Skip to main content
Foto: Taufan Bahari/Project Arek
Reportase
#SASTRA| Sisi Melankolis Si Anarkis
Semua hadirin menyimak dengan khusyuk. Satu per satu puisi dibacakan. Satu per satu kegelisahan soal hidup pun diperdengarkan ke banyak orang. Mulai urusan percintaan, keresahan sosial, imaji-imaji liar, hingga pencarian makna hidup. Mereka berkumpul untuk membingkai pengalaman itu menjadi rajutan kata-kata indah.

PULUHAN PECINTA sastra berkumpul di Warung Jadoel pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Agenda Saung Rasa dan Stand Up Poetry dari CakrawalaKata itu menjadi istimewa karena merayakan lahirnya karya terbaru seri Terbit Mini volume 26 berjudul Segalanya Indah, Segalanya Mati. Buku kumpulan puisi perdana karya Fido Fachrezi tersebut dibedah oleh peneliti puitika, Nanda Alifya Rahma.

Fido Fachrezi, sang penulis, maju ke depan dengan pengakuan mengejutkan. Ya, selama ini sosoknya lebih dikenal di lingkungan Teater KU Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan aktif dalam gerakan-gerakan di Surabaya. Ia mengaku, puisi-puisi dalam bukunya sebenarnya lahir dari sisa-sisa naskah cerpen yang tidak kunjung usai.

"Puisi ini tercipta karena ada naskah cerpen cinta monyet saya yang mangkrak. Sebenarnya kisah-kisah di dalamnya fiktif, hasil karangan saya sendiri," ungkap Fido.

Fido Fachrezi memaparkan perjalanan kepenyairannya melalui Segalanya Indah, Segalanya Mati. Ia mengakui, ada sisi lain dalam dirinya yang muncul dalam karya ini. Sisi lain yang mungkin tak pernah diketahui, bahkan oleh teman-teman terdekatnya. (Taufan Bahari/Project Arek)

Ia menambahkan, biasanya ia lebih akrab menulis tema-tema berat seperti nihilisme, anarkisme, hingga isu-isu suicide. Namun, melalui buku ini, Fido mencoba mengeksplorasi sisi lain dirinya. Ya, Fido menjelaskan filosofi di balik judulnya yang terkesan kontradiktif, yaitu “Segalanya Indah, Segalanya Mati”. Baginya, jatuh cinta adalah sebuah paket lengkap antara keindahan dan rasa sakit.

Jatuh cinta di buku ini adalah tentang ketiadaan. Tentang jatuh cinta terhadap sesuatu yang mati. Mati itu bukan tentang menghilangkan, tapi tentang proses penerimaan terhadap kata 'jatuh' itu sendiri. Jika kalian hanya ingin cintanya saja tanpa ingin jatuhnya, lebih baik tidak usah jatuh cinta," ujar Fido.

Nanda Alifya Rahma, yang hadir sebagai pembahas, memberikan perspektif struktural dan linguistik terhadap karya Fido. Nanda mencatat, gaya penulisan Fido sangat dipengaruhi oleh latar belakangnya yang semula ingin menulis prosa. Hal ini menyebabkan semesta teks dalam puisi-puisinya terasa sangat "prosis" atau naratif.

"Gaya lukis dan pembentukan semesta teksnya sangat prosis," kata Nanda. Ia menjelaskan, Fido tidak menggunakan metafora yang kompleks, melainkan lebih banyak menggunakan simile, atau perbandingan langsung yang menggunakan kata penghubung seperti 'bagai' atau 'seperti'.

Nanda memberikan contoh menarik pada satu larik yang ia anggap sangat berkesan: "Kabut yang menyeret diri menjadi titik". Menurutnya, imaji ini sangat sureal, namun karena gaya ungkap Fido yang prosis, potensi surealisme tersebut menjadi teredam dan terasa lebih lembut.

Daya lukisnya sangat lembut. Seperti kabut yang bergerak pelan. Ini adalah sisi kreatif Fido yang sungguh bertolak belakang dengan citranya sehari-hari yang akrab dengan isu-isu anarkisme," tambah Nanda.

Satu temuan menarik lainnya dari Nanda adalah dominasi diksi negatif, terutama penggunaan kata "tidak" atau "tak" yang sangat masif dalam satu puisi. Dalam pengamatannya, satu puisi pendek Fido bisa mengandung lebih dari tujuh hingga sepuluh bentuk kenegatifan atau ketidakhadiran.

Hal ini, menurut Nanda, membangun logika puitis yang unik sekaligus menjadi pertanyaan besar bagi pembaca tentang apa yang sebenarnya ingin ditiadakan oleh sang penulis.

Nanda Alifya Rahma, memberikan wawasan dalam perspektif struktural dan linguistik terhadap karya Fido. Ia merasakan, gaya penulisan Fido sangat dipengaruhi latar belakangnya yang semula ingin menulis prosa hingga karya ini memiliki gaya naratif. (Taufan Bahari/Project Arek)

Selang waktu, sesi tanya jawab berlangsung dinamis saat beberapa kawan Fido dari gerakan mulai melontarkan pertanyaan. Salah satu hadirin, menanyakan alasan Fido tiba-tiba menerbitkan buku puisi cinta di tengah aktivitasnya yang sering terlihat di aksi-aksi massa atau diskusi kiri. Dan, Fido menjawab dengan jujur, buku ini adalah bentuk upayanya keluar dari zona nyaman.

