Skip to main content
ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Rombongan Bisu
Remang-remang yang mengintip dari jalan tiba-tiba lenyap ditelan gelap gulita. Sambil mendesis menahan desakan di kandung kemihku, aku berusaha memasukkan kunci pada pintu belakang. Tanpa belas kasihan kunci itu jatuh bersama angin dingin yang membelai tengkukku. Saat aku membungkuk mengulurkan tangan, remang merayap datang seperti jemari yang ingin mencengkeramku hidup-hidup.

SAMBIL mendesis menahan dingin, aku menjulurkan leher dari balik dinding belakang. Kulihat kabut tipis mengintip dari pagar dinding pabrik,  lalu melayang membanjiri jalan yang kembali terang menguning. Selama dua tahun kutinggalkan, cuaca desa terpencil di lembah ini telah berubah banyak, sama seperti sikap ibuku.

Gara-gara ketiga kakakku rutin mengirim uang belanja tiap bulan, ibu bisa membikin bagian belakang rumah jadi bertingkat, sementara aku malah mengakui kekalahanku di rantau. Mungkin, karena itu Ibu menyuruhku tidur di kamar belakang yang terpisah dari rumah utama.

Seorang laki-laki paruh baya melangkah pelan, tetapi terlihat pasti dengan tujuannya menembus kabut tipis itu. Belum hilang rasa penasaranku, muncul laki-laki lain menembus tirai kabut itu, diikuti seorang lagi dan lagi. Jantungku menggedor dada saat aku bersembunyi di balik dinding. Setelah menelan ludah, aku memberanikan diri mengintip lagi. Satu rombongan manusia sudah memenuhi jalan. Pria, wanita, bahkan remaja laki-laki dengan seragam putih biru berlalu lambat namun pasti di jalan berkabut.

Dari balik tirai ruang depan, aku merasa tidak percaya melihat wajah Pak RT di antara rombongan itu bersama istrinya. Di belakangnya, bagaimana mungkin aku akan lupa dengan sanggul ibu nyinyir yang suka bertanya pekerjaanku semenjak aku lulus kuliah. Sekarang sanggul kebanggaannya itu nyaris terurai dan mulutnya terkatup rapat dengan mata terpaku tidak berkedip.

Di penghujung rombongan, seorang gadis manis bertubuh mungil dengan rambut lurus tergerai hingga ke punggung. Dia menoleh perlahan padaku. Detak jantungku terasa berhenti seketika.

BACA JUGA : Mantra Seniman

Suaraku sehalus bisikan, memanggil kedua orang tuaku di pintu kamar, namun tak berbalas, hingga kuputuskan untuk masuk saja. Meski sudah kubuka sepelan mungkin, pintu itu tetap berderit nyaring di malam yang hening, memacu detak jantungku lagi. Bau keringat menguar menusuk hidungku di kamar yang temaram itu. Dengkuran orang tuaku terdengar bersahutan. Kaki Ibu terlihat ingin menendangku ketika aku menepuk lengannya berkali-kali.

Ketika aku kembali mengintip dari balik tirai ruang depan, hanya ada kabut tipis melayang ringan di jalan, lalu menghilang begitu saja bersama kedipan mataku.

Sayup-sayup kudengar suara parau pria yang menyenandungkan kata “lonte”. Sosoknya yang kurus kering berbalut tulang berlalu gontai di depan rumahku. Setelah dua tahun lamanya, siapa yang menduga pemadat kampung itu masih hidup?

Kedipan mataku tidak membuatnya menghilang.

Tak lama, senandung tidak sopan itu perlahan menjauh dan malam kembali sunyi. Sampai suara deru mesin pabrik menggelegar membelah malam.

Hanya untuk memastikan pemandangan tadi malam apakah mimpi atau khayalanku saja—terlebih karena gadis manis itu— pagi harinya aku memberanikan diri menghadapi rasa ingin tahu tetangga tentang kepulanganku. Namun, mereka malah bersembunyi di balik rumah yang tertutup rapat.

Panas siang yang menyengat kulitku digantikan hawa dingin yang merayap di tengkukku begitu mataku menelusuri satu pohon yang menjulang tinggi, jauh melebihi atap wisma pekerja yang telah ditumbuhi pakis.

“Orang-orang kerja!” cetus Ibu ketika aku bertanya. “Sekolah paling tinggi, kerja di pabrik juga. Padahal dulu didemo. Bikin malu saja!”

“Si Rudi?” Bapak melirikku, ingin tahu dari balik meja makan sambil menggenggam erat tongkatnya.

“Adi, anak bungsu kita!” sahut Ibu, yang sekarang seperti sengaja membanting piring, bukan mencucinya.

