Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Bagaimana Belajar Krisis Iklim di Rusun Sumbo?
Warga Rusun Sumbo di Surabaya memetakan titik-titik panas di kawasan mereka. Lewat metode Jane's Walk dan boardgame, mereka menyusun cara menghadapi suhu ekstrem dan dampak krisis iklim di permukiman padat, termasuk hunian vertikal macam Rusun Sumbo.

PULUHAN PESERTA berjalan kaki mengelilingi blok-blok di Rusun Sumbo, Surabaya. Mereka memasuki gang-gang sempit yang lebarnya sekitar 2-3 meter, hanya cukup dilewati 2 motor. Mereka menyusuri celah di antara bangunan-bangunan tinggi dengan jendela kamar yang dipenuhi jemuran pakaian.

Di sana, terlihat anak-anak bermain, pedagang melayani pembeli dari rombongnya, dan tetangga asyik bercengkerama di rusun mereka, menjadi pemandangan yang meramaikan jalan kaki ini. Kepadatan rusun itu membuat udara terasa sumuk, walau tidak di semua titik. Baru 5 menit berjalan kaki, keringat mulai merembes di dahi para peserta.

Ini bukan sembarang jalan kaki, tapi bagian dari workshop bertajuk “Panase Kampungku” pada Kamis, 23 Juli 2026, di Rusun Sumbo. Di sini, warga, peneliti, dan pegiat lingkungan bersama-sama memetakan titik-titik panas sekaligus merumuskan strategi adaptasi terhadap suhu ekstrem.

Para peserta berinteraksi dengan warga Rusun Sumbo. Bersama warga, mereka diajak melakukan pencatatan kondisi panas di rusun tertua di Surabaya itu. (Robertus Risky/Project Arek)

Rusun Sumbo memang punya arsitektur dan sosial yang unik, karena itu jadi tempat yang pas untuk mempelajari fenomena panas perkotaan. Rusun ini terletak Jalan Sumbo, Kecamatan Simokerto. Inilah rusun pertama dan tertua yang dibangun Pemkot Surabaya pada 1989 dan mulai ditempati pada 1990.

Mencatat Iklim Rusun Bersama-sama

Workshop “Panase Kampungku” hari itu mempraktikkan berbagai alat riset yang dikembangkan peneliti perkotaan dari berbagai daerah. Staf Community Organizer Arsitek Komunitas (Arkom) Jawa Timur, Jazilia Hikmi Nur Aqidah menjelaskan, riset tersebut melibatkan empat kolaborator dari wilayah berbeda, yakni Arkom Jatim (Surabaya), Kota Kita (Semarang), Rujak Center for Urban Studies (Jakarta), dan Universiti Kebangsaan Malaysia (Selangor).

“Workshop ‘Panase Kampungku’ ini sebenarnya bertujuan untuk memperlihatkan alat-alat riset kami selama melakukan penelitian tentang bagaimana warga di Rusun Sumbo beradaptasi dengan panas,” ujar Jazilia, Kamis, 23 Juli 2026.

BACA JUGA : Mengapa TPA Benowo Bisa Terbakar?

Menurut Jazilia, masing-masing kolaborator membawa pendekatan yang berbeda sesuai dengan keahlian masing-masing. Arkom Jatim dari Surabaya mengembangkan metode boardgame, Kota Kita dari Semarang menggunakan pendekatan Jane's Walk, lalu Rujak dari Jakarta melakukan pengukuran angin dan suhu menggunakan anemometer, sedangkan peneliti dari Selangor, Malaysia, memberikan perspektif akademis.

Peserta mengukur suhu menggunakan alat khusus di sejumlah titik di sekitar Rusun Sumbo. Hasil pemantauan ini mereka catat dan selanjutnya didiskusikan bersama untuk merumuskan apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi suhu panas di sana. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Beragam pendekatan tersebut kemudian dipadukan dalam rangkaian kegiatan di Rusun Sumbo. Salah satu metode yang pertama kali dipraktikkan adalah Jane's Walk untuk mengamati kondisi Rusun Sumbo secara langsung.

