SAYA TIDAK MENGERTI kenapa Mbah Yahya berpakaian demikian. Hari ini Jumat Kliwon, dan itu adalah jadwal saya. Sejak tahun lalu, jadwalnya sudah disepakati bersama. Semua harus mengikuti urutannya, tidak boleh diubah-ubah seenaknya. Mengotak-atik kesepakatan sama saja tidak menghormati seluruh jamaah dan jajaran kepengurusan takmir. Karena itu, saya tentu tidak bisa membiarkan Mbah Yahya menggantikan saya.
Mbah Yahya tersenyum dan saya memalingkan muka. Bibir saya melafalkan wirid. Tapi, pikiran saya mencari alasan kenapa saya seperti mau digantikan begini. Menurut saya, tidak masuk akal jika penyebabnya adalah karena beberapa hari lalu saya tidak bisa mengimami jamaah maghrib dan isya yang sudah dijadwalkan untuk saya. Namun, para warga kan tahu, saya melakukan itu karena saya pergi ke Jakarta. Semua juga tahu jika saya ke ibu kota untuk mengurusi tanah yang akan disedekahkan seorang kenalan di sana.
Memikirkan itu, saya merasa harus melakukan sesuatu. Saya pun menoleh ke arah Pak Syaichu yang sudah berada di depan dan mengambil tongkat salat Jumat. Sembari melakukan itu, saya lalu menatap Mbah Yahya yang menegakkan duduknya. Tapi, agaknya Mbah Yahya tahu jika saya mengamati beliau. Nyatanya, dengan dingin Mbah Yahya balik menatap saya, seperti ingin menegaskan sesuatu. Meski begitu, saya tersenyum, memilih mengabaikannya sebelum kembali memandangi pada Pak Syaichu yang sudah mulai merapal lafal bilal.
Sampai di pertengahan bacaan, saya mengambil sorban hijau di sebelah kiri saya dan menyampirkannya ke pundak. Tapi, ketika kemudian membenarkan posisi duduk, lagi-lagi saya mengernyitkan dahi. Sebab, Mbah Yahya tampak seperti sengaja hendak memberitahu sesuatu dengan merapikan jasnya. Meski begitu, saya diam saja, membiarkan beliau terus meyakini perasaannya. Saya tetap akan melaksanakan jadwal yang sudah ada. Ini bukan urusan beliau lebih senior daripada saya atau apa, tapi menjaga keteraturan yang telah berjalan lama.
Bacaan bilal selesai dan saya lekas berdiri. Tapi, seperti tidak ingin kalah cepat dari saya, Mbah Yahya juga beranjak dari duduknya. Saya melihat ke arah beliau yang kemudian mengangguk kecil. Seakan-akan, dengan melakukan itu akan membuat saya akan mundur dari posisi saya sebagai khotib yang sah. Namun, saya kembali tersenyum karena itu tidak akan terjadi. Kepada Pak Syaichu, saya telah mengirim pesan WA kalau siang ini akan tetap berkhotbah sesuai jadwal saya. Itu kenapa, saya tidak ragu melangkah mendekatinya.
BACA JUGA : Guru Honorer
Saya sudah akan menapakkan kaki untuk yang ketiga kali seumpama Mbah Yahya tidak mengulurkan tangannya ke arah Pak Syaichu. Melihat itu, saya berhenti. Mbah Yahya berhenti. Pak Syaichu juga berhenti. Mbah Yahya menatap saya, dan saya memalingkan muka pada Pak Syaichu agar lekas menyerahkan tongkat di tangannya kepada saya. Tapi, bukannya melakukan itu, Pak Syaichu justru menyandarkannya di depan mimbar lalu kembali duduk di samping jamaah lainnya.
Saya dan Mbah Yahya saling berpandangan, sementara Pak Syaichu menundukkan kepalanya di barisan paling depan.
**
Pukul dua belas kurang sedikit, ketika menuju shaf pertama, saya terperanjat melihat Pak Miftahul sudah duduk di dekat pengimaman dan hendak mengambil tasbihnya. Sebab, setahu saya, beliau tidak mengisi khotbah hari ini. Meski begitu, saya bersikap biasa saja dan kami bersalaman, dan Pak Miftahul mengernyitkan dahi melihat apa yang saya kenakan.
