TRI NAWANG SARI (36), warga Dupak Magersari, menunggu anaknya selesai mengaji di sebuah bangunan serbaguna di kampung tersebut. Tepat pukul 17.00, anaknya selesai membaca Iqra dan menghampirinya di depan bangunan. Tak lama kemudian, anak-anak lain yang mengaji pun berhamburan pulang menuju rumah masing-masing.
Nawang kini bisa bernapas lega di dalam rumahnya sendiri. Sebelum renovasi, rumahnya pengap dan panas. Karena itu dia memutuskan untuk meminjam dana koperasi untuk renovasi rumah, sesuai skema yang diinisiasi Koperasi Srikandi Kapirel, yang bekerja sama dengan Arsitek Komunitas (Arkom) Jatim.
Selama bertahun-tahun, lantai dua rumah Nawang identik dengan suhu udara yang tinggi. Minimnya sirkulasi udara membuat ruangan tersebut nyaris tak layak huni di siang hari. Ia menggambarkan, suhu rumahnya lebih mirip oven ketimbang hunian.
Sebelumnya panas banget, tidak betah. Jadi, sebelum renovasi itu harus pakai dua kipas angin kalau sedang di kamar, dan itu harus dinyalakan terus," kata Nawang, Rabu, 8 Juli 2026.
Kondisi ini diperparah dengan ketiadaan roster atau lubang ventilasi di bagian kamar, yang membuat ruangan terasa pengap. Namun, setelah renovasi selesai dilakukan pada awal Mei 2026 lalu, rumah itu kini terasa jauh lebih sejuk. Aliran angin dapat masuk dan keluar dengan bebas.
Salah satu kunci keberhasilan renovasi ini adalah keterlibatan aktif pemilik rumah dalam menentukan desain. Nawang menjelaskan, proses perencanaan tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melalui ruang diskusi dengan Arkom Jatim.
Secara teknis, Arkom Jatim membantu warga memahami teori kenyamanan termal seperti ventilasi silang dan mendampingi proses desain rumah yang ramah iklim. Tapi keputusan ada di tangan warga pemilik rumah yang akan direnovasi.
BACA JUGA : Emak-emak Dupak Magersari Melawan Sumuk (2)
"Kalau desain, kita mengobrol dengan teman-teman Arkom Jatim bagusnya bagaimana. Terus kalau kita suka dan oke, ya kita jalankan sesuai rencana bersama," ujar Nawang.
Fokus utama dalam renovasi ini adalah memperbaiki tata kelola udara. Arkom Jatim memberikan saran-saran teknis agar angin bisa bergerak secara silang di dalam ruangan. Perubahan ini begitu signifikan hingga kini Nawang cukup menggunakan satu kipas angin saja untuk mendapatkan kenyamanan.
Rencana dari teman-teman Arkom Jatim masuk akal, maksudnya agar pengaruh angin itu bisa enak masuk dan keluarnya. Dan memang terbukti hasilnya sekarang lebih dingin dari sebelumnya," tambahnya.
Keberhasilan renovasi rumah Nawang tidak lepas dari peran Koperasi Srikandi Kapirel. Bagi Nawang, koperasi bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan sandaran bagi ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil di lingkungannya. Melalui koperasi, warga mendapatkan akses pembiayaan yang sulit dijangkau melalui perbankan konvensional.
Untuk renovasi lantai dua rumahnya, Nawang mengelola anggaran sebesar Rp10 juta yang diperoleh melalui pinjaman koperasi. Skema pengembalian yang ditawarkan sangat meringankan beban warga. "Misalnya kalau kita dikasih pinjaman Rp10 juta, itu kita mengembalikannya Rp7,5 juta. Terus juga cicilan bulanannya lebih ringan," ungkap Nawang.
Dengan cicilan kurang lebih Rp300.000 per bulan selama tenor 30 bulan, Nawang merasa program ini membantu stabilitas ekonomi keluarganya. Di keluarga ini, Nawang adalah ibu rumah tangga, sementara suaminya bekerja sebagai karyawan swasta. Ia sendiri pernah bekerja, namun berhenti karena hamil.
Selain untuk pinjaman renovasi, ia juga menekankan pentingnya budaya menabung yang ditanamkan koperasi kepada warga - yang sekaligus memperkuat rasa solidaritas dan gotong royong. Di koperasi, ada mekanisme pendanaan bersama yaitu sistem revolving fund atau dana bergulir. Warga dapat memakai dana ini secara bergantian.
Warga juga sepakat untuk mengembalikan pinjaman agar uang tersebut bisa terus berputar untuk membantu warga lain yang juga membutuhkan perbaikan rumah dengan dana yang terbatas. Kesepakatan skema hibah-pinjaman, juga memiliki rasa solidaritas dan gotong royong.
Ada nilai kerelaan di mana warga menyepakati skema 25 persen hibah dan 75 persen pinjaman. Solidaritas muncul ketika warga merasa bantuan 25 persen sudah cukup, dan sisa 75 persen yang mereka kembalikan adalah bentuk kepedulian agar warga lain bisa mendapatkan giliran renovasi.

