Skip to main content
Ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Kelam Malam
“Aku pasti sedang dihukum Tuhan karena dosa besar yang kulakukan!” ujarnya pada diri sendiri dalam guyuran hujan lebat diikuti geledek menyambar-nyambar memekakkan telinga serta suara pohon-pohon yang berguncang hebat seolah akan tumbang sewaktu-waktu oleh angin kencang.

MALAM yang kelam jadi lebih suram. Badai yang menggila membuat burung hantu dan kelelawar dan anjing gila mendekam dengan gelisah di sarang masing-masing. Gentar untuk melawan fenomena alam yang sedang terjadi. Kecuali seorang lelaki di atas Honda CB 100 curian yang memacu kendaraannya semakin kencang. 

Menghadapi hujan lebat, pandangan matanya selain ke arah yang dituju, juga ke kiri-kanan jalan, mengantisipasi suatu hal buruk yang mungkin dapat terjadi di malam topan yang ganas. Ia sedang menuju ke arah suatu vila besar. Melihat bahwa jarak antara dirinya dan vila masih terpisah jauh, ia menggas motor semakin kencang, meski ia sendiri takut akan tergelincir oleh kecepatan yang terlalu berlebihan. 

Lumpur terciprat tinggi saat motor itu melaju, mencipta kubangan-kubangan memanjang yang segera terisi oleh air. Siluetnya yang diterangi kilat, di atas motor yang melaju pesat, membuat ia serupa pengendara tengkorak dari alam kematian yang hadir ke dunia untuk menagih utang nyawa para arwah yang baru lepas dari raga.

BACA JUGA : Tongkat Salat Jumat

Akhirnya ia sampai di gerbang vila, berteriak memanggil, memperkenalkan siapa dirinya, dan minta kemurahan hati si pemilik untuk membiarkannya menginap barang semalam untuk menghindari badai. Ia menunggu dengan cemas dan penuh harap. Secemas seorang ayah yang menunggu kelahiran anak pertama.

Sebenarnya, jika dapat memilih, ia akan lebih memilih menginap di desa terdekat di pegunungan itu. Lebih karena alasan pribadi. Sayangnya desa itu telah tertinggal jauh di belakang dan ia sendiri tak pernah benar-benar yakin apakah pihak kepolisian memang benar-benar akan melakukan pencarian untuk menangkap dirinya. Tapi takdir sendiri seolah menjebak dan mengarahkannya ke vila itu.

Tak berapa lama gerbang vila terbuka, yang menyambutnya adalah seorang pria tua dengan kopiah yang mengenakan jas hujan sambil menenteng lentera. Segera pria itu mempersilakannya masuk.

“Selamat malam, Pak, maaf mengganggu di saat seperti ini,” ucap si pria pengendara setelah memarkir motornya di halaman di bagian yang tak mampu dicapai oleh hujan.

“Oh, tak apa Mas. Kami senang menerima tamu. Apalagi majikan saya. Mari ikuti saya ke dalam untuk menghangatkan diri.”

Saat berjalan bersama, tiba-tiba perasaannya resah tak dapat dijelaskan. Suatu merinding dingin yang hinggap dan bersarang di tengkuk lehernya, yang beda dari dingin karena kuyup.

“Apa listriknya sedang mati, Pak?” tanyanya gelisah ketika melihat bangunan vila yang gelap tanpa cahaya.

“Iya, pemadaman listrik karena badai.”

Perasaan cemasnya semakin menjadi-jadi setiap langkah yang terambil menuju rumah peristirahatan itu, bahkan tak kunjung hilang ketika ia masuk melewati pintunya.

Si pria muda yang bernama Herman, kemudian diantar ke sebuah kamar. Secara sopan minta handuk dan hanger untuk menggantung pakaian yang basah. Tapi si pak tua penjaga vila itu sendiri yang langsung mengambil baju yang basah untuk digantung di tempat lain. Sementara ia sendiri segera berganti pakaian dengan yang terdapat di dalam ransel agar tak terkena meriang.

“Mas pasti lapar, jadi Tuan menyuruh saya mengantarkan Mas ke meja makan untuk bertemu beliau sekalian makan malam bersama,” ucap si pak tua.

