Skip to main content
ilustrasi: Darius Tri/Project Arek
Arek Bercerita
Guru Honorer
Setiap pagi ia bangun sebelum matahari, ketika ayam tetangga bahkan belum sempat berkokok. Ia membasuh wajahnya dengan air sumur yang dingin, lalu duduk lama di kursi kayu sambil menatap jam dinding yang jarumnya sering macet. Jam itu selalu menunjukkan pukul lima lebih dua belas, entah pagi atau sore. Ia menunggu jarum bergerak, tapi jarum tetap membeku. Maka ia memutuskan waktu dengan caranya sendiri: ketika langit mulai biru, saatnya ia berangkat.

IA MENGENAKAN kemeja putih yang telah berubah menjadi warna gading kusam, dengan kerah yang tak lagi bisa kaku walaupun sudah disetrika berkali-kali. Saku di dadanya robek, benangnya menggantung seperti antena kecil. Celana hitamnya mulai pudar, dan sepatu kulit yang ia beli lima belas tahun lalu kini retak di bagian ujung. Namun ia tetap mengikat tali sepatunya dengan rapi, seolah detail kecil itu mampu menegaskan bahwa ia masih seorang guru, meski dunia tampaknya sudah lupa.

Ia berjalan melewati sawah yang kian sempit. Sawah itu tergerus perumahan baru dan gudang yang tumbuh seperti jamur. Di kanan-kiri, papan reklame berdiri dengan wajah-wajah politisi tersenyum lebar. Spanduk itu menutupi pandangan sawah, seakan-akan tanah hijau hanyalah latar belakang bagi janji-janji yang tak pernah ditepati. Ia melewati deretan rumah kontrakan sempit, di mana ibu-ibu menyapu halaman dan anak-anak kecil berlarian tanpa sepatu. Beberapa menyapanya dengan setengah malu.

“Pagi, Pak Guru!”

Ia menjawab dengan anggukan, takut kalau suaranya pecah dan terdengar rapuh.

Ia lalu berhenti di satu halte tua, tempat yang telah menjadi saksi dari begitu banyak pagi yang sama: deru mesin yang datang dan pergi dan wajah-wajah tergesa yang tak pernah saling menatap. Di sanalah, seperti biasanya, ia berdiri menunggu angkot, ritual sunyi yang telah ia jalani bertahun-tahun. Setiap kali angkot itu berhenti di depannya, ia melangkah masuk, duduk di kursi dekat jendela yang berdebu, lalu menatap bayangan dirinya yang terpantul samar di kaca.

BACA JUGA : Rombongan Bisu

Sesampainya di sekolah, ia melewati gerbang yang catnya mengelupas, papan nama berkarat, dan bendera kusut yang tak pernah benar-benar berkibar. Ruang kelasnya berada di ujung, dekat gudang tua yang baunya seperti kayu lapuk bercampur kapur basah. Ia masuk ke kelas, menyalakan lampu neon yang berkelip-kelip, lalu menuliskan tanggal di papan tulis dengan kapur kecil yang hampir habis. Setiap garis kapur terdengar nyaring, lebih keras dari bisikan murid-murid yang mulai duduk di bangku.

Beberapa murid menatapnya lelah, sebagian tertidur dengan kepala di atas meja. Ia tahu, bagi mereka, sekolah hanyalah persinggahan singkat sebelum kembali ke sawah atau bengkel motor. Ia tetap menjelaskan, suaranya lirih, kalimat demi kalimat. Ia tahu hampir tak ada yang mencatat, tapi ia percaya barangkali satu anak, hanya satu, akan menyalin sebaris kata dari papan tulisnya. Dan baris itu kelak mungkin akan tumbuh menjadi sesuatu: sebuah keberanian, sebuah jalan keluar, atau sekadar pengingat bahwa ia pernah ada.

Namun di dalam dirinya, perasaan aneh selalu muncul: seolah ia hanya bayangan yang mengisi ruang kosong. Suaranya bergema, tapi tak ada yang mendengarkan. Tangannya menulis di papan tulis, tapi kapur yang hancur di ujung jari terasa seperti tubuhnya sendiri yang perlahan mengikis, yang tinggal hanya debu yang mudah ditiup angin.

***

Hari gajian selalu datang dengan cara yang aneh: tidak pernah ada tanggal pasti, hanya kabar samar yang beredar dari mulut ke mulut.

Seorang guru Bahasa Indonesia berkata, “Katanya besok cair, Pak!”

Besok datang, tidak ada.

