakar yang tak ada habisnya itu? Kukira kau suka padaku tapi nyatanya kau tidak mau pada tubuhku.
Sentuhlah aku barang sebentar saja selayaknya wanita dewasa, sebagaimana burung perkutut dengan pasangannya. Tak usah sungkan. Supir Truk itu naif kalau soal cinta. Cinta hanya dianggap belahan dari bagian mesin mobil olehnya. Buktinya, dia lebih memilih dua botol bir daripada uang dua ratus ribu. Harusnya ia memilih nafkah lahir demi keluarganya di kampung.
Sebelum pergi, saat di telepon, kau bilang bahwa kau mau mengajakku melihat pentas tari tradisional. Setelah bangun pagi kita akan berenang mengikuti ikan pesut air tawar yang besok September rumornya sudah punah. Kau selipkan dalam janjimu bila malam tiba di pulau terpencil akan muncul buaya berwarna putih yang rutin mengawasi penduduk saat sedang mandi.
Satu-satunya buaya albino di muara itu katamu adalah jelmaan wanita cantik dari ribuan tahun silam. Dan tegasku kini: apa raut wajahmu sama seperti sekarang ketika kau membayangkan parasnya? Pasti kau juga membedah dan menggauli hatinya dengan imajinasimu mirip yang kau lakukan padaku sekarang, kan?
Pada tiga puluh detik terakhir, kau tertawa menceritakan tentang seorang laki-laki muda yang tewas digebuki oleh penduduk karena ketahuan telanjang saat mendekati tubuh wanita yang ia cintai. Serak dan basah. Kau betulan sakit sore itu. Tapi kau keras kepala tetap mengajakku pergi dari rumah. Kau menyuruhku membawa senapan angin peninggalan kakek. Kau memang tidak pernah berhasrat padaku. Berburu hatiku apalagi.
Telepon antar pulau itu kau sudahi dengan diam. Aku pun diam. Seakan ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan kita berdua. Kau bagai kehabisan tanya dan cerita. Aku kehabisan jawab serta gairah hidup yang tak pernah kumiliki selama bertahun-tahun.
Dalam perjalanan, kita mampir sejenak di gapura perbatasan Kota B untuk membeli perlengkapan mandi. Kau sedikit ahli dalam berbagi tugas antara wanita dan pria. Tetapi tetap saja kau tidak akan pernah berhasrat denganku. Aku melihat-lihat, kau berbelanja sesuai daftar yang tersimpan di sakumu.
Aku berjalan keluar minimarket menghampiri penjual buku bekas di seberang jalan. Jalanan sangat padat. Klakson bus antar provinsi terus beradu dari arah yang saling berlawanan.
Ternyata tak ada buku yang bagus. Setidaknya buatku kurang bagus. Selebihnya hanya buku bajakan. Saat kutanya, Pak Tua tak peduli soal perbedaan mana yang buku asli dan yang bukan asli. Bagi dia semua buku sama saja bisa menghasilkan uang. Dan untuk sebagian kalangan tak terdidik memang buku ibarat barang dagangan sama halnya dengan beras.
Kubeli novel yang sedang digemari oleh banyak wanita. Namun tak kuberitahu padamu novel apa yang sudah kupilih karena kau membenci karya juga penulisnya. Benar aneh masa lalumu. Ketika banyak wanita gandrung menyukai novel ini tapi mengapa kau justru membenci isinya? Apa itu disebabkan kau adalah tipikal laki-laki puritan seperti bapak? Tidak mungkin laki-laki penyuka sajak-sajak dari Njoto berpikir seperti itu, kan!
Ree, aku ingin mengenalnya lebih, namun kau tak pernah berhasrat padaku.
Kamu masih membacanya? Percayalah! Lebih baik kamu berhenti dan mandi. Kalau kamu mau, aku membawa buku dongeng Jaka Tarub. Silat, tendang-tendangan. Kayak film kunfu.
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutmu. Ringan saja seolah beberapa saat yang telah kita lalui di atas kasur ini bukan termasuk dari riwayat hidupmu. Aku sengaja miring membelakangimu. Tak kuindahkan panggilanmu. Meski bau badanmu menggoda. Bisakah kau lebih mendekat agar aku puas menggetok kepalamu dengan buku Buayu Tirte yang berjudul Siuman ini. Aku telah membacanya dari atas ke bawah. Lalu dari bawah ke atas. Tetap saja perasaanku sama sekali tidak bernafsu saat kubaca persenggamaan tokohnya. Aku heran mengapa teman-teman ibuku bisa terpukau cuma karena tiba-tiba hasrat seksual mereka meronta dan menuntut balas.
Nasibnya mujur sebagai penulis karena dia diberi jalan mulus oleh banyak politikus-sastra dari dalam dan luar negeri. Padahal ia biasa aja. Momentumnya aja yang kebetulan lagi menguntungkan. Momen kemanusiaan yang berdarah.
Kau tegaskan ucapanmu seakan aku adalah boneka mati yang tanpa rasa. Bukankah sejarah memang hanya adil bagi yang berkuasa. Sekarang kau sedang berkuasa atas tubuhku. Jiwaku berlubang. Mengapa kau tidak menciptakan sejarahmu sendiri? Mari sepakat kalau hari ini, di losmen penuh kutu ini, sebait sejarah sastra ditulis; sastramu dan sastraku—sastra yang jujur, sejarah yang manusiawi.
