Penulis: Messa Adi Saputra
Fotografer: Messa Adi Saputra
Editor: Miftah Faridl
Lokasi: Yogyakarta
KENDARAAN roda tiga itu menjadi ciri khas Difa Bike di jalanan Yogyakarta. Bentuknya berbeda dari sepeda motor pada umumnya. Dengan modifikasi tertentu, kendaraan ini dirancang agar dapat digunakan oleh pengemudi dengan kondisi fisik yang berbeda, sekaligus memberikan ruang yang lebih aman dan nyaman bagi penumpang yang membutuhkan aksesibilitas tambahan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Antok, kembali bekerja sebagai pengemudi adalah sesuatu yang dulu terasa hampir mustahil. Satu hal yang sempat hilang dan kini hadir kembali. Hidupnya memang tak bisa lepas dari jalanan.
Antok (45) merupakan salah satu driver Difa Bike. Pengalaman Antok yang lama di jalanan sebagai supir bus pariwisata memudahkannya beradaptasi sebagai driver Difa Bike. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Antok, kembali bekerja sebagai pengemudi adalah sesuatu yang dulu terasa hampir mustahil. Satu hal yang sempat hilang dan kini hadir kembali. Hidupnya memang tak bisa lepas dari jalanan.
Pada 2013, ia mengalami kecelakaan tunggal saat mengemudikan bus pariwisata. Peristiwa itu mengubah segalanya. Kecelakaan tersebut, membuat salah satu kakinya harus diamputasi. Hidup Antok hancur dan ia sempat putus asa. Kaki yang menghidupinya, sudah tak lagi dimilikinya.
Setelah menjalani masa pemulihan, hidup Antok berubah drastis. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, membantu pekerjaan orang tuanya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi barunya. Di masa itu, tak sedikit pun terbersit olehnya bisa kembali mengemudikan kendaraan di jalanan.
Antok menggunakan kaki palsu sebagai alat bantu untuk bekerja menjadi driver Difa Bike. Antok mempunyai beberapa kaki palsu, akan tetapi banyak yang sudah rusak. (Messa Adi Saputra)
Empat tahun kemudian, tepatnya 2017, sebuah rekomendasi dari keluarga membawanya mengenal Difa Bike. Dari sanalah Antok perlahan menemukan kembali kesempatan untuk bekerja. Kali ini bukan bus, melainkan sepeda motor. Harapannya membuncah. Hidup Antok kembali bergairah.
Karena sebelumnya sudah terbiasa mengemudikan kendaraan besar seperti bus pariwisata, Antok tidak mengalami banyak kesulitan saat mulai mengendarai motor roda tiga yang digunakan oleh Difa Bike. Kendaraan tersebut telah dimodifikasi agar dapat digunakan oleh pengemudi dengan kondisi fisik yang berbeda seperti dirinya. Berat yang ia rasakan, dibayar rasa sabar dan tekun.
Kesulitan yang ia rasakan di awal justru bukan pada kendaraan, melainkan pada pelanggan yang masih sedikit. “Awal itu, masih sulit, Mas. Untuk urusan pelanggan, masih sepi,” ujarnya mengingat masa-masa pertama bekerja.
Seiring waktu, situasi perlahan berubah. Pelanggan mulai berdatangan dan beberapa di antaranya bahkan menjadi pelanggan tetap. Bu Yosin, misalnya, sering menggunakan jasa Antok untuk pergi ke rumah sakit. Ada pula Pak Irvan dan Bu Rubiyem, penyandang tuna netra yang rutin menggunakan layanan Antok untuk pergi ke pengajian.
Irvan (kiri) dan Rubiyem (kanan), merupakan pasangan suami istri penyandang tuna netra. Keduanya sering menggunakan jasa Antok. (Messa Adi Saputra)
Antok sedang mencoba menghidupkan motor roda tiganya. Antok akan mengantarkan pulang Pak Irvan dan Bu Rubiyem ke rumah. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian pelanggan, layanan seperti ini bukan hanya soal transportasi. Kehadiran pengemudi yang memahami kondisi penyandang disabilitas lainnya, membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Hubungan yang terbangun seringkali lebih personal, alih-alih sekedar penumpang dan pengemudi. Sebab, mereka memiliki pengalaman hidup yang tidak jauh berbeda.
Hubungan yang terjalin seringkali berkembang menjadi lebih dari sekadar hubungan jasa transportasi. Dalam perjalanan-perjalanan singkat itu, percakapan sederhana sering terjadi, menghadirkan rasa saling memahami di antara mereka. Namun perubahan terbesar yang Antok rasakan bukan hanya soal pekerjaan atau penghasilan.
“Rasa minder itu hilang, Mas,” katanya pelan. “Kalau waktu di kampung, cuma saya sendiri yang seperti ini. Tapi di sini jadi ada temannya.”
Antok menjemput Bu Yosin di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Bu Yosin sering menggunakan jasa Antok untuk mengantarkannya kontrol rutin dan mengantarkan untuk mengahmpiri teman-temannya. (Messa Adi Saputra)
Di Difa Bike, ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman hidup yang tak jauh berbeda. Ia tak lagi merasa sendiri. Mereka saling berbagi cerita, saling memahami, dan perlahan membangun kembali kepercayaan diri yang sempat hilang.
