SEORANG lelaki jangkung berkulit sawo matang muncul dari balik pagar dan memarkir motornya di sebuah rumah di Jalan Pakis Wetan, Surabaya. Mochammad Bachri, namanya. Ia baru saja pulang dari pasar. Lelaki yang pernah menjadi TKI di Arab Saudi itu, sejak 1997 berjualan ayam potong di sebuah lapak yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
Pagi itu, usai membasuh diri dan berganti pakaian, pria 59 tahun itu duduk termangu di teras rumah. Pikirannya melenting ke masa lalu, ketika anaknya, Abdulloh Ibrohim (25), mengalami kebutaan sejak duduk di bangku SD.
Dahulu, anaknya senang bermain layang-layang sepulang sekolah di siang yang terik di Gelora Pancasila. Dari pukul 12.00-15.00 WIB, Ibrohim menatap langit yang silap mata. Awalnya, hal itu tidak menjadi masalah.
Namun, suatu hari anaknya mengeluhkan matanya yang sering berair, memerah, dan terasa gatal. “Saya bawa ke dokter, lalu Ibrohim disebut kena alergi sinar matahari,” kata Bachri, yang kami temui di rumahnya pada Selasa, 11 November 2025.
Tak lama setelah itu, seorang tetangga menyarankan agar anaknya memakai obat tetes mata. Obat ini sebenanrya tidak boleh semarangan diberikan. Harus ada resep dokter. Keluhannya memang mereda: matanya tak lagi berair, memerah, atau terasa gatal. Tapi, sesekali gejala itu kambuh.
Adakalanya, kata Bachri, anaknya juga mengompres mata dengan air dingin atau es batu untuk meredakan rasa tidak nyaman. Sekian tahun kemudian, saat Ibrohim duduk di bangku SMP di sebuah pondok pesantren, ia mengalami benturan saat bermain dengan teman-temannya.
Dahinya tergetok pintu lemari hingga darah mengucur di sekitar alis kanan. Dalam hitungan hari, Ibrohim mulai mengeluh kesulitan membaca huruf hijaiyah saat mengaji dan tidak bisa melihat teks di papan tulis dengan jelas. “Kejadian itu membuat penglihatan Ibrohim makin terganggu.”
Gamang dengan kondisi anaknya, Bachri membawa Ibrohim berobat alternatif dari Pasuruan hingga Lamongan. Hanya saja, semua usaha tersebut tidak membuat penglihatan Ibrohim membaik. Lantas, Bachri membawa anaknya periksa ke RSUD Dr. Soetomo dan Ibrohim didiagnosis menderita glaukoma serta membutuhkan operasi.
Bachri yang saat itu syok dan getir, memilih menggunakan layanan umum dan menolak memakai BPJS. Menurutnya, penggunaan BPJS akan membuat antrean panjang dan proses penanganan anaknya lebih lama. “Saya pakai layanan umum agar anak saya segera ditangani.”
Walakin, biaya operasi yang harus ditanggung Bachri sekitar Rp15 juta per mata. Anaknya perlu menjalani dua operasi, mata kanan dan kiri, sehingga total biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp30 juta. “Uang itu saya ambil dari tabungan pendidikan anak. Jadi tidak sampai utang.”
Selama mendampingi Ibrohim berobat dan menjalani pemeriksaan, Bachri memasrahkan lapak ayam potong kepada istrinya, agar ia bisa mondar-mandir menemani Ibrohim ke mana pun. Biarpun pemasukannya sempat menukik, usaha potong ayam Bachri masih tetap berjalan.
Setelah didiagnosis glaukoma dan kelar menjalani operasi, Ibrohim pindah sekolah ke SMP di Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) di Jalan Gebang Putih, Surabaya. Di sana, ia mulai belajar Braille dan menyesuaikan diri dengan kondisinya sebagai disabilitas netra.
Tempo itu, Bachri dan keluarganya juga belajar beradaptasi. Di dalam rumah, Ibrohim kerap masih menyenggol orang, benda, atau dinding karena satu matanya hanya mampu melihat secara terbatas atau low vision, sementara mata lainnya tidak dapat melihat sama sekali atau gelap total. “Kadang, saat saya sedang berjalan di rumah, dia menabrak saya.”
Bachri pernah diberitahu oleh seorang dokter bahwa penglihatan anaknya di salah satu mata hanya sekitar 35 persen. Namun, kini anaknya mengungkapkan bahwa kondisi low vision yang dialami justru hanya membantunya melihat sekitar 5-10 persen.
