Skip to main content
Ilustrasi: Miftah Faridl/Nano Banana 2
Arek Kampus
Jebakan Konsumtif Rezim Kapitalis
Di era modern, rezim kapital mengeksploitasi hasrat manusia melalui konsep “masyarakat tontonan” yang digagas Guy Debord. Dengan memanfaatkan perasaan kekurangan eksistensial atau “objet petit a” milik Lacan, sistem ini menciptakan kebutuhan imitasi. Akibatnya, hidup tereduksi menjadi sekadar bertahan hidup demi mengejar citra dan komoditas yang tak pernah usai.

“REZIM bertahan hidup” adalah sebutan kondisi masa kini, kita dituntut untuk bekerja sampai titik keringat penghabisan. Anggaplah peradaban zaman sekarang lebih tentram dan lebih maju—dibanding masa berburu dan meramu—karena revolusi pertanian dan revolusi industri. Namun, upah dari kemajuan dan ketentraman pada peradaban zaman sekarang ialah modal dan materi yang berhilir pada segelintir kalangan.

Jika ditilik, Yuval Noah Harari, pada bukunya Homo Sapiens juga menyebut perbedaan yang sangat menonjol pada masa berburu dan meramu dengan masa pasca domestifikasi, perbedaan itu terletak pada sistem kerja sehari-hari yang dilakukan manusia pada rentang hidupnya.

Manusia di masa berburu dan meramu cukup hanya berburu ketika mereka lapar, lalu berpindah tempat ketika dirasa daerah yang mereka tempati sudah kehabisan materi atau mereka ingin mendapat materi yang tidak bisa mereka dapatkan di daerah tersebut.

Situasi dan kondisi di masa itu, sangat berbeda dengan yang berhasil dilakukan pada masa pasca domestifikasi. Manusia akan mendirikan sebuah pemukiman, mereka akan bekerja setiap hari untuk menghidupi sanak saudara mereka, dan pastinya untuk menghidupi diri sendiri.

Tidak ada jeda dalam bekerja, jam kerja mereka justru lebih dari jam kerja ketika manusia masih hidup dengan berburu dan meramu. Manusia pasca domestifikasi akan menghabiskan hari-hari dengan bekerja untuk memenuhi lumbung pangan, tentunya yang menjadi pasokan makanan mereka jikalau cuaca ekstrem datang. Pada masa itulah cikal bakal model dan corak peradaban saat ini terbentuk.

Namun, mari kita tinggalkan semua itu, situasi dan kondisi yang kita lalui sudah jauh berbeda dengan zaman-zaman tersebut. Sekarang kita menghadapi kemajuan pesat produksi teknologi, juga situasi di mana komoditas dan tenaga kerja benar-benar melimpah. Produk dari domestifikasi yang dulu manusia kembangkan, sekarang sudah jauh melampaui imaji-imaji yang mungkin tak bisa mereka bayangkan.

Manusia yang pertama mendomestifikasi tumbuhan dan hewan liar tidak akan pernah bisa membayangkan manusia pada abad ini bisa mendomestifikasi dirinya sendiri, kerabat dekat, sanak saudara, juga manusia lainnya. Lebih dari mendomestifikasi manusia, situasi hari ini mendorong kita untuk berupaya lebih keras agar tidak jatuh ke dalam pengasingan hidup.

BACA JUGA : Tidak Ada Kuliah Murah!

Yang mana, mungkin kita atau orang lain, bertindak dengan mentransformasikan manusia seakan-akan mereka adalah benda/objek, dan kita memperlakukannya berdasar hukum benda/objek. Di mana kita memperlakukan manusia serupa barang yang dinilai dari value tenaga mereka, objek tubuh mereka, juga keuntungan-keuntungan lain tanpa mengerti mereka merupakan makhluk hidup.

Manusia pada hari itu juga tidak akan pernah membayangkan manusia masa sekarang telah sukses besar menjinakkan sebuah sistem hanya dengan sebuah citra dan imaji. Kebutuhan akan citra dan penampilan pada abad ini membuat masyarakat spectacle lahir dan terus berkembang biak menghasilkan hasil sempurna dari imitasi hidup, atau hidup yang palsu.

Guy Debord memperkenalkan istilah “masyarakat spectacle/tontonan” pada buku yang ia terbitkan pada tahun 1967. Berlandaskan pengalaman hidup yang secara langsung merasakan adanya teknologi baru, terkhususnya televisi pada umur 20 tahun, Debord menerbitkan buku yang cenderung berisi mengenai reaksi dari situasi munculnya teknologi media khusus yang benar-benar mengubah cara pandang dia terhadap jalannya dunia.

