Skip to main content
ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Ruang
Bola itu menggelinding tepat di depan kakiku. Aku sempat membeku. Di seberang Robin berteriak. "Tendang, Tin. Oper."

AKU REFLEKS menendang bola plastik itu, bukan ke arah Robin, tapi ke depan mengikuti arah hidungku. Bola malah jatuh ke kaki lawan. Serangan balik pun dimulai. Robin mengumpat marah. "Tina, Tina. Dasar perempuan!"

Aku cuma tertawa. Tak ada waktu untuk minta maaf atau mendebat. Serangan balik lawan berlangsung cepat. Dan… gol. Gawang kami kembali kebobolan.

Azan magrib membubarkan permainan kami. Anak-anak yang tadi melawan kami berteriak-teriak kemenangan.

Aku dan Robin melangkah lesu melewati jembatan besi yang melintang di atas kali kecil. Tubuh kami basah berpeluh. Jembatan ini menghubungkan lapangan dengan rumah kontrakan kami, Kontrakan Haji Ridwan. Lapangan tadi disebut Lapangan Haji Ridwan.

"Kamu bisa main bola gak sih, Tin?" Robin masih menggerutu.

Air kali menggericik pelan dan kental, warnanya hitam seperti selokan. Segala macam bau bersatu: tinja, sampah dapur, kotoran ternak, bangkai hewan, dan entah apa lagi. Tapi bebek-bebek milik keluarga Haji Ridwan nyaman saja mencari cacing di sana.

"Aku bisa.”

“Bisa apa. Nendang bola sembarangan."

Aku cuma nyengir. Robin masih bersungut-sungut.

Kami tiba di lorong deretan rumah petak kontrakan yang berbaris saling berhadapan. Semua dindingnya bercat kuning tua yang norak, sebagian sudah dipenuhi pulau dan jamur karena tempias hujan. Lorong ini hanya cukup dilewati satu sepeda motor.

Ruang kontrakan Robin ada di seberang kontrakanku, di baris paling tengah. Masing-masing baris kontrakan terdiri dari 10 petak rumah yang hanya terdiri dari dua ruangan: ruang utama yang merangkap kamar dan dapur.

"Kamu tahu gak, nanti kita gak bakal bisa main bola lagi?" tanya Robin, membuyarkan lamunanku. Telunjuknya masuk ke salah satu lubang hidungnya. Aku jijik dengan kebiasaan Robin ini.

"Loh, kenapa?"

Aku tak mau melihatnya.

"Lapangan Haji Ridwan mau dibangun!"

"Kata siapa?"

"Bapakku.”

"Terus kita nanti main bola di mana?"

Robin menggeleng.

"Bapakku sih senang saja bakal dapat kerjaan. Aku bosan lihat bapak di rumah terus."

BACA JUGA : Roro Oyi

Lima orang penghuni mengantre di depan jamban. Kontrakan ini hanya memiliki dua jamban umum. Jika semua penghuni bentrok mau ke kamar mandi, antrean bisa lebih dari satu jam. Aku benci menunggu.

"Kamu mau ke mana?" tanya Robin.

Aku masuk antrean.

"Mandi. Mumpung antreannya dikit."

Robin ikut mengantre.

"Kamu ngapain?"

"Aku juga mau mandi."

Kami tidak mengenal para penghuni yang sedang mengantre kamar mandi, hanya hafal sebagian wajah-wajahnya saja. Sebagian lagi asing. Mereka pun sepertinya tak mau mengenal kami.

Antrean ke kamar mandi di depanku kini tinggal tiga orang. Pembangunan Lapangan Haji Ridwan kabar baik bagi tukang bangunan seperti ayah Robin dan kabar buruk bagi kami. Tapi kami tak bisa berbuat apa-apa. Lapangan itu bukan milik kami. Kami hanya ngontrak di sini.

Saat giliranku mau masuk kamar mandi, Robin tiba-tiba menyela.

"Tin, boleh aku dulu ga?"

Aku sudah siap marah tapi tak jadi begitu melihat wajah Robin yang memerah.

"Kenapa kamu?"

"Sakit perut."

"Kebanyakan makan jambu air sih. Ya sudah, kamu dulu."

"Makasih, Tin."

