DI NEGERI yang kaya dengan semua sumber daya alam dan potensi pemikiran manusia yang berkualitas tertipu dengan gelagat orang-orang pintar menipu rakyat dengan dalih ihklas, sabar, berjuang, jangan cinta harta. Seringkali, buaian untuk membodohi rakyat yang tak berpengetahuan.
Di kota besar tepatnya ibu kota negeri omong-omong itu, hidup beberapa pemuda yang sudah muak dengan kelakuan penguasa di sana. Mereka Damar, Langit, Dara, Arham. Geng Perubahan, begitu biasa mereka dicapi.
Damar, dan tiga kawannya adalah mahasiswa di salah satu universitas terkenal di negeri omong-omong itu.
Pagi hari itu, Damar baru bangun dari tidur pulasnya. Bergegas ia ke kamar mandi untuk membersihkan muka sekadarnya, dan menggosok giginya. Pagi itu seperti pagi yang lain, tak ada aktivitas menonjol. Damar meraih remote TV dan ingin menghabiskan waktu di ruang keluarga.
Telunjuknya beberapa kali menekan tombol remote. Entah, meski acara televisi tak cocok dengan seleranya, tetap saja ia duduk menyalakannya. Seperti biasa, televisi dipenuhi berita politik dan saluran lainnya gossip-gosip artis. Bolak balok ganti saluran, ia terhenti di stasiun berita.
“Ahh, dia lagi, dia lagi,” grutunya. Pagi Damar, sudah dicekoki pidato pejabat pemerintah omong-omong semata. Ketimbang naik darah, ia pun mematikan televisi itu. Buyar sudah.
Otak Damar dipenuhi kemarahan.
“Janji saja terus pakai kata-kata manis tentang kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Nyatanya tidak ada yang terlaksana, hanya segelintir saja yang diwujudkan,” omelnya bak merapal.
BACA JUGA : Carik Absori Khalifah di Muka Bumi
Damar kini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Ia harus menjaga dan merawat ibunya yang sakit-sakitan. Ayahnya, meninggal dunia beberapa tahun lalu. Banyak-banyak di rumah, tak membuat aktivisme Damar susut.
Menjelang sore, dua kawannya datang, Langit dan Arham. Usai kuliah mereka tak langsung pulang. Dunia kampus terasa senyap, tak ada lagi perdebatan, apalagi pergerakan. Langit dan Arham, butuh asupan, setidaknya berbincang dengan Damar, si Ketua Mahasiswa di kampus itu.
Ketiganya membincangkan isu-isu kekinian. Langit memulai percakapan sore itu. Sasarannya, Arham. Ia mengajak, temannya itu untuk menyegerakan aksi-aksi di kampus yang mulai kendor. “Kita butuh pergerakan, Ham. Aku sudah muak,” ujar Langit.
“Rezim ini berjalan tanpa kontrol, ga ada oposisi. Alhasil, kebijakan-kebijakannya ngawur. Pelanggaran HAM dan pelakunya semakin merajalela,” imbuh sembari membantung rokoknya yang mulai habis membakar jemarinya.
Damar menarik napas. Ia pun memendam amarah. Lebih-lebih, ia teringat berita yang sempat dilihatnya pagi tadi. “Aku tadi, lihat berita tentang kebijkan yang menyebalkan itu. Sudah saatnya kita turun ke jalan,” serga Damar.
Mendengar kawannya ikut gusar, Langit sumringah. Lama tak melihat Damar segahar ini. Masalah keluarga memang memengaruhi kegesitan Damar berorganisasi. Apa daya, bakti sebagai anak lebih dibutuhkan di saat-saat kondisi keluarganya seperti saat ini.
Duduk selemparan batu dari Langit dan Damar, Arham masih ragu dan merasa takut. Musababnya, ia teringat kata-kata sang ayah, ‘Kamu jangan ikut ke jalan untuk demonstrasi!’.