Nama kegiatan ini diambil dari nama jurnalis, aktivis dan teoritikus urban Amerika-Kanada, Jane Jacobs (1916-2006). Jane’s Walk adalah metode mengelilingi lingkungan untuk menemukan hal-hal unik yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain.

Salah satu kolaborator, Kota Kita dari Semarang, mengembangkan metode ini lebih lanjut untuk disesuaikan dengan penelitian mengenai panas perkotaan (urban heat). Selama dilaksanakan di Rusun Sumbo, metode ini dikombinasikan dengan pengukuran termal dan kecepatan angin berembus dari arah tertentu.

Melalui metode ini, peserta diajak mengenali interaksi sosial warga sekaligus mengidentifikasi titik-titik yang terasa lebih panas maupun lebih sejuk. Interaksi sosial dalam kegiatan Jane’s Walk memungkinkan warga untuk saling mengonfirmasi ingatan mereka tentang titik-titik panas atau dingin.

Tujuan dari Jane's Walk di Rusun Sumbo ini adalah membawa peserta untuk mengetahui kondisi kampung, melihat interaksi warganya, serta titik kumpul panas dan dingin yang ada di rusun tersebut,” jelas Jazilia.

Selama penyusuran, peserta tidak hanya berjalan mengelilingi kawasan. Mereka juga membawa anemometer untuk mengukur suhu dan kecepatan angin di berbagai titik. Bentuk anemometer itu kecil, berwarna merah dan hitam, di bagian atasnya ada baling-baling mungil untuk mengukur kecepatan angin.

Rute perjalanan untuk Jane’s Walk ini telah disusun bersama pengurus RW setempat agar lokasi yang diamati benar-benar merepresentasikan aktivitas harian warga. Sebagian warga di Rusun Sumbo ini bekerja sebagai pedagang, seperti membuka warung atau berjualan memakai rombong atau gerobak di sekitar rusun tersebut.

Menurut Urban Researcher Kota Kita, Halifaldza Jaladri, dari Jane’s Walk mereka menemukan kondisi koridor di Rusun Sumbo yang terhitung ideal - tak terlalu lebar, namun juga tak terlampau sempit sehingga sulit dilewati. Desain semacam itu menciptakan ruang vakum yang memungkinkan udara berpindah secara efektif dari tekanan tinggi ke rendah, sehingga banyak titik di rusun terasa lebih dingin dibandingkan tempat lain.

Bangunan di rusun ini ada yang terhitung sudah lama, ada juga yang baru. Bangunan rusun lama terasa lebih sejuk karena ada banyak bukaan, yang memungkinkan terjadinya sirkulasi silang atau cross-ventilation. Selain itu, adanya "topian” atau tritisan pada jendela berfungsi sebagai penghalang sinar matahari langsung, sehingga ruangan dan selasar tetap terasa teduh

Peta Rusun Sumbo (atas) dan peta berdasarkan kondisi suhu panas.

 

Sebaliknya, bangunan rusun baru, yaitu Blok E dan K, cenderung lebih panas karena bentuknya yang menyerupai kotak atau box. Alhasil, tak ada sirkulasi udara yang memadai untuk masuk dan keluar, sehingga terjadi penumpukan panas di dalam gedung.

Temuan-temuan lapangan tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah peta suhu. Peserta yang telah selesai jalan kaki mengelilingi rusun akan menempelkan stiker tertentu dan sticky notes pada gambar peta Rusun Sumbo untuk menandai temuan mereka.

Menggali Data Pakai Boardgame

Setelah memahami kondisi lingkungan melalui observasi dan diskusi, peserta diajak mengeksplorasi pengalaman mereka dengan cara yang lebih interaktif melalui boardgame. Para peserta duduk melingkar di aula di salah satu rusun. 