Lalu kabar lain menyusul, “Mungkin minggu depan.”

Minggu pun berlalu, dan ia tetap mengajar tanpa kepastian. Sampai suatu siang seorang staf tata usaha yang wajahnya selalu letih memanggilnya.

“Pak, amplop sudah ada.”

Amplop itu tak besar. Kertas cokelat tipis, dilipat seadanya, di dalamnya beberapa lembar uang yang jumlahnya bahkan kurang dari ongkos ia berjalan naik turun angkot selama sebulan. Setiap kali membuka amplop itu, ia merasa ada sesuatu di dadanya: bukan marah, bukan kecewa, melainkan sejenis kehampaan yang semakin lama semakin menumpuk. Seolah-olah dunia sedang mengatakan padanya, “Beginilah nilaimu!”

Pernah sekali, ia memberanikan diri untuk bertanya pada staf tata usaha itu.

“Kenapa jumlahnya makin kecil, Bu? Bulan lalu seratus lima puluh, sekarang seratus tiga puluh.”

Staf itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah lama kehilangan minat untuk menjawab.

“Itu potongan, Pak. Katanya ada perubahan sistem. Nanti akan diperbaiki.”

Kata “sistem” terasa seperti mantra gaib. Semua hal bisa dijelaskan dengan itu: uang yang hilang, nama yang tak tercatat, dokumen yang lenyap, bahkan gaji yang tak kunjung datang. Ia mencoba membayangkan rupa sistem itu: mungkin sebuah mesin besar di kantor pusat dengan roda gigi berkarat, atau komputer raksasa yang menelan data tanpa pernah mengeluarkan hasil. Tetapi semakin ia mencoba, semakin abstrak wujudnya, hingga akhirnya ia menyerah memikirkannya. Sistem hanyalah kata kosong yang dipakai untuk menenangkan, sama kosongnya dengan amplop di tangannya.

Pernah juga ia mendengar kabar dari temannya sesama honorer di sekolah lain.

“Aku terima cuma seratus ribu bulan ini. Mereka bilang ada salah input data. Kalau bulan depan masih salah, berarti itu nasibku.”

Mendengar itu, ia tak tahu harus tertawa atau menangis. Ternyata angka yang menipis bukanlah kesalahan pribadi, melainkan wabah yang menyebar ke semua guru honorer di tempat lain. Wabah yang tak pernah masuk berita, tak pernah dicatat sebagai bencana, padahal dampaknya lebih menyakitkan daripada banjir atau longsor.

BACA JUGA : Mantra Seniman

Setiap kali pulang membawa amplop tipis, ia sembunyikan amplop itu di bawah tumpukan buku. Ia tak sanggup menunjukkannya pada istrinya, yang sudah terlalu sering menghitung beras dengan jari gemetar. Ia juga tak ingin anaknya tahu, meskipun anaknya itu sudah bisa menghitung dengan cepat.

Suatu malam, anaknya pernah bertanya polos, “Ayah, kalau jadi guru itu gajinya berapa?”

Ia hanya tersenyum, menjawab dengan bercanda. “Gajinya adalah doa murid-murid, Nak.”

Anak itu tertawa, tetapi istrinya menunduk, seakan tahu jawaban itu bukan lelucon.

Kadang, ketika semua sudah tertidur lelap, ia membuka kembali amplop itu, menghitung isinya pelan-pelan, berharap jumlahnya bertambah secara ajaib. Namun setiap kali ia hitung, hasilnya selalu sama. Angka itu tak pernah berubah, hanya semakin kecil, seperti tubuhnya sendiri yang makin kurus oleh waktu.

***

Suatu pagi, setelah jam pelajaran usai, Kepala Sekolah memanggil semua guru untuk hadir dalam rapat penting. Kata “penting” selalu membuatnya cemas, karena yang dianggap penting biasanya hanyalah aturan baru yang sulit dimengerti atau daftar tugas tambahan tanpa bayaran. Ia tetap datang, mengenakan kemeja paling bersih yang ia punya—meski kerahnya tetap kusam—dan duduk di kursi belakang, di dekat kipas angin tua yang berdengung lebih keras daripada suara orang berbicara.

Ruang rapat penuh dengan deretan meja yang disusun rapi, botol air mineral di setiap kursi, dan kertas notulensi yang seolah-olah siap mencatat sejarah besar. Kepala Sekolah membuka acara dengan suara lantang. Ia membacakan daftar nama guru beserta jabatan dan tunjangannya. Ia pun mendengarkan dengan seksama. Menunggu kapan namanya akan disebut.