Hampir setiap hari di masa-masa itu, Bachri mengantar dan menjemput anaknya ke YPAB karena masih membutuhkan waktu untuk benar-benar mandiri bepergian. Namun, ketika Bachri berhalangan, Ibrohim perlahan mulai bisa berangkat dan pulang sendiri dengan menaiki angkot yang jalurnya searah dengan sekolahnya.
"Dulu, belum ada ojek daring seperti sekarang. Sekarang, semuanya jadi lebih mudah. Mau ke mana-mana tinggal pesan ojek daring lewat HP." Setelah menuntaskan SMP, anaknya melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 10 Surabaya. Di kawasan itu, akses angkutan umum lebih sulit, sehingga Ibrohim kadang pulang-pergi (PP) bersama temannya dan memberikan uang ganti bensin.
Selama di luar rumah, kata Bachri, adakalanya Ibrohim menggunakan tongkat. Meski penampilannya sekilas tampak seperti orang awas, Ibrohim sebenarnya tidak dapat melihat dengan jelas. Namun, tetap saja, ada orang yang mengejek atau salah paham terhadap kondisinya.
“Waktu anak saya jalan di dekat sini, ada orang yang bilang, ‘itu matanya kelihatan kok pakai tongkat’.”
Pada kelas 11–12, anaknya mendapat beasiswa untuk bersekolah di Sekolah Khusus Olahraga Disabilitas (SKODI) Solo. Di sana, seluruh administrasi dan akomodasi diurus oleh pihak sekolah, sehingga Bachri merasa anaknya berada dalam kondisi yang aman.
“Untung, di sana anak saya tinggal di asrama, jadi masih ada teman-temannya yang paham. Saya cuma memantau dari jauh.”
Usai lulus, Ibrohim melanjutkan kuliah di Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Selama itu, kata Bachri, anaknya mendalami sport massage, yang kemudian menjadi pekerjaan sehari-hari.
Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Ada saja teman-temannya yang mengejek, yang mengatakan bahwa Ibrohim masih muda tetapi sudah menjadi tukang pijat. “Suatu ketika, orang yang mengejek itu malah meminjam uang ke anak saya.”
Bachri pernah mendengar dari anaknya, bahwa anaknya sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. Namun, niat itu urung dilakukan setelah ia mendengarkan ceramah Emha Ainun Nadjib, atau Cak Nun, yang mengingatkannya tentang makna dan nilai-nilai kehidupan.
Di ujung percakapan, Bachri sempat diliputi rasa bersalah karena merasa tidak mampu menjaga anaknya dengan baik saat masih kecil. Namun, ia sudah menerima dan berdamai dengan keadaan. Lelaki jangkung itu justru bangga melihat anaknya yang mampu hidup mandiri.
“Saya berharap anak saya menjadi pribadi yang cerdas, disiplin, dan taat, serta bisa memberi manfaat bagi banyak orang.”
Ibu Tiga Anak Disabilitas Netra
Vera Hariyanti (44) beranjak dari duduk dan menyambut kedatangan kami. Ia adalah staf di sebuah gudang konveksi. Rumahnya berada tidak jauh di belakang sebuah Taman Kanak-kanak (TK) di Jalan Raya Sutorejo, Surabaya.
Mulanya, Vera memiliki tiga anak laki-laki, semuanya mengalami disabilitas netra. Dua di antaranya terlahir dengan kondisi itu; satu telah meninggal akibat konsumsi minuman instan secara berlebihan, sedangkan satu lainnya kehilangan penglihatan saat masih bersekolah di TK hingga SD.
Dahulu, anak ketiganya yang bernama Ade Dwi (20) memiliki pengelihatan yang baik. Saat TK, ia suka bersepeda bersama teman-temannya di sekitar kampung. Namun, kegemarannya itu sering membuatnya jatuh, hingga beberapa kali kepalanya terbentur.
Tak lama kemudian, Vera mulai menyadari perubahan pada kebiasaan anaknya. Ade sering menggunakan HP dengan jarak yang dekat dan membaca buku hanya sekitar 5 cm dari matanya. Penglihatan anaknya mulai kabur, hingga ukuran huruf di layar HP pun harus diperbesar agar tetap bisa dibaca.
“Lalu, saya membawa Ade ke dokter. Katanya, saraf penglihatannya menipis,” ujar Vera, saat kami temui pada Rabu, 29 Oktober 2025. Hasil pemeriksaan itu membuat seorang dokter menyarankan Vera untuk menyekolahkan anaknya di YPAB. Tanpa banyak berpikir, Vera segera mendaftarkan kedua anaknya, termasuk Ade, ke SD khusus disabilitas netra itu.