“Kawan, aku sepertinya tak bisa ikut. Ayahku bilang waktu itu jangan ikut-ikutan. Terus gimana ya?“
Damar menyakinkan Arham, “Kita turun ke jalan ihklas untuk menyuarakan hak kita sebagai rakyat. Ayahmu juga termasuk rakyat. Kita tidak menghancurkan fasilitas kota. Kita hanya ingin suara kita didengar penguasa”.
Arham gundah. Ia bukan tak mau kembali ke jalan. Bukan pula tak punya motivasi. Ucapan kawannya itu, sebenarnya sudah cukup membuatnya gelar orasi lagi. “Iya juga. Kepentingan bersama jauh lebih penting,” ujar Arham dalam hati.
Mereka mulai konsolidasi. Berbagi tugas. Yang tak mudah adalah, mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya. Untuk urusan ini, Damar yang paling lihai. Jejaringnya kuat dan tersebar di mana-mana. Ia mulai menghubungi jaringan mahasiswa, buruh, guru honorer dan siapa pun berbagai latar belakang pekerjaan. Selama dia gelisah melihat penindasan, ia adalah kawan.
Ah, Damar, Damar…
Saat konsolidasi mulai mengental menemukan jangkar gerakannya, seorang perempuan mengalihkan mata Damar dari catatan kecil yang ia bumbui dengan tinta penanya. Gairah mudanya membuncah. Perempuan itu, tak lain adik kelasnya di kampus. Tak pernah ia melihatnya.
Hari itu, Damar hendak mengumpulkan massa aksi dari kalangan kampus di aula. Dara, nama mahasiswi itu, turut hadir di sana. Mereka saling sapa. Dara memanggil Damar dengan kata Kakak. Basa-basilah selanjutnya.
**
Hari mulai siang. Langit memilih mojok di tembok pagar kampus. Bakso cukup menggoda lidahnya di siang panas itu. Belum juga pentol itu meluncur ke mulutnya, ponselnya berbunyi. Kerontang bunyi perut tak terisi sejak pagi, kalah dengan getaran pesan pendek yang masuk. Ditaruhnya mangkok itu, lalu diketuknya aplikasi pesan di ponselnya.
Mata Langit menyipit. Ia berusaha meyakinan diri bahwa apa yang ia baca tidaklah salah. Isi pesan itu adalah ancaman dari nomor misterius. Tak tercatat di ponselnya. “JANGAN DEMONSTRASI! AWAS!”
BACA JUGA : Pilihan
Kalimatnya pendek itu cukup membuat dada Langit berdebar kencang. Ia cemas. Semangkok bakso panas tak disentuhnya lagi. Ia memilih pergi. Ia bergegas mencari dua kawannya, Damar dan Arham. Langit lari dengan darah terus terpompa ke kepalanya.
“Aduh!” Langit mengaduh.
“Maaf, maaf Pak. Mohon maaf,” kata Langit kepada pria paruh baya yang tak sengaja ia senggol saat berlari.
“Kamu, hati-hati ya,” timpa pria itu.
Langit tak mengambil hati. Ia kembali ke jalan menuju dua kawannya. Paniknya membuatnya merasakan jalan yang ditempuhnya jauh dari biasanya. Namun waktu yang terasa panjang itu membuatnya kembali ke momen semenit lalu. “Apa yang bapak tadi itu katakana?” ujarnya dalam hati.
Perasaannya bercampur. Pesan pendek berisi ancaman, iya rasa nyambung dengan ucapan bapak tadi. Langit tak sanggup menjawabnya. Tapi dalam hati dia terus bertanya-tanya.
Damar dan Arham sejangkauan matanya. Tapi buka keduanya yang mencuri titik pandangnya. Ada Dara di sana.
Langih oh Langit…..
Seketika ia lupa ada hal yang membuatnya gusar sampai-sampai makan siang untuk mengganjal lambungnya tak disentuhnya.
Langit terpesona, begitu singkatnya. Barangkali kalimat jatuh cinta pada pandangan pertama seperti di roman-roman percintaan, dirasa Langit siang membingungkan itu.
“Hai, aku Langit. Boleh kenalan?”
Mula-mula nama, lalu nomor handphone.
“Untuk apa?” tanya Dara curiga.
