Skip to main content
Ilustrasi: Miftah Faridl/Nano Banana 2
Arek Bercerita
Lilitan Sembilan Senar
“Brak!” Gagang sapu itu jatuh di atas meja kayu, memecah udara yang sejak tadi ditahan. Remaja itu menatap lurus ke depan, seolah tak ada yang pantas ia dengar lagi. Ibunya mengerutkan dahi. Gurunya berdiri kaku, seperti kehilangan kalimat.

RUANG wakil kepala sekolah itu terlalu sempit untuk menampung amarah seorang anak sulung, yang sejak lama lebih sering dipanggil karena kesalahan daripada dipuji karena keberaniannya.

Jordan tumbuh di perkampungan pinggir kota, di rumah berdinding tembok yang belum seluruhnya dicat. Ayahnya berangkat pagi dengan kemeja rapi dan wajah letih yang disembunyikan. Ibunya menata tumpukan pakaian bekas di ruang tamu yang juga menjadi etalase kecil jualan mereka.

Delapan tahun setelah Jordan lahir, Arjuna hadir, lebih banyak menunduk daripada berbicara. Di sekolah yang katanya terbaik itu, nama Arjuna jarang terdengar kecuali saat pembagian nilai.

Sementara Jordan lebih akrab dengan ruang tata tertib, dengan bunyi pulpen yang diketuk-ketukkan di meja, dengan tatapan guru yang menunggu penyesalan.

Beberapa kali tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Beberapa kali pula orang tuanya duduk di kursi yang sama seperti hari ini, kursi di hadapan meja pejabat sekolah, mencoba memahami anak yang tak pernah benar-benar mereka mengerti.

BACA JUGA : Blangkon

Pagi merambat masuk lewat jendela yang tirainya tak pernah benar-benar menutup rapat. Di lantai beralaskan karpet rotan, dua piring nasi sudah mengepulkan uap tipis.

Arjuna duduk tegak dengan seragam licin dan sepatu yang sudah terpasang rapi. Tasnya bersandar di dinding, resletingnya tertutup sempurna. Di kamar sebelah, Jordan masih tenggelam di bawah selimut.

“Jordan! Kamu nggak sekolah? Ayo bangun! Nanti adikmu terlambat!”

Suara itu memantul di dinding kamar. Jordan bergeming sejenak, lalu menarik selimut dari wajahnya. “Iya, Bu… suruh Arjuna nunggu.”

Ia bangkit dengan langkah berat, handuk tersampir di bahu, menguap tanpa ditutup tangan. Pintu kamar mandi berderit saat ia dorong. Tak lama kemudian, suara gayung dan percikan air terdengar tergesa.

Ketika ia akhirnya duduk di lantai untuk makan, Arjuna sudah berdiri di teras, mengikat ulang tali sepatunya yang sebenarnya tak longgar.

Ayah mereka pamit dengan suara singkat dan helm yang segera terpasang. Mesin motor tua itu lalu menyala, mengantar ibu dan kedua anaknya menyusuri jalan yang belum sepenuhnya ramai. Di depan gerbang sekolah, Jordan turun lebih dulu. Ia menyalami tangan ibunya.

“Sekolah yang bener, Kak,” kata ibunya pelan. “Kamu itu anak sulung.”

Kalimat itu menggantung. Mesin vespa kembali meraung kecil dan menjauh. Jordan tetap berdiri beberapa detik. Ujung sepatunya menggesek aspal yang kasar. Ia tidak menoleh ketika gerbang sekolah terbuka dan suara bel pertama terdengar dari dalam.

Baru setelah itu, ia melangkah masuk.

***

Pelajaran terakhir belum sepenuhnya usai ketika wali kelas mengumumkan sesuatu yang membuat bangku-bangku bergeser serempak. “Panitia pemilihan OSIS sudah terbentuk. Semua yang berminat, nanti ke aula.”

