Hidup dalam omong-omong belaka sungguh menyebalkan. Setiap hari mendengar kata-kata manis yang nyaring tidak berisi. Berjanji menawarkan...
Pertama-tama, sebelum kita mengulas apa yang ada pada judul tulisan ini, saya ingin mengingatkan kepada teman-teman pembaca, kalian bisa menyusun...
Ibu-ibu di Kampung Dupak Magersari, Surabaya, kini bisa bernafas lega di rumah mereka. Gerakan kolektif yang diinisasi kaum perempuan di sana,...
Mengutuk segala bentuk penindasan di tanah Papua. Ketika suara rakyat Papua dibungkam, ruang sipil dipersempit, dan berbagai pelanggaran HAM tak...
Sejumlah anak bermain layang-layang meski kondisi panas. Cuaca ekstrem juga dirasakan oleh mereka. (Robertus Risky/ Project Arek)
Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
SUMUK menjadi kata yang lazim diucap warga Kota Pahlawan hari-hari ini. Dalam bahasa Indonesia, sumuk berarti gerah atau terasa panas di dalam ruangan yang lembap. Respons tubuh biasanya berkeringat, gatal, dan memerah. Sumuk dirasakan warga yang tinggal di kawasan permukiman padat penduduk di Surabaya, Dupak Magersari namanya. Warga di sana punya cerita bagaimana menghalau suhu ruangan di rumah mereka yang teramat panas.
Wiwik melipat pakaian ditemani tiga kipas angin di rumahnya karena tak kuat menahan hawa panas di dalam rumahnya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Kondisi ini dialami keluarga Wiwik Sukarsi (43), bersama suami, tiga orang anak, serta menantu dan cucunya. Ia menuturkan, tingkat panas yang terjadi membuatnya bersiasat dengan menyediakan 6 kipas angin dalam satu rumah. Jangan bicara air conditioner (AC). Selain tak sanggup membeli dan membayar tagihan listriknya, daya listrik di rumahnya tak cukup besar untuk menanggung beban.
"Kipas angin wajib ada di rumah. Soalnya di dalam rumah panas banget, gak kuat. Jadi kipas harus nyala 24 jam," tutur ibu tiga anak tersebut.
Ya, sekali lagi, kipas angin harus menyala terus-menerus untuk menghalau suhu panas ruangan. Baginya kipas angin merupakan hal utama dalam kehidupannya. Kondisi rumah yang kecil dengan atap rumah rendah, membuat suhu di rumahnya terasa panas. Namun, tak jarang kincir kipas hanya memutar-mutar suhu panas itu belaka.
"Kalau siang hari di dalam rumah suhunya bisa sampai 34 derajat mas. Sumuk pol, Mas. Kipas e kadang ga ngatasi (kipas angin terkadang tidak berpengaruh)," imbuhnya sembari menahan panas.
Tak hanya Wiwik yang merasakan, Mulyadi, suaminya, ikut merasakan suhu panas di dalam rumah. Itu membuat dirinya meningkatkan kecepatan kipas angin ke level paling tinggi. Suhu udara di rumah Wiwik bisa terasa lebih panas dari suhu udara yang tercatat. Sebab, tingkat kelembapan, jarak atap dengan lantai dan material rumah sangat berpengaruh pada suhu yang dirasakan.
"Saya kalau di rumah sering pakai kaus kutang, Mas. Kebiasaan dari kecil juga. Ditambah di rumah panas. Apalagi waktu buat dandang. Wajib ada nyalakan kipas," ungkap Mulyadi.
Mulyadi dan Wiwik beraktivitas di rumahnya. Untuk mengusir hawa panas di dalam rumahnya, ia memasang banyak kipas di setiap ruang. (Robertus Risky/ Project Arek)
Selama tinggal di perkampungan padat penduduk, tak jarang warga pun ikut serta merasakan kenaikan suhu. Kondisi panas ini membuat mereka terpaksa melepas baju untuk menghindari rasa gerah dan keringat. Hal itu juga dialami putra dari Wiwik. "Kalau tidur wajib di depan kipas, Mas. Kalau gak ada kipas, gak bisa tidur. Sumuk," tutur Galuh Dwi Firmansyah, anak Wiwik.
Panas juga berpengaruh pada kesehatan Wiwik. Ia mengeluhkan efek dari perubahan cuaca mengakibatkan penurunan daya tahan tubuhnya. Ia mengaku sering mengalami batuk kering. Kondisi itu menghambat aktivitasnya. Ia dan keluarga tak begitu memahami apa dampak bagi tubuhnya akibat terpapar kipas angin terus menerus. Yang jelas, kipas angin bersifat wajib, bukan pilihan.
Mulyadi dan Wiwik Sukarsi berpose dengan cucu dan anaknya di rumahnya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Wiwik tak memahami apa itu krisis iklim dan deretan istilah yang berkelindan dengan pemanasan global. Ia hanya tahu, panasnya Surabaya terus menjadi-jadi. Yang dirasakan Wiwik sebenarnya tercatat pada data NASA POWER/MERRA-2 yang disajikan di laman iklimkita.org. Pada 2024, suhu udara di Surabaya mengalami kenaikan 1 derajat. Meski 1, tapi ini bukan angka main-main.
Efek domino kenaikan suhu 1 derajat ini memicu gelombang panas ekstrem, gangguan siklus hidrometeorologi, bencana, suhu muka laut meningkat, kekeringan, dan masih banyak lagi. Dampak ekonominya, setidaknya yang dialami Wiwik, penggunaan kipas angin berlebih di rumah memicu meningkatnya pengeluaran keluarga untuk membayar tagihan listrik.
"Sebulan bisa habis 500-600 ribu rupiah. Karena daya listrik besar juga. Sama ditambah mesin buat dandang. Tapi itu jarang nyala," keluhnya. Wiwik berharap kondisi lingkungan dapat kembali sejuk dan tidak terlalu panas.
Kondisi rumah yang padat berdampak pada hawa panas di rumah Wiwik. (Robertus Risky/ Project Arek)
Rumah-rumah di kawasan ini banyak yang terbuat dari seng dan beratap asbes. Berdiam diri di dalam saja, Anda bisa merasakan suhu panas ruangan. Perkampungan ini padat penduduk dengan ruas jalan kampung yang sempit, minim sirkulasi udara. Tutupan pohon juga jarang, ini menambah efek panas yang dirasakan lebih tinggi dari suhu yang tercatat.
Peningkatan cuaca panas tidak hanya dirasakan orang dewasa. Itu juga berdampak pada anak-anak. Suhu panas yang dirasakan warga kampung ini, terutama anak-anak, membuat kulit mereka ruam dan gatal-gatal. Kulit anak-anak memang lebih sensitif terhadap panas. Biasanya, ibu-ibu di sana meyebutnya keringat buntet atau biang keringat.
Warga lain, Tri Nawang Sari (36) mengeluhkan dampak terhadap putranya. Kondisi panas yang melanda rumahnya, buah hatinya sering mengalami biang keringat hingga kulitnya memerah dan gatal. "Anak-anak saya kalau panas pasti langsung keluar keringat buntet, Mas. Bintik-bintik merah di dahi sama di tangan," ungkap perempuan asal Tulungagung itu.