“Oooh! Adi. Sama pohon saja takut,” kata Bapak mendengus, memandangku.

“Pabrik, kok—”

“Sok-sok demo, padahal butuh kerja!”

“Masih soal limbah—”

Ibu mengembuskan nafas lelah, meninggalkan piring yang sedang dicucinya begitu saja. Bapak melangkah satu-satu bertumpu pada tongkat, mengikuti  Ibu.

“Dia anak ke berapa?”

“Ibu pusing, Pak!”

Bapak juga segera mengaku pusing.

“Demo tengah malam—”

Brak! Bantingan pada pintu kamar menutup mulutku.

Suara ketukan pintu di tengah malam yang hening, membuatku terlonjak bangun seketika. Terbayang olehku, itu Ibu atau Bapak yang harus segera diantar ke rumah sakit. Namun yang kutemui justru gadis manis berambut panjang kemarin malam. Dia berpegangan erat pada tiang di depan kamarku dengan dada naik turun menghirup nafas dengan rakus, sementara aku gemetar hampir pingsan.

BACA JUGA : Kutu Losmen di Perbatasan Gulita

“M-malam ini l-lampion itu d-di puncak pohon paling tinggi di pabrik. Kamu harus meniup padam cahayanya sebelum fajar untuk membebaskan kami. Seorang pria tua entah dari mana datang seminggu yang lalu. Me-mengumpulkan jiwa kami di lampion itu.”

Gadis itu tiba-tiba terkesiap dan terbirit-birit mundur, seolah ada tangan tidak terlihat yang menyeretnya. Aku segera meraih lengannya, membuat gadis itu terpana.

“Maaf.” Aku lepaskan gadis itu.

Gadis itu mencengkeram erat lenganku, matanya yang bulat bersinar memandangku penuh harap. “Kamu punya waktu dua malam karena telah menyentuhku. Kamu bagian dari kami sekarang.”

Suara gadis itu bergetar. Lalu aku ikut terseret maju beberapa langkah, ketika sesuatu yang tidak terlihat itu merenggut gadis itu lagi.

“Bagian apa?”

Sentakan yang kuat berhasil menarik gadis itu lepas dari lenganku, menyeret gadis itu melintasi halaman samping rumah. Lampu jalan tiba-tiba padam, menutupi kepergiannya.     

“Bagian apa?!” teriakku, mengejar gadis itu.

“Kami! Boneka penguasa!” suara gadis itu menggema.

Kudengar derak pohon patah di kegelapan dari balik pagar tembok pabrik.

“Apa yang terjadi?!” Gema suaraku yang bingung menjawabnya.

Hawa dingin merayap datang. Lampu jalan menyala kembali, memandangku tajam dari ketinggian. Dari arah kanan, kabut menyeruak melewati pagar tembok pabrik.

Dari balik tirai jendela ruang depan, kulihat rombongan itu muncul lagi, lebih panjang dari sebelumnya. Aku melihat cucu Pak RT berlari kecil dengan wajah tegang mengikuti irama langkah orang dewasa, sambil menggenggam mobil-mobilan plastik.

Derit pintu kamar mengagetkan dan meluluhkanku ke lantai. Ibu keluar, bergabung bersama kelompok itu, diikuti Bapak yang tertatih tanpa tongkat. Hatiku runtuh melihat gadis manis itu berada di akhir rombongan, tidak lagi menoleh padaku. Sekarang, Ibu menoleh dengan wajah meringis seolah mengatakan sesuatu.

Begitu rombongan itu menghilang di tikungan jalan, aku menyeret kakiku yang ingin menyusul mereka, menyeberangi jalan. Sesuatu yang bulat berpendar-pendar seperti kunang-kunang pada puncak pohon misterius yang terlihat sudah semakin tinggi saja. Setelah berhasil menaklukkan pagar tembok pabrik setinggi 2 meter itu, aku menghempas jatuh di atas rumput yang mengepung lututku.

Ditemani bayanganku yang  bergerak tertatih di tembok pabrik, aku  mendekati pohon itu. Entah kenapa kesatnya kulit pohon itu terasa basah, padahal aku yakin tidak ada setetes pun gerimis yang turun. Bayangan wajah Ibu, Bapak dan terselip gadis manis itu, mengalahkan rasa takutku menderita patah tulang lagi. Dengan yakin, aku meraih batang pohon itu dan menapakkan kakiku, memanjatnya.