Boardgame bernama ‘Panase Kampungku’ ini dikembangkan Arkom Jatim dan dirancang sebagai media edukasi sekaligus instrumen penggalian data. Jumlah peserta setiap kelompok boardgame sekitar 5-10 orang. Semua orang memiliki kesempatan menyampaikan pengalamannya.

BACA JUGA : 

Emak-emak Dupak Magersari Melawan Sumuk (1)

Emak-emak Dupak Magersari Melawan Sumuk (2)

Permainan dengan boardgame ini, kata Jazilia, terdiri dari tiga sesi. Sesi pertama, Yo Opo Sumuke Kampungku (Panasnya Kampungku), menggali persepsi warga mengenai panas yang mereka rasakan sehari-hari. Kedua, Yo Opo Ngatasi Sumuke Kampungku (Bagaimana Mengatasi Panas Kampungku), berfokus pada berbagai strategi adaptasi yang telah dilakukan warga. Ketiga, Opo Iku Iklim (Apa itu Iklim), yang menghubungkan pengalaman sehari-hari tersebut dengan pemahaman yang lebih luas mengenai krisis iklim.

“Secara tidak langsung, dari tiga sesi boardgame itu, kami ingin belajar bersama warga tentang dampak panas yang mereka rasakan dan strategi adaptasi apa,” ujar Jazilia.

Wardah (30) adalah warga Rusun Sumbo yang ikut jadi peserta Jane’s Walk dan  boardgame. Ia merasa permainan ini begitu seru. Boardgame menjadi sarana warga untuk merefleksikan kondisi lingkungan mereka.

Melalui boardgame ini, warga dan peserta memetakan titik-titik pemantauan suhu di sekitar Rusun Sumbo. Workshop ini menjadikan pengalaman warga yang tinggal di rusun sebagai pengetahuan kolektif yang bisa didiskusikan bersama dengan diaplikasikan ke metode yang lebih sistematis. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Sebelumnya, Wardah juga sempat dibekali Arkom Jatim catatan aktivitas harian untuk mengecek suhu di unit rusunnya. Catatan itu bernama “Ngayukno Omah” atau “Mempercantik Rumah”. Di dalam catatan itu, Wardah menceritakan berbagai kegiatan harian, mulai dari menentukan jam-jam saat ia merasa panas atau dingin, hingga jenis pakaian tipis dan berbahan dingin yang dipilih untuk beradaptasi dengan suhu.

Itu membantu Wardah memahami secara rinci kapan waktu yang paling panas dan kapan angin sepoi-sepoi masuk ke ruangan selama 24 jam penuh. Ia menjadi lebih sadar, suhu di Surabaya luar biasa panas, terutama dari pagi hingga pukul 17.00 WIB.

"Apalagi dengan bangunan (rusun baru, Blok E dan K) yang tertutup dan ventilasi kurang. Jadi udara sudah panas, cuaca panas, dan tidak ada udara yang masuk sama sekali," ungkap Wardah, Jumat, 24 Juli 2026.

Wardah dan warga lainnya tidak sekadar main, tapi terlibat dalam diskusi. Peserta mulai menyusun berbagai langkah mitigasi dan adaptasi yang dapat diterapkan di lingkungan Rusun Sumbo. Ia jadi terbantu untuk memahami situasi sumuk yang dihadapi dengan mendokumentasi pola panas di lingkungan mereka. Ia jadi tahu dinamika suhu di tempat tinggalnya.

Ketergantungan Kipas di Rusun Sumuk

Wardah sudah tinggal di Rusun Sumbo selama dua tahun, tepatnya di Blok E. Ia adalah pendatang, menikah dengan anak salah satu warga lokal di sini. Mertuanya adalah warga yang lahir di sini. Dari mertuanya, ia tahu bahwa Rusun Sumbo dibangun pada sekitar tahun 1985 dan diresmikan pada tahun 1990. 