Satu per satu nama dipanggil.

“Pak Ahmad, guru tetap. Bu Rini, guru PNS. Pak Joko, pegawai TU kontrak khusus dengan tunjangan tambahan.”

Setiap nama disambut anggukan kecil. Ia menunggu, menunggu, dan menunggu. Namun sampai daftar itu selesai, namanya tak pernah terdengar.

Ia menoleh ke sekeliling. Tak ada yang menyadari, atau pura-pura tak menyadari. Bahkan kursi di depannya kosong, tapi anehnya Kepala Sekolah tetap mencatat sesuatu di daftar, seakan kursi kosong itu lebih penting daripada dirinya yang hadir.

Ia sempat berpikir untuk meminjam kursi kosong itu, duduk di sana. Barangkali, dengan begitu namanya ikut tercatat. Tetapi ia takut nanti kursinya dianggap hadir, sementara dirinya tetap absen.

Ia ingin mengangkat tangan, bertanya, “Bagaimana dengan saya, Pak?”

Tapi kata-kata itu tercekat di tenggorokannya. Ia merasa, jika ia berbicara, mungkin orang-orang akan menoleh dengan wajah bingung, seperti melihat orang asing yang tiba-tiba masuk ke rapat rahasia.

Mungkin mereka akan berkata: “Bapak siapa? Sejak kapan Bapak mengajar di sini?”

Pikiran itu membuatnya menunduk, menggores garis-garis tak berarti di kertasnya sendiri.

Ketika rapat berlanjut, Kepala Sekolah menjelaskan peraturan baru tentang insentif kinerja. Lagi-lagi, daftar nama dibacakan. Lagi-lagi, namanya tak ada. Ia merasa seperti bayangan di pojok ruangan: keberadaannya jelas, tapi tak pernah disebut. Seakan rapat itu sedang berlangsung di dunia lain, dan ia hanya kebetulan duduk di sana, menonton dari balik kaca.

Suara orang-orang bercampur dengan dengung kipas angin. Ia tak lagi bisa membedakan kalimat mana yang resmi dan kalimat mana yang hanya gumaman. Yang ia dengar hanyalah bunyi kata-kata kosong.

“Efisiensi, kinerja, validasi data, peraturan terbaru, sistem online.” Kata-kata itu berputar-putar bagai mantra, tanpa pernah menyentuh kenyataan.

Ketika rapat ditutup, semua orang bertepuk tangan. Ia ikut menepuk, meski tak tahu untuk apa. Tangannya bergerak otomatis. Setelah itu, guru-guru lain bergegas keluar, berbincang tentang tunjangan baru yang akan cair. Ia tetap duduk sebentar, menatap meja kosong di depannya, mencoba mengingat apakah ia benar-benar hadir di ruangan itu atau hanya membayangkannya.

***

Kabar itu datang pada suatu pagi yang basah oleh gerimis: seorang guru tetap di sekolahnya meninggal mendadak. Suasana sekolah berubah sejenak, murid-murid berbisik, guru-guru membicarakan kabar duka sambil menundukkan kepala. Ia ikut diam, tetapi dalam hatinya, untuk pertama kalinya sejak lama, ada cahaya kecil yang muncul. Ia tak ingin terdengar seperti orang yang kejam, tetapi ia tahu kursi kosong itu bisa menjadi kesempatan.

BACA JUGA : Panggilan Dewi Laut

Dua puluh tahun ia sudah mengajar, dua puluh tahun ia menulis dengan kapur di papan hitam, dua puluh tahun pula ia hidup dengan amplop tipis yang tak pernah cukup. Bukankah sudah sepantasnya kursi itu diberikan padanya? Bukankah sudah waktunya ia diangkat menjadi guru tetap? Mendapat pengakuan yang selama ini hilang? Ia bahkan sempat membayangkan, saat rapat berikutnya, namanya akan disebut untuk pertama kalinya. Ia membayangkan tepuk tangan kecil, ucapan selamat dari para guru dan pegawai tata usaha, dan wajah murid-murid yang tersenyum bangga.

Namun kabar berikutnya datang lebih cepat daripada harapannya: kursi kosong itu sudah diisi oleh seseorang. Bukan oleh dirinya, melainkan oleh kerabat dekat seorang pejabat daerah. Orang itu bahkan belum pernah terlihat mengajar, tetapi sudah resmi ditetapkan sebagai guru tetap.

Pengumuman itu dibacakan dengan suara datar, tanpa ruang untuk pertanyaan.