Debord memandang masyarakat di sekitar tahun 1967, sudah terlalu terpusat kepada penampilan dan citra. Baginya, spectacle/tontonan merupakan bentuk terbaru dan paling canggih dari keterasingan, fetisisme komoditas, reifikasi, ideologi, kesadaran palsu, dll. Keterasingan adalah pemisahan—pemisahan diri dari kita sendiri—dan spectacle/tontonan adalah kesempurnaan dari jenis pemisahan ini.

“In societies where modern conditions of production prevail, life is presented as an immense accumulation of spectacles. Everything that was directly lived has receded into a representation.” – Guy Debord, 1967.

Seluruh masyarakat yang menerapkan kondisi produksi modern menampilkan hidupnya sebagai akumulasi spectacle/tontonan yang besar. Segala sesuatu yang pernah dialami hidup secara langsung telah tereduksi menjadi sebuah representasi saja. Gagasan yang telah Debord kemukakan sekitar setengah abad yang lalu justru lebih hidup dan lebih relevan pada abad ini.

Semuanya berpusat pada penampilan dan citra, dan citra juga penampilan dimediasi tontonan. Bayangkan saja ketika kita menilai orang lain berdasar pada pakaian yang ia pakai, iklan dari pakaian tersebut sudah terakomodir dan tertonton banyaknya pengguna media sosial lain selain kita. Atau ketika kita menilai seseorang berdasar jam tangan dengan harga ratusan juta yang iklan promosinya telah kita tonton pada kanal-kanal media, lantas kita bekerja sampai mati demi mengenakan jam tangan itu.

Mungkin juga ketika kita menilai suatu instansi atau lembaga berdasar dari seseorang yang telah dipilih sebagai wajah dari instansi atau lembaga tersebut. Hal tersebut merupakan contoh kecil dari bagaimana masyarakat spectacle bekerja.

Masyarakat spectacle bekerja dengan membangun citra tentang sesuatu. Mereka akan membuat pseudo oposisi dan hasrat yang telah mereka inginkan, memoles sesuatu yang membangun citra mereka sendiri dengan membuat citra palsu pada sesuatu yang dengan tujuan akhir meningkatkan citra dari kalangan mereka.

Citra yang nantinya juga akan mereproduksi “rezim bertahan hidup” yang telah saya sebutkan di atas. Spectacle juga dapat didefinisikan sebagai suatu sistem ekonomi yang ditandai keberlimpahan komoditas. Namun, agar sistem tersebut dapat berjalan, keberlimpahan tersebut justru harus disamarkan melalui produksi kebutuhan baru secara terus-menerus.

Dengan cara itu, spectacle berhasil menyalurkan sebuah kesadaran di mana kita merasa selalu dalam kondisi kekurangan. Hasrat untuk terus mengatasi kekurangan karena produksi-produksi yang terus diperbaharui, menunjang kita agar selalu bekerja dan menjual diri dengan sungguh-sungguh.

Dan dengannya kita hidup dalam bayang-bayang kesadaran untuk terus memperkaya diri, demi mengatasi hasrat untuk menghilangkan rasa kekurangan yang telah dibangun sistem ini. Spectacle memberi alamat dan wajah baru rasa “kekurangan/lack”, mereka menyalurkan rasa kekurangan individu pada sesuatu yang telah sistem ini produksi.

Ini yang saya sebut sebagai kekurangan imitasi, kekurangan yang telah dibangun sistem bernama spectacle. Ia berhasil menciptakan kesadaran di mana manusia mengira kekurangan eksistensialnya bisa cukup diatasi selagi bisa membeli atau mengonsumsi barang X atau Y yang telah sistem produksi.

Juga hal tersebut yang saya maksud sebagai pemolesan citra yang dibangun untuk sebuah citra palsu, yang pada akhirnya meningkatkan citra dan materi sebagian kalangan. Mungkin, bila sistem dapat berbicara, sistem Kapitalistik akan kesulitan menahan gelak tawa ketika tahu kesadaran diri untuk pemenuhan hasrat pada produk-produk yang sepenuhnya telah diatur mulai terbangun dan terjaga.

BACA JUGA : Paradoks dari Secangkir Kopi

Karena bagaimanapun, kapitalisme tidak akan berjalan bila tidak lagi memiliki pekerja. Dari hal tersebut juga yang menjadikan dasar mengapa spectacle disebut sebagai “rezim bertahan hidup”, suatu bentuk kekuasaan yang mereduksi hidup menjadi sekedar bertahan hidup, sekedar memenuhi citra diri.

