Skip to main content
Foto: Taufan Bahari/Project Arek
Arek Kampus
Semesta Ngepang, Pelestari Seni Cukil
Telah ada sejak masa perjuangan kemerdekaan, seni cukil tetap berupaya dilestarikan oleh Semesta Ngepang untuk menyampaikan keresahan pribadi hingga isu-isu sosial dan politik. Cukil bukan sekedar seni, melainkan pengejawantahan dari kata perlawanan.

AFRANANDA Sirojul (28) bersama puluhan anak yatim piatu duduk melingkar di sebuah mushola di Jalan Kemayoran Baru, Surabaya. Pagi itu, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah tersebut tampak tekun memahat karet lino. Mereka tengah belajar membuat sablon cukil secara bersama-sama. Bagi para peserta, ini pengalaman pertama mereka.

Sirojul, dengan sabar menjelaskan teknik menggambar terbalik pada media cukil. Untuk memudahkan anak-anak, ia meminta peserta menggambar objek sederhana seperti daun atau bunga. Ia juga mencontohkan cara mencukil yang aman, dengan tidak meletakkan tangan di depan mata pisau cukil yang tajam.

 

Mengupas media cukil di media harboard membutuhkan kesabaran. Bagian-bagian yang nantinya tidak terkena tinta, harus dikupas dengan alat cukil. Setiap guratan, memiliki kekhasan sendiri. (Taufan Bahari/Project Arek)

Seluruh peserta segera mencari ide untuk menggambar daun maupun bunga. Sebagai awalan, ia tak menyarankan peserta membuat huruf pada media cukil karena dinilai lebih sulit. “Untuk membuat cukil, kita siapkan desain atau gambar di atas media cukil, ada harbot, karet lino, atau sayur seperti wortel dan kentang,” ujar Sirojul.

Jari peserta tak langsung bergerak. Ragu dan takut, begitu kata mereka. Sirojul meneruskan, bagian yang tidak ingin terkena tinta, akan dicukil atau dikupas menggunakan alat cukil. Pada akhirnya, hanya gambar yang diinginkan saja yang menonjol di permukaan. Gambar inilah yang nantinya dilapisi tinta dengan menggunakan alat khusus, roller.

Proses pemindahan tinta dari media cukil ke kertas atau kain harus dilakukan hati-hati. Ini untuk memastikan transfer tinta merata di semua bidang yang diinginkan. (Lahunur Wahyu/Project Arek)

Satu hal yang selalu diulang-ulang Sirojul agar selalu diingat peserta adalah, seluruh gambar yang dicukil harus dibuat terbalik. Dibuat terbalik untuk proses cetak atau transfer tinta ke kertas atau kain.

“Dengan catatan, desain atau gambar harus dibuat secara terbalik, agar saat dicetak, dapat menjadi desain atau gambar awal yang diinginkan,” imbuhnya, pertengahan Januari lalu.

Setelah proses cukil selesai, lanjutnya, permukaan media cukil diberi tinta menggunakan roller. Tinta hitam di siapkan di papan kayu. Roller kemudian digelindingkan ke tinta hingga rata. Setelah itu, roller dengan tinta hitam tersebut diaplikasikan ke media cukil. semua dilakukan pelan hingga seluruh permukaan yang timbul terlapisi tinta.

Bagian yang dikupas masih berwarna asli harboard. Sedangkan lapisan media cukil yang menonjol berwarna hitam setelah dilapisi tinta menggunakan roller. Ini dilakukan beberapa kali agar tinta rata di permukaan yang dinginkan. (Taufan Bahari/Project Arek)

“Lakukan perlahan dengan sedikit ditekan agar tinta berpindah rata di atas permukaan yang timbul. Terakhir, hasil media cukil tersebut dicetak pada permukaan kertas atau kain,” jelasnya. Usai media transfer tinta ditempel ke kertas atau kain, Rirojul langsung menginjak-injak media cukil. Tekanan kaki harus merata agar transfer tinta bisa rata sesuai gambar yang diinginkan.

Proses transfer tinta dari media cukil ke kain atau kertas, dilakukan dengan cara diinjak-injak. Tekanan kaki membuat tinta melekat ke media kain atau kertas. Injakan dilakukan sampai tinta berpindah secara merata. (Taufan Bahari/Project Arek)

Selama menggeluti seni cukil, Sirojul sering diajak kerja sama dengan berbagai komunitas atau lembaga. Dan, selama itulah Sirojul tak pernah mematok harga untuk pelatihan seni cukil yang ia buat. Baginya, cukil adalah seni yang tidak bersifat komersial. Seni cukil dilakukan sebagai bentuk kerja-kerja kolektif.

“Dari awal aku sudah bilang, untuk menghidupkan kesenian cukil, saya tidak punya keinginan untuk menetapkan biaya dalam workshop cukil,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, seniman cukil di Surabaya sering berkumpul. Kumpulan ini, mereka namai Semesta Ngepang. Sirojul mengaku ini bukanlah komunitas, karena sebatas wadah berkumpul saja. Cukil, menjadi salah satu aktivitasnya. Kata Sirojul, tidak ada keanggotaan di Semesta Ngepang. “Kami datang dari kesenangan saja,” imbuhnya.

Sirojul menilai, seni cukil ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan cetakkan lainnya. Menurutnya, cukil ini mempunyai nilai jual yang tinggi, sebab jarang ada orang yang menggeluti kesenian tersebut. Namun, ada hal yang membuat cukil sangat berbeda dengan yang lain. Ada sifat khusus yang menjadi semangat kesenian ini.