Bila kau sepakat, kita mohon ke Supir Truk itu agar mau jadi dalangnya; dengan jemarinya yang hitam karena oli dan juga oleh keringatnya yang banyak menetes di lambung mesin, kita hadiahkan kebebasan buatnya memandang kita bermesraan di atas kasur kumal ini.
Biarkan, biarkan, para kuas seniman melukis lekukan jaman sesukanya. Acuhkan pula pujangga yang setiap malam meratapi kemiskinannya; menggamit helai demi helai rambutnya yang rontok, dan sibuk mencari obat sakit lambung. Kau tidak usah ikut-ikutan, ya. Sebab sekarang tak ada keberadaan yang lebih bermakna daripada adanya aku di sebelahmu.
***
Domba lari terbirit diburu serigala. Bulu-bulunya bertambah nyata tertoreh pada selembar selimut. Serabut kain beludru melayang lambat dan jatuh ke lantai. Kutu-kutu penghuni losmen terserang flu mendadak. Mereka bersin-bersin dengan lengkingan desah ciri penginapan murah. Garukan pada kulit sayup menderu telinga. Benar-benar membuat paha penghuni gatalan. Kasur bebercak dan menguning di beberapa bagian karena sisa air mani telah mencipta bau anyir. Wajah beribu kelamin manusia sudah menodainya lantas membentuk diagram abstrak yang subtil.
Tiap kutu saling berunding di dalam gerombolannya. Banyak saling terpencar di sudut-sudut tak kasat mata; ada di selimut, di kasur, di lemari pakaian, dan di bawah badan mereka yang tak juga bergerak. Bibir Ree menyumpahi rasa gatal di sekujur kulitnya. Sekali dua kali. Ia lalu mencari penyebabnya. Ree mengira jika itu ulah nyamuk. Tetapi Pam bergeming dan mengelak tuduhan yang tak beralasan.
“Meski gerah gini tapi sejak kemarin nggak ada nyamuk di kamar ini,” kilah Pam dengan tetap menghadapkan tatapannya ke tembok. “Kupingku nggak mendengar apa-apa kecuali suara dari Supir Truk itu.”
“Memangnya kamu nggak gatalan?” tanya Ree sambil menggaruk-garuk kakinya. “Kita nggak bisa menginap semalam lagi. Ampun!”
Kutu-kutu telah jadi sebesar atom. Berlindung di balik sebongkah fenomena absurd dunia yang asing. Hanya orang-orang tertentu yang sanggup melihat dan rasakan. Pam bukanlah salah satunya. Ia hanya beruntung karena badannya baru saja dibilas dengan air sabun. Begitu pula Ree yang baru saja mengelap tubuhnya dengan air hangat tanpa sabun. Rupanya, ketertarikan kutu-kutu terhadap kulit manusia bukan disebabkan bau, melainkan karena cercapan rasa di lidah. Lidah yang tentunya lebih mungil dari atom itu mencicipi sebelum menyengat mangsanya entah karena suka atau terusik.
Kutu-kutu yang berkuasa. Kutu-kutu pemilik peradaban. Sang penguasa losmen melati ialah sekumpulan kutu. Penghuni kamar merupakan manusia kaya dan miskin. Seseorang yang rupawan serta buruk rupa. Laki-laki dan wanita bertumpuk badan. Perempuan dewasa sedang dalam kesendirian, yang lari dari kedamaian serta kecaman lekas meringkuk di bawah selimutnya. Ia malu-malu menghadapi kenyataan dan mengurung diri di kamar nomor 21, kamar paling ujung.
Semua kamar tertutup sangat rapat. Desir angin laut tak sampai hati mengganggu masuk. Lubang-lubang ventilasi terlalu pelit untuk sedikit cahaya. Akan tetapi, dentum pukulan martil dan gesekan baja kunci pas tetap menyelinap ke dalam kamar. Tak ada penolakan untuk suara-suara yang bising. Penghuni kamar losmen seolah benar-benar larut ke relung terdalam dan paling mengerikan dari hati manusia. Saking dalamnya sehingga mustahil dapat terlihat dengan pikiran telanjang.
“Supir Truk itu nggak bisa memperbaikinya,” ucap Ree gusar. “Aku yakin.”
Pam menaruh novel itu dan telentang sembari memejamkan matanya. Ia tak berkata apa-apa. Di tangan kirinya satu halaman terbuka pada bagian tengah. Sebatang pensil kegemaran telah dimanfaatkannya sebagai pembatas. Bertubi-tubi napas dihembuskan lembut dan perlahan. Namun, lirikan satiris dilakukan oleh Ree. Itulah tabiatnya: penuh curiga kepada hal-hal kecil yang diperlihatkan Pam. Sayangnya, semua purbasangkanya tak pernah ada satu saja yang tepat sasaran.
“Jam berapa sekarang?” tanya Pam dalam kerisauannya seakan menunggu sesuatu.
“Jam tiga, mau subuh!” sanggah Ree cepat, seraya melihat jam tangan. “Bangunkan, ya kalau aku ketiduran.”
Kap mobil ditutup sekuat tenaga oleh Supir Truk. Ree menyungging senyum mendengarnya. Pam membalik badan dan menarik selimut. Ia lalu membuka kembali lembaran cerita di dalam novel. Semua makhluk tak ada yang mengetahui bila Pam telah tiba pada bab terakhir, yang oleh penulisnya diberi judul “Permukaan”.
Darius Tri
Penulis
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.