Skip to main content
Ilustrasi: Taufan Bahari/Project Arek
Reportase
Antibiotik dan Bahayanya di Tengah Krisis Iklim
Krisis iklim juga berdampak pada kelompok paling rentan, yaitu anak-anak. Cuaca yang tak menentu dan cenderung ekstrem, menguji daya tahan tubuh anak-anak yang masih labil. Solusi instan dengan memberikan obat, terutama antibiotik, sering kali malah menambah masalah pada kesehatan anak-anak.

PERUBAHAN cuaca ekstrem dikeluhkan sejumlah orang tua karena memicu serangkaian penyakit pada anak-anak mereka. Qurrotu Ainin, ibu dua anak, mengeluhkan kedua anaknya yang seringkali sakit. Anak pertama yang berusia 4 tahun sudah lima kali sakit dalam setahun terakhir. Sementara anak keduanya yang baru berusia 6 bulan sudah dua kali sakit. Kata ibu asal Kabupaten Jombang itu, sakit yang dialami anaknya rata-rata demam, batuk, dan pilek.

”Sering penyebabnya karena cuaca yang nggak menentu. Jadi misal peralihan musim panas ke hujan, itu biasanya imunnya turun dan jadi sakit. Kadang juga tertular temannya,” kata Ainin.

Ainin menambahkan, dia berusaha mengobati sendiri anaknya hingga tiga hari dengan obat yang pernah diresepkan sebelumnya. Jika gejalanya tidak membaik, dia baru berkonsultasi ke bidan atau dokter spesialis anak.

Setiap berkonsultasi ke tenaga kesehatan, Ainin mengaku selalu diresepkan antibiotik. Ia mengaku tak banyak bertanya mengapa selalu ada antibiotik. Dokter hanya memberikan penjelasan, antibiotik diberikan karena anaknya terkena infeksi bakteri. “Pasti dikasih antibiotik dan harus dihabiskan. Kalau enggak habis, takutnya resisten kan,” tuturnya.

 

Senada dengan Ainin, ibu asal Surabaya, Fadila Benita juga merasakan hal yang sama. Ketiga anaknya kerap sakit ketika perubahan cuaca, terutama anak ketiganya yang memiliki riwayat alergi. Dila, sapaan akrabnya mengatakan, ketiga anaknya kerap mengalami gangguan saluran pernafasan ketika perubahan cuaca.

Gejala demam, batuk, dan pilek pun juga sering dirasakan dalam setahun terakhir. “Anak pertama umur 8 tahun itu bisa dua kali dalam setahun. Anak kedua 4 tahun, bisa empat kali sakit. Kalau anak ketiga sudah dua kali juga dalam setahun terakhir,” paparnya.

Ketika anak-anaknya sakit, Dila memastikan bahwa mereka akan diobati sendiri di rumah hingga 5 hari. Jika gejalanya tidak membaik, biasanya dia langsung membawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). “Karena sudah lima hari, jadi biasanya ambil darah agar lebih akurat mendeteksi penyakit. Kami juga selalu diresepkan antibiotik kalau di IGD,” ucapnya.

Antibiotik juga menjadi salah satu obat yang tercantum di dalam resep. Harus dibeli, dikonsumsi dan dihabiskan. Sama seperti Ainin, Dila pun belum memahami apa dampak jangka panjang penggunaan antibiotik bagi anak-anak yang sering sakit.

Mengapa Dokter Meresepkan Antibiotik?

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dominicus Husada SpA menjelaskan antibiotik adalah anti bakteri yang diberikan pada pasien untuk melumpuhkan bakteri. pada pasien. Dalam pemakaian yang terbatas, antibiotik juga digunakan untuk mencegah bakteri.

Domi menjelaskan, pada sebagian kasus penyakit, tanda infeksi bakteri tidak memerlukan pemeriksaan tambahan. Namun, sebagian penyakit lainnya, keberadaan bakteri belum cukup meyakinkan dan membuat dokter ragu. Jika dokter ragu, maka pasien perlu melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan infeksi bakteri.

“Jika sarana pemeriksaan terbatas hasilnya masih diragukan, maka dokter akan memberikan antibiotik untuk menghindari efek buruk infeksi bakteri,” ucapnya.

Domi menambahkan, infeksi bakteri pada anak bisa jadi bakal makin sulit diobati di masa depan.