“Di sana, saya bertemu dengan orang tua lain yang anaknya juga mengalami disabilitas netra.”
Berbagai pengobatan sudah dijalani. Mulai dari alternatif sampai dokter spesialis mata. Hasilnya nihil. Mata pengelihatan Ade terus memburuk. Hingga kelas 3–4 SD, Ade masih mampu mengenali bentuk motor dan mobil di jalan raya, meski objek yang lebih jauh mulai sulit terlihat.
Menurut Vera, penurunan penglihatan paling terasa saat masa peralihan dari kelas 6 SD ke kelas 7 SMP. Sejak bersekolah di YPAB, penglihatan Ade kian terbatas, yang tersisa hanya bayangan samar.
Di sekolah itu, Ade belajar Braille menggunakan Liglet dan Stylus, berlatih papan hitung atau Blokces, serta mengikuti olahraga dengan bola berbunyi. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, ia perlahan menyadari bahwa dirinya berbeda dari anak-anak lain.
“Anaknya percaya diri. Meskipun tidak bisa melihat, ia tetap bergaul dengan anak-anak lain seperti biasa.”
Selama anaknya bersekolah di SD-SMP di YPAB, Vera selalu menggunakan angkot untuk mengantar dan menjemput. Saat itu ia juga bekerja. Tak mudah baginya. Ia harus mempersiapkan semuanya agar anaknya bisa berangkat dan pulang sekolah dengan selamat
“Pagi saya mengantar anak ke sekolah, jam 2 siang menjemput, lalu jam 3 sore berangkat kerja. Waktu itu saya memang mencari pekerjaan yang tidak masuk pagi, yang mulai jam 3 sore sampai jam 9 malam. Benar-benar perjuangan.”
Setelah lulus, Ade melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 10 Surabaya. Tentu, masa adaptasi Ade tidak mudah, terutama setelah terbiasa dengan lingkungan di YPAB. Vera baru tahu, bahwa anaknya pernah meminta bantuan kepada temannya saat Ospek, namun ditolak.
Pengalaman itu justru membuat Ade tidak malu dan tidak takut lagi untuk meminta bantuan kepada orang lain. Menurut Vera, perlahan ia mampu berinteraksi lebih baik dan semakin percaya diri. “Iya, sekarang sudah terbiasa pergi ke mana-mana sendiri. Saya juga membiasakan anak saya untuk mandiri.”
“Tidak pernah saya melarang anak saya keluar rumah. Kalau hanya di rumah, dia justru tidak berkembang.”
Kini, kedua anaknya yang merupakan disabilitas netra sudah berkuliah. Termasuk Ade, kata Vera, sedang menempuh pendidikan S1 Hubungan Internasional di UPN Veteran Jawa Timur, Angkatan 2025.
Vera mengakui kadang merasa membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah. Cara yang paling membantunya meredakan kesedihan, ujar Vera, adalah dengan bertemu dengan orang tua lain yang juga memiliki anak disabilitas. “Saya sering berkumpul, mencari kesibukan dan hiburan sendiri. Ketemu orang tua yang anaknya disabilitas, bisa saling cerita, gimana menghadapinya, cara mengurusnya, dan lainnya.”
Vera berusaha memberi semangat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk anak-anaknya. Ia menerima semua kondisi dengan lapang dada, dan sikap itu juga ia tularkan kepada anak-anaknya. "Saya bilang ke anak-anak, kalian nggak boleh menyerah. Harus ikhlas menerima pemberian Tuhan Saya berdoa saja, selalu berdoa, berusaha, dan berjuang. Itu saja yang bisa saya lakukan.”
Bangun Tidur, Tiba-tiba Mata Gelap
Citra Mayasari (43) terbaring di atas tempat tidur di rumahnya di Jalan Kedurus. Selama setahun terakhir, ia berjuang melawan penyakit autoimun. Kini ia sulit untuk sekedar duduk, berdiri, apalagi berjalan.
Sehari-hari, Citra dirawat oleh anaknya, Nabili Iqbal. Di tangan pemuda 19 tahun inilah, Citra menyandarkan hidupnya. Situasi inilah yang menyita pikiran Citra. Nabili, adalah anak dengan disabilitas netra.