Setelah selesai berganti pakaian, Herman kemudian berjalan melalui lorong ke arah ruang makan dipimpin oleh si pak tua. Melewati lukisan-lukisan pria ataupun wanita jaman dahulu yang terpajang di dinding. Cahaya lentera yang menerangi saat ia berjalan membuat tatapan mata lukisan-lukisan itu seolah mengikuti gerak-geriknya. Sejenak ia di buat bergidik akan khayalan yang tak sengaja dibuatnya sendiri. Meski begitu, ada satu lukisan yang berhasil menarik minatnya, ia pun berhenti dan mendekati lukisan itu, dan meminta si pak tua untuk sekalian menerangi ke arah sana.

BACA JUGA : Mantra Seniman

Lukisan yang terpampang di depannya adalah gambaran seorang malaikat perempuan yang sedang terbang. Dengan enam sayap yang putih bersih serupa pualam, yang di belakangnya terdapat langit biru dan gerbang surga sebagai latar. Pada tangan kanan memegang pedang emas, pada tangan kiri sebuah perisai perak. Tubuhnya putih bersih senada dengan sayap yang suci. Herman merasakan nuansa yang murni saat ia melihat lukisan itu. Sekaligus sesuatu yang mengganggu.

***

Kini Herman duduk di meja makan sambil berbincang-bincang dengan si tuan rumah yang ramah. Seorang pria berusia lima puluh enam tahun atau lebih, menurut taksiran Herman sendiri. Seorang tuan rumah yang tambun dengan cambang lebat  dan rambut kepala telah agak beruban.

“Jadi nak Herman, katakan padaku, apa yang membuatmu berkendara di malam badai yang menakutkan ini?” tanyanya di tengah jamuan makan. Wajah bulat gemuknya diterangi kobar nyala lilin.

“Saya sedang dalam perjalanan menemui seorang kerabat untuk suatu urusan penting.”

“Begitukah?” sambil menyendok sup di piringnya.

“Ya, tentu saja.”

Hujan di luar semakin lebat, guntur terus bersahut-sahutan. Selama makan mereka berdua minum amer untuk menghangatkan badan dan untungnya bangunan vila itu sendiri cukup hangat di dinginnya badai malam meski kurang penerangan.

“Pak, kenapa hanya kita berdua di meja makan ini, mana yang lain?”

“Oh, aku hampir lupa memberitahumu, hanya aku, istriku, dua pembantu wanita, dan penjaga vila tua yang sudah kau temui yang sekarang berada di vila ini. Istriku sendiri sedang sakit keras. Ia lebih banyak beristirahat di kamar. Aku sendiri membawa istriku ke sini untuk membuatnya agak mendingan, semacam mencari suasana baru.”

Karena kesopanan Herman tidak bertanya mengenai sakitnya si nyonya rumah. Tapi, merasa sebaiknya mencari topik untuk pembicaraan. Herman mengingat lukisan malaikat yang terpajang di lorong menuju ruang makan. Ia pun bertanya perihal lukisan yang membuat dirinya tertarik itu.

“Pasti yang kau maksud Sang Malaikat, aku sebenarnya tidak terlalu tahu tentang seluk-beluk dunia seni, jadi pendapatku mungkin bisa jadi bias, tapi aku tak terlalu menyukai lukisan itu. Ketidaksukaan akan sesuatu yang terlalu sempurna terlihat. Namun aku tidak dapat menyangkal bahwa itu memang lukisan terbaik di vila ini. Aku tidak tahu siapa pelukisnya, tapi yang jelas dia peranakan Tionghoa berdasarkan penuturan ayahku. Kakekku sendiri membeli lukisan itu langsung dari pelukisnya.”

Herman mendengarkan dengan penuh perhatian. Nyala lilin yang kuning sesekali bergoyang.

“Ada satu hal yang mengganggu menurutku tentang lukisan itu, ini bukan tentang lukisan itu sendiri, tapi tentang seseorang yang terpesona dengan keindahannya. Lukisan itu, entah bagaimana seperti mempengaruhi seseorang. Mengubah mungkin kata yang lebih tepat. Ayahku pernah bercerita, sejak kakekku membeli lukisan itu, kakekku sering kali menatapnya lama. Bahkan berdiri berjam-jam untuk mengagumi setiap sudut serta lekuk lukisan itu setiap hari. 