Biasanya, Jordan akan menunduk, menggambar sesuatu di buku tulis, atau menunggu bel berbunyi lebih dulu dari gurunya. Namun, kali ini ia mengangkat kepala.

Tatapannya mengikuti setiap kalimat yang dipaparkan di depan aula, tentang seleksi administrasi, proposal program kerja, dan LDKS. Setelah sosialisasi selesai, aula perlahan kosong. Bangku plastik berderet kembali sunyi. Jordan masih duduk bersama empat sahabatnya.

“Apa coba aku aktif OSIS tahun ini?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Salah satu dari mereka menepuk bahunya.

“Jo, kok ngelamun? Ayo, pulang.”

Jordan berdiri tanpa menjawab. Namun langkahnya lebih pelan dari biasanya.

Lima anak laki-laki itu berjalan kaki menyusuri gang yang mulai teduh oleh bayangan sore. Di tikungan dekat rumah Jordan, ia tiba-tiba berhenti.

“Tahun ini… aku mau daftar OSIS.”

Keempat temannya saling pandang. Salah satu menaikkan alis. Yang lain bersiul pendek.

“Kamu?”

Tak ada yang tertawa, tapi udara terasa seperti menunggu penjelasan. Selama ini Jordan lebih dikenal karena namanya dipanggil saat razia rambut atau ketika kursinya kosong di jam matematika. Ia bukan tipe yang berdiri di depan kelas membawa map proposal.

BACA JUGA : Pengumuman, Pengumuman

Salah satu temannya merangkul pundaknya. “Kalau itu serius, kami dukung. Tapi jangan hilang pas jam main bola.”

Untuk pertama kalinya, hari itu, Jordan tersenyum lebar. Ia mengangguk, lalu membuka gerbang rumahnya yang berderit pelan.

***

Ponselnya bergetar ketika ia baru menyuap nasi. Notifikasi grup kelas bermunculan, tautan formulir pendaftaran OSIS. Jordan meletakkan sendoknya sebentar, lalu membuka tautan itu. Jemarinya bergerak cepat.

“Makan dulu, Kak,” tegur ibunya dari seberang meja.

“Bentar, Bu. Ini penting.”

Ayahnya menatap tanpa bicara. Beberapa detik kemudian, ponsel itu berpindah tangan.

“Makan itu diselesaikan dulu.”

Jordan menunduk, kembali memegang sendoknya. Nasi terasa lebih hambar dari biasanya.

Setelah meja makan dibereskan dan rumah mulai sunyi, ia duduk di sudut ruang tamu, layar ponsel menyala di wajahnya. Satu per satu kolom diisi. Riwayat pelanggaran di sekolah ia lewati tanpa jeda. Pada bagian “Alasan Bergabung”, ia berhenti paling lama.

Lalu ia mengetik sesuatu. Tombol kirim ditekan.

Cahaya pagi menyelinap lewat jendela ketika Jordan sudah duduk di tepi ranjang. Untuk pertama kalinya, ia bangun hampir bersamaan dengan Arjuna.

Di meja makan, ibunya sempat berhenti menuang teh.

“Kamu nggak kesiangan?” tanyanya pelan. Jordan hanya menggeleng.

Di sekolah, daftar nama calon peserta LDKS ditempel di papan pengumuman. Namanya ada di sana. Ia berdiri lebih lama dari yang lain, membaca ulang jadwal yang sebenarnya sudah ia hafal sejak diumumkan.

***

LDKS berlangsung empat hari. Jordan datang tanpa terlambat. Tidak ada kursi yang ia geser keras, tidak ada teguran yang ia terima. Saat yang lain bercanda di barisan belakang, ia berdiri tegak.

Pada hari terakhir, pembagian kelompok diumumkan. Jordan satu kelompok dengan sembilan orang lainnya. “Tugas terakhir: proposal program kerja. Waktu dua minggu.”