Awalnya kukira gumam berat sayup-sayup itu hanya lamunanku atau suara-suara misterius malam, namun begitu tanpa sengaja aku melihat ke dalam pabrik yang remang-remang melalui jendela, aku nyaris jatuh. Apakah dia, pria botak gemuk itu yang menggumam? Apakah dia yang mengubah orang-orang kampung menjadi rombongan bisu? Sosoknya yang duduk bersandar pada kursi empuk mirip singgasana menebarkan aura berkuasa. Ketika dia berhenti bergumam dan meminum minuman berasap dari gelas yang sebesar dirinya, apakah rombongan bisu di luar juga berhenti?

Jika memang seperti itu, aku berharap dia tersedak sampai mati atau dasi mencekik leher bergelambir itu.

“Menjaga keteraturan, ketertiban, setelah memberi kalian pekerjaan, kehidupan, tidak bisa disalahkan sama sekali,” katanya. Dia tertawa seperti tanpa dosa.

Bayangan ramping bergerak tertatih, kaku, mendekati pria gemuk itu. Hatiku mencelus oleh helaian rambut panjang yang menutupi wajahnya. Gelegak minuman yang dituang gadis itu, ikut membuat darahku menggelegak.

“Seharusnya kalian berterima kasih—semuanya bersih. Semuanya demi kalian,”  kata pria botak dan gemuk itu.

Pria itu menjentik dan gadis manis itu melayang pergi dari pandanganku. Suara gedebuk di sudut yang gelap, membuatku memejamkan mata sesaat.

Aku merayap pelan seperti kukang yang dipenuhi dendam, menuju puncak pohon tanpa berani melihat ke bawah. Separuh perjalanan menuju puncak pohon yang terasa menuju bulan, kurasakan tarikan pada kakiku seperti tarikan nafas yang teratur. Peluh di punggungku dingin seperti es. Jemariku kebas. Batang pohon ini terasa semakin licin saja. Kuusapkan tanganku yang basah ke paha dan kembali memanjat.

Pasti akan sampai jika terus berusaha, kata Ibu.

Mesin pabrik tiba-tiba menggelar, mengagetkan jantungku yang sudah berdetak cukup kencang sejak tadi. Tanpa ampun aku meluncur turun, tetapi untunglah aku berhasil berpegangan kembali dengan kuat. Embusan nafasku memburu keluar. Kusandarkan kepalaku untuk sesaat di batang pohon.

Batang pohon semakin licin, semakin mengecil hingga seperti dahan yang meliuk membawaku ke sana-ke mari. Benda mirip lampion itu berayun pelan naik, turun, kiri, kanan, sesukanya, seolah tidak tersentuh angin. Talinya yang halus dan berkilauan, selalu luput dari gapaian tanganku.

“Jangan lihat ke bawah,” perintahku pada diri sendiri—sebelum melonggarkan peganganku pada batang pohon dan mencondongkan tubuhku ke depan, menggapai tali sialan itu.

BACA JUGA : Kehidupan yang Lampau

Tali itu terasa hangat di jemari tangan dan angin menderu di telingaku, ketika aku melayang jatuh bersama lampion itu. Aku berusaha menggapai apa saja. Semuanya luput, putus dari genggamanku. Dahan dan ranting tidak sanggup menahanku, hanya menyakitiku.

Suara derak di kakiku terasa menarik sisa hidupku, sesaat setelah aku menghempas jatuh di atas rumput lembab yang gemetar oleh gemuruh pabrik. Semilir angin malam menebar bau besi darah yang hangat di kepalaku. Lampion melayang meninggalkanku, mengitari pohon satu kali, mengejekku. Pandanganku perlahan buram (walaupun aku tidak ingin).

***

Suara kokok ayam jantan di kejauhan membangunkanku. Gemuruh pabrik telah pergi. Hawa dingin menjelang pagi menggigit kulitku. Kemudian terang datang, menyentuh hangat kulitku, memberi harapan.

Rasa sakit luar biasa menggerogotiku setiap kali aku mencoba bangun. Sekarang aku sadar, pinggulku patah, bukan kakiku. Langit biru di atas sana, tiba-tiba terasa suram dan tidak bersinar di mataku. Tiba-tiba pula, kudengar deru sepeda motor di kejauhan, menyuntikkan semangat baru.

“Tolooong!” teriakku berulang kali sampai parau. Namun deru motor itu tidak kunjung mendekat, hilang dengan sendirinya. Hening kembali mengelilingiku yang hanya bisa terbaring menunggu.

Suara tawa serak laki-laki datang bersama langkah yang diseret, memberiku harapan baru.

“Tolong!”

Suara tawa itu berhenti, berganti derap berlari pergi.

“Lonteee!” terdengar turut berlalu.