Faryza Eshan Efendy (5), anak Nawang, mengalami biang keringat di dahinya akibat dari cuaca panas. (Robertus Risky/ Project Arek)
Nawang menunjukkan biang keringat yang dialami anaknya di sekitar area tangan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Untuk meminimalkan dampak biang keringat, biasanya ia melumuri putra bungsunya dengan bedak khusus, serta memandikannya terlebih dahulu sebelum tidur. Panas membuat putranya sering rewel dan terbangun saat tidur. Sekali lagi, kipas angin menjadi solusi realistisnya agar anaknya tak kepanasan dan entah apa lagi dampak buruk bagi kesehatan anaknya.
Nawang sendiri pindah ke Surabaya sejak tahun 2011. Tinggal bersama mertua dan suaminya, di rumahnya yang berukuran sekitar 6 meter persegi. Terdapat 5 kipas angin di rumah mungil itu. Ada 4 di lantai bawah dan satu di lantai atas. Dirinya mengeluhkan, akhir-akhir ini kondisi Surabaya sangat panas dibanding sebelumnya. Bahkan, kata Nawang, mertuanya sendiri memasang kipas di kamar mandi.
"Saya pindah di sini, kipas angin yang ada di kamar mandi itu sudah ada, Mas. Dulu mertua saya yang pasang. Katanya tidak kuat panasnya,” ujarnya sembari tersenyum.
Ia menambahkan kondisi panas di tempat tinggalnya mulai dari pukul 10.00 WIB sampai 15.00 WIB. Ya, rata-rata suhu di kawasan itu tercatat 34 derajat, namun terasa lebih panas, 35 derajat. Meski tak banyak melakukan aktivitas di luar rumah, ia juga merasakan kondisi panas di dalam rumahnya, sehingga tak jarang ia sering berkeringat meski tidak melakukan aktivitas berat.
Suhu udara di rumah Nawang yang panas berdampak pada ia dan keluarganya yang harus menggunakan tujuh kipas angin. (Robertus Risky/ Project Arek)
Di sisi lain, ada warga yang meraup untung dari situasi ini. Mujiyono (67), salah satunya. Ia membuka jasa reparasi peralatan elektronik, salah satunya kipas angin. Sejak lima tahun yang terakhir, ia menuturkan di musim panas, dirinya mampu mengerjakan sembilan sampai sepuluh unit kipas angin. Rata-rata kerusakan kipas angin yang ia tangani, disebabkan pemakaian yang tiada henti.
Mujiyono (67) melakukan perbaikan kipas milik warga di rumahnya, Jalan Purwodadi, Surabaya. Utamanya karena dinamo dan pemutar kipas yang rusak. Ia menuturkan bahwa cuaca panas membuat orderan untuk perbaikan kipas angin meningkat. (Robertus Risky/ Project Arek)
"Rusaknya biasanya dinamonya kobong (terbakar), Mas. Keseringan dipakai, terus mesin putarnya rusak. Harusnya itu dikasih oli supaya licin," ungkap pria paruh baya itu. Ia juga menjual kipas angin bekas siap pakai. Harganya dibanderol mulai Rp150 ribu hingga Rp400 ribu. Sedangkan untuk reparasi, jasanya dipatok Rp35 ribu sampai Rp90 ribu bergantung tingkat kerusakan.
"Pernah cuma terima Rp5 ribu, Mas. Soalnya pelanggan ada yang gak mampu bayar. Hitung-hitung bantu, Mas. Soalnya di rumah pelanggan panas," pungkasnya.
Seorang warga tidur di depan rumahnya, Jalan Dupak Magersari, Surabaya. Cuaca panas mengakibatkan warga terpaksa melepas pakaiannya saat beraktivitas di luar rumah. (Robertus Risky/ Project Arek)
*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.
Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Sidoarjo
Seorang warga beraktivitas di atas tanggul penahan lumpur di Desa Polo Gunting, Sidoarjo. Meski telah berlalu 20 tahun sejak bencana Lumpur Lapindo terjadi, titik semburan masih aktif mengeluarkan lumpur dan gas hingga saat ini. Robertus Risky/Project Arek
DUA puluh tahun sudah semburan Lumpur Lapindo berlangsung. Ia tak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya malih rupa. Dari bencana menjadi kondisi, dari kondisi menjadi kehidupan sehari-hari yang terpaksa diterima tanpa pilihan. Dan 29 Mei 2006 menjadi titik kisar kehidupan warga. Rumah-rumah kelelep (tenggelam).
Namun, yang paling dalam tenggelam tak pernah bisa diukur dengan meteran. Itu adalah hidup, sejarah, ingatan, kenangan, kehidupan sosial mereka di tempat yang disebut desa. Tak tergantikan walau rumah baru terbeli dari uang ‘ganti untung’. Tak semua bisa dibeli karena tak semua bisa dinilai dengan uang, seperti yang kapitalis itu kira.
Sofiatul Izzah bersama sejumlah tetangganya bekerja sebagai pengupas udang untuk tambahan penghasilan mereka. Robertus Risky/Project Arek
Sofiatul Izzah tidak pernah benar-benar berhenti bekerja sejak tragedi itu. Seusai subuh, ia duduk bersama enam belas tetangganya, rata-rata perempuan, mengupas udang sebagai penghasilan tambahan. Suaminya, Khusairi, pergi ke ladang sewaan, yang kini sebagian besar tak lagi bisa ditanami.
Air tanah terkontaminasi. Pendapatan menyusut. Dan setiap tahun, satu setengah juta rupiah harus dikeluarkan bukan untuk menabung atau memperbaiki nasib, melainkan sekadar menambal dinding rumah yang terus keropos terkelupas digerus udara bercampur gas.
Ketika sebuah rumah tidak lagi bisa melindungi penghuninya dari udara di luarnya, apa yang tersisa dari gagasan tentang rumah? Gas yang sama, bau yang khas, itu sudah mereka hisap sejak 20 tahun silam. Tubuh mereka dipaksa menerima oksigen bercampur gas itu.
Eva, putri tunggal mereka, tumbuh dalam pertanyaan yang tidak pernah terjawab itu. Gatal-gatal dan sesak napas sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Yang lebih dalam menghantuinya adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kamera. Inikah yang dianggap tuntas itu? Masalah hidup korban Lumpur Lapindo tak pernah tuntas.
“Yang selalu saya ingat ketika melihat lumpur Lapindo, ya kenangan tentang rumah nenek.” Kini, rumah itu ditelan lumpur, dan hanya bisa ia kunjungi dalam ingatan.
Suti’ah (kiri) dan Suryanto (kanan) berdiri di lokasi bekas rumah mereka yang terdampak perluasan tanggul. Mereka mengenang rumah dan kehidupan yang pernah tumbuh di tempat itu.