Sebuah grup pesan dibuat malam itu. Sepi.

Hari pertama. Tidak ada pesan.

Hari ketiga. Tetap hanya notifikasi “grup dibuat”.

Di sekolah, Jordan mendekati tiga anggota kelompoknya saat jam istirahat. “Kita mulai kapan?”

“Nanti dulu,” jawab salah satu, tanpa mengangkat kepala dari ponselnya.

“Tenang aja, Jo,” yang lain menyahut. “Kalau kamu bisa kerjain sendiri, ya kerjain aja. Kami ikut nama. Beres.”

Jordan terdiam.

“Yang penting nanti bilangnya kerja kelompok,” tambah satu lagi, ringan seperti membicarakan tugas biasa.

Malam itu, layar laptop menyala lebih lama dari biasanya.

Jordan membuka lembar kosong. Mengetik judul. Menghapusnya. Mengetik lagi.

Hari berganti. Pulang sekolah, ia langsung duduk di ruang tamu, buku catatan berserakan. Ibunya beberapa kali menyuruhnya tidur lebih awal. Ia mengangguk, tapi tetap menatap layar.

BACA JUGA : Tiga Pasak Kota

Di grup, tetap sunyi. Proposal itu akhirnya selesai dengan satu nama yang paling sering muncul di dokumen riwayat suntingan.

Namanya sendiri.

Proposal dikumpulkan tepat di hari terakhir.

Tiga hari kemudian, Jordan dan sembilan anggota kelompoknya dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah. Ruangan itu dingin. Proposal mereka tergeletak di atas meja.

“Kalian jujur sama saya,” ujar wakil kepala sekolah sambil mengetuk sampul proposal, “ini benar dikerjakan bersama?”

Sembilan pasang mata saling melirik. Jordan berdiri tegak.

“Kami buat bersama, Pak.”

Pertanyaan itu diulang. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Jawaban Jordan tetap sama. Nadanya rata.

Sementara di sebelahnya, ada yang mulai mengusap telapak tangan ke celana, ada yang menunduk terlalu lama. Seseorang berdeham kecil.

Wakil kepala sekolah memandangi mereka satu per satu.

“Kalian keluar dulu.”

Sembilan anak itu bergegas pergi. Tinggal Jordan.

Sunyi. “Kamu sendiri yang buat?” tanyanya lebih pelan.

Jordan menatap meja beberapa detik. Lalu mengangguk.“Iya, Pak. Saya sendiri.”

Tak ada kalimat pujian. Tak ada teguran. Hanya anggukan kecil.

“Kamu boleh pulang.”

Keesokan harinya, Jordan kembali dipanggil.

Proposal yang sama sudah ada di meja, tapi kini ada map lain di atasnya. Wakil kepala sekolah tak banyak basa-basi.

“Ada syarat tambahan kalau mau lolos.”

Jordan diam.

“Buat ulang. Tiga hari. Lebih bagus dari ini.”

“Tapi, Pak…”

“Kalau tidak sanggup, ya sudah.”

Nada itu datar. Terlalu datar. Di sudut meja, ada amplop cokelat yang belum sepenuhnya tertutup. Jordan melihatnya sekilas, lalu mengalihkan pandangannya. Bel pulang berbunyi. Ia masih duduk di kursi yang sama.

Tak lama kemudian, langkah tergesa terdengar di lorong. Ibunya muncul di ambang pintu.

“Jordan?”

Ia melihat anaknya duduk berhadapan dengan wakil kepala sekolah. “Ini ada apa, Pak?” tanyanya.

Penjelasan singkat meluncur. Tentang seleksi. Tentang kemungkinan tidak lolos.

“Saya lihat sendiri dia mengerjakannya semalaman,” kata ibunya, suaranya mulai meninggi. “Dia kerja keras, Pak.”

Wakil kepala sekolah menatap Jordan, bukan ibunya.

“Kerja keras?” ujarnya pelan.