Di kamar sederhana itu, Nabili berbincang dengan ibunya. Citra selalu bertanya, apa aktivitas anaknya di luar sana. Ia selalu khawatir. “Kamu sekarang ikut pelatihan apa, Nak? ujar Citra lirih.
Citra tampak tak mampu berbicara banyak. Ia tidak memiliki cukup energi untuk menjelaskan panjang lebar tentang upayanya merawat dan membesarkan anaknya yang, secara tiba-tiba, mengalami disabilitas netra.
Syahdan, Nabili kemudian menceritakan perjuangan ibunya, yang mengawali kisah dengan mengatakan bahwa selama ini mereka hanya tinggal berdua di rumah.
Mulanya, ketika Nabili duduk di bangku SD, Citra tak pernah berhenti mendukungnya untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Salah satunya adalah drum band, tempat anaknya memainkan pianika.
“Bahkan, saya dulu sempat ikut lomba drum band sampai tingkat provinsi Jawa Timur,” kata Nabili, saat ditemui di rumahnya pada Minggu, 2 November 2025.
Semuanya berubah saat Nabili duduk di kelas 5 SD. Suatu pagi, saat bangun tidur, ia terkejut karena pandangannya tiba-tiba gelap. Nabili sempat mengira itu hanya efek kelelahan atau terlalu sering begadang hingga larut malam.
“Saat itu, saya tidak cerita ke ibu, karena saya terbiasa memendam dan tidak terbuka kepada orang tua kalau ada sesuatu yang terjadi pada diri saya,” ujar Nabili.
Tempo itu, Citra mulai menyadari ada yang tidak beres dengan penglihatan Nabili pada acara kelulusan SD. Citra panik saat melihat anaknya hampir terjatuh saat menaiki tangga.
"Itu membuat ibu saya khawatir. Beliau kemudian bertanya kenapa saya hampir jatuh waktu naik panggung. Dari situ, ibu mulai curiga bahwa ada sesuatu yang terjadi pada mata saya," ungkap Nabili.
Sejak kejadian itu, Citra segera membawa Nabili ke dokter. Hasil pemeriksaan membuat hatinya remuk: mata kanan Nabili sudah tidak bisa melihat sama sekali atau gelap total, sementara mata kirinya hanya mampu melihat sedikit, tergolong low vision“Saat itu, dokter bilang ke ibu kalau apa yang saya alami itu sulit ditangani, karena tergolong langka,” tutur Nabili.
Dari RSMM di Ketintang, mereka dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo. Citra masih ingat betul bagaimana ia harus bolak-balik mengantar Nabili untuk memeriksakan mata. Namun, upaya yang melelahkan itu akhirnya dijawab dokter dengan kabar yang membuat Citra remuk untuk kedua kalinya: mata Nabili tidak bisa disembuhkan.
“Ibu dan keluarga marah dan bingung, kok bisa nggak bisa disembuhkan. Padahal kami datang ke sini tujuannya agar saya sembuh,” imbuh Nabili.
Meski begitu, Citra tidak menyerah. Ia membawa anaknya ke suatu rumah sakit di Jalan Undaan. Di sana, biaya perawatan mencapai Rp3 juta per hari. Setelah beberapa kali pemeriksaan, Citra mulai keberatan dengan biaya pengobatan yang begitu tinggi.
“Tapi waktu itu hasilnya sama. Kata dokter, saya tidak bisa disembuhkan,” kata Nabili.
Citra juga mengajak Nabili ke berbagai pengobatan alternatif. Mulai di Surabaya sampai Situbondo. Tidak membuahkan hasil. Malah Citra justru menjadi korban penipuan: uang Rp40 juta raib dibawa kabur orang yang mengaku bisa membantunya.
Saat Nabili memasuki SMP, penglihatannya semakin redup dan tidak bisa tertolong lagi. Citra kemudian memutuskan untuk memindahkan anaknya ke YPAB. Di sana, Nabili mulai belajar Braille, meski awalnya merasa benar-benar awam.
Ia sering merasa takut melihat teman-temannya di sekolah, yang sebagian matanya tertutup karena disabilitas sejak lahir. Saat itu, pihak YPAB memutuskan agar Nabili tinggal kelas karena ia sering tidak masuk sekolah dan tidak mengikuti ujian.
Keputusan itu bisa diterima Nabili, karena aturan serupa juga diterapkan di banyak sekolah lain. Selepas dari YPAB, Nabili melanjutkan pendidikan ke SMA Muhammadiyah 10 Surabaya. Di sana, ia kembali beradaptasi dengan lingkungan baru hingga akhirnya berhasil lulus.