Sepuluh tahun lalu, Difa Bike bermula dari sebuah keinginan sederhana: bisa pergi ke mana saja dengan leluasa. Bagi banyak orang, hal tersebut mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Namun bagi penyandang disabilitas, mobilitas sering kali menjadi tantangan tersendiri. Akses transportasi yang terbatas membuat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain tidak selalu mudah.
Triyono (43), pendiri Difa Bike, memahami pengalaman itu secara langsung. Ia sendiri merupakan seorang penyandang tuna daksa. Sebelum mendirikan Difa Bike, Triyono menjalankan beberapa usaha di Yogyakarta, mulai dari usaha konveksi hingga membuka sebuah kafe. Kafe tersebut kemudian menjadi tempat berkumpulnya komunitas difabel di kota itu.
Dari obrolan-obrolan santai di tempat itu, berbagai pengalaman mulai dibagikan. Banyak di antara mereka menceritakan kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika harus bepergian atau mencari pekerjaan. Percakapan sederhana itu perlahan membentuk pemahaman yang lebih dalam tentang kebutuhan nyata yang dihadapi komunitas difabel.
Triyono (43) inisiator Difa Bike sedang bersiap untuk pergi menghadiri sebuah acara di dekat rumahnya dengan motor roda tiganya. (Messa Adi Saputra)
Dari situlah, Triyono mulai mendengar berbagai cerita tentang kesulitan yang dihadapi oleh teman-teman difabel. Cerita tentang sulitnya mendapatkan pekerjaan, keterbatasan akses pendidikan, hingga hambatan dalam mobilitas sehari-hari.
“Banyak cerita tentang kesulitan yang dialami teman-teman difabel. Sulit dapat kerja, mobilitasnya sulit juga,” kata Triyono. Salah satu pengalaman yang cukup sering ia dengar berkaitan dengan penggunaan transportasi umum maupun layanan ojek online.
“Kalau pakai kursi roda terkadang sulit akses saat menggunakan jasa ojek online mainstream,” ujarnya. Dari situ, muncul gagasan untuk menciptakan layanan transportasi yang dapat menjawab dua kebutuhan sekaligus: memudahkan mobilitas bagi penyandang disabilitas, sekaligus membuka peluang kerja bagi mereka.
Difa Bike kemudian hadir sebagai ruang untuk mewujudkan gagasan tersebut. Sepeda motor dimodifikasi dengan tambahan 1 roda ladi. Penyandang disabilitas tidak hanya dapat menggunakan layanan transportasi ini sebagai penumpang, tetapi juga sebagai pengemudi. Bagi sebagian pengemudi, ini menjadi kesempatan untuk kembali aktif bekerja dan berinteraksi dengan masyarakat.
Triyono penyandang disabilias tuna daksa memulai perjalanan dengan Difa Bike dari sepuluh tahun lalu. (Messa Adi Saputra)
Perjalanan Difa Bike tentu tidak selalu berjalan mulus. Di awal kemunculannya, keraguan dari masyarakat masih sering muncul. Stigma terhadap kemampuan penyandang disabilitas menjadi tantangan yang harus dihadapi Triyono dan tim.
Namun mereka terus berupaya memperkenalkan layanan ini kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan secara perlahan, sambil terus melatih para pengemudi agar dapat memberikan pelayanan yang baik dan aman bagi para penumpang. Seiring waktu, Difa Bike mulai dikenal oleh masyarakat Yogyakarta. Motor-motor roda tiga itu kini menjadi pemandangan yang tidak asing di sudut-sudut kota.
Kehadiran Difa Bike tidak hanya memberikan pilihan transportasi alternatif, tetapi juga membuka ruang baru bagi para penyandang disabilitas untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Melalui pekerjaan sebagai pengemudi, mereka dapat kembali bekerja, berinteraksi dengan banyak orang, dan menunjukkan kemampuan yang sering kali dipandang sebelah mata.
Tidak hanya menjemput dan mengantar, Antok juga sering menunggu penumpangnya sampai acara selesai. (Messa Adi Saputra)
Antok menunjukkan bekas luka di kaki kanannya akibat kecelakaan yang dialami Antok pada tahun 2013 lalu. (Messa Adi Saputra)
Bagi sebagian masyarakat, keberadaan Difa Bike juga menjadi pengingat bahwa aksesibilitas masih menjadi isu penting di banyak kota. Transportasi yang ramah bagi penyandang disabilitas belum selalu mudah ditemukan. Kehadiran layanan seperti Difa Bike menunjukkan bahwa inisiatif kecil dari komunitas dapat membuka peluang baru, tidak hanya bagi penyandang disabilitas, tetapi juga bagi masyarakat yang membutuhkan layanan transportasi yang lebih inklusif.
Bagi para pengemudinya, Difa Bike bukan sekadar pekerjaan. Tempat ini juga menjadi ruang untuk saling mendukung dan membangun kembali rasa percaya diri. Melalui perjalanan-perjalanan kecil di jalanan kota, mereka tidak hanya mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan kemampuan.
Di jalanan Yogyakarta, motor-motor roda tiga itu terus melaju. Perlahan namun pasti, mereka membawa lebih dari sekadar perjalanan, tetapi juga harapan akan ruang yang lebih inklusif bagi semua orang. Semua berharap, transportasi inklusif hadir pula di kota-kota lain seperti Surabaya.