Robin langsung menyerbu kamar mandi, disusul suara mengerikan.

Aku kembali menunggu.

Di kejauhan, Lapangan Haji Ridwan tersorot cahaya bulan. Tanah lempungnya yang berumput liar tampak berwarna putih keperakan. Bayangan hitam pohon jambu air di sudut lapangan bergerak-gerak tertiup angin.

Tempat di bawah pohon itu ada sumur tua berair jernih. Penghuni kontrakan biasa mencuci baju atau perabotan dapur di sana, terutama jika antrean di jamban umum terlalu panjang untuk ditunggu.

Pada pagi atau sore hari, aku dan anak-anak lain biasa mandi di sumur itu. Tapi ibuku melarang mandi di sana selepas magrib. Konon, pohon jambu air ada penghuninya. Kuntilanak. Aku sih nurut saja. Aku lebih takut sama ibu daripada kuntilanak.

* * *

Cahaya matahari pagi tak bisa masuk ke kontrakanku yang sumpek dan gelap. Jendela yang menempel di samping pintu masuk tampak sia-sia. Lampu 10 watt harus menyala siang malam. Jika tidak, kamar kontrakan terasa seperti di goa.

Aku masih tidur di atas sofa butut di bawah jendela ketika Robin memanggil dari luar.

"Tin, Tina!"

Kepalanya mengintip dari jendela.

"Ngapain pagi-pagi sekali, Robin," kataku, setengah berbisik, takut membangunkan ayah dan ibuku yang masih terlelap di kasur tipis di lantai. Semalaman mereka berjualan nasi kuning di pinggiran jalan Pasar Baru.

"Kamu harus lihat ini," kata Robin.

"Lihat apa?"

"Ikut aku."

Robin pergi keluar lorong. Aku buru-buru menyusul. Langkahku sedikit limbung karena masih ngantuk.

Di lapangan sekelompok pemuda berlatih pencak silat dan para pemudi berlatih menari.

“Karang Taruna,” ucap Robin. “Aku mau ikutan pencak silat. Kamu bisa daftar tari."

“Kenapa harus tari?”

“Kamu kan perempuan.”

“Aku bisa main bola juga.”

“Kamu tidak bisa.”

“Ah, kamu kayak ibuku saja.”

“Kalau kamu daftar silat aku gak akan larang.”

"Bagaimana caranya?"

"Kita tunggu dulu mereka latihan."

Kami berjalan ke bawah pohon jambu air, sebagian buahnya berserakan di tanah dekat sumur, sisa kelelawar semalam. Robin memilih jambu-jambu merah yang masih utuh, lalu menggigitnya. Setiap pagi Robin sarapan jambu air ini. Aku juga.

Robin memberiku dua jambu yang paling merah. Aku langsung menggigitnya, rasanya manis, asam, dan sedikit kesat.

Mulut kami kini penuh dengan jambu. Tapi Robin masih tetap bicara. Butiran jambu dan air sesekali berhamburan dari mulutnya.

“Awas sakit perut lagi.”

“Daripada lapar,” jawab Robin.

Kami tertawa cekikikan.

Di lapangan, seorang perempuan berteriak memberikan instruksi. Mungkin dia berasal dari sekolah seni. Tubuhnya ramping dan berisi, gerakannya lentur saat memberikan contoh tarian. Aku membayangkan menjadi perempuan itu.

Robin terpaku pada latihan pencak silat di sudut lain lapangan. Pelatihnya bapak-bapak berpakaian pangsi hitam dengan ikat kepala batik seperti di film-film silat. Ia memperagakan gerakan seperti monyet.

Anak-anak kontrakan yang kemarin bermain bola denganku mulai bergabung setelah memunguti jambu air. Kami menonton latihan sambil saling mencicipi jambu air. Tawa kami meledak ketika seseorang menggigit ulat jambu.

BACA JUGA : Yang Tidak Pernah Masuk Sistem

Selesai latihan, Robin menyeret tanganku menemui ketua Karang Taruna yang biasa dipanggil Gembul, entah siapa nama aslinya.

"Aku dan Tina mau ikutan latihan," kata Robin.

"Tahun ini kami tidak nerima pendaftaran dulu."

