Sejumlah anak bermain layang-layang meski kondisi panas. Cuaca ekstrem juga dirasakan oleh mereka. (Robertus Risky/ Project Arek)
Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Surabaya
SUMUK menjadi kata yang lazim diucap warga Kota Pahlawan hari-hari ini. Dalam bahasa Indonesia, sumuk berarti gerah atau terasa panas di dalam ruangan yang lembap. Respons tubuh biasanya berkeringat, gatal, dan memerah. Sumuk dirasakan warga yang tinggal di kawasan permukiman padat penduduk di Surabaya, Dupak Magersari namanya. Warga di sana punya cerita bagaimana menghalau suhu ruangan di rumah mereka yang teramat panas.
Wiwik melipat pakaian ditemani tiga kipas angin di rumahnya karena tak kuat menahan hawa panas di dalam rumahnya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Kondisi ini dialami keluarga Wiwik Sukarsi (43), bersama suami, tiga orang anak, serta menantu dan cucunya. Ia menuturkan, tingkat panas yang terjadi membuatnya bersiasat dengan menyediakan 6 kipas angin dalam satu rumah. Jangan bicara air conditioner (AC). Selain tak sanggup membeli dan membayar tagihan listriknya, daya listrik di rumahnya tak cukup besar untuk menanggung beban.
"Kipas angin wajib ada di rumah. Soalnya di dalam rumah panas banget, gak kuat. Jadi kipas harus nyala 24 jam," tutur ibu tiga anak tersebut.
Ya, sekali lagi, kipas angin harus menyala terus-menerus untuk menghalau suhu panas ruangan. Baginya kipas angin merupakan hal utama dalam kehidupannya. Kondisi rumah yang kecil dengan atap rumah rendah, membuat suhu di rumahnya terasa panas. Namun, tak jarang kincir kipas hanya memutar-mutar suhu panas itu belaka.
"Kalau siang hari di dalam rumah suhunya bisa sampai 34 derajat mas. Sumuk pol, Mas. Kipas e kadang ga ngatasi (kipas angin terkadang tidak berpengaruh)," imbuhnya sembari menahan panas.
Tak hanya Wiwik yang merasakan, Mulyadi, suaminya, ikut merasakan suhu panas di dalam rumah. Itu membuat dirinya meningkatkan kecepatan kipas angin ke level paling tinggi. Suhu udara di rumah Wiwik bisa terasa lebih panas dari suhu udara yang tercatat. Sebab, tingkat kelembapan, jarak atap dengan lantai dan material rumah sangat berpengaruh pada suhu yang dirasakan.
"Saya kalau di rumah sering pakai kaus kutang, Mas. Kebiasaan dari kecil juga. Ditambah di rumah panas. Apalagi waktu buat dandang. Wajib ada nyalakan kipas," ungkap Mulyadi.
Mulyadi dan Wiwik beraktivitas di rumahnya. Untuk mengusir hawa panas di dalam rumahnya, ia memasang banyak kipas di setiap ruang. (Robertus Risky/ Project Arek)
Selama tinggal di perkampungan padat penduduk, tak jarang warga pun ikut serta merasakan kenaikan suhu. Kondisi panas ini membuat mereka terpaksa melepas baju untuk menghindari rasa gerah dan keringat. Hal itu juga dialami putra dari Wiwik. "Kalau tidur wajib di depan kipas, Mas. Kalau gak ada kipas, gak bisa tidur. Sumuk," tutur Galuh Dwi Firmansyah, anak Wiwik.
Panas juga berpengaruh pada kesehatan Wiwik. Ia mengeluhkan efek dari perubahan cuaca mengakibatkan penurunan daya tahan tubuhnya. Ia mengaku sering mengalami batuk kering. Kondisi itu menghambat aktivitasnya. Ia dan keluarga tak begitu memahami apa dampak bagi tubuhnya akibat terpapar kipas angin terus menerus. Yang jelas, kipas angin bersifat wajib, bukan pilihan.
Mulyadi dan Wiwik Sukarsi berpose dengan cucu dan anaknya di rumahnya. (Robertus Risky/ Project Arek)
Wiwik tak memahami apa itu krisis iklim dan deretan istilah yang berkelindan dengan pemanasan global. Ia hanya tahu, panasnya Surabaya terus menjadi-jadi. Yang dirasakan Wiwik sebenarnya tercatat pada data NASA POWER/MERRA-2 yang disajikan di laman iklimkita.org. Pada 2024, suhu udara di Surabaya mengalami kenaikan 1 derajat. Meski 1, tapi ini bukan angka main-main.
Efek domino kenaikan suhu 1 derajat ini memicu gelombang panas ekstrem, gangguan siklus hidrometeorologi, bencana, suhu muka laut meningkat, kekeringan, dan masih banyak lagi. Dampak ekonominya, setidaknya yang dialami Wiwik, penggunaan kipas angin berlebih di rumah memicu meningkatnya pengeluaran keluarga untuk membayar tagihan listrik.
"Sebulan bisa habis 500-600 ribu rupiah. Karena daya listrik besar juga. Sama ditambah mesin buat dandang. Tapi itu jarang nyala," keluhnya. Wiwik berharap kondisi lingkungan dapat kembali sejuk dan tidak terlalu panas.