BACA JUGA : Kutu Losmen di Perbatasan Gulita

Ayahku sebenarnya tak terlalu peduli mengenai tingkah laku kakekku, karena ia tahu bahwa kakekku memang mempunyai minat yang tinggi akan sesuatu yang berhubungan dengan seni. Sehingga wajar ia begitu mengagumi karya seorang pelukis. Apalagi jika karya itu teramat bagus dibuat. Tapi entah mengapa, rasa kagumnya berubah jadi sebuah obsesi yang sakit menurut ayahku. Pernah ayahku memindahkan lukisan itu ke koridor ruangan lain, dan kau bisa tebak apa yang terjadi kemudian?”

“Apa yang terjadi, Pak?”

“Kakekku marah dengan hebat dan ia mulai mengambil pedang Eropa yang tergantung di dinding untuk menghancurkan segala perabotan yang ada di hadapannya dengan ganas. Lima pria dewasa yang berusaha menenangkan, terluka akibat ulahnya. Ia seperti kesetanan. Maka ayahku menaruh kembali lukisan itu ke tempat semula.”

“Kakek Anda jadi seperti itu hanya karena lukisannya dipindahkan?”

“Ya, hanya karena dipindahkan. Semenjak kejadian itu kakekku sering tiba-tiba ketakutan sendiri. Dia selalu menyebut-nyebut tentang Hantu Komunis.”

“Hantu… Komunis? Apa hubungannya dengan lukisan itu?”

“Tidak tahu,” berhenti sejenak untuk mengunyah makanannya. “Kakekku semasa pemberontakan PKI dulu adalah tentara, jadi bisa dibilang banyak membuat bolong kepala orang-orang komunis. Ayahku menceritakan kakekku pernah pulang dalam keadaan bersimbah darah. Tentu saja bukan darahnya.”

Kembali ia berhenti untuk mengunyah, lalu meletakan sendok garpu.

“Mungkin kakekku merasa bersalah bertahun-tahun kemudian oleh pembunuhan yang ia lakukan. Lukisan itu barangkali hanya pemicu yang akhirnya membuat ia kehilangan dirinya. Ia sendiri pada akhirnya dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa.”

“Itu akhir yang mengerikan untuk seorang mantan prajurit. Jadi, kegilaannya lebih dikarenakan penyesalan masa lalu dibandingkan karena lukisan itu?”

“Ya, kau benar, dapat dibilang begitu. Bahkan mungkin sebelum lukisan itu dibeli, kewarasannya sudah berkurang. Tapi ada kejadian lainnya mengenai lukisan itu.”

Ia berhenti sebentar untuk mengunyah makanan. “Kau ingin dengar?”

“Tentu. Ini malam hari dan cuaca di luar sedang tak bersahabat, waktu yang sangat tepat untuk mendengarkan suatu cerita. Tolong lanjutkan jika bapak tidak keberatan.”

“Kejadiannya tiga tahun lalu, atau mungkin dua tahun lalu, aku tidak dapat mengingat dengan pasti. Aku mempekerjakan seorang pembantu baru dari desa di bawah sana. Seorang perempuan muda periang berusia 17 tahun. Pekerjaannya sederhana saja, macam bersih-bersih. Ia awalnya bekerja dengan rajin, tapi empat minggu kemudian mulai bertingkah aneh.”

“Aneh? Keanehan apa yang dia lakukan?”

“Ia mulai tidur sambil berjalan di malam hari. Berjalan memasuki seluruh ruangan vila. Masuk ke ruangan-ruangan lain yang tidak terkunci, bahkan pernah masuk ke ruanganku ketika aku tertidur. Membuat aku dan istri sangat kaget dibuatnya. Hal itu terjadi dengan demikian sering. Ketika suatu kali kami membangunkannya dan menanyai kenapa ia melakukan hal seperti itu, kau tahu apa alasan yang ia katakan?”