Sedang di fase yang lain, Suti'ah dan Suryanto menanggung kehilangan berlapis. Rumah lama digusur sebab perluasan tanggul. Memutuskan pindah ke sebuah kampung yang hanya selemparan batu jaraknya dengan tembok beton penahan lumpur. Mereka bertahan bertetangga dengan ancaman. Anak yang enggan jauh dari kawan sepermainan adalah alasannya. Sekali lagi, tak banyak pilihan bagi mereka.
Dulu, usaha tas rengkek mereka adalah salah satu yang terbesar di kawasan Porong dan Tanggulangin. Lima karyawan, pasar yang hidup, masa depan yang bisa dibayangkan. Semuanya berubah setelah lumpur datang. Penghasilan anjlok hingga tujuh puluh persen.
Tiga liter air harus dibeli saban hari. Mobil dijual. Barang-barang lain menyusul. Dan kecemasan itu terus bergentayangan. Terlebih, sejak tanggul penahan lumpur sempat jebol beberapa tahun silam, mengingatkan mereka bahwa tragedi bisa sewaktu-waktu hadir tanpa peringatan.
Suti’ah (kiri) dan Suryanto, mengerjakan pembuatan tas obrok di Rumahnya, Desa Polo Gunting, Tanggulangin, Sidoarjo. Robertus Risky/Project Arek
Tanah yang menolak bibit, udara yang mengandung gas, air yang harus dibeli. Semuanya berlangsung tanpa ledakan, tanpa momen tunggal yang bisa dijadikan berita. Itulah yang membuatnya mudah diabaikan. Oleh media, oleh pemerintah, oleh korporasi yang sudah lama mengalihkan perhatian ke tempat lain. Dan itulah yang membuatnya berbahaya.
Di sinilah letak kekerasan yang paling sulit untuk difoto. Ia tidak meledak, tidak mengalir deras, tidak menangis di depan kamera. Ia bekerja perlahan. Dalam tubuh yang gatal, dalam paru-paru yang keropos, dalam tanah yang tandus, dalam dinding yang lapuk, dalam kenangan yang tidak lagi punya tempat untuk pulang.
Kekerasan yang sudah tidak lagi terlihat seperti kekerasan, justru karena negara dan korporasi telah berhasil mengubahnya menjadi keseharian yang mau tak mau harus diterima. Semua dianggap selesai, tuntas. Padahal, getir hidup terus mengalir seperti lumpur itu sejak dua dekade silam. Tubuh dan pikiran dipaksa bertahan, berjejal dengan kenangan yang dijaga.
Eko Saifudin (40) mengisi jeriken dengan air bersih yang akan dijual kepada warga, termasuk Suryanto. Akibat kondisi air yang tercemar, banyak warga terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam sepekan, satu keluarga setidaknya membutuhkan 5–6 liter air bersih. Air tersebut dijual seharga Rp3.000 per liter. Robetus Risky/Project Arek
Karya-karya dalam foto yang dipamerkan memperingati 20 tahun tragedi itu, tidak hadir untuk mendramatisasi penderitaan. Derita mereka tak butuh lensa untuk terlihat. Foto-foto ini hadir untuk menolak jarak yang terbentuk ketika sebuah tragedi perlahan bergeser dari halaman depan menjadi catatan kaki, dari berita menjadi arsip, dari krisis menjadi sesuatu yang dianggap sudah tuntas padahal sedikit pun belum.
Dengan menempatkan Yuli, Khusairi, Eva, Suti'ah, dan Suryanto sebagai pusat narasi visual, pameran ini menolak cara pandang yang mereduksi mereka menjadi angka kerugian atau sebatas data korban. Mereka adalah manusia, punya nama, kenangan, rasa kehilangan yang sangat kompleks.
Dan hak-hak dasar mereka selama dua dekade terus dirampas tanpa ada yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban. Pada akhirnya, pameran ini adalah tentang deru napas yang terus mencari jalan sintas. Tentang kehidupan jentaka yang belum khalas. Dari tepian tanggul itu, suara masih bergema. Dua puluh tahun. Dan, sudahkah kita menjawabnya?
Suryanto menunjukkan air keruh di rumahnya yang tercemar. Robertus Risky/Project Arek
Sisa bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Islamiah menjadi saksi yang masih bertahan di tengah hamparan lumpur. Dinding-dinding yang tersisa menyimpan jejak kehidupan, tawa anak-anak, dan aktivitas belajar yang pernah mengisi ruang-ruangnya sebelum semuanya berubah. Robertus Risky/Project Arek
Hingga pertengahan tahun 2026, semburan lumpur beracun itu masih berlangsung, meskipun tidak lagi sebesar ketika awal menyembur. Volume semburan kini bersifat fluktuatif, dengan rata-rata mencapai sekitar 86.270 m³ per hari. Belum lagi gas metana yang dikeluarkan yang mencapai 100.000 ton per tahun.
Penelitian yang dilakukan WALHI Jawa Timur menunjukkan, adanya kandungan logam berat seperti timbal, tembaga, dan kadmium, serta senyawa PAH yang jauh melampaui ambang batas aman. Kandungan gas itulah yang saban hari dihirup warga. Hidung mereka tak memilah udara jenis apa yang bisa dihirup, sampai tubuh merespons dampaknya.
Pencemaran karena lumpur ini tak henti-hentinya dialami warga. Dampaknya langsung pada kesehatan mereka, yang ditandai dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, risiko stunting pada anak-anak, serta berbagai gangguan kesehatan lainnya akibat kualitas air dan udara yang teramat buruk.
Dengan semua yang mereka alami hingga saat ini, lalu bisakah kita semua mengatakan, “Ah, warga korban Lumpur Lapindo sudah hidup enak setelah dapat ganti untung?”
Patok penanda ketinggian lumpur bercampur air masih tertancap di bantaran tanggul, menjadi saksi bisu perubahan lanskap yang ditinggalkan tragedi Lumpur Lapindo. Penanda sederhana itu menunjukkan seberapa tinggi lumpur pernah menggenangi kawasan ini, sekaligus mengingatkan bahwa jejak bencana yang terjadi dua dekade lalu masih membekas hingga kini. Robertus Risky/Project Arek
Foto udara permukiman warga yang berhadapan langsung dengan tanggul penahan lumpur. Kehidupan mereka tak pernah lepas dari rasa waswas akan kemungkinan tanggul jebol, ancaman yang pernah menjadi kenyataan beberapa waktu silam. Robertus Risky/Project Arek
Titik-titik air yang mengandung garam muncul di permukaan dinding rumah Sofiatul Izzah di Desa Glagaharum, Porong, Sidoarjo. Saat mengering, air tersebut meninggalkan bercak putih yang menempel di tembok. Robertus Risky/Project Arek.
Seorang warga beraktivitas di sekitar tanggul saat sore hari. Di balik rutinitas yang tampak biasa, tersimpan kecemasan akan kemungkinan terulangnya jebolnya tanggul seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Robertus Risky/Project Arek
Pencemaran akibat Lumpur Lapindo tak hanya dirasakan manusia. Ekosistem di sekitarnya turut terdampak, mengganggu kehidupan berbagai makhluk hidup yang bergantung pada lingkungan tersebut. Robertus Risky/Project Arek
*Foto cerita ini adalah hasil kolaborasi projectarek.id dengan Walhi Jatim dalam memperingati Hari Anti Tambang (HATAM) yang diperingati setiap 29 Mei. Project Arek menjadi media partner HATAM 2026 yang digelar pada 29-30 Mei 2026 di Porong, Sidoarjo.
Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
SETIAP PAGI bagi Samlah tak ubahnya seperti pagi-pagi sebelumnya. Bangun subuh, salat, kemudian ke Pasar Pabean. Demikian terus ia mengulang hidupnya setiap hari, sampai-sampai ia lupa sudah berapa lama menjalani aktivitas mengupas dan mengangkut karungan bawang. Tentu ia tak sendiri. Ada puluhan perempuan sepertinya yang menggantungkan nasib di pasar itu.
Suilah (31), Selami (60), dan Samlah (42) mengusung bawang merah untuk dipindahkan ke truk dan di kirim ke Kalimantan. Orderan mendadak membuat Samlah pulang hingga larut malam, bahkan dini hari. (Robertus Risky/ Project Arek)
Sinar matahari menyorot wajah puluhan perempuan buruh angkut. Teriknya kota metropolitan, membuat keringat mengucur meresap di pakaian, menambah berat beban yang harus mereka pikul. Peluh lelah mereka tenggelam dalam riuh tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Mereka sabar menanti datangnya permintaan mengangkut kerupuk, bawang putih, bawang merah, dan sebagainya.
Samlah dan puluhan perempuan ini, sanggup mengangkat beban seberat 25 sampai 30 kilogram dengan kepalanya. Ya, beban diletakkan tepat di atas kepala mereka. Beban berat yang mereka panggul, demi meringankan beban ekonomi. Semakin banyak yang diangkat, semakin banyak rupiah yang didapat. Suami Samlah, juga bekerja sebagai kuli angkut di Pelabuhan Tanjung Perak.
Tak jarang kelelahan tak tertahankan dan risiko kerja mereka hadapi. Namun mereka tak punya pilihan lain. Sulitnya mencari pekerjaan yang layak jadi salah satu penyebabnya. "Dulu awal-awal kerja, Mas, kepala sering sakit dan leher terkilir, Mas. Tapi lama-kelamaan sudah biasa," ungkap perempuan 42 tahun kelahiran Kabupaten Sampang, Madura itu.
Samlah mengaku, terpaksa. Menjadi kuli angkut bukanlah pilihannya. Meski suaminya melarang, ibu dua anak itu untuk bekerja sebagai buruh angkut dan pengupas bawang putih.Tak banyak yang bisa dilakukan untuk bertahan hidup di Surabaya. Ketidakpastian ekonomi pasutri ini merantau ke Surabaya. Alih-alih mendapatkan kesejahteraan, ia malah berhadapan dengan kerasnya kehidupan kota.
"Ya mau gimana lagi, Mas, meski susah kayak gini, Mas, soalnya anak ya butuh (biaya) sekolah kalau bisa sampai kuliah," tuturnya. Tentu ia tak ingin anak-anaknya mewarisi pekerjaan ini. Ia tak sampai hati melihat anaknya merasakan beratnya bekerja sebagai kuli angkut. Ia tak ingin itu terjadi.
Selami (60), Suilah (31), dan Samlah (42) mendapatkan orderan tambahan untuk mengemas bawang merah, untuk di kirim ke Pulau Kalimantan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Samlah memindahakan bawang merah untuk di angkut menuju pelabuhan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Dengan bermodalkan tekad untuk merantau, ia rela meninggalkan kampung halaman dan berharap keluarganya bisa sejahtera, sehingga dapat mencari hunian sederhana untuk keluarganya. "Saya di sini kontrak di daerah Jalan Hang Tuah, Mas. Satu tahun sekitar 1,5 juta mas. Ya, tinggal seadanya mas," kata Samlah.
Sehari-hari ia sanggup mengangkut 3 karung bawang putih dengan upah 5.000 rupiah. Itu sudah termasuk jasa mengupas kulit luar bawang putih. Ia juga harus mengupasnya kemudian disetorkan kepada tengkulak di pasar. Tenaga dan kerja kerasnya tak sebanding dengan pendapatnya. Hal itu ia jalani sejak tahun 2022.
Samlah memilah bawang merah di Pasar Pabean. Aktivitas ini ia lakoni setiap hari. Selama ada yang membutuhkan jasanya, selama itu ia akan bekerja. Samlah menghidupi kedua orang anaknya, yang satu masih sekolah dan lainnya telah menikah. (Robertus Risky/ Project Arek)
"Ya, kalau dibilang cukup ya tidak cukup. Uang saku sekolah anak saya aja 10.000. Tapi ya gimana lagi mas, dijalani aja. Saya sendiri ya gak mau merepotkan saudara-saudara," katanya.
Samlah menuturkan, karena dirinya bekerja sebagai buruh angkut serabut, pendapatannya pun tidak pasti. Paling banyak ia pernah mengupas 3 hingga 5 karung. Tergantung banyaknya orderan yang diminta para pelanggan dan tengkulak. Untuk mengupas satu karung kulit luar bawang putih sendiri. Ia menghabiskan waktu kurang lebih 15 hingga 20 menit.
Pertama kali menjajaki pekerjaan itu dirinya pernah mengalami luka ditangan. "Perih di mata dan kulit tangan, Mas. Sampai tangan saya panas dan luka kecil di tangan. Dulu awal-awal juga perih di mata. Sekarang sudah biasa. Dijalani aja, namanya juga kerja,” tuturnya lirih.
Meski rasa capek dan kecemasan melandanya, Samlah tak pernah merasakannya. Yang terpenting baginya, hidupnya dan keluarga harus terus berjalan. Hasil dari menjadi kuli angkut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Itu yang terpenting, kata Samlah.
Ia berharap anak bungsunya yang saat ini mengenyam pendidikan di lingkungan pondok pesantren mampu berkuliha hingga sarjana. "Kadang kalau dipikir pusing, Mas. Waktu itu anak saya bilang kalau ingin berkuliah. Bingung uang dari mana, minta bantuan ke siapa. Tapi dilihat nanti aja ke depannya. Saya berusaha supaya dia bisa kuliah,” imbuhnya sembari tersenyum tipis.
Kegigihan dan asanya tak menyurutkan Samlah untuk mandiri secara ekonomi. Walaupun rejeki tak kunjung datang.
Samlah dan Misgimah mengupas bawang putih di sela-sela gang perkampungan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Hidup di pasar tak pernah menentu. Pernah juga berhari-hari ia tak mendapatkan pelanggan sama sekali. Ia hanya bisa menunggu dengan cemas di sebuah gudang dan pulang dengan tangan kosong. Pekerjaan ini, membuatnya sulit berkumpul bersama keluarga. Setibanya di rumah, tubuhnya terasa lelah untuk sekadar bercengkrama.