Ketika seorang anak kian resisten dan butuh antibiotik yang lebih lagi, maka bisa jadi barang yang dicari itu tidak ada. Pengembangan antibiotik bukanlah hal yang cepat karena tawaran keuntungannya tidak besar bagi industri farmasi. Belum lagi mutasi bakteri yang terus terjadi sebagai upaya bakteri untuk mempertahankan kelangsungan hidup kelompoknya.

Karena itulah, pemakaian antibiotik yang tidak bijak dapat memicu ancaman Resistensi Antimikroba (AMR). Ini menjadi salah satu dampak dari krisis iklim kepada anak-anak. Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Andy Dharma, Sp.A, Subsp.G.H(K), mengatakan data terbaru menunjukkan, ada hubungan antara peningkatan suhu global dengan peningkatan gen resistensi antibiotik.

Ini adalah ancaman serius karena infeksi bakteri yang umum terjadi pada anak bisa menjadi lebih sulit diobati di masa depan,” tutur dokter anak sub-spesialis Gastrohepatologi ini.

Andy mengungkapkan, salah satu indikator resistensi antibiotik ini terjadi  pada bakteri seperti Salmonella. Bakteri ini menjadi penyebab utama kematian anak di Indonesia karena Salmonella ditemukan pada kasus pneumonia, diare, dan demam tifoid. Jika bakteri ini menjadi kebal (resisten) terhadap antibiotik, maka penyakit-penyakit yang tadinya biasa dan mudah disembuhkan akan jauh lebih sulit diobati di masa depan.

Perubahan Iklim Meningkatkan Resistensi Antibiotik

Salah satu tempat hidup bakteri adalah di tanah. Bakteri dalam tanah juga bisa masuk ke tubuh manusia lewat air yang terkontaminasi. Salmonella atau E.coli, misalnya, masuk lewat kotoran hewan atau manusia.

Ketika terjadi kekeringan ekstrim, tanah yang tercemar bakteri memanas. Bakteri yang selamat di dalam tanah terpaksa bermutasi menjadi super kuat atau super-resisten. Bakteri bisa terbawa oleh debu tanah yang terbang lewat angin, lalu masuk ke sumber air minum atau menempel pada tanaman pangan.

Kondisi ini bisa memperluas wilayah penyakit infeksi seperti diare, pneumonia, dan infeksi kulit. Selain itu, ini juga bisa menimbulkan antibiotik terus menerus diresepkan untuk melawan penyakit.

“Akibatnya penggunaan antibiotik meningkat dan mempercepat kejadian resistensi antibiotik,” jelas Andy. Resistensi antibiotik mengakibatkan bakteri akan kebal terhadap jenis obat yang sama.

Menurut Andy, ada beberapa implikasi besar dari resistensi antibiotik. Pertama, pengobatan yang lebih mahal. Jika bakteri patogen pada anak menjadi semakin resisten terhadap antibiotik lini pertama, maka pengobatan akan lebih sulit dan mahal.

Anak-anak mungkin memerlukan antibiotik lini kedua yang harganya lebih mahal, memiliki lebih banyak efek samping, dan tidak selalu tersedia di fasilitas kesehatan primer,” jelasnya.

Kedua, angka kematian dan kesakitan meningkat karena infeksi yang seharusnya bisa disembuhkan malah bisa menjadi fatal. Hal ini mengancam kemajuan inovasi yang telah dicapai dalam menurunkan angka kematian anak.

Ketiga, beban pada sistem kesehatan meningkat karena lebih banyak kasus yang memerlukan rawat inap dan perawatan intensif di rumah sakit.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dominicus Husada SpA mempertegas kemungkinan resistensi bakteri yang bisa terjadi akibat konsumsi antibiotik secara tidak bijak. Bagaimana pun, obat adalah benda asing bagi tubuh. 

Ilustrasi: Miftah Faridl/Banana 2

Jika terlalu sering mengonsumsinya, maka akan timbul efek yang merugikan bagi tubuh manusia. Berbeda dengan penggunaan non antibiotik, yang bisa diberikan dengan dosis lebih tinggi karena sudah mengalami penyesuaian.

“Dalam penggunaan antibiotik, yang penting adalah kekebalan bakteri, bukan kekebalan tubuh. Maka, tidak tepat menggunakan istilah bahwa tubuh kebal terhadap antibiotik,” jelasnya.