Bagian awal yang dibangun adalah Blok A dan E - termasuk tempat tinggal Wardah. Rusun terus berkembang dengan 10 blok hunian, yakni Blok A, B, C, E, F, G, H, I, J, dan K. Blok D difungsikan sebagai masjid. Sementara Blok E dan K telah direnovasi pada 2021. Rusun Blok E yang ditinggali Wardah termasuk yang sudah direnovasi.

Wardah, salah satu warga yang terlibat aktif dalam gerakan kolektif warga Rusun Sumbo untuk menciptakan hunian yang lebih layak dan nyaman menghadapi krisis iklim. (Robertus Risky/Project Arek)

Rumah bagi ratusan warga di sini sekarang terasa begitu sumuk alias panas. Kata Wardah, kondisi tersebut diperparah ventilasi di beberapa bangunan yang dinilai kurang mampu mengalirkan udara secara merata. Akibatnya, ruangan terasa pengap, terutama saat cuaca terik.

“Kalau soal panas, sebenarnya tergantung cuaca juga. Di luar rusun mungkin juga terasa panas, cuma keluhannya warga rusun itu sekarang ventilasinya kurang. Udara itu tidak merata, jadi di dalam ruangan terasa pengap," keluh Wardah.

Wardah melihat adanya perbedaan antara bangunan rusun yang baru dengan model bangunan lama. Desain Rusun Sombo yang baru, yaitu Blok E dan K, justru cenderung tertutup dan sangat minim ventilasi untuk sirkulasi udara. Aliran udara seolah terhenti tepat di depan pintu unit huniannya.

Ketika suhu di luar ruangan sedang tinggi, keberadaan aliran udara atau konsep bangunan yang terbuka seharusnya bisa memberikan sedikit kesejukan.

BACA JUGA :

Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (1)

Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (2)

“Tapi sekarang bangunannya tertutup, tidak ada udara masuk sama sekali. Itu yang membuat saya semakin tersiksa di rusun sekarang ini. Kebetulan ini memang bangunan baru, jadi kuranglah ventilasi untuk masuknya udara. Udara yang masuk itu sangat minim sekali," tambahnya.

Untuk mengurangi rasa sumuk, warga mengandalkan berbagai cara sederhana. Di rumahnya, misalnya, Wardah memasang kipas angin di beberapa titik dan menutup jendela dengan tirai pada siang hari agar panas matahari tidak langsung masuk ke dalam ruangan.

Wardah dan keluarganya jadi ketergantungan kipas. Alat elektronik ini menjadi kebutuhan primer yang harus menyala hampir seharian tanpa henti. Kipas angin di unit rumahnya harus berputar siang dan malam demi mengusir hawa panas yang terjebak di dalam ruangan.

Warga Rusun Sumbo harus terus bersiasat menghadapi dampak krisis iklim, khususnya di saat musim panas. Keterbatasan ruang dan bangunan yang tak bisa sembarangan direnovasi, membuat mereka masih bergantung pada kipas angin. Bagi warga, ketergantungan ini berarti biaya tagihan listrik yang membengkak. Cukup berat buat mereka yang memiliki penghasilan pas-pasan. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Dampak ke dompet pun nyata. Ia mengeluhkan tagihan listrik membengkak. Wardah membayar listrik pakai token, dan ia mengamati ada lonjakan pengeluaran seiring suhu yang semakin sumuk.

“Pengeluaran token listrik juga bertambah. Biasanya uang Rp50.000 itu cukup untuk token selama dua minggu, tetapi karena kipas menyala terus, sekarang Rp50.000 hanya cukup untuk satu minggu saja," keluh Wardah.

Artinya, biaya yang dikeluarkan untuk mendinginkan ruangan meningkat hingga 100 persen. Ini beban yang tidak ringan bagi warga rusun. Dampak ikutannya adalah kesehatan fisik anggota keluarganya, terutama anak-anak.