"Pernah berangkat jam 8 pagi baru pulang jam 2 dini hari, Mas. Dapat telepon mendadak dari juragan. Jadinya lembur, saya telepon suami ngasih kabar," imbuhnya.
Karena usia yang tak lagi muda, Misgimah hanya mampu mengangkut 2 karung bawang perhari. (Robertus Risky/ Project Arek)
Misgimah mengupas kulit luar bawang putih di gang-gang kampung dekat pasar Pabean, Surabaya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Tua muda, berkumpul menjadi satu di pasar ini. Misgimah, perempuan 75 tahun menjadi kuli angkut dengan tubuhnya yang terus merenta. Dahulu ia merantau ke Surabaya bersama suami. Namun suami meninggal karena sakit beberapa tahun lalu. Nenek dengan 12 cucu itu kini hidup di sepetak kamar kontrakan.
Ia menekuni pekerjaan sebagai buruh angkut untuk memenuhi kebutuhan kedua anak dan cucu yang berada di Madura. Beberapa anaknya masih bekerja serabutan, sehingga mau tak mau Misgimah ikut membantu memberi uang buat cucunya.
Misgimah berangkat pukul 5 pagi dan bekerja hingga 4 sore. Meski usianya tak lagi muda dan fisiknya terus melemah, ia tetap menekuni pekerjaan yang menguras tenaga demi bisa bertahan hidup. Karena fisik yang mulai terbatas, tak jarang dirinya hanya mampu mengangkat 1 sampai 2 karung bawang putih per hari.
Terkadang juga ia tertolong mendapatkan orderan dari langganannya untuk mengangkut kebutuhan lain, seperti kerupuk mentah. Untuk mendapatkan penghasilan tambahan, ia juga membantu warga sekitar di warung makanan di sekitar pasar dengan upah perharinya Rp55 ribu. "Saya juga nyambi bantu-bantu jualan nasi Bu RT di sini, Mas. Sama jualan kue. Kalau cuma jadi kuli angkut saja, ya tidak cukup," ceritanya.
Misgimah mencuci beras dan menanak nasi di warung makan dekat Pasar Pabean, Surabaya. Tidak hanya menjadi buruh angkut, dirinya pun kerja serabutan membantu usaha warga yang berjualan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Bawang merah menjadi salah satu komoditas utama yang diperdagangkan di Pasar Pabean. Samlah, Selami, Suilah dan puluhan perempuan lainnya menguas bawang-bawang secara manual. Bawang kupasan lantas dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. (Robertus Risky/ Project Arek)
Samlah bersama salah satu pelanggan yang menggunakan jasanya. Dalam satu hari, rata-rata ia bisa mengantongi Rp50 ribu. Uang itu ia dapatkan dari aktivitas mengupas bawang sekaligus menjadi buruh kuli angkut. (Robertus Risky/ Project Arek)
Uang hasil kerjanya, Samlah gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Usia tak bisa menipunya. Samlah mengaku, selama kondisi tubuhnya masih kuat, ia akan terus bekerja sebagai pengupas bawang dan kuli angkut. (Robertus Risky/ Project Arek)
Selami menenggak air minum dalam kemasan yang dibawanya. Cuaca terik, suhu udara di Pasar Pabean yang lembab dan aktivitas fisik berat yang dilakoninya, membuatnya cepat haus. Dalam satu hari, ia biasa menghabiskan 1,5 liter air. (Robertus Risky/ Project Arek)
Di sela hiruk-pikuk pekerjaan, Suilah dan Samlah sesekali mencuri waktu untuk duduk melepas lelah. (Robertus Risky/ Project Arek)
Potrait Selami duduk di atas karung-karung bawang merah. Setiap hari, ia bergulat dengan bawang merah yang membuat mata perih. Baginya, pekerjaan mengupas bawang dan menjadi kuli angkut pasar menjadi pilihan terakhir untuk berjuang hidup di Surabaya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Penulis: Messa Adi Saputra
Fotografer: Messa Adi Saputra
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Yogyakarta
KENDARAAN roda tiga itu menjadi ciri khas Difa Bike di jalanan Yogyakarta. Bentuknya berbeda dari sepeda motor pada umumnya. Dengan modifikasi tertentu, kendaraan ini dirancang agar dapat digunakan oleh pengemudi dengan kondisi fisik yang berbeda, sekaligus memberikan ruang yang lebih aman dan nyaman bagi penumpang yang membutuhkan aksesibilitas tambahan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Antok, kembali bekerja sebagai pengemudi adalah sesuatu yang dulu terasa hampir mustahil. Satu hal yang sempat hilang dan kini hadir kembali. Hidupnya memang tak bisa lepas dari jalanan.
Antok (45) merupakan salah satu driver Difa Bike. Pengalaman Antok yang lama di jalanan sebagai supir bus pariwisata memudahkannya beradaptasi sebagai driver Difa Bike. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Antok, kembali bekerja sebagai pengemudi adalah sesuatu yang dulu terasa hampir mustahil. Satu hal yang sempat hilang dan kini hadir kembali. Hidupnya memang tak bisa lepas dari jalanan.
Pada 2013, ia mengalami kecelakaan tunggal saat mengemudikan bus pariwisata. Peristiwa itu mengubah segalanya. Kecelakaan tersebut, membuat salah satu kakinya harus diamputasi. Hidup Antok hancur dan ia sempat putus asa. Kaki yang menghidupinya, sudah tak lagi dimilikinya.
Setelah menjalani masa pemulihan, hidup Antok berubah drastis. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, membantu pekerjaan orang tuanya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi barunya. Di masa itu, tak sedikit pun terbersit olehnya bisa kembali mengemudikan kendaraan di jalanan.
Antok menggunakan kaki palsu sebagai alat bantu untuk bekerja menjadi driver Difa Bike. Antok mempunyai beberapa kaki palsu, akan tetapi banyak yang sudah rusak. (Messa Adi Saputra)
Empat tahun kemudian, tepatnya 2017, sebuah rekomendasi dari keluarga membawanya mengenal Difa Bike. Dari sanalah Antok perlahan menemukan kembali kesempatan untuk bekerja. Kali ini bukan bus, melainkan sepeda motor. Harapannya membuncah. Hidup Antok kembali bergairah.
Karena sebelumnya sudah terbiasa mengemudikan kendaraan besar seperti bus pariwisata, Antok tidak mengalami banyak kesulitan saat mulai mengendarai motor roda tiga yang digunakan oleh Difa Bike. Kendaraan tersebut telah dimodifikasi agar dapat digunakan oleh pengemudi dengan kondisi fisik yang berbeda seperti dirinya. Berat yang ia rasakan, dibayar rasa sabar dan tekun.
Kesulitan yang ia rasakan di awal justru bukan pada kendaraan, melainkan pada pelanggan yang masih sedikit. “Awal itu, masih sulit, Mas. Untuk urusan pelanggan, masih sepi,” ujarnya mengingat masa-masa pertama bekerja.