Di sebuah kamar berukuran sekitar 2x3 meter, Citra terbaring lemas di atas tempat tidur. Setelah mewawancarai Nabili, saya beralih mengajukan beberapa pertanyaan kepada Citra.
Citra kemudian memberikan sejumput motivasi untuk anaknya. Ia mengatakan bakal mendukung segala impian Nabili dan selalu mendoakan agar anaknya meraih kesuksesan.
“Saya bilang pada anak saya, ‘Sampai kapan kamu bergantung pada orang lain? Tidak semua orang akan selalu ada di sampingmu. Kamu harus bisa mandiri’,” kata Citra, untuk Nabili.
Citra baru tahu, Nabili bercita-cita menjadi anggota TNI AD. Namun, keinginannya berubah setelah anaknya menjalani magang di YPAB, sebuah lembaga yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus ganda.
Selama magang, seorang siswa menarik perhatian Nabili karena menunjukkan perilaku yang tidak konsisten. Ia kemudian menyarankan para guru untuk melakukan evaluasi ke psikolog atau psikiater sebelum menetapkan strategi pengajaran.
Pengalaman itu menumbuhkan cita-cita Nabili untuk menjadi guru di sekolah umum. Ia ingin menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua siswa, termasuk mereka yang memiliki disabilitas.
“Semoga Nabili menjadi anak yang mandiri, tidak bergantung pada orang lain, selalu berusaha meraih cita-citanya, serta menjadi pribadi yang berguna dan sukses di kemudian hari,” pungkas Citra.
Yang Bisa Dilakukan Orang Tua
Tutus Setiawan dari Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT) menekankan bahwa orang tua perlu menyiapkan diri, baik secara mental maupun pikiran, agar mampu menerima kondisi yang dialami anak yang tiba-tiba mengalami tunanetra.
"Penerimaan diri orang tua sangat penting karena menjadi dasar dukungan bagi anak tunanetra,” kata Tutus, ketika kami hubungi melalui pesan instan pada Rabu, 12 November 2025.
Setelah keluarga atau orang tua mampu menerima kondisi anak, langkah selanjutnya adalah memberikan penjelasan dan mendampingi anak. Tujuannya agar anak juga dapat menerima kondisinya sendiri.
Memang, kata Tutus, proses ini tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama. "Jangan menjauhkan anak, selalu temani mereka, karena dukungan keluarga sangat menentukan perkembangan kepribadian anak."
Perubahan sikap keluarga setelah anak menjadi disabilitas netra bisa membuat anak merasa minder atau putus asa, sehingga dorongan dan motivasi orang tua sangat dibutuhkan. Tantangan awal biasanya muncul dalam mendampingi anak, memberikan perilaku yang tepat, mengajarkan keterampilan sehari-hari, hingga menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka.
Salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah berkonsultasi dengan guru di SLB. "Orang tua bisa mencari guru SLB di sekitar tempat tinggal atau memanfaatkan internet, misalnya Youtube, untuk mendapatkan panduan menghadapi tantangan anak tunanetra."
Pendampingan psikolog bisa membantu, tetapi tidak semua orang tua mampu secara finansial. Jika ada fasilitas seperti BPJS, hal itu bisa dimanfaatkan.
Namun yang paling penting adalah dukungan psikis keluarga. Seperti orang tua harus menerima anak tunanetra, tidak mengucilkannya, selalu berdiskusi, serta mendorong potensi yang bisa dikembangkan untuk masa depan.
“Lihat hal-hal apa saja yang bisa dilakukan oleh tunanetra, serta kisah sukses para tunanetra yang sudah banyak dicapai teman-teman di luar sana. Hal ini bisa menjadi motivasi bagi anak agar mereka berkembang lebih baik.”
Setelah orang tua menerima kondisi anak dan memberikan dukungan, langkah berikutnya adalah mengupayakan pengobatan, misalnya untuk memaksimalkan sisa penglihatan.
Kata Tutus, pilihlah pendidikan yang tepat, baik melalui SLB maupun sekolah inklusi. SLB sering menjadi alternatif terbaik karena menyediakan perlakuan dan pendampingan khusus yang biasanya tidak tersedia di sekolah inklusi.
“Dikhawatirkan, jika anak masuk sekolah inklusi tanpa pendampingan yang memadai, perkembangannya tidak dapat terkontrol dengan baik. Sedangkan di SLB, pendidikan lebih optimal karena guru-gurunya memang terlatih untuk mendidik anak-anak tunanetra secara khusus.”