"Loh, kenapa?"

"Kami kan warga sini juga," timpalku.

Gembul menatap kami bergiliran.

"Kawan-kawan, ini latihan kita yang terakhir,” tiba-tiba ia berteriak, seperti sengaja agar suaranya didengar semua orang. “Besok lapangan ini dibangun."

Aku dan Robin kebingungan.

"Besok?"

"Ya, besok,” kali ini Gembul menurunkan suaranya. “Masak bapakmu gak bilang? Bapakmu tukangnya."

Aku dan Robin saling pandang.

“Yang mau latihan menari dan pencak silat, ke kelurahan tetangga saja. Kami juga akan numpang latihan di sana,” Gembul kembali berteriak, lalu pergi bersama kawan-kawannya.

Lapangan sempat sepi selama beberapa saat.

“Gembul kok marah-marah,” kata Robin.

“Biarin. Bukan salah kita,” ucapku.

Tiba-tiba bapak-bapak penghuni kontrakan berdatangan. Mereka membawa raket bulu tangkis. Tak berselang lama, ibu-ibu kampung sekitar mulai berkumpul di bawah pohon jambu air. Beberapa ibu-ibu kontrakan bergabung.

“Wah, seru sekali,” kata Robin.

“Kita numpang makan.”

Robin berdiri, satu tangannya berkacak pinggang, satu lagi mengupil.

“Hih, jorok.”

* * *

Benar saja, esok harinya ayah Robin dan para pekerja lain mulai memagar Lapangan Haji Ridwan dengan lembaran-lembaran seng proyek. Siapa pun tidak bisa masuk lapangan sembarangan.

“Tidak ada lagi sarapan gratis,” ujar Robin.

“Jambu air?” tanyaku.

Robin mengangguk. Kami berjongkok di pinggir kali, menyaksikan para tukang menebang pohon jambu air. Bunyi gergaji mesin meraung-raung memekakan telinga, bersahutan dengan suara bebek di kali.

Telunjuk Robin mulai masuk ke salah satu lubang hidungnya. Aku membuang muka. Aku sudah sering memperingatkan Robin, tapi percuma. Telunjuknya seperti punya nyawa sendiri.

Daun-daun pohon jambu perlahan berguncang liar, disusul bunyi batang yang patah lalu benturan keras ke tanah. Bebek-bebek keluarga Haji Ridwan sampai terlonjak dan berisik. Kepala mereka mendongak. Wek, wek, wek...

“Duarrr! Kalian kena.”

Aku dan Robin nyaris terloncat ke kali. Di belakang kami tiga anak laki-laki berdiri sambil cekikikan.

“Main bola yu,” ajak salah seorang.

“Main bola di mana, kalian gak lihat lapangannya sudah dipagar?” kata Robin, masih kesal.

“Kita ada tempat baru,” jawab anak yang lain.

“Halaman ruko dekat rel kereta,” timpal anak yang tadi tertawa paling keras.

“Aku gak bakal diizinin sama ibu,” kataku.

Mereka menatapku.

“Ayolah.”

“Ibuku tidak akan ngizinin main jauh.”

“Kita kekurangan pemain dong.”

“Tina mainnya kocak, sih, tapi tetap saja gak seru kalau dia gak ikut.”

“Kita temuin ibunya.”

Aku tertawa masam.

“Kalian belum kenal ibuku. Robin pasti sudah tahu jawabannya.”

“Kau perempuan, tidak boleh main jauh. Apalagi main bola,” kata Robin, berusaha meniru nada dan suara ibuku. Anehnya berhasil.

Semua anak tertawa. Kecuali aku.

“Sudahlah, aku harus bantu ibuku.”

Aku berbalik pergi. Mereka sempat terdiam.

Di rumah, ibuku sedang menyiapkan masakan. Aku langsung mengupas timun tanpa diminta.

“Kenapa cemberut?”

“Aku tidak bisa lagi main bola.”

Ibu malah tertawa.

“Lapanganmu itu lagi dipinjam sama anak-anak Haji Ridwan.”

Aku tak ikut tertawa. Tidak ada yang lucu dari gurauan ibu.

"Lapangan tak menghasilkan apa-apa, kata anak Haji Ridwan," lanjut ibu. “Lagi pula ngapain perempuan main bola?”