Seiring waktu, situasi perlahan berubah. Pelanggan mulai berdatangan dan beberapa di antaranya bahkan menjadi pelanggan tetap. Bu Yosin, misalnya, sering menggunakan jasa Antok untuk pergi ke rumah sakit. Ada pula Pak Irvan dan Bu Rubiyem, penyandang tuna netra yang rutin menggunakan layanan Antok untuk pergi ke pengajian.
Irvan (kiri) dan Rubiyem (kanan), merupakan pasangan suami istri penyandang tuna netra. Keduanya sering menggunakan jasa Antok. (Messa Adi Saputra)
Antok sedang mencoba menghidupkan motor roda tiganya. Antok akan mengantarkan pulang Pak Irvan dan Bu Rubiyem ke rumah. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian pelanggan, layanan seperti ini bukan hanya soal transportasi. Kehadiran pengemudi yang memahami kondisi penyandang disabilitas lainnya, membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Hubungan yang terbangun seringkali lebih personal, alih-alih sekedar penumpang dan pengemudi. Sebab, mereka memiliki pengalaman hidup yang tidak jauh berbeda.
Hubungan yang terjalin seringkali berkembang menjadi lebih dari sekadar hubungan jasa transportasi. Dalam perjalanan-perjalanan singkat itu, percakapan sederhana sering terjadi, menghadirkan rasa saling memahami di antara mereka. Namun perubahan terbesar yang Antok rasakan bukan hanya soal pekerjaan atau penghasilan.
“Rasa minder itu hilang, Mas,” katanya pelan. “Kalau waktu di kampung, cuma saya sendiri yang seperti ini. Tapi di sini jadi ada temannya.”
Antok menjemput Bu Yosin di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Bu Yosin sering menggunakan jasa Antok untuk mengantarkannya kontrol rutin dan mengantarkan untuk mengahmpiri teman-temannya. (Messa Adi Saputra)
Di Difa Bike, ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman hidup yang tak jauh berbeda. Ia tak lagi merasa sendiri. Mereka saling berbagi cerita, saling memahami, dan perlahan membangun kembali kepercayaan diri yang sempat hilang.
Sepuluh tahun lalu, Difa Bike bermula dari sebuah keinginan sederhana: bisa pergi ke mana saja dengan leluasa. Bagi banyak orang, hal tersebut mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Namun bagi penyandang disabilitas, mobilitas sering kali menjadi tantangan tersendiri. Akses transportasi yang terbatas membuat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain tidak selalu mudah.
Triyono (43), pendiri Difa Bike, memahami pengalaman itu secara langsung. Ia sendiri merupakan seorang penyandang tuna daksa. Sebelum mendirikan Difa Bike, Triyono menjalankan beberapa usaha di Yogyakarta, mulai dari usaha konveksi hingga membuka sebuah kafe. Kafe tersebut kemudian menjadi tempat berkumpulnya komunitas difabel di kota itu.
Dari obrolan-obrolan santai di tempat itu, berbagai pengalaman mulai dibagikan. Banyak di antara mereka menceritakan kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika harus bepergian atau mencari pekerjaan. Percakapan sederhana itu perlahan membentuk pemahaman yang lebih dalam tentang kebutuhan nyata yang dihadapi komunitas difabel.
Triyono (43) inisiator Difa Bike sedang bersiap untuk pergi menghadiri sebuah acara di dekat rumahnya dengan motor roda tiganya. (Messa Adi Saputra)
Dari situlah, Triyono mulai mendengar berbagai cerita tentang kesulitan yang dihadapi oleh teman-teman difabel. Cerita tentang sulitnya mendapatkan pekerjaan, keterbatasan akses pendidikan, hingga hambatan dalam mobilitas sehari-hari.
“Banyak cerita tentang kesulitan yang dialami teman-teman difabel. Sulit dapat kerja, mobilitasnya sulit juga,” kata Triyono. Salah satu pengalaman yang cukup sering ia dengar berkaitan dengan penggunaan transportasi umum maupun layanan ojek online.
“Kalau pakai kursi roda terkadang sulit akses saat menggunakan jasa ojek online mainstream,” ujarnya. Dari situ, muncul gagasan untuk menciptakan layanan transportasi yang dapat menjawab dua kebutuhan sekaligus: memudahkan mobilitas bagi penyandang disabilitas, sekaligus membuka peluang kerja bagi mereka.
Difa Bike kemudian hadir sebagai ruang untuk mewujudkan gagasan tersebut. Sepeda motor dimodifikasi dengan tambahan 1 roda ladi. Penyandang disabilitas tidak hanya dapat menggunakan layanan transportasi ini sebagai penumpang, tetapi juga sebagai pengemudi. Bagi sebagian pengemudi, ini menjadi kesempatan untuk kembali aktif bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat.
Triyono penyandang disabilias tuna daksa memulai perjalanan dengan Difa Bike dari sepuluh tahun lalu. (Messa Adi Saputra)
Perjalanan Difa Bike tentu tidak selalu berjalan mulus. Di awal kemunculannya, keraguan dari masyarakat masih sering muncul. Stigma terhadap kemampuan penyandang disabilitas menjadi tantangan yang harus dihadapi Triyono dan tim.
Namun mereka terus berupaya memperkenalkan layanan ini kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan secara perlahan, sambil terus melatih para pengemudi agar dapat memberikan pelayanan yang baik dan aman bagi para penumpang. Seiring waktu, Difa Bike mulai dikenal oleh masyarakat Yogyakarta. Motor-motor roda tiga itu kini menjadi pemandangan yang tidak asing di sudut-sudut kota.
Kehadiran Difa Bike tidak hanya memberikan pilihan transportasi alternatif, tetapi juga membuka ruang baru bagi para penyandang disabilitas untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Melalui pekerjaan sebagai pengemudi, mereka dapat kembali bekerja, berinteraksi dengan banyak orang, dan menunjukkan kemampuan yang sering kali dipandang sebelah mata.
Tidak hanya menjemput dan mengantar, Antok juga sering menunggu penumpangnya sampai acara selesai. (Messa Adi Saputra)
Antok menunjukkan bekas luka di kaki kanannya akibat kecelakaan yang dialami Antok pada tahun 2013 lalu. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian masyarakat, keberadaan Difa Bike juga menjadi pengingat bahwa aksesibilitas masih menjadi isu penting di banyak kota. Transportasi yang ramah bagi penyandang disabilitas belum selalu mudah ditemukan. Kehadiran layanan seperti Difa Bike menunjukkan bahwa inisiatif kecil dari komunitas dapat membuka peluang baru, tidak hanya bagi penyandang disabilitas, tetapi juga bagi masyarakat yang membutuhkan layanan transportasi yang lebih inklusif.
Bagi para pengemudinya, Difa Bike bukan sekadar pekerjaan. Tempat ini juga menjadi ruang untuk saling mendukung dan membangun kembali rasa percaya diri. Melalui perjalanan-perjalanan kecil di jalanan kota, mereka tidak hanya mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan kemampuan.
Di jalanan Yogyakarta, motor-motor roda tiga itu terus melaju. Perlahan namun pasti, mereka membawa lebih dari sekadar perjalanan, tetapi juga harapan akan ruang yang lebih inklusif bagi semua orang. Semua berharap, transportasi inklusif hadir pula di kota-kota lain seperti Surabaya.