Wardah menceritakan bagaimana perubahan musim, terutama peralihan dari musim panas ke musim hujan, membuat suhu di dalam rusun panasnya tak tertahankan. Keringat yang bercucuran membuat anak-anaknya menderita masalah kulit dan gangguan tidur.

Meskipun malam, saya tetap merasakan panas sampai berkeringat. Anak saya sampai mengalami keringat buntet (biang keringat) dan susah tidur," tuturnya.

Wardah punya trik agar anak-anaknya tetap nyaman beristirahat. Ia menggunakan pelembap kulit dan memaksimalkan kecepatan kipas angin. “Dengan langkah seperti itu, anak saya baru bisa tidur. Kalau tidak, sepanjang malam dia akan menggaruk-garuk terus dan saya sebagai ibunya juga tidak bisa tidur," jelasnya panjang lebar.

Ia mengakui, selama ini tidak memiliki pemahaman tentang perubahan iklim. Namun, tanpa disadari, ia telah mengumpulkan data yang menggambarkan dampak perubahan cuaca di sekitarnya. Wardah menjelaskan, selama beberapa waktu terakhir ia rutin membuat catatan harian mengenai kondisi suhu setiap jam.

"Dari jam 12 malam sampai jam 11 siang, selama 24 jam saya rinci. Dari situ saya bisa paham kapan waktu yang paling panas," katanya. Ia mencatat, hawa panas mulai terasa menyengat sejak pagi hingga pukul 16.00 WIB.

Wardah mengaku merindukan desain rusun lama sebelum direnovasi. Desain yang lama punya sirkulasi udara lebih baik, udara bebas masuk dari arah barat maupun timur. Ia berharap ada langkah untuk merombak sistem ventilasi saat ini.

"Impian saya, semoga pemerintah kota punya gerakan untuk mengubah ventilasi yang permanen tertutup itu agar bisa dibuka-tutup. Terus bagian bangunan di tangga darurat itu penginnya dibuka atau dijebol sedikit. Dulu bangunan lama itu kan dari arah barat dan timur itu los, jadi udara masuknya enak," kata Wardah berharap.

Rusun Lama Justru Terasa Sejuk

Urban Researcher Kota Kita dari Semarang, Halifaldza Jaladri menjelaskan, rangkaian kegiatan ini bertujuan menjembatani data-data iklim berskala makro dengan pengalaman nyata warga di tingkat permukiman. Menurut dia, memahami suhu kota tidak cukup hanya melalui data dari citra satelit, tetapi juga harus melihat bagaimana masyarakat benar-benar merasakan panas di lingkungan tempat tinggalnya.

Ini kali pertama Jaladri berkunjung ke Rusun Sumbo, dan ia menemukan karakteristik yang tidak terduga. Dibandingkan sejumlah hunian vertikal di kota-kota lain yang pernah ia pelajari, beberapa blok di Rusun Sumbo ini terasa lebih sejuk, khususnya pada blok-blok yang menggunakan desain lama. Salah satu faktor yang paling menonjol, menurut dia, adalah desain koridor bangunan yang mampu menciptakan sirkulasi udara secara alami.

"Koridor-koridor di Rusun Sumbo (khususnya desain lama) ternyata cukup ideal dibanding kampung atau rusun yang pernah kami kunjungi. Ukurannya tidak terlalu sempit sehingga menyulitkan orang lewat, namun juga tidak terlalu lebar, sehingga tetap menghasilkan wind tunnel effect (efek terowongan angin)," ujar Jaladri, Kamis, 23 Juli 2026.

Menurut Jaladri, kenyamanan tersebut tidak hanya dipengaruhi desain bangunan. Cara warga memanfaatkan ruang bersama juga ikut berperan. Koridor Rusun Sumbo tetap berfungsi sebagai ruang sirkulasi karena tidak dipenuhi kendaraan maupun barang-barang yang menghalangi aliran udara. Ini berbeda dengan apa yang ia temui di rusun sejumlah kota besar seperti di Jakarta atau Bandung.