* * *

Pegawai bangunan terus bertambah sampai aku kesulitan menghitungnya. Mobil-mobil truk hilir mudik menurunkan pasir dan batu. Sumur tua itu sudah diuruk. Debu-debu berterbangan di antara getaran dan dentuman proyek.

Tak ada lagi latihan silat atau tari sejak proyek dimulai. Aku juga jarang bertemu Robin dan kawan-kawan. Termasuk orang-orang muda Karang Taruna.

Aku sering menonton proyek di pinggir kali bersama para penghuni lainnya.

“Lapangan ini amanat Haji Ridwan. Begitu juga sumur dan pohon jambunya,” kata seorang penghuni tua.

“Amanat tinggal amanat. Toh pak haji sudah meninggal. Saatnya bagi warisan,” jawab penghuni yang lebih muda.

“Karang Taruna ingin kelurahan beli lapangan itu.”

“Si Gembul gak mikir, ya? Kelurahan mana punya uang?”

Mereka tertawa.

* * *

Hari cepat berlalu. Rumah kontrakan tiga lantai sudah berdiri. Warnanya sama: kuning tua. Kontrakanku di hadapannya jadi terasa menciut. Bahkan langit jadi tak terlihat.

Robin tahu-tahu pindah ke bangunan baru. Kata ibu, sebagai tukang ayah Robin mendapatkan diskon untuk menempati salah satu kamar di pojokan lantai tiga.

BACA JUGA : Blok F

Suatu waktu Robin duduk melamun di pinggir kali, tempat biasa kami melihat bebek-bebek berenang di sungai kecil yang lebih mirip comberan. Baju bola yang biasa ia pakai tampak kegedean.

“Kamu habis sakit?”

Ia menggeleng.

“Aku dimarahin bapak.”

“Dimarahin kenapa?”

“Ayahku melarang main sama Gembul. Padahal cuma main bola.”

Itu saja. Lalu ia masuk ke lorong, tanpa menoleh.

Beberapa hari kemudian aku melihat Robin duduk sendirian lagi di tangga kontrakan baru. Kali ini ia tak membawa bola atau layangan. Ia hanya melamun sambil memandangi kali.

Sementara ibuku semakin ketat mengawasiku. Katanya, akhir-akhir ini semakin rawan begal, geng motor, dan tawuran. Razia di mana-mana. Ibu lebih rewel mengingatkan bapak agar sering mengunci rumah.

Setiap pulang jualan, ibu mengaku sering melihat anak-anak bergeletakan di mulut gang atau pinggir jalan.

"Mereka teler. Kamu jangan main jauh. Habis sekolah langsung pulang."

"Siapa saja mereka, Bu?"

"Si Gembul dan kawan-kawan."

Aku menelan ludah.

“Ibu, boleh aku main bola sama Robin?”

Ibuku menatap tajam.

“Main bola di rel?”

“Di ruko, Bu. Dekat rel.”

”Cari teman perempuan saja. Di sini mainnya.”

“Temanku cuma Robin, Bu.”

“Banyak anak perempuan di sini.”

“Banyak. Bayi dan balita. Aku gak mau ngasuh mereka.”

“Tina,” suara ibuku mulai bergetar. “Jangan main bola sama Robin.”

Aku berdiri dan meninggalkan ibuku tanpa sepatah kata pun.

“Tina!”

“Aku mau ke kali.”

* * *

Robin duduk menghadap kali di tangga bangunan baru. Tangannya memegang kaleng benang layangan. Ia tak menyapaku meski melihat. Aku tetap menghampirinya meski canggung.

"Kamu tidak main bola?"

"Bapak melarang."

“Kan biasanya boleh."

"Sekarang tidak boleh lagi. Sering dirazia tentara dan polisi juga."

"Mereka mau nangkapin?"

“Jam malam."

“Kuntilanak?”

“Bukan. Gak tahulah. Pokoknya jam malam.”

Robin jengkel. Wajahnya merenggut.

"Kata ibu, Gembul kini sering teler?”

"Gembul sekarang sibuk balapan.”

Robin meletakkan kaleng benang layangan di lantai.

“Robin!”

