Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Tri Joko Her Riadi
Lokasi: Kota Batu
SEJENAK, perhatian kami tersita oleh keberadaan tandon-tandon air. Dari sinilah, air yang bersumber dari mata air kemudian dialirkan ke permukiman warga dan merawat denyut nadi kehidupan mereka. Ia hadir di setiap aktivitas warga, dari rutinitas domestik hingga kerja-kerja mengupayakan kesejahteraan.
Nuryani (53) adalah ibu rumah tangga yang juga memiliki usaha persewaan ruko. Untuk menopang setiap aktivitas sehari-hari, dia mengandalkan salah satu dari sembilan mata air yang sumbernya dinamai Nurul Hidayah. Kesadaran tentang pentingnya air inilah yang membuatnya tidak rela mendapati hutan dirusak. Nuryani ikut turun dalam gerakan menolak proyek wisata Alas Kasinan (Alaska) lewat aksi menanam bibit pohon.
Air di Hutan Kasinan itu paling bagus, Mas. Bisa langsung diminum. Saya sudah membuktikan. Di kota-kota besar, gak ada yang seperti ini,” tuturnya.
Air yang berasal dari Hutan Kasinan digunakan masyarakat, termasuk Nuryani (53) dan Lasemi (64), untuk kebutuhan sehari-hari, dari memasak, mandi, hingga minum. (Robertus Risky/Project Arek)
Mata air Alas Kasinan tidak hanya mengalir menuju permukiman warga, mata air itu mengisi juga ladang-ladang pertanian dan peternakan milik warga. Musafa (42), petani mawar jenis Holland, merasakan betul manfaat ini.
“(Air) Penting sekali, Mas, buat semuanya: buat orangnya, juga buat tanamannya, buat hewan. Banyak wis, Mas,” jelas Musafa.
Dalam seminggu, Musafa dua kali memanen. Setiap panen, ia mampu memetik 1.200 tangkai bunga mawar untuk kemudian dijual kepada pengepul di kawasan Bumiaji, Kota Batu. Harganya dibanderol Rp700 per tangkai. Kalau menjual sendiri, Musafa mendapatkan harga Rp10.000 per tangkai.
Di ladang yang lain, Saiful (58) sejak kecil mengikuti jejak orang tua untuk bertani sayur-mayur seperti selada, tomat, dan daun bawang. Hasil panen dijual kepada tengkulak di Pasar Batu serta daerah-daerah di sekitar permukiman.
Kesuburan ladang dan aktivitas bertani Saiful sangat bergantung pada air yang berasal dari hutan. Pengairan dilakukan sekali dalam sepekan.
“Jadi itu kan hutan lindung, ya harus dijaga karena ada sumber mata airnya,” ungkap Saiful.
Dari ladang-ladang pertanian di tepi hutan, sebagian besar hasil bumi diangkut ke pasar-pasar di kota. Siklus ekonomi berputar, banyak orang terlibat dari petani hingga tengkulak dan pedagang, lalu ke warga sebagai konsumen. Dan dalam siklus itu, mata air dari Hutan Kasinan menjadi bagian teramat penting.
“Tomat dan selada ini hasil panenan langsung dari pertanian di Desa Pesanggrahan dan sekitarnya,” kata Ahmad Juwarno (46), pedagang sayur di Pasar Among Tani, Kota Batu.
Bukan hanya di ladang, air bersih bersumber dari mata air di Hutan Kasinan juga menggerakkan aktivitas di peternakan. Iryanto (38), yang akrab disapa Cak Ir, misalnya, saat ini bersama beberapa pekerja lain dipercaya merawat 30 ekor sapi perah untuk diambil susunya, ditambah 10 ekor anak sapi.
Pemerahan sapi dilakukan dua kali dalam sehari, pada pukul 05.00–08.00 WIB dan 15.00–17.00 WIB. Satu kali pemerahan dapat menghasilkan 15–25 liter susu yang kemudian dijual ke Koperasi Unit Desa (KUD) di sekitar Desa Pesanggrahan.
“Kalau tidak ada air, aktivitas peternakan tidak dapat berjalan. Nanti gimana minumnya sapi, Mas?” ungkap Cak Ir.
Sumber air yang dimanfaatkan oleh peternakan sapi tempat Iryanto bekerja berasal dari mata air Tirto Wijoyo. Dalam sebulan, penggunaan air tercatat rata-rata 500 meter kubik setara 500.000 liter air. Tarif tertinggi yang pernah dibayarkan dalam satu bulan mencapai Rp250.000.