Ia menunduk. Tak satu pun yang menoleh padanya, seolah-olah semua orang tahu ia takkan protes. Ia mencoba tersenyum, tetapi senyum itu hanya membuat rahangnya kaku.

Ketika ia mengajar, murid-murid memperhatikannya di kelas dengan tatapan samar. Beberapa terlihat seperti ingin bertanya. Salah satu murid akhirnya angkat bicara.

“Kenapa Bapak diam saja?”

Tapi ia tak bisa menjawab. Ia hanya membuka bukunya, menuliskan rencana pembelajaran dengan pensil tumpul yang sudah setengah pendek.

Hari-hari berikutnya, ia melihat orang baru itu duduk di kursi guru tetap dengan penuh percaya diri. Orang itu mendapat ruang kerja, meja pribadi, bahkan sebuah loker baru. Sementara dirinya masih menaruh tas lusuh di pojok kelas, berdampingan dengan sapu ijuk dan ember bocor.

Ia mulai merasakan sesuatu yang aneh: kursi kosong yang tadinya ia impikan seakan kini mengejeknya. Ia tak bisa lagi melihat kursi di ruang guru tanpa merasa dadanya sesak. Bahkan ketika ia masuk ke kelas, bangku kosong di pojok seolah ikut menertawakannya. Kursi-kursi itu, baik yang diduduki maupun yang dibiarkan kosong, lebih penting daripada dirinya.

Pernah satu malam, ia bermimpi. Dalam mimpinya, kursi-kursi di ruang guru mulai berbicara. Kursi baru itu berteriak paling keras.

“Kau tak layak!”

Di sudut mimpi itu, jam macet di rumahnya juga ikut hadir. Jarumnya berdetak maju hanya ketika kursi baru itu bersorak, lalu kembali membeku saat ia mencoba bicara.

Kursi lama yang lapuk hanya bergumam pelan, sementara kursi kosong lainnya berbisik. “Engkau hanyalah bayangan, tak pernah tercatat, tak pernah diakui!”

Ia terbangun dengan keringat dingin, lalu duduk lama di kursi kayu rumahnya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut pada kursi.

***

Tubuhnya mulai memberi tanda-tanda kelelahan. Awalnya hanya batuk kecil yang ia anggap remeh. Lalu menjadi demam ringan yang ia pikir bisa hilang dengan segelas teh hangat. Namun hari-hari berikutnya, tubuhnya semakin berat, seperti sedang menanggung sesuatu yang tak bisa dilihat.

Suatu pagi, ia datang ke sekolah dengan wajah pucat. Murid-murid melihatnya dan berbisik. Beberapa bertanya apakah ia baik-baik saja. Ia hanya tersenyum, berusaha menenangkan mereka.

“Bapak hanya masuk angin.”

Padahal ia tahu bahwa itu bukan sekadar masuk angin. Tangannya gemetar ketika memegang spidol, suaranya serak seperti seruling bambu retak.

Ia mencoba izin, berharap ada ruang untuknya beristirahat. Ia menulis surat singkat, dengan kalimat rapi, ditandatangani dengan tinta yang hampir habis. Namun surat itu hanya diterima pegawai tata usaha tanpa banyak kata, lalu ditaruh di tumpukan berkas lain. Keesokan harinya, ia tetap dipanggil mengajar. Tak ada catatan sakit yang dicatat, tak ada hari libur yang diberikan. Katanya, pegawai tata usaha tidak pernah menerima surat darinya.

Di ruang guru, ia pernah mendengar obrolan.

“Siapa yang absen hari ini?”

“Hanya si anu, guru tetap. Yang lain hadir semua.”

Namanya tak pernah disebut. Bahkan ketika ia tak ada, ketidakhadirannya tak pernah tercatat. Ia mulai sadar: sakitnya tak resmi. Ia boleh batuk sampai berdarah, boleh tergeletak di rumah, tetapi bagi sekolah, ia tetap dianggap hadir.

Malam-malamnya dipenuhi rasa gentar. Ia sering memeriksa napasnya sendiri, takut suatu hari tak lagi terbangun. Ia teringat kisah seorang guru honorer di daerah lain yang meninggal dalam perjalanan menuju sekolah. Tubuhnya ditemukan dengan tas berisi buku-buku pelajaran yang masih rapi. Berita itu sempat muncul di televisi, sebentar saja, lalu menghilang. Ia membayangkan: jika dirinya mati, apakah bahkan berita sekilas itu pun tak akan ada?