Penyakit yang Mengintai Anak

Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Andy Dharma, Sp.A, Subsp.G.H(K) menilai, krisis iklim ikut berdampak pada kesehatan anak.

Beberapa contohnya antara lain, peningkatan kasus penyakit infeksi seperti Demam Berdarah Dengue (DBD). Perubahan suhu dan curah hujan menciptakan lingkungan yang ideal bagi nyamuk aedes aegypti untuk berkembang biak. Bahkan kini tercatat ada kasus DBD di wilayah dataran tinggi, padahal sebelumnya jarang ditemui kasus serupa.

Data Dinas Kesehatan Jawa Timur mengungkapkan bahwa orang yang mengalami DBD pada 2024 mengalami lonjakan tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya, yakni 32.156 pasien dengan 265 kematian. Jumlah itu merupakan angka tertinggi dalam rangkaian data 2014–2024.

Dari jumlah itu, usia 5–14 tahun merupakan kelompok usia dengan proporsi kasus DBD terbesar, yakni 38,9 persen. Sementara, sementara kelompok 15–44 tahun sekitar 35,8 persen.

Selain itu, penyakit gangguan pernapasan juga meningkat karena polusi udara yang memburuk dan perubahan suhu ekstrem. Kondisi ini disebabkan paparan polutan jangka panjang yang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, dan alergi. Anak-anak, adalah salah satu kelompok paling rentan. ”Saluran udara anak lebih sempit dan sistem imun yang belum matang,” ucap Andy, Kamis 23 Juli 2026.

Data kunjungan pasien anak di RSUD Dr Soetomo Surabaya berbicara. Berdasarkan data itu, ada korelasi kuat antara fenomena lingkungan dengan lonjakan kasus penyakit alergi dan pernapasan selama 7 tahun terakhir, dari 2017 hingga 2024.

Andy melanjutkan, pada 2017 ada sekitar 40 kunjungan pasien yang mengeluhkan alergi debu setiap bulannya. Pada 2024, ada sekitar 1.300 kunjungan pasien per bulan dengan keluhan yang sama.

“Ada peningkatan kasus penyakit alergi dan pernapasan lebih dari 30 kali lipat dibanding kondisi awal 2017. Ini seiring dengan memburuknya kualitas lingkungan dan efek perubahan iklim,” tandas Andy.

Kerusakan Ekologis Meningkatkan Kerentanan

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis laporan soal prediksi puncak krisis iklim pada 9 Agustus 2021. Laporan itu menyimpulkan bahwa suhu bumi akan naik 1,5 derajat celcius pada 2040. Kenaikan suhu itu lebih cepat dari perkiraan semula pada 2050.

Kenaikan suhu bumi tidak bisa dicegah kendati tiap negara mencapai karbon netral atau net-zero emissions pada 2050. Sebab, kenaikan suhu tersebut dipicu konsentrasi CO2 atau karbon dioksida di atmosfer mencapai 450 part per million. Jumlah CO2 naik pelan-pelan sejak revolusi industri tahun 1750 akibat emisi karbon dari pembakaran batu bara dan bakar fosil.

Krisis iklim pun semakin terlihat dengan tanda-tanda fenomena El Nino ekstrem atau El Nino Godzilla di kawasan Samudra Pasifik. Rilis National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pada Mei 2026 terbukti benar. El Nino muncul pada Juli 2026 dengan dampak yang sangat panjang, bahkan diprediksi hingga akhir tahun.

Dosen Teknik Lingkungan Universitas Airlangga, Nita Citrasari menyatakan, krisis iklim bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan di kehidupan sehari-hari. Salah satu indikatornya adalah perubahan pola musim yang semakin sulit diprediksi.

Di Indonesia, hujan dapat turun pada musim kemarau atau sebaliknya. Di Surabaya, banjir juga pernah terjadi pada musim kemarau. Temuan ilmiah menunjukkan tren yang sama,” kata Nita.

Nita menjelaskan, penelitian yang berasal dari jurnal Nature Climate Change tahun 2026 yang menunjukkan, suhu malam terpanas meningkat sekitar 0,32°C per dekade. Sedangkan suhu siang terpanas meningkat sekitar 0,27°C per dekade. Artinya, perubahan iklim membuat manusia semakin sering mengalami cuaca panas.

