Skip to main content
Ilustrasi: Nano Banana 2
Arek Bercerita
Carik Absori Khalifah di Muka Bumi
“Aku kira penambangan tidak akan membuat sebuah desa menjadi maju, tapi tambang kreativitas dan imajinasilah yang memajukan sebuah peradaban, tak terkecuali peradaban desa,” kata Absori sebelum ia dilantik menjadi Carik baru di Desa Warangwurung, sebuah desa eksotik dengan pemandangan laut, hutan, mangrove, dan bukit-bukit hijau yang indah.

PENDUDUK desa sangat menyukai pikiran-pikiran yang dilontarkan Carik Absori yang begitu memukau. Ia tidak hanya dikenal sebagai seorang carik yang bijaksana, dengan pikiran dan pandangan yang luas. Tapi ia juga dianggap sebagai seorang cendekia yang mencintai alam, dan penjaga lingkungan.

Ia pandai dalam melihat dan menyelesaikan masalah sosial masyarakat maupun lingkungan. Sehingga, tak membutuhkan waktu lama, agar Carik Absori mendapat tempat di hati masyarakat yang juga memiliki pandangan sama dengannya. Mereka para penduduk Desa Warangwurung adalah pecinta alam sejati.

Karena kedekatan Carik Absori dengan masyarakat, maka orang-orang Desa Warangwurung sering meminta pendapat, pandangan, nasehat dan petuah darinya kala menghadapi masalah, entah itu masalah hidup, keluarga, lebih-lebih masalah masyarakat desa pada umumnya. Carik Absori dengan tekun dan sabar mendengar keluh kesah mereka, dan ketika diminta memberikan pandangan, Carik Absori akan dengan senang hati memberikan pandangannya, tak lupa solusinya.

Tidak ada yang salah, dan aneh dengan gerak-gerik Carik Absori. Sampai kemudian seorang pengusaha kaya dari luar daerah ingin membangun perusahaan pertambangan. Sebab, menurut rumor yang beredar, Desa Warangwurung diduga memiliki kandungan emas yang berlimpah. Carik Absori yang mendengar desas-desus itu tentu saja tidak tinggal diam. Ia kemudian ke kantor desa dan menggerakan masyarakat desa untuk menolak pendirian perusahaan tambang di Desa Warangwurung.

BACA JUGA : Pilihan

“Kami tidak butuh perusahaan tambang di desa kami yang indah dan permai!” teriak Carik Absori. Orang-orang mendukung dan mengelu-elukan apa yang diteriakkannya. Setelah peristiwa demo itu, maka makin bangga dan sayang pula warga desa kepada Carik Absori. Dan izin pendirian perusahaan tambang di Desa Warangwurung kemudian ditunda.

Suatu malam, ketika Carik Absori tengah sibuk membaca buku-buku di pelataran rumahnya, ia didatangi orang suruhan perusahaan. Laki-laki itu berkepala plontos, dengan setelan jas, sepatu pantofel, dan dasi berwarna merah, serta tanganya menenteng koper hitam, berisi berkas-berkas surat.

“Apakah betul ini rumah Bapak Absori?” tanya laki-laki berkepala plontos itu.

“Iya betul, dengan saya sendiri. Silakan duduk,” kata Carik Absori mempersilahkan tamu tak diundang itu.

“Ada keperluan apa ya Anda mencari saya?” tanyanya lagi.

“Ah ya, perkenalkan nama saya Cahlil, staf komunikasi dari perusahaan tambang emas NPD; National Pearl Diamond,” jawab si tamu.

“Ya, ya, saya sudah tahu perusahaan itu. Ada keperluan apa tiba-tiba malam-malam begini Anda ke mari?”

“Jadi begini Pak Absori, saya dengar-dengar Bapak Absori orang yang sangat dipercaya oleh masyarakat, dan pandangan-pandangan serta petuah-petuah Bapak sangat didengar dan dinanti-nantikan khalayak. Dengan reputasi sebesar dan sedahsyat itu, apakah Bapak tidak ingin memanfaatkannya dengan optimal?”

“Maksud Anda apa?”

“Saya to the point saja ya Pak, supaya mempersingkat waktu dan tidak membuang-buang tenaga dan pikiran. Kedatangan saya ke mari ingin meminta bantuan kepada Pak Absori agar kami mendapatkan izin pembangunan perusahaan tambang dari perangkat desa, dan seluruh masyarakat di Desa Warangwurung ini”

“Bukankah kami sudah bilang tempo hari, kami tidak akan pernah mengizinkan perusahaan tambang apapun berdiri di desa kami yang indah dan permai ini”

“Tapi desa ini sangat potensial untuk maju, Pak”

“Potensial untuk maju apa dihancurkan?”

“Tidak, tidak. Desa ini benar-benar potensial untuk menjadi maju Pak, karena menurut tim ahli pertambangan kami, tanah di Desa Warangwurung memiliki kandungan emas potensial yang luar biasa. Dan dengan berdirinya perusahaan tambang di desa ini, bukankah itu juga akan mengatasi masalah pengangguran di desa, dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa?”

