JARUM itu naik turun seperti napas yang tak pernah benar-benar selesai. Di ruang sempit dengan dinding yang mulai kusam, Mak Ani duduk bersandar pada waktu yang berjalan pelan. Mesin jahitnya berderak—lirih, berulang, seperti gema panggung yang tersisa dalam ingatan. Suara itu kini menjadi irama harian, menggantikan gamelan, tawa penonton, dan gemerlap sorot lampu yang dulu pernah begitu akrab di tubuhnya.
“Sehari-hari jahit, terima jahitan,” ucap Mak Anik lirih.
Nama aslinya Yuwono. Tapi nama itu seperti tertinggal di masa lalu, melekat hanya pada dokumen resmi. Di dunia yang membesarkannya, ia adalah Mak Ani. Seorang wedhokan ludruk atau laki-laki yang memerankan perempuan. Bukan sekadar mengenakan pakaian perempuan, tapi juga menghidupkan tubuh, rasa, dan gestur perempuan di atas panggung.
Ada masa ketika panggung adalah rumah. Ketika tobong-tobong ludruk berdiri di sudut-sudut kota. Bangunan sederhana itu mungkin tak megah seperti Broadway di New York, tapi di sanalah kehidupan berlangsung. Di dalamnya, para pemain makan bersama, tidur, bercengkerama, bertengkar, dan kemudian berdamai. Di dalam tobong, dunia terasa cukup.
Surabaya pernah semarak dengan tobong. Kota ini pernah menyediakan ruang bagi ludruk untuk bernapas panjang menghibur rakyat jelata. Malam hari bukan sekadar waktu istirahat bagi sebagian warga kota, tapi menjadi waktu berkumpul di tobong. Mereka menonton cerita-cerita rakyat, menyimak kritik sosial, tertawa bersama atas lakon yang kadang jenaka, kadang getir.
Mak Ani tumbuh di dunia itu. Dunia yang keras tapi hangat. Dunia yang tidak selalu ramah, tapi memberi ruang untuk menjadi seseorang. “Dulunya kan enak. Walaupun ada aktivitas di rumah, terus malamnya berangkat di THR,” kenang wedhokan ludruk yang kini berusia 66 tahun itu.
BACA JUGA : #SENI| Ludruk, Bissu dan Batas yang Digugat
Taman Hiburan Rakyat (THR) adalah salah satu pusat dari denyut itu. Tapi yang lebih penting adalah keberadaan tobong, rumah yang membuat ludruk tetap hidup sebagai ekosistem, bukan sekadar pertunjukan. Di panggung Ludruk itu, dulu Mak Ani termasuk ‘Sang Primadona’. Ia kerap ditunjuk sebagai pemeran utama. Kecantikannya seolah tak ada tandingannya di masanya. Bahkan, segala peran yang diberikan tak pernah gagal ia perankan.
Penonton itu senang kalau saya yang manggung. Kalau saya muncul tepuk tangannya paling keras. Sutradara juga suka menunjuk saya karena saya serba bisa. Disuruh marah-marah, ketawa atau nangis saya bisa semua,” kisah Mak Ani membuka memori masa lalunya.
Setelah Runtuhnya Tobong Kami
Waktu berjalan tanpa menoleh. satu per satu tobong-tobong itu lenyap digulung zaman. Digantikan gedung, jalan, pusat perbelanjaan, dan wajah kota yang terus berubah. Surabaya tumbuh, tapi pada saat yang sama, sebagian jiwa Mak Ani dan seniman ludruk lainnya ikut terkikis.
“Sekarang enggak ada tobongan,” kata Mak Ani. Kalimat itu terdengar ringan, tapi di dalamnya ada sesuatu yang runtuh perlahan. Tanpa tobong, ludruk kehilangan rumahnya. Para pemain tercerai-berai. “Anak-anak itu pada semburat semua… enggak ada pertunjukan, gak pernah kumpul,” lanjutnya.
Semburat—kata yang sederhana, tapi menggambarkan perpisahan yang tak bisa ditahan, bahkan tanpa pamit. Tidak ada lagi tempat untuk berkumpul. Tidak ada lagi ruang yang menyatukan. Ludruk masih ada, tapi tidak lagi utuh. Di tengah perubahan itu, Mak Ani juga menghadapi pergeseran lain yang lebih personal.
Menjadi wedhokan bukan hanya soal panggung. Itu juga soal bagaimana dunia melihat tubuhnya di luar panggung. Di atas panggung, ia bisa menjadi siapa saja—perempuan yang anggun, jenaka, kuat dan idola pentas semalaman. Tapi di luar panggung, identitas itu tidak selalu diterima dengan lapang.
Pelan-pelan, jarak dengan keluarga mulai terasa. Tidak ada cerita yang ia ucapkan dengan gamblang. Tidak ada kronologi yang disusun rapi. Tapi dari potongan-potongan yang tersisa, ada rasa dingin yang pernah singgah terlalu lama. Hidup keras di atas panggung, tak sekeras perlakuan yang ia terima di dalam rumah dan keluarga.
“Selain orang tua saya, semua keluarga menjauhi saya. Bahkan saat saya mudik untuk menghormati orangtua, untuk minta maaf lahir batin, tak satupun sanak keluarga saya menyapa. Mereka jalan-jalan saya ditinggal hanya bersama ibu saya. Makanan di rumah dikunci tidak boleh saya makan,” ceritanya sembari matanya menahan bulir air agar tak jatuh.
Kehadirannya tidak lagi sehangat dulu. Percakapan tidak lagi mengalir. Ada yang berubah, dan perubahan itu tidak bisa ia tahan. Mak Ani tidak melawan. Ia juga tidak memaksa. Ia memilih berjalan menjauh. Atau mungkin, ia hanya memilih untuk tidak lagi kembali.
