ADA SUARA yang tidak bisa dibungkam, meski orangnya sudah lama menghilang. Diskusi yang digelar di Daskopital x Sawijibook, Surabaya, pada Minggu, 31 Mei 2026, bertajuk "Thukulnya Wiji, Tumbangnya Orde Ba(r)u" digelar sebagai ruang untuk mengenang Wiji Thukul penyair yang tubuhnya hilang, tapi kata-katanya tidak pernah hilang dari muka bumi.
Mengembalikan puisi ke akar yang sebenarnya. Bukan soal indahnya kata, tetapi puisi menjadi peluru tanpa selongsong yang bisa menembus dinding kekuasaan. Bait-bait dalam puisinya terus dilantangkan, dibacakan keras-keras, dan ditulis ulang oleh orang-orang yang masih percaya, bahwa kata-kata adalah senjata terakhir bagi mereka yang tidak punya apa-apa.
Realisme Sosialis Wiji Thukul
“Maka hanya ada satu kata: lawan!” kalimat yang terus hidup hingga hari ini. Keberhasilan puisi menjadi bahan bakar gerakan, menjadi energi kolektif yang kuat. Penyair dan esais, Kim Al Ghozali memaparkan pria kelahiran Surakarta itu ke dalam golongan intelektual organik.
Wiji lahir dari pengalaman konflik kelas bawah, bukan dari pengamatan jarak jauh. Ia penyair yang mengunjungi penderitaan bukan semata objek estetik. Ia sendiri hidup dalam ekonomi, pekerjaan informal, penggusuran dan intimidasi,” ujar Kim.
Prinsip dasar realisme sosialis terang benderang dalam karya Wiji Thukul, yaitu keberpihakan kepada kelas tertindas ke keyakinan pada gerak sejarah rakyat, serta usaha menghadirkan bahasa yang dipahami masa.
Yang membuat posisi Wiji Thukul istimewa adalah, kemampuannya menghadirkan suara sejarah dari bawah bukan dari arsip resmi, tapi dari denyut kehidupan masyarakat yang ia jalani sendiri. Kata Kim, Wiji berhasil mengangkat bahasa sehari-hari, bahasa yang biasa dipakai di warung, pabrik, gang-gang sempit, dan mengubahnya menjadi energi politik yang nyata.
Baginya, puisi-puisi Wiji Thukul bukan sekadar karya sastra biasa; ia adalah salah satu pencapaian paling penting dari realisme sosialis dalam sastra Indonesia modern. Kekuatannya berpijak pada kedekatannya dengan pengalaman konkret kelas, ia tidak menulis dari kejauhan melainkan bagian dari realitas itu sendiri.
Karya-karya Wiji hampir selalu berpijak pada kenyataan yang bisa diraba. Menurut Kim, Wiji tidak membangun menara gading dari kata-kata, tidak ada dunia abstrak yang mengambang jauh di atas kehidupan nyata. Ia mencontohkan, dalam "Sajak Suara", "Peringatan", "Bunga", maupun "Tembok", rakyat hadir bukan sebagai objek belas kasihan yang dipandang dari kejauhan.
Mereka hadir sebagai subjek sejarah manusia yang berdiri tegak di atas kakinya sendiri, bukan yang menunduk menunggu dikasihani.Di sinilah letak perbedaan mendasarnya. masih kata Kim, ada puisi yang memandang penderitaan dari balik kaca mengasihani, mengelus dada, tapi tidak pernah benar-benar turun ke dalamnya.
Puisi semacam itu bisa kita sebut puisi borjuistik: indah di permukaan, tapi steril dari dalam. Wiji tidak menulis dari sana. Ia menulis dari dalam penderitaan itu sendiri bukan sebagai pengamat, tapi sebagai bagian dari yang ia tuliskan. Yang membedakannya dari banyak penyair lain, ungkap Kim, Wiji ia tidak berhenti pada ratapan.
Ia menulis dari dalam ketegangan, tepat di titik di mana dua kekuatan yang saling berlawanan beradu, antara yang tertindas dan yang menindas.
Banyak posisi realisme sosialis janggal karena jatuh pada slogan atau agitasi yang mentah. Nah Wiji Thukul relatif lolos dari jebakan itu, ia memakai bahasa lisan, bahasa pendek, kasar, seperti hanya ada satu kata, lawan, sebagai kalimat emosional dan akumulasi pengalaman sosialnya,” tutup Kim.
Sosok Katalisator
Obi, salah satu peserta diskusi, memandang Wiji Thukul lebih dari sekadar mortir. Sebab jika hanya mortir, banyak yang telah lebih dulu, hilang tanpa nama, yang lenyap tanpa jejak di berbagai penjuru negeri. Wiji Thukul berbeda. Ia bukan hanya peluru, tapi juga pena. Kritik dan karya berjalan beriringan dalam dirinya, hingga pada akhirnya ia menjelma katalis: bukan sekadar dikenang karena beraninya, tetapi karena kata-katanya yang tak bisa dikubur.
Kalau saya melihat sosok Wiji Thukul pada akhirnya menjadi katalis karena dia menjadi korban. Tapi pada akhirnya, ia menjadi mortir sekaligus katalis diangkat untuk menjadi simbol perjuangan lewat kata,” ungkap Obi.