“Warga kami tidak ada yang menganggur Pak, pagi kami berladang, siang kami bercengkerama, dan malam kami mencari ikan di laut. Tidak ada seorang pun pengangguran di desa kami yang permai ini Pak. Segala kebutuhan kami telah disediakan oleh Tuhan, manusia hanya perlu mengelolanya, mengolahnya, karena oleh Tuhan manusia telah dijadikan khalifah di muka bumi ini”

BACA JUGA : A&T

“Nah itu maksud saya Pak. Karena manusia adalah khalifah di muka bumi, maka sudah sepatutnya dan selayaknya kita mengolah serta memanfaatkan sumber daya alam di desa ini untuk dikelola dan diolah bersama, demi kemaslahatan bersama, bukan begitu?”

“Tidak, tidak, kami tidak tertarik dengan opsi itu. Jika kami mengizinkan pembangunan perusahaan tambang di sini, sudah pasti lingkungan dan tempat tinggal kami akan terdampak. Desa kami yang indah dan permai ini pasti akan menjadi rusak”

“Oh tentu saja tidak Pak, kami hanya menambang, bukan merusak. Kami memiliki rancangan pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” rayu Cahlil sambil mengeluarkan map-nya dari dalam koper dan menyodorkan sebuah dokumen surat.

“Bacalah, Pak Absori” kata Pak Cahlil sambil tetap tersenyum. Carik Absori kemudian membaca dokumen yang disodorkan kepadanya dengan saksama. Kata per-kata, kalimat per- kalimat, paragraf demi paragraf ia baca dengan teliti.

“Benarkah semua yang ditulis dalam dokumen Anda ini?” tanya Carik Absori dengan wajah setengah tak percaya, dan setengah bahagia dengan mata berbinar.

“Benar Pak Absori” kata Cahlil sambil menggeser dan membenarkan posisi duduknya, dan meremas-remas tangannya sendiri.

“Ehem, hidup keluarga Pak Absori hingga tujuh turunan pasti akan terjamin jika Bapak mau menduduki posisi jabatan sestrategis itu, dan masih ada bonus-bonus yang lain, jika Bapak bisa berhasil meyakinkan dan membujuk masyarakat desa ini untuk mengizinkan kami membangun perusahaan tambang tanpa gangguan apapun,” tegas Cahlil meyakinkan.

Lama suasana malam itu bertambah lengang, hanya bunyi jangkrik sebelum kemudian Carik Absori mengatakan sesuatu.

“Ya, ya mungkin tadi saya yang keliru, mungkin sebenarnya pandangan Bapak Cahlil benar. Bukankah ini demi kemaslahatan bersama, kemaslahatan umat? Demi kebaikan seluruh masyarakat desa ini juga?” kata Carik Absori dengan nada bicara yang melunak, dan wajah berseri-seri.

“Ya tepat sekali, maksud saya tadi seperti itu Pak Absori” kata Cahlil dengan senyum penuh kemenangan, setelah melihat Carik Absori menandatangani dokumen surat itu.

***

“Kita memerlukan perusahaan tambang untuk mengelola dan mengolah sumber daya alam di desa ini saudara-saudara. Sebagai khalifah di muka bumi ini kita berhak dan memang sudah seharusnya kita mengolah serta mengelola semua yang ada di atas dan di perut bumi ini dengan cara yang baik dan benar, menggunakan cara menambang yang baik dan berkelanjutan, good mining. Ini demi kemaslahatan kita bersama, ini demi kemaslahatan desa dan warga masyarakat desa kita sendiri saudara-saudaraku sekalian. Dengan berdirinya perusahaan tambang di desa ini, tentu saja taraf hidup kita akan meningkat, bukan? Lapangan kerja akan terbuka lebar, dan penghasilan warga juga akan naik, serta seluruh warga masyarakat di desa ini pasti akan menjadi makmur dan sejahtera, pasti!”

BACA JUGA : Ruang

Pidato berapi-api itu terus dikobarkan Carik Absori di pertemuan-pertemuan RT, rapat-rapat perangkat desa, pertemuan paguyuban petani dan nelayan, paguyuban pedagang di pasar, kumpulan arisan ibu-ibu PKK, pengajian dan di acara tahlilan.

Semua lini dimasuki Carik Absori demi mengatakan, mendirikan perusahaan penambangan di desa itu merupakan hal yang penting. Tapi sayang seribu sayang, semua orang tidak peduli, meskipun jika memang betul Carik Absori adalah khalifah di muka bumi.

 

                                                                                                 

Purbadana, Juni 2025

*Penulis muda asal Banyumas. Kumcer terbarunya diterbitkan dengan judul Rudi Gaber yang Ingin Memberi Makan Istrinya dengan Puisi (2025). Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung di Desa Purbadana, Kembaran. 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.