SEJAK KEMATIAN ISTRINYA, ia menjadi pria murung yang gagal dalam segala urusan. Ia lalu melarikan diri di kedai-kedai judi dan minuman keras. Kebiasaan itu membuatnya terbangun dari lelap ketika kota telah panas dan bersemangat. Akibatnya, ia sering mengantuk di proyek dan akhirnya dipecat karena ceroboh; karena berkali-kali menjatuhkan palu dan benda keras lain dari genteng, dan membahayakan keselamatan kuli-kuli lain. Jiwanya yang kelabu membuatnya malas. Lama kelamaan sisa hartanya pun terkuras.
Kini, pada usia empat puluh tujuh tahun, ia tinggal di sebuah bangunan mangkrak di tengah kota, yang dikitari pagar seng berkarat. Setiap pagi, ia keluar dari sana dengan mencongkel lembar seng bagian belakang bangunan, lalu menuju keramaian kota, lantas berdiri di depan toko yang telah lama bangkrut dan memegang selembar kardus bertuliskan “Tuhan mencintai orang baik,” demi sepeser uang dari mereka yang iba.
Dua minggu lalu, ia menemukan seekor anjing di bangunan tempatnya tinggal. Bagaimana anjing itu bisa di sana, itu teka-teki baginya. Anjing itu berkeliaran di kerikil, menyeret tali yang terikat di lehernya. Ia berbulu pendek dan berwarna krem. Wajahnya datar dengan lipatan-lipatan halus. Hidung pesek, telinganya seperti telinga kelelawar, tampak bersih dan terawat dan rasa-rasanya tak pantas di tempat kumuh itu.
Ia memutuskan untuk mendekat. Ia berlutut dan memeriksa liontin pada kalung anjing itu. Namanya, Bruno.
“Kau tahu, akan kucatat hari ini sebagai hari kemujuranku,” katanya sambil mengangguk-angguk dan menyeringai.
Ia tahu bahwa Bruno jenis anjing yang lazimnya digendong dengan hati-hati oleh seorang pesuruh, mengikuti majikannya memasuki hotel bintang lima. Andai Bruno laku dijual, pikirnya, ia mungkin tak perlu mengemis dalam waktu lama, perutnya akan terisi di warung-warung yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan. Ia bahkan membayangkan dirinya punya cukup waktu luang untuk berbaring malas-malasan, terutama ketika hujan membasahi kota.
Langit seakan-akan menegaskan khayalannya. Hujan benar-benar turun, dan ia pun membawa Bruno berteduh di bawah atap setengah jadi, mengikatnya pada tiang beton. Beralaskan kardus, ia berbaring dan menarik selimut lusuh yang pernah ia temukan di tumpukan sampah.
Keesokan harinya, ketika menuju hiruk-pikuk kota untuk mengemis, benaknya merekam toko-toko hewan yang dilaluinya. Ia pulang menjelang senja, dan menggiring Bruno keluar setelah malam mulai naik.
BACA JUGA : Hidup di Negeri Omong-omong
Anjing itu membuntutinya seperti membuntuti tuannya. Tujuan mereka Pojok Satwa, toko suram berlampu redup yang terletak di siku lorong yang becek.
“Maaf, saya tak ingin ada masalah,” kata penjaga toko itu sambil mengamati Bruno, setelah tokoh utama kita mengungkapkan maksud kedatangannya.
Penolakan itu membuat pria itu geram. Ia berjalan lagi sambil menggerutu, dan sempat menendang kaleng kosong yang berada di jalurnya. Ia bertanya-tanya, masalah apa gerangan yang ditakuti oleh penjaga toko. Berjalan santai di belakangnya, Bruno menjulurkan lidah dan menggoyang-goyang ekor.
Toko kedua, Paw and Care, dijaga perempuan paruh baya berwajah bulat dan ramah. Ia menyambut mereka dengan bersahabat, bahkan berjongkok untuk mengusap kepala Bruno dengan penuh kasih.
Dada pria itu dikembangkan oleh harapan. Mungkin, pikirnya, inilah akhir dari kisah anjing itu. Namun, darahnya dibuat mendidih hanya dengan satu pertanyaan tentang dokumen anjing itu.
“Kau kira ini urusan tanah!” serunya.
“Jaga nada bicaramu.” Perempuan tegas itu menyilangkan tangan di dada.