Saya mencoba mencari sisi melankolis dalam diri saya dan keluar dari pikiran-pikiran radikal yang terpapar sehari-hari. Ini adalah upaya untuk mengulik nihilisme, tapi bukan nihilisme filsafat, melainkan ketiadaan dalam mengenal cinta," jawab Fido.

Pertanyaan muncul dari peserta lainnya, mengenai keterkaitan konsep amor fati atau mencintai nasib dengan gerakan sosial. Perlu diketahui, Friedrich Nietzsche memperkenalkan konsep amor fati, yang bukan sekadar menerima hidup, melainkan mencintai seluruh pengalaman, bahkan penderitaan, kegagalan, kehilangan, dan kekacauan.

Nietzsche melihat manusia sering terjebak menyesali masa lalu atau berharap hidup berbeda. Amor fati menolak sikap itu. Semua peristiwa dianggap bagian penting pembentukan diri. Dalam pandangan ini, rasa sakit bukan musuh, tetapi bahan bakar pertumbuhan.

Acara juga dimeriahkan pagelaran Teater KU yang menyuguhkan penampilan bertajuk "Manifesto Bom Bunuh Diri". Pertunjukan ini seolah mengingatkan penonton pada identitas "liar" Fido yang selama ini dikenal di dunia teater. (Taufan Bahari/Project Arek)

Konsep tersebut berkaitan dengan ide eternal recurrence: jika hidup harus diulang selamanya, apakah kita siap berkata “ya”? Bagi Nietzsche, manusia kuat adalah mereka yang mampu menjawabnya tanpa ragu.

Fido menegaskan, dalam penulisan buku ini, ia melepaskan diri dari pengaruh Friedrich Nietzsche dan lebih condong pada pemikiran egoisme Max Stirner. Ia memandang pembuatan cerita fiktif ini sebagai sebuah tindakan bebas sesuai kemauannya sendiri, tanpa terikat moralitas agama atau negara.

Ya, Max Stirner mengembangkan gagasan egoisme radikal yang menempatkan individu sebagai pusat kehidupan. Dalam The Ego and Its Own, ia menolak otoritas abstrak seperti negara, agama, moralitas, dan ideologi karena dianggap membelenggu kebebasan manusia. Stirner menyebut konsep-konsep itu sebagai “hantu” yang mengendalikan pikiran individu.

Menurut Stirner, manusia harus hidup berdasarkan kehendak dan kepentingannya sendiri, bukan demi kewajiban kolektif. Meski demikian, Stirner tetap mendukung kerja sama sukarela antarindividu melalui “union of egoists”. Pemikirannya memengaruhi anarkisme individualis, eksistensialisme, dan kritik modern terhadap kekuasaan sosial-politik.

Nanda Alifya menambahkan, tidak semua karya sastra harus berangkat dari pengalaman empiris. Apa yang dituliskan tetap bersumber dari diri penulis.

Pengakuan Fido bahwa ini adalah sisi lembutnya menunjukkan sebuah kesadaran yang luar biasa. Ia tidak melakukan denial terhadap sisi lain dari identitasnya yang tampak kontradiktif," jelas Nanda.

Suasana diskusi sempat pecah ketika kawan-kawan dari Teater KU menyuguhkan penampilan bertajuk "Manifesto Bom Bunuh Diri". Pertunjukan ini seolah mengingatkan penonton pada identitas "liar" Fido yang selama ini dikenal di dunia teater. Dengan narasi yang penuh amarah dan imaji kekerasan, penampilan tersebut menjadi kontras yang tajam dengan kelembutan puisi-puisi dalam buku yang sedang dibahas.

Bedah buku kumpulan puisi ini dihadiri puluhan orang. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Dunia literasi di Surabaya hidup malam itu bersama mereka yang menikmati tiap lantunan kata puitis yang dibacakan. (Taufan Bahari/Project Arek) 

 

Menutup acara, Fido memberikan pernyataan singkat dan padat tentang proses kreatifnya. "Puisi adalah tindakan," katanya. Sementara itu, Nanda Alifya memberikan apresiasi penutup bagi langkah awal Fido di dunia kepenyairan.

Seandainya ini adalah anak tangga menuju jalan yang lebih panjang, maka pertemuan kita malam ini layak untuk disimpan dalam ingatan," tutup Nanda.

Acara diskusi diakhiri dengan sesi tanda tangan buku dan ramah tamah. Para pengunjung yang hadir bisa mendapatkan tanda tangan dari penulis pada buku yang dibanderol seharga Rp30.000 tersebut.

Setelah itu, satu per satu hadirin maju untuk membacakan puisi secara bergantian dalam agenda Stand Up Poetry. Mereka seolah menumpahkan segala cerita yang selama ini tersumbat dan tak menemukan muara untuk diaktualisasikan. 

Adnan Guntur, koordinator program Terbit Mini dari Komunitas Sastra Lumpur. Komunikas ini konsisten memberikan ruang dan mendampingi siapa saja yang ingin menggeluti dunia kesastraan. Adnan dan kawan-kawannya rutin membuat kelas menulis sekaligus menerbitkan karya-karyanya. (Taufan Bahari/Project Arek)

Dalam pengantarnya, Adnan Guntur, koordinator program Terbit Mini dari Komunitas Sastra Lumpur menjelaskan, Terbit Mini adalah upaya komunitas untuk mengapresiasi penulis muda melalui naskah-naskah ringkas, mulai dari puisi, prosa, hingga lakon. "Sampai saat ini kami sudah menerbitkan 26 judul buku dalam kurun waktu 15 bulan," ujar Adnan.