Penulis: Idealita Ismanto
Fotografer: Idealita Ismanto
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
Lee Syumee (56) bersama dengan kedua orang anaknya, Lolo Arvian (26) dan Fernando Ananda Saputra (21), mereka adalah generasi ke 4 yang akan meneruskan adat ritual sembahyang imlek di keluarga Lee Syumee. (17/02/2026)
DI rumah sederhana itu, persiapan Imlek bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momen hangat yang merajut kembali kebersamaan keluarga. Surabaya, Selasa (17/2/2026), Lee Syumee atau biasa dipanggil Sumiati (56) dan keluarga adik perempuannya adalah keluarga Tionghoa Muslim yang tinggal dan menetap di Tambak Bayan. Sum telah menjadi mualaf sejak usia 12 tahun. Ia masih mengingat pesan orangtuanya ketika ia memberitahu mereka bahwa sudah pindah agama Islam, “Apa yang kamu yakini, jalani saja selagi membuat dirimu menjadi baik.”
Ya, Tambak Bayan menjadi contoh bagaimana lebur budaya terjadi secara alami, organik. Tidak ada yang paling ‘merasa’ di sana. Hidup mereka berbaur senasib sepenanggungan. Mereka, khususnya yang beretnis Tionghoa, kawin mawin dengan etnis atau suku lainnya. Kehidupan mereka harmonis, saling memahami. Sebab, mereka menjalani hidup yang penuh ragam perjuampaan. Belakangan kita memaknainya dengan kata toleransi.
Sehari sebelum Imlek tiba, Sumiati selalu mempersiapkan waktu untuk sebuah ritual yang tak pernah ia lewatkan. Dengan bantuan beberapa anggota keluarganya, ia bergerak dengan penuh khidmat dan menata hidangan persembahan di meja sembahyang. Sum lalu membakar uang arwah sebagai bentuk bakti kepada orang tuanya yang telah tiada. Baginya, menyiapkan makanan syarat dan menghaturkan doa kepada leluhur bukan sekadar tradisi, melainkan cara sunyi untuk menjaga ingatan, hormat, dan kasih yang terus hidup lintas generasi.
Keluarga Sumiati mempersiapkan ritual mendoakan para leluhur satu hari menjelang imlek. Tradisi ini selalu Keluarga Sumiati lakukan sebagai bakti dan mengenang orang tua yang telah berpulang. (21/01/2023)
Secara turun temurun, keluarga Sumiati selalu menyiapkan uang arwah dan makanan. Makanan yang telah didoakan saat imlek, disantap bersama keluarga besar Sumiati dengan bahagia. (31/01/2022)
Menjelang Imlek, semua keluarga melakukan ritual untuk menghormati keluarga yang telah meninggal. Pertama, mereka harus membakar dupa pada sembahyang Imlek yang dilakukan bersamaan dengan penyalaan lilin yang akan diletakkan di atas altar sesaji. Setelah itu mereka harus membakar uang kertas dan berdoa agar uang tersebut dikirim ke surga, proses terakhir adalah makan bersama untuk merayakan rasa terima kasih kepada leluhur. (21/01/2023)
Di tengah kemegahan Kota Surabaya, Sumiati dan sejumlah keturunan Tionghoa tinggal di ruang sempit, yang dahulu merupakan istal kuda zaman kolonial Belanda. Istal kuda tersebut dibagi dalam petak, masing-masing petakan berukuran 4x6 meter menampung lebih dari sekadar dinding dan atap, di dalamnya, kamar, ruang tamu, dan kamar mandi menjadi satu. Di ruang terbatas itulah beberapa anggota keluarga menjalani hari-hari mereka untuk bertahan hidup.
Go Siok Yong (77) dan Dwi Nesti (65). Walau berbeda agama, mereka tetap saling menghormati saat perayaan-perayaan hari besar agama lain. Go Siok Yong telah berpulang di tahun 2025. (22/01/2023)
Ang Feha (60), Faith (10) dan King Hope(5), potrait keluarga Ang di Tambak Bayan. Ang Feha takut tidak bisa mempunyai rumah lagi apabila terjadi pengusiran secara tiba-tiba oleh pihak hotel. (29/06/2023)
Chik Jun (80) tinggal rumah berukuran 4x6 meter. Ia telah terbiasa dan tidak khawatir dengan ruang sempit yang ada. (26/02/2020)
Kampung Tambak Bayan pernah menjadi perhatian banyak pihak karena mengalami konflik agrarian dengan Hotel Vini Vidi Vici (V3). Konflik yang bermula sejak 2006 itu belum juga menemukan ujung, menyisakan ketegangan yang merembes ke kehidupan sehari-hari warga. Warga berjuang dengan berunjuk rasa dan melawan dengan gerakan-gerakan budaya yang diinisiasi dengan banyak pihak. Dulu sebelum separuh tanah Tambak Bayan digusur, ada sekitar 100 keluarga mendiami kampung ini.
Arsip foto warga Tambak Bayan yang ikut melakukan demonstrasi di wihara Tambak Bayan tahun 2009 (29/06/2023).
Hingga sekarang pun mereka masih berjuang memenangkan sengketa lahan tersebut. Kasus sengketa ini bukan hanya menyangkut persoalan perebutan ruang secara fisik, yakni penggusuran rumah warga, tapi juga menimbulkan kerugian secara ekonomi bagi warga, karena sejumlah usaha kecil dan mikro warga semakin hari semakin sepi. Selain itu, penggusuran ini juga mengakibatkan hilangnya keterhubungan warga Surabaya pada umumnya dan warga Tambak Bayan khususnya dengan sejarah dan ingatan masa lalu.
Bagi banyak keluarga, persoalan ini bukan sekadar soal kepemilikan lahan, melainkan tentang keberlanjutan ruang hidup dan identitas. Ketidakpastian hukum membuat rencana masa depan terasa menggantung. Sebagian warga memilih bertahan dengan segala keterbatasan, sementara yang lain mulai diliputi kekhawatiran akan kemungkinan terburuk. Di tengah tekanan itu, kehidupan sehari-hari tetap berjalan pelan, seolah warga berusaha menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat meninggalkan mereka.
Imlek kemarin dalam suasana kesederhanaan, selain permasalahan tempat tinggal yang belum selesai, sebuah kekhawatiran mucul. Sumiati mengkhwatirkan keluarganya tidak lagi meneruskan tradisi imlek. Hanya dengan menjaga tradisi inilah, ia merasakan ikatan dengan leluhur. “Saya sering berpikir, nanti siapa yang akan melanjutkan, tradisi ini?” tuturnya lirih, sambil merapikan perlengkapan sembahyang.
Salah satu anak Sumiati, Fernando memaknai ritual keluarga bukan sekadar tradisi tahunan. Pemuda 21 tahun itu merasa memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan apa yang telah dirintis ibunya, menghormati leluhur sekaligus merawat nilai toleransi. Ini menjadi nilai hidup yang diajarkan orang tuanya. “Saya sebagai darah keturunan mama merasa harus meneruskan tradisi ini,” ujarnya mantap.