Menurut Nita, krisis iklim tidak hanya soal peningkatan suhu, tetapi juga memperbesar berbagai ancaman risiko atau multiple threats. Kondisi ini terjadi jika satu perubahan memicu rangkaian ancaman lain yang saling berkaitan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Sebagai contoh, hujan ekstrem terjadi bersamaan dengan berkurangnya daerah resapan, pendangkalan sungai, atau saluran drainase yang tersumbat sampah akan meningkatkan risiko banjir.

“Dampaknya tidak berhenti pada genangan air. Ketika masyarakat harus mengungsi, mereka dapat kehilangan akses terhadap air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal yang layak,” tutur Nita, Senin 20 Juli 2026.

Menurutnya, anak-anak lebih rentan karena sistem pernapasan, kekebalan tubuh, dan kemampuan mengatur suhu tubuh mereka masih berkembang. Selain itu, anak-anak menghirup udara lebih banyak daripada orang dewasa sehingga paparan pencemar udara menjadi lebih besar.

“Tidak hanya peningkatan risiko terkena penyakit, anak-anak juga dapat kehilangan akses terhadap air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, dan ruang bermain yang aman. Kondisi tersebut dapat memengaruhi tumbuh kembang, kesehatan fisik, maupun kesehatan mental mereka,” tuturnya.

Karena itu, anak-anak dapat dipandang sebagai indikator paling sensitif terhadap kualitas lingkungan. Ketika lingkungan gagal melindungi anak-anak, itu menjadi tanda bahwa perlindungan terhadap masyarakat secara keseluruhan juga belum berjalan dengan baik.

Perlu Upaya Bersama

Bagi IDAI, upaya mengatasi krisis iklim dan upaya mengendalikan resistensi antibiotik tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus dijalankan secara bersamaan dalam kerangka pendekatan ‘One Health’ (Kesehatan Satu) yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Kami sangat mendukung akademisi dan peneliti untuk integrasi kebijakan mitigasi perubahan iklim, pengelolaan antibiotik yang lebih bijak, dan pengawasan yang lebih ketat,” jelas Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Andy Dharma, Sp.A, Subsp.G.H(K).

Selain itu, Andy juga menekankan perlunya pendekatan kolaboratif dan multidisiplin. Upaya yang dapat dilakukan bisa dimulai dari peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan dalam mendeteksi dan menangani penyakit yang muncul akibat perubahan iklim. Termasuk memperkuat sistem surveilans epidemiologi yang peka terhadap perubahan lingkungan.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dominicus Husada SpA menambahkan, antibiotik juga memiliki hubungan kompleks dengan krisis iklim. Keduanya saling mempengaruhi berbagai faktor dua arah.

Pemanasan global dianggap sebagai penyebab utama, dan ini membuat bakteri mengalami perubahan untuk lebih beradaptasi. Bakteri akan belajar bertahan hidup dari suhu yang panas, lalu bermutasi agar tidak mati. Proses adaptasi terhadap cuaca panas ini secara alami membuat fisik atau sifat bakteri jadi lebih kuat dan tangguh, bahkan sebelum mereka bertemu dengan obat antibiotik.

Ilustrasi: Miftah Faridl/Banana 2

“Ketika bakteri sudah ‘terlatih’ menghadapi suhu panas ini juga terpapar oleh obat antibiotik, mereka akan beradaptasi lagi. Pertahanan diri mereka jadi berlipat ganda, yakni kuat menghadapi panas dan kuat menahan gempuran obat,” jelasnya.

Karena itulah, edukasi kepada orang tua dan masyarakat juga perlu dibuat semakin gencar. Orang tua dan masyarakat perlu mendapatkan informasi yang mudah diakses dan dipahami tentang dampak perubahan iklim terhadap kesehatan anak, serta langkah-langkah pencegahannya seperti menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan anak tetap terhidrasi. Selain itu, soal pentingnya memakai antibiotik dengan bijak.

Tak hanya itu, Andy juga menyebut bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman. Harusnya, sekolah menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi cuaca. “Misalnya menghindari aktivitas di luar ruangan saat suhu ekstrem, dan memastikan ketersediaan air bersih,” imbuhnya.

IDAI juga aktif mengadvokasi pemerintah untuk mengutamakan hak dan kesehatan anak dalam setiap kebijakan terkait perubahan iklim. Tujuannya agar penyakit akibat krisis iklim tidak semakin meningkat dan mengancam generasi penerus.

 


*Artikel merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.