Dalam kesendirian yang perlahan menjadi kebiasaan, Mak Ani menemukan seseorang. Seorang lelaki. Tidak datang dengan pertanyaan yang menyudutkan, tidak pula dengan keinginan mengubahnya. Ia hadir, dan itu sudah cukup. Mereka hidup bersama.
BACA JUGA : Doa Jawa dari Suara yang Pernah Luka
Di rumah sederhana yang jauh dari riuh panggung, Mak Ani menjalani hari-hari yang berbeda. Tidak ada sorot lampu. Tidak ada penonton. Tapi ada sesuatu yang lebih tenang—penerimaan. Di rumah itu, ia tidak perlu menjadi peran. Ia cukup menjadi dirinya sendiri.
Dan mungkin, itu adalah panggung paling jujur yang pernah ia miliki. Hidup kemudian membawa satu babak baru. Mak Ani dan pasangannya memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Anak yang sejak lahir ditinggal orangtuanya. Seorang anak yang tidak lahir dari tubuhnya, tapi tumbuh dalam perhatiannya.
Menjahit Memori
Dalam tangannya yang setiap hari menjahit, dalam matanya yang telah melihat riuh kehidupan, dalam hatinya yang tetap menyimpan ruang untuk mencintai. Dan, anak itulah yang menjadi alasan untuk tetap bertahan hidup. Untuk tetap bangun pagi. Untuk tetap menerima jahitan, meski sedikit. Untuk tetap berharap, meski dunia tidak selalu memberi banyak.
Di tengah segala kehilangan, Mak Ani menciptakan keluarganya sendiri. Bukan keluarga yang lahir dari garis darah. Tapi keluarga yang dibangun dari pilihan. Hari-harinya kini sederhana. “Kalau ada panggilan ya berangkat. Kalau enggak ada ya ini tiap hari jahit,” akunya pelan.
Ia masih tampil, sesekali. Masih mengenakan kemben. Masih merias wajah. Masih menghidupkan perempuan yang telah lama menjadi bagian dari dirinya. Dan di luar itu, ia menjahit.
Sebelumnya saya memang dikenal pinter buat sumpelan bokong dan bikin kemben. Kata teman-teman hasil bokong buatan dan kemben saya bagus enak dipake beda kalo beli jadi. Dari omongan gethok tular akhirnya banyak yang pesan,” kisah Mak Ani
Benda-benda itu mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang. Tapi bagi Mak Ani, itu adalah bagian dari kenangan panggung yang ia rawat. Tangannya bekerja dengan ingatan. Setiap jahitan bukan hanya teknik, tapi juga pengalaman. Ia tahu persis bagaimana bentuk yang pas, bagaimana lekuk yang terlihat hidup di atas panggung.
“Menjahit sudah lama. 20 tahunan,” tegasnya.
Harga jahitannya sederhana. “Per satu kemben itu Rp250 ribu. Kalau bokong mulai Rp100 ribu sampai Rp250 ribu yang panjang semata kaki,” tutur pelakon asal Jember ini. Angka itu tidak besar. Tapi cukup untuk menyambung hidup. Cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Cukup untuk tetap bertahan. “Kalau musim orang punya gawe itu banyak pesanan,” ucapnya.
Di luar musim itu, ia harus menunggu. Menunggu seperti seseorang yang tidak punya pilihan selain bersabar. Ada yang berubah dari dunia, tapi tidak dari kesetiaannya. Mak Ani tidak pernah benar-benar meninggalkan ludruk. Ia hanya berpindah cara. Dari panggung ke ruang jahit. Dari sorot lampu ke cahaya lampu rumah. Dari riuh tepuk tangan ke sunyi yang lebih panjang.
Tapi di dalam dirinya, panggung itu masih ada. Masih hidup. Masih bernapas. Malam hari, ketika pekerjaan selesai dan rumah mulai tenang, ada kemungkinan Mak Ani duduk diam sejenak. Mengingat tobong yang pernah menjadi rumah. Mengingat teman-teman yang kini tersebar entah ke mana. Mengingat keluarga yang tak lagi dekat.
BACA JUGA : Wajah Juang Transpuan Merebut Ruang Hidup
Namun juga melihat apa yang ada di hadapannya kini. Pasangan yang tetap tinggal. Anak yang tumbuh dan memanggilnya dengan cara yang mungkin tak pernah ia bayangkan dulu. Dan dari situ, ia tahu hidup tidak sepenuhnya hilang. Ia hanya berubah bentuk.
“Kalau ada panggilan ya berangkat,” ungkap Mak Ani. Kalimat itu sederhana. Tapi di dalamnya ada kesetiaan yang tidak banyak orang miliki. Kesetiaan pada panggung, pada peran, pada sesuatu yang mungkin sudah tidak lagi dianggap penting oleh banyak orang.
Di tengah hilangnya tobong, di tengah perubahan kota, di tengah luka yang pernah ia alami, Mak Ani tetap memilih bertahan. Ia tidak menyala terang seperti dulu. Tapi tidak pernah padam. Dan mungkin, dalam dunia yang terus berubah terlalu cepat, menjadi nyala kecil yang bertahan adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.
Mak Ani tahu, panggung itu mungkin tidak akan kembali seperti dulu. Tobong mungkin tidak akan berdiri lagi di kota besar seperti Surabaya. Tapi selama masih ada yang mengingat, selama masih ada yang mau memainkan peran, selama masih ada tangan yang menjahit kemben dan membentuk tubuh panggung, sehingga ludruk belum sepenuhnya pergi.
Ia hanya bersembunyi. Menunggu. Dan di suatu sudut kota, di ruang kecil dengan mesin jahit yang terus berderak, Mak Ani menjaganya tetap hidup.