Di sisi lain, seluruh aturan koperasi, mulai dari besaran iuran Rp2.000 per hari atau Rp60.000 per bulan, aturan simpan pinjam, ditentukan dan disederhanakan warga sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka di Dupak Magersari.
Renovasi rumah Nawang tergolong sangat cepat. Pekerjaan konstruksi hanya memakan waktu 14 hari atau sekitar dua minggu. Dimulai pada 27 April 2026 dan tuntas pada awal Mei 2026, pengerjaan yang efektif ini meminimalkan gangguan bagi aktivitas harian penghuni rumah.
Total biaya akhir mencapai Rp10,5 juta, sedikit melampaui anggaran awal sebesar Rp10 juta, Nawang menganggap selisih tersebut sebanding dengan peningkatan kualitas hidup yang ia dapatkan.
Nawang dan emak-emak di Dupak Magersari mengaku tak mengetahui apa itu krisis iklim dan istilah rumit yang menyertainya. Yang mereka pahami, Surabaya semakin panas dan mereka perlu beradaptasi dengan kemampuan dan daya yang terbatas. Koperasi menjadi pilihan mereka untuk mewujudkan tindakan-tindakan adaptif menghadapi krisis iklim.
Penggunaan Kipas Angin Berkurang
Riski Indrayanti (38), warga Dupak Magersari, membuka pintu rumahnya dan menyambut kami. Ia kemudian mempersilakan kami masuk ke ruang tamu untuk berbincang. Riski merupakan salah satu ibu rumah tangga yang telah merenovasi rumahnya melalui program koperasi.
Rumah Riski sebelumnya punya masalah klasik hunian padat, yaitu udara yang pengap dan dinding yang lembap. Kondisi ini tidak hanya membuat penghuni merasa tidak nyaman, tetapi juga memaksa mereka untuk bergantung pada alat pendingin elektronik secara berlebihan.
Sebelum renovasi, Riski biasanya menggunakan dua kipas angin untuk mengatasi rasa panas dan lembap di rumahnya. Setelah renovasi selesai, jumlah penggunaan kipas angin tersebut berkurang menjadi satu buah kipas angin saja.
Inisiatif renovasi yang dilakukan pada awal tahun 2026 juga telah membawa perubahan signifikan bagi kualitas hidup keluarganya. Sebelum renovasi dilakukan, Riski menceritakan betapa sulitnya menjaga suhu ruangan agar tetap nyaman. Fokus utama Riski untuk renovasi rumah adalah sirkulasi udara.
BACA JUGA :
Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (1)
Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (2)
“Sebelum renovasi, kami memang mencari cara agar ada angin yang masuk supaya ruangan tidak lembap dan panas,” jawab Riski, Rabu, 8 Juli 2026.
Alih-alih melakukan perbaikan atau renovasi standar untuk rumahnya, maka hasil diskusi Riski dan Arkom Jatim memunculkan ide lain. Riski lebih fokus pada pemilihan material yang fungsinya spesifik: mendinginkan suhu ruangan. Ia memilih melapisi dinding rumahnya dengan keramik. Alasan utamanya, untuk mengurangi tingkat kelembapan yang sangat tinggi.
Di bagian belakang, terutama kamar mandi, tidak ada sirkulasi udara sama sekali. Penyebabnya adalah kos-kosan yang ia bangun di lantai dua rumahnya. Akses udara jadi terhambat. Semakin tinggi kelembapan, penghuni akan semakin mudah berkeringat saat cuaca panas.
Dengan dipasangnya keramik, kelembapan berhasil diturunkan sehingga rasa sumuk atau gerah yang dirasakan Riski berkurang, meskipun suhu udaranya sendiri mungkin tidak turun secara drastis.
Setelah direnovasi, alhamdulillah rasanya lumayan agak dingin. Dinding-dinding yang sebelumnya lembap itu saya lapisi dengan ubin. Jadi sekarang temboknya lebih dingin,” jelasnya.
Pilihan material ini terbukti efektif dalam meredam suhu panas yang biasanya terserap dinding semen biasa. Renovasi rumah Riski tidak memakan waktu lama. Renovasi dimulai pada akhir April 2026 dan selesai pada awal Mei 2026. Hanya dalam kurun waktu sekitar 10 hari, hunian yang dulunya panas berhasil diubah menjadi tempat yang lebih sejuk dan nyaman bagi keluarganya.
Meskipun pengerjaannya tergolong singkat, dampak yang dirasakan sangatlah nyata. Penggantian dinding menjadi keramik di rumah Riski memang bertujuan untuk mengurangi kelembapan, yang membuat dinding terasa lebih dingin dan mengurangi gerah. Sejak rumahnya direnovasi, Riski mengurangi penggunaan kipas angin di rumah.
Kesannya ya saya merasakan kenyamanan itu tadi. Setelah direnovasi, rumah kelihatan lebih adem, tidak seperti biasanya yang terasa panas. Sudah ada perubahan yang signifikan,” ungkap Riski.