Aku menyeret tubuhku dan bibirku menahan sakit. Satu-satunya jalan keluar bagiku saat ini adalah saluran limbah yang menjulur keluar dari tembok pagar pabrik. Gatal-gatal karena limbah berwarna pabrik tekstil yang juga meracuni sawah rasanya bukan masalah lagi. Hanya saja, aku harus merayap ratusan meter ke bagian belakang pabrik.

Terik siang membakarku, dengan cepat mengisap sisa tenagaku. Aku mandi keringat. Mulutku asin oleh darah di bibirku. Pandanganku mulai suram lagi. Sayup-sayup di antara sadar dan tidakku, kudengar ramai suara video dan derap kaki.

“Tolong... tolong….” panggilku serak, seraya melawan kegelapan yang menggelayuti mataku. Sayup-sayup kudengar jerit ketakutan, sebelum kesadaranku menghilang lagi.

Sekali lagi aku membuka mataku yang terasa semakin berat saja. Bukan pandanganku yang masih redup, melainkan hari yang sudah meredup. Tanpa menungguku sampai ke saluran limbah itu, dengan cepatnya hari berubah kelam dan sunyi. Kabut datang membanjiriku. Aku pun berdiri, tubuhku berayun-ayun menyeret kakiku melintasi rerumputan. 

Tidak ada suara yang keluar dari mulutku, meski celanaku basah oleh kencing yang didorong keluar oleh sakit luar biasa di pinggulku. Erangan kecil keluar dari mulutku ketika aku memanjat pagar dan menghempas jatuh di baliknya. Tanpa dibolehkan menunggu, aku dipaksa bergabung di ujung rombongan bisu yang melintas, di samping Ibu dan Bapak.

Aku tidak tahu, apakah Ibu dan Bapak tidak lagi mengenaliku atau memang tidak bisa lagi menoleh padaku, tetapi aku tahu, ada suara langkah kaki lain yang muncul di persimpangan di belakangku.

Sambil menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh tenagaku yang tersisa, aku menoleh ke belakang, memohon pertolongan tanpa suara pada pemuda itu. Aku seolah bisa melihat diriku dua hari yang lalu, ketika pemuda itu terpana tidak berdaya melihatku.

Sesuatu tebersit di pikiranku yang tidak bisa dikuasai setan gemuk itu. Aku menjatuhkan diriku. Tiba-tiba, Ibu ikut menjatuhkan diri. Disusul Bapak. Seluruh rombongan bisu berdebum jatuh, memohon pada pemuda itu, seraya diseret menjauh.

Suara menggelegar pria membelah sunyi malam, diikuti gelegar mesin pabrik, membawa getaran.

Sekelebat bayangan bermunculan melompati tembok pagar pabrik. Lima sosok serba hitam, menggenggam sesuatu yang ramping dan panjang, menghadang pemuda itu. Inilah nasib kami semua dan pemuda itu, menjadi budak bisu pabrik.

“Dor!”

Pemuda harapan itu mati, membawa harapan kami ke liang kubur. Namun, yang kulihat satu sosok hitam itu yang roboh. Pemuda itu terkekeh. Kakinya goyah memprihatinkan, walaupun tangannya memegang kokoh senjata api.

“Dor! Dor! Dor! Dor!”

Sosok-sosok hitam menghindar dengan gesit. Hanya dua yang roboh. Dua sosok hitam mengepung pria itu, seperti singa mengepung pemburu yang kehabisan peluru. Dia berlari, berteriak menyelamatkan dirinya. Aku berdoa demi keselamatan pemuda itu.

BACA JUGA : Hantu Digital Korporasi Congkak

Sosok-sosok hitam mengejar, menghantam dan merobohkannya, lalu membalik kepada kami, orang-orang kampung yang bergelimpangan di jalan. Pijakan yang berat tiba-tiba menimpa punggungku. Pria gemuk itu meloncat ringan mendekati dua sosok serba hitam, mengkhianati bobotnya. Perintahnya untuk segera kembali ke pabrik, dijawab dengan tebasan samurai dari seorang sosok serba hitam.

Aku bersorak di dalam hati melihat tubuh gemuk itu berdebum jatuh.

Kami akan segera bebas!

Namun, belum hilang tawa di dalam hatiku, sosok hitam yang satu menebas rekannya. Kami kehilangan tuan kami, bukan bebas. Pemimpin baru berbalik memandang kami sembari menghirup hawa kekuasaan.

Kami tidak bisa memberitahu, ketika sosok hitam yang dulu rekannya yang sama-sama menghamba pada pria gemuk itu belum habis. Dia menebas pemimpin sementara itu dengan goyah, sebelum mereka roboh bersama.

Tersisa embusan angin bersama kabut tipis menerbangkan bau besi darah.

 

 

Dini Ridwan

 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.