Baginya, lelah dalam menyiapkan ritual bukanlah beban. Justru ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan setiap kali dupa dinyalakan. Ia mengingat, sebelum sang Ibu menghadirkan kembali ritual itu, keluarga mereka nyaris tak lagi menjalankannya. Kini, selama sekitar 15 tahun, prosesi itu terus hidup dari tahun ke tahun. Fernando bertekad, apa yang sudah diawali ibunya, akan terus dilestarikan kepada anak cucunya kelak.
Potret keluarga Sumiati tahun di 2024 dan 2026 saat berkumpul di momen imlek di Tambak Bayan, Surabaya. Terkadang tidak semua anggota keluarga bisa hadir karena ada keperluan lain, dan kebetulan di tahun ini juga bersamaan dengan dimulainya bulan Ramadhan. (17/02/2026)
Saat imlek, Tanto (50), Kakak dari Sumiati sedang menelpon saudara-saudaranya melalui panggilan video. Walaupun jauh jarak, kebersamaan selalu terjalin di keluarga besar Sumiati. (01/02/2022)
Sumiati sendiri memiliki pandangan yang lebih lentur. Ia memahami betul, tidak semua generasi mampu atau siap melanjutkan. Jika suatu saat tradisi itu berhenti, ada tata cara penutup yang bisa dilakukan keluarga besarnya, foto leluhur bisa dibalik selama tujuh hari, kemudian dilepas dan diserahkan ke klenteng untuk dibakar. Setelah itu, keluarga tetap bisa berdoa setiap tahun di klenteng tanpa kewajiban kaku.
“Tidak ada ketentuan harus sembahyang atau tidak,” tuturnya, seolah memberi ruang bagi anak-anaknya untuk memilih jalan mereka sendiri.
Tradisi yang telah dilakukan Sumiati dan warga Tambak Bayan lainnya yang sudah berpindah keyakinan menjadi tonggak lahirnya Tambak Bayan sebagai kampung toleransi. Kini dengan perubahan zaman, nasib mereka terus diuji antara kehilangan tempat tinggal dan kehilangan ajaran nenek moyang. Tambak Bayan bukan sekedar ruang hidup. Ia menjadi memori kolektif, manusia yang menjejaki manis getir hidup di lintasan zaman. Mereka menolak punah dengan perlawanan kolektif.
Tradisi ritual berdoa sebelum imlek selalu Sumiati lakukan sebagai bakti dan mengenang orang tua yang telah berpulang. (21/01/2023)
Sumiati selalu berdoa dan berharap agar permasalahan konflik tanah segera berakhir dengan hasil yang baik. (17/02/2019)
Suasana kampung Tambak Bayan di malam hari.
Edi Murdiono (50) dan istrinya Fauria (48) sudah berjualan ayam bakar dan mie ayam semenjak 2010 untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Konflik tanah di Tambak Bayan sangat mempengaruhi pendapatan keluarganya saat ini yang semakin menurun. (29/06/2023)
Alhusna Adinda (13) dan Diavana Triani (19) tidur di ruangan bawah di sela-sela membantu Ibu dan Ayahnya menerima pesanan makanan ayam bakar. Tempat tidur dan ruang tamu yang menyatu sudah menjadi pemandangan biasa di kampung Tambak Bayan. (29/06/2023)
Adelia Isya Puspasari (18) merupakan generasi ke 4 yang masih tinggal dan menetap di Tambak Bayan. (21/01/2023)
Cucu Go Siok Yong, Adit (7) tinggal di Jalan Demak Surabaya, ia selalu datang bersama dengan ibunya saat ada perayaan Imlek di Tambak Bayan. (22/01/2023)
Agnes Savitri (25) selalu membantu Iie nya Sumiati memasak makanan persembahan untuk perayaan imlek. (21/01/2023)
Di Tambak Bayan sendiri, penduduknya telah berubah sedemikian rupa menyesuaikan dengan adat setempat. Mereka hidup rukun dalam keberagaman. (21/01/2023)
Rumah Liang Tje Jow (40) dan Munti (22) walau berukuran 4x6 meter persegi, mereka telah terbiasa hidup di Tambak Bayan sejak kecil dan bertahan hidup dengan berjualan mie ayam di kampung Tambak Bayan. (26/02/2020)
Rumah Ce Jay (42) dan Jo Kai (55) berukuran 4x6 meter persegi. (21/01/2023)
---
*) Pada Senin, 2 Maret 2026, dilakukan koreksi atas penulisan awal konflik sengketa tanah di Tambak Bayan. Tahun yang semula tercantum 2011 diperbaiki menjadi 2006.
“It does not happen. It will not happen. Tidak ada negara yang merdeka berdaulat tanpa dia bisa produksi makannya sendiri...
Pertama-tama, sebelum kita mengulas apa yang ada pada judul tulisan ini, saya ingin mengingatkan kepada teman-teman pembaca, kalian bisa menyusun...
Pertunjukan Emesis, adaptasi naskah Heneliis Notton yang disutradarai Muhammad Abdurahman Rais, hadir di Teater Arena ISI Yogyakarta untuk...
Fenomena "manusia silver" cilik membuktikan betapa mitos "banyak anak banyak rezeki" sering kali menjebak keluarga dalam...
Hidup dalam omong-omong belaka sungguh menyebalkan. Setiap hari mendengar kata-kata manis yang nyaring tidak berisi. Berjanji menawarkan kenikmatan hidup, malah kesengsaraan yang didapatkan rakyat di negeri omong-omong itu. Kekayaan hanya dinikmati segelintir elite, sedangkan rakyat menjerit...
“Aku kira penambangan tidak akan membuat sebuah desa menjadi maju, tapi tambang kreativitas dan imajinasilah yang memajukan sebuah peradaban, tak terkecuali peradaban desa,” kata Absori sebelum ia dilantik menjadi Carik baru di Desa Warangwurung, sebuah desa eksotik dengan pemandangan laut,...
Ia menaikkan volume speakernya. Tebasan growl Corey Taylor dalam lagu Disasterpiece1 semakin menggila. Ia berharap bising salah satu lagu dari band metal Slipknot itu, bisa menggeser suara lain dari ruang sebelah. Rupanya itu salah, bayinya semakin meraung. Sekiranya kelak anak itu menggagas...
Lembayung segera sirna, malam pun kian mengungkap gelap. Dengan kaki pengkornya, wanita berjubah putih pucat itu tiap hari berjalan menuruni gang kecil di pinggir kota sembari mendekap sebuah kitab. Ia baru saja balik dari mendoa. Ditengoknya jarum jam yang berdenting di tangan. Ah, tak kurang...
Demonstrasi kali ini bahkan lebih ramai daripada demonstrasi sebelumnya. Ini adalah kali keempat digelarnya demonstrasi yang menentang produk yang akan diluncurkan perusahaannya. Namun Robert tidak peduli. Bahkan ketika para buruhnya sendiri ikut berdemo, ia tak ambil pusing.