Kondisi rumah yang padat berdampak pada hawa panas di rumah Wiwik. (Robertus Risky/ Project Arek)
Rumah-rumah di kawasan ini banyak yang terbuat dari seng dan beratap asbes. Berdiam diri di dalam saja, Anda bisa merasakan suhu panas ruangan. Perkampungan ini padat penduduk dengan ruas jalan kampung yang sempit, minim sirkulasi udara. Tutupan pohon juga jarang, ini menambah efek panas yang dirasakan lebih tinggi dari suhu yang tercatat.
Peningkatan cuaca panas tidak hanya dirasakan orang dewasa. Itu juga berdampak pada anak-anak. Suhu panas yang dirasakan warga kampung ini, terutama anak-anak, membuat kulit mereka ruam dan gatal-gatal. Kulit anak-anak memang lebih sensitif terhadap panas. Biasanya, ibu-ibu di sana meyebutnya keringat buntet atau biang keringat.
Warga lain, Tri Nawang Sari (36) mengeluhkan dampak terhadap putranya. Kondisi panas yang melanda rumahnya, buah hatinya sering mengalami biang keringat hingga kulitnya memerah dan gatal. "Anak-anak saya kalau panas pasti langsung keluar keringat buntet, Mas. Bintik-bintik merah di dahi sama di tangan," ungkap perempuan asal Tulungagung itu.
Faryza Eshan Efendy (5), anak Nawang, mengalami biang keringat di dahinya akibat dari cuaca panas. (Robertus Risky/ Project Arek)
Nawang menunjukkan biang keringat yang dialami anaknya di sekitar area tangan. (Robertus Risky/ Project Arek)
Untuk meminimalkan dampak biang keringat, biasanya ia melumuri putra bungsunya dengan bedak khusus, serta memandikannya terlebih dahulu sebelum tidur. Panas membuat putranya sering rewel dan terbangun saat tidur. Sekali lagi, kipas angin menjadi solusi realistisnya agar anaknya tak kepanasan dan entah apa lagi dampak buruk bagi kesehatan anaknya.
Nawang sendiri pindah ke Surabaya sejak tahun 2011. Tinggal bersama mertua dan suaminya, di rumahnya yang berukuran sekitar 6 meter persegi. Terdapat 5 kipas angin di rumah mungil itu. Ada 4 di lantai bawah dan satu di lantai atas. Dirinya mengeluhkan, akhir-akhir ini kondisi Surabaya sangat panas dibanding sebelumnya. Bahkan, kata Nawang, mertuanya sendiri memasang kipas di kamar mandi.
"Saya pindah di sini, kipas angin yang ada di kamar mandi itu sudah ada, Mas. Dulu mertua saya yang pasang. Katanya tidak kuat panasnya,” ujarnya sembari tersenyum.
Ia menambahkan kondisi panas di tempat tinggalnya mulai dari pukul 10.00 WIB sampai 15.00 WIB. Ya, rata-rata suhu di kawasan itu tercatat 34 derajat, namun terasa lebih panas, 35 derajat. Meski tak banyak melakukan aktivitas di luar rumah, ia juga merasakan kondisi panas di dalam rumahnya, sehingga tak jarang ia sering berkeringat meski tidak melakukan aktivitas berat.
Suhu udara di rumah Nawang yang panas berdampak pada ia dan keluarganya yang harus menggunakan tujuh kipas angin. (Robertus Risky/ Project Arek)
Di sisi lain, ada warga yang meraup untung dari situasi ini. Mujiyono (67), salah satunya. Ia membuka jasa reparasi peralatan elektronik, salah satunya kipas angin. Sejak lima tahun yang terakhir, ia menuturkan di musim panas, dirinya mampu mengerjakan sembilan sampai sepuluh unit kipas angin. Rata-rata kerusakan kipas angin yang ia tangani, disebabkan pemakaian yang tiada henti.
Mujiyono (67) melakukan perbaikan kipas milik warga di rumahnya, Jalan Purwodadi, Surabaya. Utamanya karena dinamo dan pemutar kipas yang rusak. Ia menuturkan bahwa cuaca panas membuat orderan untuk perbaikan kipas angin meningkat. (Robertus Risky/ Project Arek)
"Rusaknya biasanya dinamonya kobong (terbakar), Mas. Keseringan dipakai, terus mesin putarnya rusak. Harusnya itu dikasih oli supaya licin," ungkap pria paruh baya itu. Ia juga menjual kipas angin bekas siap pakai. Harganya dibanderol mulai Rp150 ribu hingga Rp400 ribu. Sedangkan untuk reparasi, jasanya dipatok Rp35 ribu sampai Rp90 ribu bergantung tingkat kerusakan.
"Pernah cuma terima Rp5 ribu, Mas. Soalnya pelanggan ada yang gak mampu bayar. Hitung-hitung bantu, Mas. Soalnya di rumah pelanggan panas," pungkasnya.
Seorang warga tidur di depan rumahnya, Jalan Dupak Magersari, Surabaya. Cuaca panas mengakibatkan warga terpaksa melepas pakaiannya saat beraktivitas di luar rumah. (Robertus Risky/ Project Arek)
*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.