Saya pun tersenyum. Sebab, saya tidak perlu repot-repot menjelaskan kenapa saya datang kemari. Sudah hampir tiga minggu Pak Miftahul tidak pernah kelihatan mengimami. Itu sebabnya, selesai yasinan rutin semalam, kepada Pak Syaichu saya menawarkan diri untuk mengisi khotbah hari ini. Saya paham bahwa mencari khotib pengganti bisa sulit sekali. Saya tidak mau salat Jumat juga ikut kacau seperti jamaah magrib dan isya kemarin-kemarin.
Pak Miftahul mengalihkan pandangan dan kembali memutar tasbihnya. Saya sendiri juga membaca wirid. Tapi, ketika menggeleng-gelengkan kepala sewaktu membaca bacaan tahlil, saya jadi tersadar bahwa diam-diam Pak Miftahul memandangi saya. Mendapati itu, saya tentu tidak mau diam saja. Segera saya menoleh ke arah kiri sebagai isyarat agar beliau paham bahwa jadwal beliau saya ambil alih hari ini. Pak Miftahul tersenyum dan lekas menggeser pandangannya kepada Pak Syaichu yang sudah berada di dekat pelantang suara.
Mengambil tongkat salat Jumat dan menyilangkannya di depan dada, Pak Syaichu melantukan bacaan bilal. Dipejamkannya kedua mata dan saya terheran melihat Pak Miftahul menyampirkan sorban hijau yang biasa beliau kenakan tiap kali mengisi khotbah di sini. Saya pun cepat-cepat merapikan jas dan bersiap-siap berdiri. Saya tidak mau berbasa-basi. Jamaah masjid sudah banyak yang bingung mengenai Pak Miftahul yang kerap meninggalkan jadwal imamnya. Sudah waktunya saya menunjukkan ketegasan agar kebingungan umat seperti ini terhenti.
Tadi malam, Pak Syaichu sendiri tidak menolak tawaran saya. Para warga pasti juga memaklumi tindakan saya. Itu kenapa, ketika bacaan bilal selesai, saya bersiap berdiri agar tongkat itu bisa saya terima. Tapi, di luar dugaan saya, Pak Miftahul justru lebih dulu bangkit daripada saya. Saya lekas menyusulnya dan kami saling bertatapan. Pak Miftahul tersenyum, seolah-olah beliaulah yang akan benar-benar mengisi khotbah.
BACA JUGA : Rombongan Bisu
Saya pun mengangguk, paham bahwa saya memang tidak boleh membiarkan Pak Miftahul berbuat sekehendak hatinya. Meninggalkan jadwal imam dengan alasan pergi ke Jakarta hanya demi urusan tanah jelas mengkhianati Amanah takmir. Itu kenapa, saya cepat-cepat mengulurkan tangan kanan pada Pak Syaichu agar menyerahkan tongkat salat Jumat kepada saya. Tapi, di waktu bersamaan, Pak Miftahul maju dua langkah, seperti tidak mau kalah.
Mendapati itu, saya menatap Pak Miftahul yang benar-benar sudah kelewatan. Dengannya, saya ingin memberi peringatan. Tapi, alih-alih melihat ke arah saya, Pak Miftahul justru memandangi Pak Syaichu. Saya pun cepat-cepat mengikuti arah pandangan beliau agar bisa lebih dulu menerima tongkat salat Jumat. Meski begitu, bukannya menyerahkan tongkat di tangannya kepada saya, Pak Syaichu justru menyandarkannya kembali pada mimbar dan berlalu begitu saja.
Saya dan Pak Miftahul kembali saling bertatap mata, sedangkan Pak Syaichu diam memandangi sajadah hijau yang didudukinya.
***
Jam dua belas kurang sedikit, saya tergesa-gesa masuk masjid karena baru pulang dari sawah. Badan saya masih terasa gerah. Karena keringat, baju saya masih basah. Meski demikian, itu bukan apa-apa. Apa yang mata saya lihat jauh lebih mengkhawatirkan. Di dekat pengimaman, Yai Miftahul dan Yai Yahya sama-sama sudah duduk bersebelahan. Menyibak barisan jamaah, saya berjalan dengan jantung berdegupan. Sebab, tidak lama lagi saya mesti memutuskan kepada siapa tongkat salat Jumat mesti saya serahkan.