Pengurangan penggunaan kipas angin ini secara otomatis berdampak pada tagihan listrik bulanan. Kata Riski, efisiensi energi ini membantu mengurangi biaya listrik yang harus ia bayar setiap bulannya. Ini menjadi bukti renovasi yang berorientasi pada kenyamanan termal juga memiliki nilai ekonomis jangka panjang bagi warga.
Rumah Jadi Lebih Nyaman Ditempati
Wiwik Sukarsi (43), warga Dupak Magersari, kini bisa bernapas lebih lega di dalam rumahnya sendiri setelah melalui proses renovasi yang cukup signifikan. Melalui koperasi, hunian yang dulunya rusak kini menjadi ruang yang lebih nyaman bagi keluarganya.
Bagi Wiwik, rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan sumber kenyamanan. Namun, sebelum renovasi dilakukan, kondisi rumahnya jauh dari kata ideal. Ia mengenang bagaimana huniannya dulu mengalami kerusakan di berbagai sisi. "Sebelum renovasi, rumah saya ya rusak semua," ungkap Wiwik, Rabu, 8 Juli 2026.
Meskipun secara suhu udara di kawasan tersebut tetap terasa panas saat siang hari, sekarang Wiwik merasakan perbedaan yang sangat mencolok. Rumahnya menjadi lebih nyaman dan rapi. Ia mengaku jauh lebih betah. Perubahan fisik bangunan memberikan dampak psikologis yang positif bagi penghuninya.
Perombakan dilakukan pada bagian pintu rumah. Jika dulu pintunya berukuran kecil dan sempit, kini rumah Wiwik memiliki pintu ganda yang memungkinkan udara masuk dengan lebih leluasa. Perubahan desain ini memberikan dampak terhadap kualitas hidup di dalam rumah.
Sekarang pintu saya bisa terbuka setiap hari, maksudnya bagian atasnya bisa dibuka sehingga ada udara masuk. Dulunya pintu saya kecil, tapi sekarang jauh lebih besar, bahkan ukurannya dua kali lipat dari sebelumnya," jelas Wiwik.
Proses renovasi rumah Wiwik dilakukan tidak lama setelah hari raya Idulfitri, tepatnya pada pertengahan hingga akhir April lalu. Pekerjaan ini berlangsung sangat cepat, hanya memakan waktu satu minggu.
Namun, proses ini bukan tanpa kendala. Tantangan utama yang dihadapi adalah fluktuasi harga bahan bangunan yang tiba-tiba melonjak di pasaran. Akibatnya: anggaran bengkak.
Wiwik mengungkapkan, awalnya anggaran yang disiapkan berada di kisaran Rp10 juta. Namun, pada kenyataannya, biaya yang dikeluarkan melebihi angka tersebut karena harga material yang sedang naik tajam saat itu.

"Waktu itu habis sekitar 10 juta rupiah lebih. Tapi sebenarnya jumlahnya melebihi itu karena pada saat pengerjaan, harga bahan-bahan bangunan naik semua. Kebetulan sekali semuanya sedang naik," kata Wiwik.
Selain biaya material bangunan utama, Wiwik juga harus menyiapkan dana tambahan untuk keperluan konsumsi pekerja dan kebutuhan pendukung lainnya seperti pembelian triplek tambahan. Biaya makan untuk tukang dikelola secara pribadi di luar anggaran utama renovasi. Wiwik senang dengan hasil renovasi rumahnya.
BACA JUGA : Panase Suroboyo Dihajar Kipas Angin
"Suhunya ya tetap saja, cuma sekarang terasa lebih nyaman setelah direnovasi. Kalau soal panas ya memang masih agak panas saat siang, tapi setidaknya sekarang jauh lebih rapi. Saya merasa lebih nyaman sekarang dibandingkan kemarin," ujarnya.
Ika Sofi Widiyanti, Bendahara Koperasi Srikandi Kapirel, memperlihatkan buku catatan harian “Ngayukno Omah” dari Arkom Jatim. Ia memperlihatkan isi catatannya: seputar suhu yang ia rasakan di berbagai waktu di aneka bagian rumah selama tujuh hari.
Arkom Jatim juga memasang alat pendeteksi suhu, yakni termohigrometer, di rumah Ika agar perubahan temperatur dapat dipantau secara berkala. Keberhasilan tiga rumah yang direnovasi membuat Ika yakin. Ia berencana mengajukan renovasi serupa bagi huniannya.
Melihat hasil renovasi kemarin yang membuat rumah jadi lebih sejuk, saya juga berencana mengajukan.”
Ika sudah tahu bagian rumah mana yang akan direnovasi: bagian atas di area teras, serta bagian samping rumah yang berbatasan dengan jalan. Fokus utama dari perbaikan pada area-area tersebut adalah untuk memperbaiki tembok dan membuat "angin-angin" atau lubang ventilasi.
“Alasan utamanya adalah ingin memperbaiki sirkulasi udara supaya rumah tak terasa panas lagi,” kata Ika.
*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.