BACA JUGA : Pemberontakan Seratus Tahun

Ia berhenti sejenak ingin mengetahui reaksi apa yang terpancar di wajah tamunya.

“Aku sedang berusaha melarikan diri dari iblis di dalam lukisan itu.”

Herman tak dapat berkata apa-apa. Ia lanjut mendengarkan saja.

“Karena gangguan tidur, berjalannya sangat mengganggu. Kakek kemudian menjadi pribadi yang murung, membuat pekerjaannya terbengkalai. Aku memecat pegawai itu.”

Dengan makanan yang masih tersisa banyak, pemilik vila membasuh mulutnya dengan segelas amer. Ia melanjutkan ceritanya.

“Ada tiga kejadian lain yang berhubungan dengan lukisan itu jauh sebelum aku menetap di vila ini, tapi untuk sekarang mari kita selesaikan makan malam kita ini dan segera beristirahat. Kau pasti sangat lelah, kan? Istriku pasti ingin agar aku segera kembali ke kamar.”

***

Di kamar, Herman merenungkan cerita yang tadi didengarnya sambil berusaha tertidur. Tapi ia sangat susah untuk mengantuk. Pikirannya diganggu mengenai kisah yang terjadi di sekitaran lukisan itu.

Karena tetap tak dapat tidur, meski telah membaca buku untuk mendatangkan kantuk dan menghabiskan dua puluh lembar halaman, Herman putuskan keluar dari kamarnya ke arah lorong untuk melihat kembali lukisan yang membuatnya tertarik.

Menggunakan lentera yang ia bawa dari kamarnya, ia menerangi lukisan itu. Kembali ia terkesima akan kecantikan lukisan yang berada di depannya. Lukisan yang seakan terlihat bernyawa. Tebersit dalam hatinya untuk memiliki lukisan itu bagi dirinya seorang, bagaimanapun caranya. Entah dengan cara meminjam, membeli, atau mencuri dari si pemiliknya sekarang juga.

“Atau dengan membunuh pemiliknya yang sekarang.”

Ia kaget, tubuhnya otomatis mundur ke belakang, lentera di tangan hampir saja terjatuh akibat gerakan yang tiba-tiba.

“Apa ini! apa ini!” ucapnya dengan tubuh bergetar. Ia ngeri akan pikiran jahat yang terlintas. “Bagaimana mungkin aku terpikirkan melakukan hal sekeji itu terhadap tuan rumah yang sangat baik kepadaku.”

Kemudian segera ia teringat akan alasan dirinya berada dalam pelarian. Dalam suatu pencurian bodoh yang ia lakukan bersama seorang kawan, ia lepas kendali. Menghantam tengkorak sang teman dengan sekop berkali-kali hingga hancur hampir menyerupai semangka yang dibanting ke aspal hitam, merah tercerai-berai tak karuan. Kemudian tubuh hampir mati yang masih bergetar itu ia kuburkan, bukan ke lubang galian kosong tapi ke lubang galian terisi yang sudah ada penghuni, korban pencurian biadab yang mereka lakukan.

BACA JUGA : Gunung Swarga

Kembali ke arah lukisan di depannya. Kali ini tidak ada lagi rasa kagum, terkesima, dan senang, hanya rasa takut saat memandang lukisan itu. Baginya sekarang, lukisan itu bukan lagi lukisan seorang malaikat, melainkan lukisan seorang iblis yang menyamar. Lukisan terkutuk yang seolah membuka luka seseorang yang telah berbuat keji dan ingin bertobat.

Herman kemudian melempar lentera di tangannya dengan sekuat tenaga ke arah lukisan itu, kaca lentera pecah, minyak dan api bercampur-baur jadi satu, membakar lukisan di depannya, api kemudian menjalar dengan cepat ke sekeliling, tak lama kemudian lorong itu telah berkobar oleh lidah api. Api bagai ular yang merayap dengan licin ke segala sudut dan celah. Vila gelap itu segera berwarna merah-kuning di malam badai.

 

Aldi Rijansah

*Lahir di Sumbawa Barat. Menyelesaikan studi di Jurusan Kehutanan, Universitas Mataram. 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.