Tentu, saya kebingungan. Saya hanya jamaah biasa, sementara beliau berdua adalah kiai yang dihormati. Memilih salah satu dan melewatkan yang lainnya terasa tidak mungkin saya lakukan. Memilih keduanya untuk mengisi khotib pun tidak dimungkinkan oleh aturan agama. Mengganti khotib dengan orang lain tambah tidak mungkin lagi. Memikirkan semua itu, saya jadi ingin marah sendiri. Sebab, ini semua tidak akan terjadi jika saja Yai Miftahul tidak berseberangan paham dengan Yai Yahya.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan warga desa jika Yai Yahya dan Yai Miftahul sedang tidak akur. Alasan dan penyebabnya simpang siur. Hanya ada desas-desus dan kabar burung. Meski begitu, semua berita kabur itu bermuara pada sepetak tanah yang akan diberikan oleh orang Jakarta. Saya sendiri kurang tahu kepada siapa tanah itu akan diserahkan. Beberapa tetangga yang pernah membincangkannya dengan saya pun juga demikian.
Meski begitu, kami semua tahu jika beliau berdua berbeda paham pada dua hal yang sebetulnya tidak saling berlawanan. Yai Yahya berpendapat agar tanah itu diatasnamakan yayasan, sementara Yai Miftahul bersikeras mengurusnya sendiri ke ibu kota. Mau dipahami dari mana pun, sebetulnya tidak ada alasan bagi beliau berdua untuk berselisih demikian. Sebab, justru kami para jamaah biasa inilah yang akhirnya jadi kebingungan.
BACA JUGA : Pemanggil Dewi Laut
Membungkukkan badan, saya menyibak deretan jamaah paling depan. Dengan perasaan tak karuan, saya mengambil tongkat salat Jumat dan menggenggamnya dengan kedua tangan sebelum mulai membaca bilal yang sengaja saya pelan-pelankan. Saya tidak ingin bacaan bilal saya cepat selesai. Selama membaca, saya juga memejamkan mata. Saya sungguh sedang tidak mau bertatapan dengan Yai Miftahul dan Yai Yahya. Melakukan itu hanya akan membuat dada saya makin berdebaran dan merasa serba salah.
Di ujung bacaan bilal, ketika membuka mata, saya tersentak. Yai Miftahul dan Yai Yahya sama-sama sudah berdiri dan mendekati saya. Yai Yahya mengulurkan tangan kanan, sementara Yai Miftahul menapak dua langkah ke arah saya. Saya gelagapan tatkala beliau berdua saling berpandangan. Saya kebingungan, tidak bisa memutuskan kepada siapa tongkat salat Jumat ini mesti saya serahkan.
Mengingat runtutan peristiwa ini membuat saya jadi kembali ingin marah sendiri. Tadi malam seusai yasinan, Yai Yahya menawarkan diri mengisi khotbah hari ini. Saya tidak berani menolak meski sebenarnya sudah meminta Pak Thoriq bersiap menjadi khotib pengganti. Tapi, jika itu yang terjadi, barangkali masih tidak apa-apa. Saya yakin Pak Thoriq memahami situasinya. Masalahnya, satu jam lalu, Yai Miftahul tiba-tiba mengirim WA, memberi kabar bahwa beliau sudah pulang dari Jakarta.
Saya memberanikan diri mengangkat pandangan. Yai Miftahul tersenyum, sementara Yai Yahya membalasnya dengan anggukan. Meski begitu, beliau berdua sama-sama tampak tidak mau mundur dan mengisyaratkan agar tongkat salat Jumat segera diserahkan. Saya merasa tersiksa dan akhirnya memilih menyandarkan tongkat di tangan saya ke tempat semula. Saya lalu berbalik kembali ke tempat duduk para jamaah dan menundukkan kepala.
Saya merasakan banyak mata menatap saya. Tapi, saya tidak memedulikannya. Saya memilih memandangi sajadah hijau di depan saya dan membiarkan masalah ini diselesaikan oleh beliau berdua.
Syafiq Addarisiy
Mengajar manthiq dan balaghoh di PP. Assalafiyyah Mlangi, bahasa Indonesia di MA Sunan Pandanaran, dan bahasa Inggris di Rumah Inggris Jogja. Ia senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca, serta aktif di Komunitas Susastra dan Sindikat Muda, Liar, Ngantukan. Beberapa tulisannya tersiar di Koran Tempo, kompas.id, tengara.id, kalamsastra.id, bacapetra.co, basabasi.co, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Radar Selatan, Majalah Sastra Kandaga, dan lain-lain. Ia dapat dihubungi melalui surel: syafiq.addarisiy@gmail.com dan Instagram: @syafiqaddarisiy.
Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.