Master cukil diangkat setelah proses penginjakan. Semakin injakan dilakukan secara merata di semua sisi bidang master, transfer tinta ke kain pun juga merata sesuai gambar yang diinginkan. (Taufan Bahari/Project Arek)

Masih kata Sirojul, ada unsur ‘rebel’ atau pemberontakan dan perlawanan dalam senin ini. Tak heran, tehnik cukil, menghasilkan karya yang lekat dengan isu-isu sosial dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Sejatinya, cukil berangkat dari keresahan. Inilah yang membuat seni cukil diminati kalangan aktivis, seniman dan komunitas punk.

Sejalan dengan itu, Juli (23), salah satu pegiat di Semesta Ngepang pun memiliki pemahaman sama. Ia menjelaskan, seni cukil merupakan media cetak pertama, yang telah lama digunakan, yakni sejak 1940-an di Indonesia. Mesin cetak yang terlampau mahal dan sulit dijangkau, dijawab dengan seni cukil yang lebih merakyat.

“Cetakan media cukil ini berangkat dari isu-isu sosial dan keresahan pribadi. Kalau melihat dari sejarahnya, ini sudah digunakan sebagai alat propaganda sejak masa kemerdekaan (Indonesia),” ujarnya.

Seni Melawan Kolonial

Ipung salah satu pegiat seni cukil dari Jombang mengatakan hal sama. Mengutip diskusi yang diadakan Dies Natalis Ilmu Sejarah Ke-24, Departemen Minat Bakat Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), Ipung menjelaskan eksistensi seni cukil lahir dari kegelisahan para seniman saat melihat kondisi sosial pada masa kolonial.

Lelaki itu juga berpendapat, seni cukil digunakan sebagai propaganda dalam bentuk poster perjuangan. Masa itu, menjadi awal sejarah seni grafis di Indonesia yang dibuktikan dengan pameran seni cukil pada 17 Agustus 1964.

“Pameran tersebut bukan semata-mata ditujukan untuk artistik saja, tetapi juga untuk memenuhi fungsi sebagai alat perjuangan melawan imperialisme dan sisa-sisa feodalisme di masa itu,” ujarnya.

Mengutip artikel berjudul Suromo DS, Maestro Seni Cukil Indonesia yang dipublikasi oleh Historia, menjelaskan mengenai buku karya Kaboel Suadi berjudul Perjalanan Seni Rupa Indonesia, karya cukil juga menjadi medium yang menggambarkan suasana perjuangan di masa kemerdekaan.

Kaos dengan sablon teknik cukil karya Dimas. Untuk bisa jadi selembar kaos siap pakai, dibutuhkan beragam proses yang tidak mudah. Seni cukil tidak lahir dari ruang hampa. Ada unsur 'rebel' dalam setiap guratannya. Visualisasi karya cukil tak bisa lepas dari isu sosial, politik dan perlawanan. (Taufan Bahari/Project Arek)

Sebagaimana yang digambarkan dalam Suromo DS seorang maestro seni cukil Indonesia, pada karya cukilnya yang bertema perjuangan dan revolusi melalui karya Panghadangan Geriliya dan Pertempuran Geriliya, sarat akan tema-tema serupa.

“Objek yang menarik tentu saja kehidupan hangat sehari-hari yang diliputi suasana perjuangan. Di antara karyanya yang berjudul Penghadangan Gerilya dan Pertempuran Gerilya,” tulis Kaboel.

Sebuah Perjumpaan di Jalanan

Jika Sirojul mahir seni cukil, itu tak lepas dari peran pemuda asal Surabaya bernama Dimas. Keduanya bertemu di sebuah lapak emblem bordir di Taman Bungkul pada 2015. Dari pertemuan itulah, Dimas mulai mengajarkan Sirojul seni cukil, dan komunikasi keduanya mulai intens.

“Kami mulai kenal dari lapak di Taman Bungkul. Saat itu, saya jual emblem bordir, lalu melihat banyak yang datang dan cuma menunggu saya jualan, saya berinisiatif membuat workshop cukil di sana,” ujar Dimas.

Dimas menunjukkan master cukil hasil kupasannya usai dilapisi tinta sebelum ditransfer ke media kaos. (Taufan Bahari/Project Arek)

Dimas mengingat masa lalu sembari membakar sebatang rokok. Ia lama hidup di jalanan sebagai anak punk. Cukil sejalan dengan cara dan pilihan hidupnya itu, pemberontakan. Dengan cukil dia mengaku bebas mengekspresikan ide-idenya. Sudah ratusan master yang diabuat. Master adalah sebutan dari media cukil selesai dibuat kupas.

Semua karyanya beraroma perlawanan. Isu yang diangkatnya adalah Pendidikan, ketimpangan sosial, solidaritas dan perjuangan pekerja atau buruh. “Setiap karya cukil punya identitas sendiri, tidak pernah sama dan tidak pernah bisa diulang. Setiap kupasan, menujukkan ciri sendiri. Mirip sidik jari,” ungkapnya.

Selain menjadi seniman cukil, Dimas pun memiliki minat bermusik. Ia menyalurkan hobi musiknya di Mata Rante dan Radikal Meong. Selama aktif manggung, dirinya berinisiatif membawa alat dan bahan seni cukil, lalu mengadakan pelatihan untuk mereka yang tertarik belajar. Ia dengan senang hati berbagi ilmu cukil kepada siapa saja.

“Workshop seni cukil pertama kali diadakan di suatu warung kopi di daerah Medokan, Surabaya. Saat itu, saya melihat ternyata banyak orang yang masih memiliki minat di seni cukil,” kisahnya. Sejak itu, Dimas mulai sering membuat pelatihan seni cukil di berbagai acara, seperti musik, kesenian, hingga kampus.