TIDAK BANYAK sosok seperti Andi Kristiantono atau yang akrab disapa dengan Andie Peci dalam memaknai perjuangan. Bisa jadi, ada yang memandang perjuangan sebagai sebuah peristiwa dan ada pula yang memaknainya sebagai pilihan jalan hidup. Andie Peci mungkin memilih yang kedua, yaitu perjuangan sebagai pilihan jalan hidup.
Saya mengenal Andie Peci pertama kali, ketika saya masih menjadi mahasiswa di Universitas Airlangga (Unair) tahun 2004-an. Andie Peci yang saya kenal saat itu adalah sosok yang lantang menyuarakan aspirasi buruh. waktu itu, saya tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Unair dan beberapakali melakukan demonstrasi di jalanan bersamanya terkait isu buruh dan kenaikan harga BBM.
Sekitar tahun 2010 sampai dengan 2011, kami kembali dipertemukan. Namun, kali ini bukan lagi membahas tentang buruh atau dinamika kebijakan politik negara. Obrolan kami bergeser ke sesuatu yang sama-sama kami cintai yaitu klub sepak bola bernama Persebaya.
Saya masih mengingat dua pertemuan di pojok gang jalan Karang Menjangan dan warung kopi Emak depan Unair. Kami membicarakan perjalanan SIVB sejak 1927, transformasinya menjadi Persebaya, hingga bagaimana sejarahnya sampai meraih juara di tahun 1997 saat dilatih oleh Rusdy Bahalwan.
Bagi Andie Peci, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, khususnya sejarah Persebaya. Ia adalah identitas yang harus dijaga agar tidak tercerabut dari akar.
Apalagi di saat fase dualisme dan Persebaya dikeluarkan paksa dari PSSI dan tidak bisa berkompetisi. Dalam perjuangan mengembalikan Persebaya, Andie Peci adalah salah satu orang yang berdiri di barisan depan bersama Bonek.
Merawat Sejarah Perjuangan
Setelah Persebaya kembali diakui PSSI dan kembali berkompetisi, kami kembali bertemu di Warkop Pitulikur. Malam itu pembicaraan mengalir tentang Persebaya, Bonek, Malang, dan Jakarta. Dari sekian banyak obrolan, ada satu kalimat yang hingga hari ini terus terngiang di kepala saya.
Kurang lebih seperti ini, "Mene-mene tulisen iku perjuangane arek-arek Bonek memperjuangno ambek mbalekno Persebaya ben gak lali. Wong iku kadang lalian."
Kalimat itu ternyata bukan sekadar pesan. Itu adalah amanat sejarah. Andie Peci ingin agar perjuangan ribuan Bonek yang bertahun-tahun menjaga nama Persebaya di tengah penghapusan identitas, dualisme kompetisi, hingga berbagai stigma, tidak hilang ditelan waktu. Sebab, sejarah yang tidak ditulis akan mudah digantikan oleh ingatan yang keliru.
Baginya Persebaya bukan hanya sekadar sebuah klub sepak bola. Persebaya adalah sejarah, identitas, dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan. Oleh karena itu, Persebaya diperjuangkan untuk kembali, sejatinya yang diperjuangkan sesungguhnya adalah hak atas sejarah, martabat bonek dan Persebaya itu sendiri.
Seperti kaos putih yang sering ia kenakan dengan kutipan Tan Malaka: "Sepak bola adalah alat perjuangan." Mungkin banyak orang menganggapnya hanya slogan. Namun dalam diri Andie Peci, kalimat itu benar-benar hidup. Menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi ruang membangun kesadaran, solidaritas, dan keberanian. Bonek bersama Persebaya menjadi medium untuk menyuarakan nilai-nilai itu, baik di dalam maupun di luar tribun.
Kini, Andie Peci telah berpulang. Namun pesan itu tetap tinggal dan menjadi pengingat bagi kita semua. Perjuangan bonek mengembalikan Persebaya bukan hanya angan-angan belaka, ia nyata ada dan berhasil diperjuangkan oleh Bonek dan Bonita.
Selamat jalan, Andi Peci. Dari jalanan membela kaum buruh hingga tribun dan ruang-ruang diskusi tentang Persebaya, ia mengajarkan kepada kita semua bahwa perjuangan tidak pernah berganti arah, hanya medan tempurnya yang berubah. Semoga jejak perjuanganmu tetap hidup dalam setiap nyanyian dan dukungan Bonek serta perjalanan Persebaya ke depan.