Ia pun pergi lagi, kali ini dengan kebingungan yang bercampur kesal. Di tepi jalan, ia berhenti untuk menoleh pada Bruno. Anjing itu menatap cahaya lampu mobil yang melintas dengan kepala agak mengangguk-angguk. "Sial,” gerutunya sambil kembali melangkah.
Happy Paws tampak lebih megah dari dua sebelumnya. Lampunya terang, kandang-kandang tertata di dalam. Dari balik dinding kaca, tampak empat orang bercakap-cakap.
Ketika pria itu masuk, mereka menoleh serempak. Mereka mula-mula menatap Bruno, lalu beralih padanya. Merasa dilihat seperti benda asing, ia memandang sekilas sandal japit, celana lusuh, dan jaket jeans kotor yang dikenakannya. Tak peduli bahwa toko itu “bukanlah tempatnya”, ia menyampaikan maksud kedatangannya.
“Itu milikmu?”
“Dia bersamaku, bukan.”
Mereka terkikik.
“Kau tahu dia ras apa?”
Sekali lagi, ia dibuat geram sehingga dengus napasnya terdengar kencang.
“Kalau tak mau akan kubawa ke tempat lain.” Ia memutar badan.
“Kami kenal pemiliknya!”
Langkahnya terhenti. Dari lantai keramik, hawa panas seakan-akan naik dan menyebar ke seluruh badannya, membuat dadanya berdebar-debar. Tanpa berpikir lagi, ia berjongkok untuk membopong Bruno, mendorong pintu toko dengan keras, lalu terbirit-birit.
Mereka pun mengejar.
Ia menyusup di antara lalu-lalang orang. Lututnya yang lemah pun goyah sehingga ia tersungkur di pinggir jalan dengan cara menyedihkan. Orang-orang berkerumun, menontonnya dengan raut heran sambil berbisik-bisik.
Ketika mereka yang mengejarnya mendekat, Bruno yang telah bangkit pun menyalak, membuat orang-orang melangkah mundur, termasuk mereka yang mengejarnya. Pria itu merangkak seperti kucing, meraih Bruno, lalu bangkit dan berlari menyeberangi hiruk-pikuk jalan raya. Lengkingan klakson tak henti-henti menggempurnya.
“Hampir saja,” gumamnya sambil membungkuk-bungkuk, tersengal-sengal di bawah lampu jalan, ketika akhirnya sampai di tempat sepi. Ia melirik Bruno yang menatapnya dengan mata sipit seperti orang mengantuk.
“Kau menyelamatkanku,” katanya lagi sambil mengatur napas.
Rasa lelah akhirnya menang juga. Dalam perjalanan pulang, hujan turun sehingga ia terpaksa membopong Bruno agar perjalanan lekas usai.
Sampai di bangunan mangkrak, ia yang basah kuyup mengikat anjing itu pada tiang beton, rebah di selembar kardus, dan melindungi diri dengan selimut.Tidurnya belum lama ketika gonggongan membangunkannya.
BACA JUGA : Kusniati dan Sebelum Berita Pagi itu
Bruno duduk di sudut pilar, kakinya terlipat, tubuhnya dibuat menggigil oleh hawa hujan dan udara malam. Nurani pria itu terusik. Hewan yang telah menyelamatkannya itu tak lagi segar seperti kali pertama kedatangannya, tampak kuyu dan menderita seperti dirinya. Ia mengamatinya sebentar, dadanya dibuat sesak oleh rasa bersalah. Maka, ia pun bangkit dan melepas ikatan anjing itu. Mereka kemudian berbagi kehangatan dalam selimut lembap yang sama.
Ia merasa ganjil. Ia yang telah lama hidup sendiri kini tak sendiri lagi, dan kemunculan perasaan itu barangkali akibat dari kesendiriannya yang panjang. Tanpa ia sadari, tangannya mulai mengusap-usap Bruno yang meringkuk di dadanya.
Keesokan paginya, ia frustrasi karena tak tahu caranya menjual anjing itu, tak tahu toko selain yang telah menolaknya. Seandainya ada, tentu letaknya jauh, akan melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki. Lagi pula, pikirnya, belum tentu juga dibeli, bisa-bisa peristiwa semalam terulang lagi. Ia memikirkan semua sambil duduk di siku beton, pada fajar hari, ketika cahaya baru terbit di ufuk timur. Tak terbiasa merenung lama, ia pun mengabaikan kegelisahannya dan berangkat mengemis.
Entah bagaimana, kali itu ia mengemis dengan lebih sungguh-sungguh, tak sabar ingin segera pulang dan membawa makanan untuk anjing itu.