Wiji Thukul tak sempat melanjutkan karyanya. Ia hilang sebelum kata-katanya habis. Namun jejaknya tak pernah pergi.Belakangan, hal serupa terus berulang. Pada masa ini, musisi kritis bermunculan, membawa suara yang sama tajamnya. Contohnya, band punk Sukatani, ditangkap karena lirik lagunya mengkritik polisi. Tanpa diduga, kejadian itu justru menyulut api yang lebih besar. Ia menjadi katalis.
Kata Obi, di situlah persimpangan itu berdiri: Apakah cukup menjadi katalis memantik lalu berhenti, atau melangkah lebih jauh, menjadi katalisator yang terus menggerakkan, terus membakar, hingga perubahan benar-benar terjadi?
“Apakah Wiji Thukul seorang katalisator? Dia sudah menjadi, menurutku sudah menjadi sosoknya katalisator. Kemudian, untuk kita membedah lagi ke arah Orde Baru, apakah Orde Baru benar-benar tumbang? Kayaknya enggak,” tutup Obi
Menjelang keruntuhan rezim Orde Baru, represi negara mencapai titik brutal. Krisis moneter menghantam ekonomi hingga ke akar-akarnya, demonstrasi meluas bagai air yang tak bisa lagi dibendung. Gerakan buruh mulai berani turun ke jalan, sementara legitimasi politik rezim perlahan retak, lalu runtuh.
Di tengah guncangan itulah, orang-orang seperti Wiji Thukul justru menjadi yang paling diburu. Bukan karena mereka menenteng senjata, melainkan karena mereka memanggul kata-kata. Di tangan yang tepat, kata-kata bisa menggerakkan massa lebih dari bedil mana pun.
Rezim otoritarian akhirnya runtuh pada Mei 1998, namun Wiji Thukul tidak ikut menyaksikannya. Ia tak pernah kembali. Namanya terukir dalam daftar kelam penghilangan paksa aktivis 1997–1998, menjadi salah satu luka yang hingga kini masih menganga, menunggu pengakuan yang tak kunjung datang dari negara.
Jejak Langkah Sang Penyair Cadel
Wiji Thukul, yang bernama asli Wiji Widodo. Ia lahir pada 26 Agustus 1963 di kampung Sorogenen, Solo. Kampung ini, mayoritas dihuni tukang becak dan buruh. Di sanalah watak gerakan dan ketajaman kata-kata dalam puisi Wiji Thukul ditempa. Wiji sendiri anak dari seorang tukang becak. Wiji mengenyam pendidikan hingga SMP, karena di jenjang SMK ia tak lulus.
Wiji Thukul adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Salah satu adiknya adalah Wahyu Susilo yang dikenal juga sebagai aktivis Hak Asasi Manusia (HAM). Sejak kecil, Wiji sudah bekerja membantu keluarga. Ia pernah menjadi loper koran dan tukang pelitur. Di sela-sela itu, ia juga ngamen puisi, membaca puisi keliling kampung.
Kata-kata puisinya sederhana dan lekat dengan kehidupan masyarakat kampungnya. Namun yang paling diingat adalah, Wiji tak lancar melafalkan huruf ‘R’ atau cadel. Sebab itu ia disebut sebagai penyair pelo.
Dua kumpulan puisinya, Puisi Pelo dan Darman dan Lain-Lain, telah diterbitkan oleh Taman Budaya Surakarta (TBS). Tahun 1989, dia diundang membaca puisi oleh Goethe Institut di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta; tahun 1991, dia tampil di Pasar Malam Puisi yang diselenggarakan Erasmus Huis, di pusat kebudayaan Belanda di Jakarta itu dia ngamen.

Sebagai seorang penyair, Wiji juga tergerak untuk melakukan advokasi kaum marjina. Dia sendiri adalah bagian dari kaum marjinal itu. Jejak advokasinya membentang. Pada 1992, ia bergabung bersama masyarakat sekampungnya, menggelar protes pada pabrik tekstil PT Sariwarna Asli karena mencemari lingkungan.
Ia turut mengadivokasi petani di Ngawi, Jawa Timur pada 1994. Lalu memimpin pemogokan buruh di PT Sritex setahun kemudian. Wiji juga tercatat sebagai aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD). Ia ditarget rezim Orde Baru sejak peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli).
Wiji Thukul hilang sekitar Maret 1998. KontraS menduga, ini berkaitan dengan aktivitas yang dilakukkan Wiji Thukul. Saat itu bertepatan dengan peningkatan operasi represif yang dilakukan ole rezim Orde Baru dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan dengan Orde Baru. Operasi pembersihan tersebut hampir merata dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.
KontraS mencatat dalam berbagai operasi, rezim Orde Baru juga melakukan penculikan terhadap sejumlah aktivis (22 orang) yang hingga saat ini, 13 orang belum kembali. Sampai sekarang belum juga diketahui di mana Wiji Thukul berada. Dua puluh delapan tahun berlalu, negara bungkam dan mengabaikannya.