BACA JUGA : Jali Dipenjara

Keluarganya mulai resah. Istrinya membujuknya berhenti mengajar, mencari pekerjaan lain.

“Tapi siapa yang akan mengajar anak-anak itu kalau aku berhenti?” jawabnya.

Kalimat itu terdengar mulia, tapi sekaligus getir. Ia sendiri tahu, anak-anak itu tak akan pernah tahu seberapa rapuh tubuh gurunya itu.

Pada suatu siang, ia pingsan di kelas. Murid-murid panik, berlari ke ruang guru. Guru lain datang, mengangkat tubuhnya, membaringkannya di kursi panjang. Setelah sadar, ia mendengar seseorang berkata, “Untung dia cepat siuman, kalau tidak, bisa repot urusannya.”

Kata-kata itu menusuknya. Ia sadar lagi: bahkan jika ia mati sekalipun, yang dikhawatirkan hanyalah kerepotan administratif.

***

Hari itu hujan deras, genting-genting sekolah bocor, lantai koridor dipenuhi genangan. Anak-anak berlarian, sebagian menjerit kegirangan, sebagian lain ketakutan karena petir meledak di langit. Di tengah hiruk-pikuk itu, bangku guru honorer itu kosong. Tak ada spidol di mejanya, tak ada suara serak yang biasanya memanggil satu per satu nama murid.

Murid-murid saling menatap. Awalnya mereka mengira ia akan datang terlambat. Tapi jam bergulir, dan kursi itu tetap kosong. Mereka mencoba melanjutkan pelajaran sendiri: ada yang membaca buku, ada yang menggambar di papan tulis, ada yang hanya duduk termenung menunggu. Namun satu hal yang sama: mereka merasa ada yang aneh.

Beberapa hari kemudian, berita kecil menyebar: guru honorer itu sakit keras, tubuhnya akhirnya menyerah. Tak ada pengumuman resmi dari sekolah. Tak ada surat edaran berisi kabar duka. Bahkan namanya tak disebut dalam rapat guru. Namun murid-murid mengetahuinya lewat bisikan, lewat cerita antarorangtua, lewat kabar samar yang datang dari pasar.

Seorang murid menuliskan namanya di sampul buku catatan, diapit dengan tanda kurung: (Untuk Bapak Guru yang Tak Pernah Absen). Murid lain menggambar wajahnya dengan kapur biru di papan tulis, sebelum dibersihkan oleh guru lain yang menganggap itu “coretan tak perlu.” Anak-anak itu membawa pulang kenangan mereka dalam bentuk kecil: intonasi suara ketika ia mengeja kata sulit, cara tangannya bergetar saat menulis, dan bau kapur di bajunya yang lusuh.

***

Waktu terus berjalan. Bertahun-tahun kemudian, satu per satu murid itu lulus, melanjutkan hidup: sekolah, bekerja, dan berkeluarga. Nama guru honorer itu tak pernah tercetak dalam dokumen resmi, tak pernah dimasukkan dalam daftar pahlawan pendidikan, tak pernah disebut di pidato para pejabat daerah. Tetapi anehnya, nama itu tetap hidup di kepala mantan muridnya.

Pada suatu reuni kecil bertahun-tahun kemudian, seorang mantan murid bercerita, “Kalian masih ingat guru kita itu? Ia sering bilang, ‘kalian harus lebih besar daripada bapak, karena bapak ini kecil sekali di mata negara’.”

Mereka semua tertawa getir, lalu hening.

“Kalau bukan dia, aku mungkin tak bisa membaca dengan benar,” timpal yang lain.

 

 

Roy Martin Simamora

Pengajar di PSP, ISI Yogyakarta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa seperti Kompas, Jawa Pos, The Jakarta Post, Kalamsastra, Indoprogress, Analisa, Waspada, Basabasi, Geotimes, Whiteboard Journal dan lainnya. Buku puisinya yang sudah terbit Tarombo (JBS, 2025), Hasian, Sebentar Lagi Aku Pulang (Semut Api, 2025). Cerpen berjudul Bisikan yang Mengganggu Malam-Malamku dimuat dalam antologi Open Column 2 Whiteboard Journal.

 


Kami menerima tulisan cerpenmu di rubrik AREK BERCERITA. Rubrik ini projectarek.id dedikasikan untuk siapa pun yang memiliki minat di dunia sastra khususnya cerpen. Kami ingin menjadikan rubrik ini sebagai rumah digital untuk bertumbuh bersama menghidupi dunia cerpen. Kirimkan karyamu dengan membaca PANDUAN kami.