“Bikin proposal seperti ini saja kamu bilang kerja keras?”

Sunyi pecah. Gagang sapu di sudut ruangan terangkat.

“Brak!”

Kayu bertemu kayu.

“Maksud Bapak apa menghina anak saya?” suara ibunya bergetar. “Bapak pikir semua anak bisa dibeli begitu saja?”

Ruangan itu mendadak terlalu sempit untuk menampung sembilan senar yang saling melilit, dan satu yang memilih berdiri sendiri.

Perdebatan itu tak segera reda. Suara ibu Jordan meninggi, lalu merendah, lalu meninggi lagi. Hingga kepala sekolah datang dan berdiri di ambang pintu.

“Ada apa ini?”

Tak banyak kata yang diucapkan setelah itu. Hanya janji bahwa semua akan ditinjau ulang. Jordan dan ibunya pulang tanpa saling bicara sepanjang jalan. Mesin vespa menderu pelan, memotong angin sore yang terasa lebih berat dari biasanya.

Seminggu kemudian, kertas pengumuman itu ditempel di mading.

Nama-nama tersusun rapi. Satu per satu siswa maju, mencari dengan jari yang gemetar atau wajah yang penuh harap.

Jordan berdiri agak belakang. Ia membaca sampai baris terakhir. Namanya tidak ada.

Di sudut lain, terdengar bisik-bisik. Tentang wakil kepala sekolah yang tak lagi terlihat sejak beberapa hari lalu. Tentang rapat mendadak. Tentang amplop.

Ruangannya kini terkunci. Papan nama di pintunya sudah dilepas.

Beberapa hari setelahnya, salah satu dari sembilan anggota kelompoknya tak terlihat di kelas. Kursinya kosong. Ada kabar tentang skorsing.

BACA JUGA : Setelah Pagar Tertutup

Jordan pulang sore itu dengan langkah biasa saja. Ia mendorong gerbang rumah yang berderit seperti biasa.

“Gimana?” tanya ibunya dari dalam.

Jordan meletakkan tasnya.

“Nggak lolos, Bu.”

Ibunya terdiam.

“Tapi Pak Wakil… sudah nggak ada di sekolah.”

Hanya itu yang ia tambahkan.

Malam itu, file proposal itu kembali ia buka. Layar memantulkan wajahnya yang lelah. Di bagian bawah dokumen, ia melihat sembilan nama lain tertera di samping namanya.

Ia pun menghapus semuanya. Tersisa satu nama, Jordan.

Jordan menatapnya lama. Lalu menyimpan dokumen itu tanpa mengubah apa pun lagi.

Di luar kamar, adiknya sedang berlatih memetik gitar kecilnya. Senarnya terdengar belum selaras, ada yang terlalu kencang, ada yang nyaris putus.

Jordan keluar, duduk di samping Arjuna.

“Kalau senarnya terlalu kencang, bisa putus,” kata Arjuna polos.

Jordan tersenyum tipis.

“Iya. Tapi kalau terlalu longgar, nggak bunyi.”

Ia memutar senar itu perlahan sampai nadanya pas. Arjuna tersenyum.

Dan, Jordan, tidak berkata apa-apa lagi.

 

 

S. Hera

Penulis reflektif-humanis asal Surabaya yang menekuni dunia kepenulisan sejak akhir bulan September 2025. Berangkat dari pengalaman hidup dan pergulatan batin, S. Hera menulis cerita-cerita yang menyoroti relasi keluarga, iman, dan keheningan-keheningan kecil yang membentuk manusia. Mulai menulis kembali setelah 5 tahun vakum, belasan cerpen, sejumlah artikel, serta beberapa naskah yang terbit dalam antologi. Baginya, menulis adalah cara merawat luka dan merekam makna. Kini saya terus mengasah diri melalui tantangan 180 hari menulis dan berbagai kompetisi literasi.

 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.