“Saya tidak tahu pasti apakah karena Surabaya masih memiliki cukup ruang atau warga mampu mengorganisasi diri mereka dengan baik. Yang jelas koridor di sini tidak terasa berdesak-desakan," tambahnya.

Pengamatan itu kemudian membawanya pada temuan lain yang menarik. Di kawasan yang sama, bangunan rusun lama di Rusun Sumbo justru terasa lebih sejuk dibandingkan bangunan yang baru. Menurut Jaladri, perbedaan tersebut terutama dipengaruhi pendekatan desain arsitekturnya.

Ia menjelaskan, bangunan lama memiliki banyak bukaan dan menerapkan sistem cross ventilation yang memungkinkan udara mengalir bebas ke dalam maupun keluar bangunan. Selain itu, keberadaan tritisan pada jendela membantu mengurangi paparan sinar matahari langsung sehingga suhu di dalam ruangan tetap lebih teduh. Sayangnya ini tak ditemui di rusun hasil renovasi dengan desain baru.

Pada siang hari, tak sedikit warga memilih beraktivitas di luar rusun. Alasannya seragam, suhu di dalam unit mereka panas. Mereka berharap ada solusi dari Pemkot Surabaya untuk melakukan renovasi pada sistem ventilasi. (Robertus Risky/Project Arek)

 

 

"Bangunan rusun yang baru bentuknya sangat kaku seperti kotak atau box. Tidak ada ruang yang cukup bagi udara untuk masuk maupun keluar. Akibatnya, terjadi penumpukan panas di dalam gedung. Selain itu, desain jendelanya rata tanpa tritisan, sehingga matahari langsung masuk tanpa halangan. Kombinasi faktor-faktor ini menyebabkan bangunan baru cenderung lebih panas dibandingkan bangunan lama," jelas Jaladri.

Temuan arsitektural tersebut kemudian diperkaya dengan pengalaman langsung warga melalui sesi diskusi kelompok. Dalam forum itu, Kota Kita mengajak peserta memetakan titik-titik yang terasa paling panas maupun paling sejuk berdasarkan aktivitas sehari-hari.

BACA JUGA : Panase Suroboyo Dihajar Kipas Angin

Jaladri mengatakan, diskusi dirancang agar mampu menangkap pengalaman kelompok yang selama ini kerap terabaikan, termasuk penyandang disabilitas. Menurutnya, persepsi terhadap kenyamanan lingkungan sangat bergantung pada kondisi fisik dan kebutuhan masing-masing individu.

Kami membagi responden ke dalam kelompok disabilitas dan non-disabilitas untuk melihat aspirasi secara lebih spesifik. Sering kali, orang non-disabilitas merasa akses jalan sudah baik-baik saja. Namun, bagi warga yang menggunakan kursi roda, akses tersebut mungkin sangat sulit," tutur Jaladri.

Peta partisipatif itu selanjutnya dibandingkan dengan data suhu permukaan yang diperoleh dari citra satelit. Kota Kita menggunakan data tersebut untuk memperlihatkan fenomena Urban Heat Island (UHI) di Surabaya, yakni kondisi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya akibat dominasi permukaan beton dan tingginya aktivitas manusia.

"Data satelit mungkin menunjukkan suatu wilayah sudah cukup hijau, tetapi ketika kita berjalan kaki langsung di lingkungannya, ternyata masih ada titik-titik yang sangat panas bagi warga. Itulah mengapa perbandingan antara peta satelit dan pengalaman langsung warga sangat diperlukan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran secara skala manusia," kata Jaladri.