Hari demi hari berlalu. Pria itu mulai terbiasa dengan Bruno yang tiap pagi membangunkannya dengan menjilat pipinya. Ia mulai mengajaknya bercakap-cakap, menyuruhnya menjauh dari tempat-tempat penuh paku, dan akan marah bila Bruno nekat menaiki tangga menuju lantai dua. Tiap akan mengemis, ia pamit dan memberikan nasihat panjang yang diakhiri dengan, “Ingat baik-baik.” Setiap sore, ia melangkah pulang sambil bersiul-siul, mungkin karena ada yang menanti kepulangannya.
Namun, setelah melihat poster itu, batang-batang kakinya ketika melangkah bagai terikat bola besi.
Setelah menaruh sosis di alas kertas, ia duduk di siku beton. Bruno menyantap dengan lahap, sementara ia memandangi anjing itu dengan sorot mata bimbang.
Harta tidaklah awet, meskipun menyenangkan, pikirnya. Memang, ia telah melawan rasa sepi dalam waktu lama, sejak kematian istrinya, sampai akhirnya ia terbiasa. Namun, jika harus mengulang, memulai lagi dari garis awal, ia merasa tak sanggup.
“Kau tahu, sampai mati aku takkan melepaskanmu.” Ia tersenyum dan mengangkat Bruno ke udara, mengguncangnya dengan semangat menggebu-gebu. “Aku akan mandi. Aku akan pangkas rambutku, berdandan bersih. Aku akan cari kerja apa pun, apa pun untukku yang sudah tua ini. Untuk kita. Ya, untuk kita!” serunya.
Ia sukar tidur malamnya, sementara Bruno bernapas hangat di dadanya. Pikirannya terjaga, menghitung urusan yang tadi belum sempat diperhitungkan.Dua perut, sosis hari ini, sisa roti kemarin, hujan yang menggila. Ia memikirkan banyak hal, seperti sebuah sore tanpa receh, siapa di antara mereka yang lebih dulu jatuh sakit, dan membayangkan hal-hal yang selama ini tak pernah terbayangkan. Maka ketika fajar datang, ia pun memutuskan lain.
Bersama Bruno, ia melangkah mantap menuju sebuah alamat. Tak sekalipun ia melirik anjing itu, sebab khawatir akan mengendurkan niatnya. Dan ketika sampai di depan rumah berpagar besi tinggi, ia memandang dengan sorot mata takjub.
Rumah itu berwarna krem dengan atap ditopang pilar-pilar besar. Setelah ia melapor, seorang petugas membuka pagar. Ia sempat memandang rerumputan yang terawat di halaman, sebuah patung perempuan yang mengucurkan air dari kendi, ketika petugas itu mendampinginya menuju teras. Bruno membuntutinya.
BACA JUGA : Pilihan
“Tunggu di sini.” Petugas itu pergi, kemudian muncul lagi dari pintu utama bersama pemilik rumah, pria tua dengan rambut putih sepenuhnya, mengenakan kimono marun bermotif garis-garis melengkung. Ia terperangah, dadanya sesak bagai dilindas roda baja, ketika Bruno menghampiri dan hinggap di kaki pemiliknya.
“Jadi, kau yang menemukannya.” Pria tua itu telah duduk di bangku.
“Saya merawatnya dengan baik. Dia... anjing yang baik.”
Saat pria tua itu menatapnya, ia merasa ganjil, seakan-akan sesuatu yang buruk akan menimpanya. Ada apa ini, pikirnya.
“Lempar dia keluar.”
“Tunggu. Apa maksudnya?”
Ia setengah bangkit ketika pria tua itu beranjak, berjalan menuju pintu utama bersama Bruno. Petugas itu mencengkeram tangannya, menyeretnya menuju pagar. Ia terus meronta-ronta, sampai akhirnya petugas itu melemparnya keluar. Pagar pun menutup.
“Bruno!” teriaknya, sambil mencengkeram batang-batang besi pagar.
Baron Yudo Negoro
Penulis berasal dari Semarang. Cerpen karyanya pernah dimuat di Koran Tempo, Kalam Sastra, Jawa Pos, dan beberapa media nasional lainnya. Pemenang lomba cerpen di beberapa event, salah satunya “Menulis Dongeng Batik Nusantara” yang diselenggarakan Museum Batik Indonesia dan Kemdikbud pada Oktober 2021.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.