Sumber mata air juga membasahi ladang sayur selada milik Saiful. (Robertus Risky/Project Arek)
Potret Saiful usai bekerja di ladang miliknya. (Robertus Risky/Project Arek)
Debit air sempat mengecil karena penggundulan di bagian hulu. Pertanian mereka terganggu dan harus bergiliran mendapatkan air. Kondisi itulah yang membuat warga akhirnya menolak perusahaan wisata. (Robertus Risky/Project Arek)
Hasil panen tomat dan selada dari salah satu ladang milik warga. Sumber mata air Alas Kasinan menopang keberlangsungan hidup para petani. (Robertus Risky/Project Arek)
Ahmad Juwarno (kiri) berjualan di Pasar Among Tani, Kota Batu. Hasil sayur-mayur ia dapatkan dari para petani di Desa Pesanggrahan dan sekitarnya. (Robertus Risky/Project Arek)
Iryanto membersihkan kotoran sapi perah di kandang. Setiap hari ia bersama karyawan lainnya melakukan aktivitas pemerahan. Air jadi kunci utama geliat peternakan. (Robertus Risky/Project Arek)
Menolak Proyek, Merawat Hutan
Di Hutan Kasinan, terdapat sembilan sumber mata air yang menjadi andalan warga. Situasi sekarang berbanding terbalik dengan apa yang terjadi beberapa tahun lalu ketika proyek pembangunan wisata yang dinamai Alas Kasinan (Alaska) digulirkan. Pohon-pohon dibabat demi pembukaan lahan sebagai tempat membangun kolam, gazebo, dan infrastruktur outbound. Akibatnya, debit air yang sampai ke rumah-rumah warga segera menyusut.
Berkat keteguhan dan kegigihan warga menyatakan penolakan, proyek pembangunan ini berhasil digagalkan. Sejak itu sampai hari ini, warga secara sadar mengorganisasi diri untuk mengembalikan hutan dengan menanam bibit-bibit pohon. Ketika itu, jumlahnya sekitar 2.000 hingga 3.000 bibit pohon.
"Kalau di Hutan Kasinan ini yang paling utama (adalah) airnya, sehingga itu yang menjalankan perekonomiannya. Makanya kalau gak ada nasi masih bisa hidup, bisa ganti ketela, tapi kalau tidak ada air, bagaimana coba?” ucap Udin, warga yang dulu turut menggalang penolakan terhadap proyek wisata dan sekarang bergabung dalam kelompok pengelola distribusi air bersih.
Bibit pohon yang ditanam pada tahun 2025. Upaya itu dilakukan untuk mengembalikan ruang hidup Hutan Kasinan. Dahulu kawasan ini kehilangan pohon-pohon karena dibabat perusahaan sebagai bagian dari wisata Alaska. Kini pohon-pohon mulai tumbuh rindang oleh tangan-tangan warga. (Robertus Risky/Project Arek)
Saat ini pendistribusian air dilakukan secara swadaya. Dari warga, oleh warga, dengan harga yang disepakati bersama. Masing-masing pengelola rata-rata memiliki 4–7 orang pengurus. Sistem meteran digunakan untuk mengukur penggunaan volume air masing-masing rumah.
Tarif penggunaan air disepakati senilai Rp200 hingga Rp500 per meter kubik. Satu sumber mata air mampu memberi manfaat bagi 420 Kepala Keluarga (KK).
Demikianlah di Pesanggrahan, warga menyadari betul bahwa air merupakan hak dasar. Ketika keberadaannya diancam oleh proyek modal besar, mereka melakukan aksi perlawanan. Ketika proyek dibatalkan, mereka bersama-sama menunaikan komitmen untuk menanam pohon, menghijaukan hutan, dan merawat mata air yang selama ini telah menopang hidup sehari-hari mereka.
Udin bersama beberapa warga lainnya melakukan pemasangan pipa air baru di rumah masyarakat di Desa Pesanggrahan. (Robertus Risky/Project Arek)
Zakaria (35), teknisi pemasangan jaringan air Tirto Wijoyo, melakukan pemasangan pipa air baru di dalam gorong-gorong. (Robertus RIsky/Project Arek)
Nuryani menunjukkan nota pembayaran bulan Agustus lalu dari pengelola sumber mata air Nurul Hidayah. (Robertus Risky/ Project Arek)
Titik mata air utama yang mengaliri area permukiman, pertanian, dan peternakan masyarakat yang berada di Pujon Selatan, Petak 86, kawasan Pegunungan Kawi. (Robertus Risky/ Project Arek)
Percikan dari dua titik mata air yang dijadikan satu, yang akan mengalir ke sembilan mata air di Hutan Kasinan yang terletak di lereng Pegunungan Kawi. (Robertus Risky/Project Arek)
Bangunan fisik wisata outbound Alaska yang dibiarkan terbengkalai di Hutan Kasinan. Masyarakat tidak merobohkannya karena sebelumnya ada upaya pelaporan dari pihak perusahaan terhadap masyarakat dengan dalih perusakan fasilitas wisata. (Robertus Risky/ Project Arek)
Patok penanda Hutan Kasinan dengan luasan area. (Robertus Risky/Project Arek)
*Liputan ini terselenggara berkat dukungan Koalisi Media Alternatif (KOMA) yang berkomitmen mendorong media massa alternatif seperti projectarek.id untuk menghasilkan liputan isu lingkungan dan keadilan ekologis yang berkualitas.