Tak Semua Sudut Panasnya Sama

Peneliti Rujak Center for Urban Studies, Benaya Ginting menjelaskan, masyarakat selama ini lebih sering terpapar informasi mengenai perubahan iklim dalam skala makro, di tingkat nasional atau regional. Padahal warga justru lebih dekat dengan ‘iklim lokal’ yang dirasakan setiap hari, yang dibentuk dari kondisi fisik permukiman, bentuk dan material bangunan.

“Penelitian belakangan ini menunjukkan bentuk permukiman atau kondisi suatu wilayah juga memengaruhi iklim wilayah tersebut,” jelas Benaya, Kamis, 23 Juli 2026.

Konsep ‘iklim lokal’, lanjut Benaya, dapat dijelaskan melalui fenomena Urban Heat Island (UHI), yakni penumpukan panas di kawasan perkotaan akibat dominasi material bangunan yang menyerap dan menyimpan panas. Akibatnya, setiap sudut kota memiliki karakteristik suhu yang berbeda-beda.

“Setiap wilayah di dalam perkotaan mempunyai iklim lokalnya masing-masing. Kita bisa merasakan mengapa daerah industri lebih panas dibandingkan daerah mal, atau mengapa taman lebih dingin dibandingkan daerah gedung pencakar langit. Itu semua adalah pengaruh iklim lokal,” imbuh Benaya.

Pemahaman tersebut menjadi semakin relevan ketika diterapkan di Rusun Sumbo. Menurut Benaya, kawasan ini memiliki kepadatan bangunan yang tinggi, dengan 10 blok rumah susun berdiri di lahan yang relatif terbatas. Akibatnya sirkulasi udara menjadi tantangan tersendiri, dan terbentuk pola panas yang berbeda di setiap sudut kawasan.

Saat ini rumah susun atau rusun menjadi solusi jangka pendek untuk menjawab kebutuhan hunian bagi warga, khususnya di kota besar. Desain yang tidak memperhatikan lingkungan dan iklim lokal, membuat hunian vertikal ini kurang nyaman dan layak huni. (Robertus Risky/Project Arek)

 

"Di Jane's Walk itu kita bisa melihat adaptasi masyarakat atau adaptasi individu di Rusun Sumbo ini," ungkap Benaya.

Pengamatan lapangan itu kemudian diperdalam melalui sesi FGD. Benaya mencermati pola yang menarik soal cara warga memanfaatkan ruang berdasarkan kondisi suhu di lingkungan mereka. Tanpa disadari, masyarakat telah memiliki pengetahuan lokal mengenai titik-titik yang lebih sejuk maupun yang cenderung panas.

BACA JUGA : Jejak Sampah dan Sengkarut MBG di Surabaya

Pengetahuan tersebut, menurut Benaya, terlihat dari cara warga memanfaatkan ruang bersama. Area yang lebih teduh dan sejuk umumnya menjadi tempat berkumpul kelompok rentan, seperti ibu-ibu, lansia, dan anak-anak. Temuan ini menunjukkan, pengalaman sehari-hari masyarakat dapat menjadi modal penting terkait jejaring sosial dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Jejaring sosial ternyata membantu warga beradaptasi dengan perubahan iklim. Rujak Center for Urban Studies menemukan ini dari pengalaman warga di Kampung Marlina dan Kampung Susun Akuarium di Jakarta. Kekuatan komunitas dan ikatan sosial di hunian vertikal, seperti Rusun Sumbo, tak ubahnya ikatan sosial di kampung horizontal. Padahal biasanya, warga di hunian vertikal dengan banyak tingkat lantai punya keterbatasan interaksi sosial. 

“Ketika masyarakat sudah terbiasa berinteraksi dan memiliki ikatan sosial yang kuat, hal itu ternyata bisa menjadi modal sosial untuk menghadapi tantangan lingkungan secara bersama-sama. Harapannya, dengan kesadaran yang lebih baik tentang iklim lokal, masyarakat bisa lebih siap beradaptasi dan menghadapi perubahan iklim ini secara kolektif," pungkasnya.

 


*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.