Ayah Robin berteriak dari atas balkon.

Robin menegang. Wajahnya antara marah dan takut. Ia berdiri kaku dan menendang kaleng itu. Sekilas ia memandang kepadaku, lalu berlari menuju sumber suara. Aku masih memperhatikan tubuhnya sebelum ia menghilang di ujung lorong.

* * *

Aku tak mengerti kapan Robin mulai berubah.

Akhirnya aku memberanikan diri ke rumahnya. Hawa panas menyambutku di lorong. Tangga ke lantai tiga terasa tak berujung. Aku masih mengira tempat ini masih lapangan.

Di lantai tiga, ibunya bilang Robin lagi main layangan di dak. Rupanya Robin telah menemukan tempat bermain baru. Aku masih harus naik lagi, kali ini ke tangga besi yang melingkar seperti obat nyamuk.

Di atas dak beton, Robin berdiri sendirian terpanggang matahari. Tangannya sibuk menggulung benang. Layangannya baru saja putus.

Robin lalu meneduh di bawah bayangan torn air. Kaleng benang layangan yang tempo hari ia tendang tergeletak di sampingnya.

BACA JUGA : Naskah dan Jelaga

Kami duduk diam beberapa saat, merasakan tamparan angin yang menyengat. Di depan, atap-atap rumah petak berhimpitan, kabel-kabel listrik bertebaran seperti sarang laba-laba.

“Main layangan membosankan.”

“Kita lebih suka main bola.”

Robin mengangguk pelan.

“Gembul ditangkap polisi.”

“Kenapa lagi?’

“Gak jelas. Mungkin karena ngobat. Atau balapan.”

“Hah!”

“Robin! Angkat jemuran.”

Dari bawah ibu Robin berteriak.

“Ya, Ma.”

Robin berdiri malas-malasan menuju jemuran yang sudah keriting kepanasan. Sikapnya kaku seperti robot. Aku membantunya.

Robin berdiri di pinggir dak. Terlalu pinggir. Matanya memandang ke bawah. Aku meringis.

“Tina, kalau aku loncat, apakah aku akan langsung mati?”

Aku mendekat, lalu mengintip ke bawah dengan perasaan ngeri. Tapi ternyata pemandangan di bawah tak securam yang aku bayangkan. Asbes terhampar luas.

“Jangan konyol, Robin. Kau hanya akan merusak asbes orang.”

Robin tersenyum kecut.

“Robin cepat!”

Teriak ibunya.

Aku membantu Robin membawa jemuran turun ke lantai tiga. Namun sebelum pergi, Robin memintaku menunggu. Ia buru-buru masuk kontrakan, lalu kembali lagi dengan bungkusan kecil dan sebuah layangan. Ia memberikannya padaku.

“Aku tidak suka main layangan. Setelah putus, layangan tak bisa kembali.”

BACA JUGA : Kelam Malam

Aku menyampirkan layangan itu di bahu, lalu membuka plastik hitam yang ternyata berisi butiran jambu air yang merah-merah.

“Kamu masih menyimpannya?”

“Tina, Tina. Ini jambu dari pasar.”

Kami tertawa cekikikan, tawa yang sudah lama tidak kami lakukan bersama.

“Tin, aku akan pindah lagi,” kata Robin, setelah tawaku reda.

Hening sesaat.

“Pindah? Kenapa?”

“Bapakku mau pindah ke kampung. Katanya biar serba murah.”

”Robin, cepat bantu ibumu berkemas,” kali ini bapaknya Robin berteriak.

“Iya, Pak.”

Tapi Robin masih berdiri. Menunduk.

“Di kampungku banyak pohon jambu.”

Aku hanya mengangguk, tanganku mengepal-ngepal keresek. Robin akhirnya masuk ke dalam. Aku pun berbalik.

Lututku terasa lemas saat menuruni tangga demi tangga. Sesekali angin menerpa layangan di bahuku.

Di lorong lantai satu, aku mengingat-ngingat di mana letak pohon jambu, dan juga sumur tua yang diuruk. Aku tak menemukannya. Kecuali cat kuning tua yang baunya masih menyengat.

 

Iman Herdiana

Jurnalis dan Penulis Fiksi.

 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.