Dengan konsep sistemik yang telah spectacle kerjakan, sangat disayangkan bila kita tidak menilik lebih dalam gagasan-gagasan Lacan perihal “objet petit a”. Lacan memandang lack atau kekurangan, merupakan suatu kondisi eksistensial yang ada ketika kita masuk ke dalam tatanan bahasa.

Manusia merupakan objek dan subjek yang terbatas bahasa, dan karenanya, ketika kita mencoba membahasakan secara penuh rasa kurang/lack yang kita miliki, rasa kekurangan itu akan timbul karena tidak teruraikan dengan sempurna.

Gambaran imajiner perihal keutuhan diri tidak benar-benar kita mengerti, hal tersebut yang menjadikan dasar sejatinya rasa kekurangan/lack pada tiap-tiap individu tidak benar usai. Lack akan tetap eksis sepanjang rentang hidup manusia. Karenanya, hasrat keinginan untuk pemenuhan kekurangan yang tidak benar-benar dimengerti akan juga selalu eksis atau ada.

Manusia tidak benar-benar mengerti apa kekurangan pada diri mereka, dan mereka akan bergerak untuk mencari objek yang bisa memenuhi rasa kekurangan yang samar tersebut. Objek tersebut yang Lacan sebut sebagai objet petit a, suatu objek yang dijadikan pemenuhan atas kekurangan pada diri.

Namun, karena kekurangan/lack ini tidak pernah bisa dimengerti atau dibahasakan secara utuh, ia akan terus ada. Begitu pun dengan hasrat untuk memenuhi kekurangan/lack tidak benar-benar sampai secara final atau usai, maka, ketika objek yang manusia rasa bisa memenuhi kekurangannya tercapai, ia akan berpindah dari satu objek ke objek yang lain.

Kekurangan/lack dan hasrat/desire tidak akan pernah sampai ke satu penyelesaian final. Kedua hal tersebut akan selalu eksis dan ada. Lack dan desire yang terus memutar dan tanpa ujung tersebut yang nantinya akan menciptakan sebuah celah bagi rezim kapital untuk membuat kita terus merasa berkekurangan.

Rezim kapital akan hadir dengan membuat kita seolah merasa berkekurangan melalui produksi kebutuhan baru, yang kemudian mereka pertontonkan pada khalayak masyarakat dan membuat standar citra dan penampilan yang baru di sana.

Ambil contoh, bagaimana sebuah perusahaan produksi gawai dan laptop berulang kali secara rajin memproduksi gawai dengan tipe yang kurang lebih sama dengan tipe sebelumnya, masyarakat spectacle akan berbondong beralih ke tipe baru dan meninggalkan tipe lama hanya demi sebuah citra dan penampilan semata.

Sebab, kita selalu merasa berkekurangan dan berhasrat untuk menutup rasa kurang tersebut. Celah yang begitu besar perihal kenapa masyarakat spectacle dan rezim kapitalisme bisa terbentuk, kian benar-benar buram. Spectacle menciptakan kondisi di mana kita merasa selalu berkekurangan, namun satu hal yang tidak disadari ialah kekurangan tersebut merupakan kekurangan ‘imitasi’ yang sudah dirancang sedemikian rupa.

Di bawah bendera Kapitalisme, spectacle terus berupaya memproduksi objek demi memandu objet petit a kita. Spectacle, Kapitalisme, dan gagasan Lacan mengenai lack dan desire benar-benar membuat satu simpul kokoh mengenai tatanan berkehidupan.

BACA JUGA : Generasi 'Gibran' dan Tantangan Literasi  

Spectacle dan Kapitalisme mengeksploitasi hasrat dan kekurangan bawaan kita. Hasrat dan perasaan kurang yang semula muncul karena keterbatasan manusia dalam memahami bahasa, kini hasrat tersebut telah dijinakkan dan direkonstruksi demi berjalannya sebuah sistem perekonomian.

Setelah semua itu, satu pikiran yang penting untuk disadari ialah kita tidak akan pernah bisa menghilangkan kekurangan eksistensial secara final, apapun objeknya dan berapapun harganya. Kekurangan yang kita kejar selama ini mungkin suatu kekurangan imitasi buah dari tontonan sehari-hari.

Kekurangan akan terus melingkar, keinginan demi keinginan, hasrat demi hasrat. Sebab hasrat memang tidak pernah benar-benar berakhir, lantas coba berhenti sejenak sebelum bekerja mati-matian demi objek yang, cepat atau lambat, akan digantikan versi barunya lagi.

 

 

*Penulis merupakan mahasiswa Psikologi di Universitas Negeri Surabaya