Aktivis mahasiswa itu pun malu. Ia mengalihkan rasa malunya dengan menghampiri dua kawannya. Diceritakannya apa yang terjadi saat ia akan makan siang dan persitiwa senggolan dengan bapak paruh baya tadi.
“Aku diancam”
“Ah sudahlah. Jangan takut, kawan!” jawab Damar enteng.
Konsolidasi semakin intens. Momen demonstrasi besar pasca serangkaian represi aparat setahun lalu semakin dekat. Situasi semakin tegang.
***
Malam itu, Damar mendatangi rumah Langit. Bukan tanpa sebab, handphone Langit tiba-tiba tak bisa dihubungi.
“Langit tak dirumah. Ia belum kembali sejak pagi,” ujar ayah Langit.
Buru-buru Damar menghubungi Arham yang kebetulan tak jauh dari rumah Langit. Arham pun tak mengetahui kabar Langit setelah mereka berpisah di kampus. “Atau dia ke di rumah Dara?” ujar Arham menduga-duga.
Bergegas mereka ke rumah Dara. Langit tak ada di sana. Keduanya menyesal tak menanggapi cerita langit siang tadi. Damar memang bermaksud menenangkan Langit, namun tak sampai berpikir ancaman itu serius.
Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Damar. Terlihat nama Damar si pengirim pesan.
“AKU DIKEROYOK DI JALAN BUDAYA.”
Mereka cepat ke lokasi yang diinformasikan Langit. Namun terlambat. Langit sudah tak ada di sana, hanya percikan darah yang tersisa. Kata warga, pemuda yang dikeroyok itu, dibawa ke rumah sakit.
Arham berinisiatif menghubungi orang tua Langit. Kedua orang tua Langit panik. Ibunya menangis meraung-raung.
“Oh anakku. Anakku,”
Langit anak satu-satunya. Besar harapan mereka pada pemuda itu.
“Ada apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang kalian rencanakan?” tanya sang ayah.
Damar mulai meragu. Apa yang terjadi pada Langit, sudah pasti berhubungan dengan ancaman yang ia dapatkan siang tadi. Jika diteruskan, rencana aksi domonstrasi ini akan memakan korban lainnya. Damar dilema. Satu sisi ini momentum konsolidasi, sisi lain, bahaya mengintai mereka.
BACA JUGA : Kusniati dan Sebelum Berita Pagi itu
Ancaman datang silih berganti. Kini giliran Dara, tepatnya bisnis ayahnya bakal dirusak jika ia tetap memilih bersama Damar. Dara mundur perlahan. Baginya, ini bukan soal dirinya semata, melainkan keberlangsungan keluarganya.
Kelompok yang baru saja bertumbuh, kini diambang kehancuran. Langit yang mulai pulih, kembali mengajak Damar untuk bangkit. Damar diselimuti rasa takut dan trauma.
“Bagaimana jika kawanku yang hilang dan tak kembali, senasib dengan saudaraku?”
Arham memilih jalur nasibnya sendiri. Ujung cerita, ia memilih sebarisan dengan kekuasaan, berkompensasi jabatan. Diskusi-diskusi kritis, menguap dan tak lagi mengasyikkan bagi Arham. Apa lacur, ia sudah memilih jalan hidupnya.
“Bukankah ibumu sakit. Ini untuk ibumu,” ujar Arham sembari menyodorkan uang. “Untuk keperluan hidupmu dan biaya merawat ibumu juga.” Damar tak punya pilihan. Hidupnya memang serba kekurangan.
Langit kecewa. Ia memilih menghindari kawan-kawannya itu.
Pada akhirnya, tak ada yang berubah di negeri itu, kecuali perkawanan mereka.
Ahmad Fauzan
Penulis lahir di Bandung. Seorang mahasiswa semester 6 Pendidikan Agama Islam yang menyukai penulisan, karya sastra seperti puisi. Bukunya telah diterbitkan yaitu “Dari Hati yang Menganggumi. Menulis adalah cara mengeluarkan emosi agar lebih ringan dan menjadi karya abadi.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.