Skip to main content
Foto: dok. Ecoton
Reportase
Mikroplastik Ada di Rahim Ibu
Kutukan sudah menjamah rahim para ibu. Meresap masuk ke darah hingga mengalir ke ketuban. Bayi-bayi tanpa dosa menanggung kutukan ini. Rahim tak lagi aman karena tercemar racun buah perilaku manusia. Inilah kutukan sampah plastik sekali pakai yang selalui diabaikan dan dianggap sebelah mata.

TIM PENELITI dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) dan Woonjin Institut menemukan mikroplastik dalam cairan amnion dan urin ibu hamil. Penelitian yang dilakukan sejak setahun silam itu mengungkap fakta, partikel mikroplastik dapat menembus sistem biologis manusia yang seharusnya steril.

Penelitiaan melibatkan puluhan amnion atau air ketuban pada ibu melahirkan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Dari sampel yang diteliti, 100 persen mengandung mikroplastk. “Kami melakukan uji terhadap 42 amnion atau air ketuban ibu melahirkan di Gresik dan semuanya mengandung mikroplastik,” ungkap Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Senin 23 Februari 2026.

Rafika Aprilianti (duduk) bersama Sofi Azilan Aini meneliti puluhan air ketuban dan mendapati kontaminasi mikroplastik. Penelitian mereka menjadi bukti mikroplastik semakin jauh masuk ke sistem metabolisme tubuh manusia. (dok. ECOTON)

Dari penelitian ini, ditemukan kontaminasi mikropastik pada perempuan di Gresik berjumlah 2-18 partikel/ml. Seluruh partikel yang terdeteksi dipastikan berukuran lebih besar dari 0,45 mikrometer. Jenis mikroplastik yang ditemukan adalah polimer dengan bentuk fiber dan fragmen. Temuan ini mengejutkan Rafika dan tim peneliti lainnya.

Rafika mengungkapkan, jenis mikroplastik yang ditemukan adalah polimer. Jenis ini berasal dari botol plastik air minum dalam kemasan, plastik bening wadah makanan panas, tas kresek, gelas plastik. Semua sumber mikroplastik itu merupakan wadah makanan yang saat ini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

“Ditemukannya mikroplastik dalam ketuban ini akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan bayi,” ungkap Rafika.

Rafika mengatakan, temuan ini menjadi era baru karena mikroplastik sudah menjamah bagian teraman bagi awal kehidupan umat manusia, yaitu rahim. Peneliti menyimpulkan, kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai untuk wadah makanan dan minuman meningkatkan resiko paparan mikroplastik dalam tubuh, khususnya perempuan dalam kasus ini.

Penampakan mikroplastik di dalam air ketuban manusia yang diteliti ECOTON sejak setahun lalu. (dok. ECOTON)

“Ada korelasi antara adanya mikroplastik dengan meningkatnya nilai malondialdehide (MDA) penanda peradangan (inflamasi), meningkatnya peradangan tersebut menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan calon bayi. Ini sudah sangat mengkhawatirkan dan alarm tanda bahaya harus segera dinyalakan,” ungkap Rafika.

Peringatan yang Selalu Diabaikan

Busan, Korea Selatan, akhir 2024, Aeshnina Azzahara Aqilani, Captain River Warrior Indonesia membawa 12 replika bayi yang ditempatkan dalam toples penuh dengan potongan plastik. Instalasi seni ini akan dipamerkan di stand Pameran Aliansi Zerowaste Indonesia Busan Exhibition and Convention Center (BEXCO) 2.

Aeshnina Azzahara Aqilani (Nina), Captain River Warrior Indonesia membawa 12 replika bayi yang ditempatkan dalam toples saat berkampanye di Busan, Korea Selatan pada 2024 lalu. (dok. ECOTON)

Toples dipakai sebagai simbol dari rahim ibu yang tak lagi steril, tak lagi aman bagi janin di dalamnya. Nina, begitu remaja ini disapa, berkampanye dan mengingatkan publik tentang tidak ada lagi tempat yang aman untuk bayi karena paparan lingkungan sebelum dan setelah lahir, seperti melalui ASI, susu formula, botol susu plastik, dan plastik sekali pakai.

“Rahim ibu sudah terkontaminasi mikroplastik, kini tempat paling aman bagi manusia sudah terkontaminasi. Di mana lagi tempat yang aman bagi manusia?” kata Aeshnina.

Menurut Nina, begitu remaja ini disapa, sudah seharusnya pemerintah tak lagi mengabaikan bahaya mikroplastik. Ia mendorong adanya perjanjian dan regulasi yang kuat untuk melindungi kesehatan masyarakat dari paparan mikroplastik. Hanya dengan regulasi kuat dan mengubah kebiasaan, rantai kutukan mikroplastik bisa diputus.

“Kami menginginkan perjanjian yang kuat untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dengan mengurangi produksi plastik, menghilangkan ancaman bahan kimia beracun di seluruh siklus hidup plastik, serta mengendalikan pelepasan dan emisi bahan kimia plastik beracun,” kata Nina.

Ia mencontohkan, hingga saat ini belum ada baku mutu mikroplastik yang mengikat industri ketika melepas limbahnya ke sungai. ECOTON secara konsisten mengamati dampak cemaran mikriplastik di sungai-sungai yang ada di Indonesia, khususnya Brantas. Limbah pabrik yang dibuang di sungai ini, mengandung mikroplastik. Namun, temuan ini terus diabaikan pemerintah.

ECOTON bahkan sampai mengajukan gugatan hukum terhadap Gubernur Jawa Timur dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) karena mengabaikan pencemaran Sungai Brantas. Gugatan ini diajukan untuk pemulihan lingkungan sekaligus advokasi mengenai bahaya mikroplastik. Gugatan ini dimenangkan ECOTON. Namun pemerintah tak kunjung menjalankan putusan pengadilan.

Otak Manusia Tercemar Mikroplastik

Mikroplastik sudah benar-benar masuk ke sistem metabolisme tubuh manusia. Berdasarkan temuan penelitian kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Maret 2025. Mikroplastik di jaringan otak berpotensi mengganggu fungsi saraf dan berisiko menurunkan kemampuan kognitif secara bertahap.

Hal ini disebabkan paparan partikel asing dan zat kimia toksik yang dibawa mikroplastik tersebut. Penelitian ini merujuk pada riset di New Meksiko 2024 yang mengungkapkan terjadinya penumpukan mikroplastik (ukuran di bawah 5 mm) dan nanoplastik (1 hingga 1000 nanometer) menumpuk di otak manusia dengan konsentrasi yang jauh lebih tinggi—sekitar 7 hingga 30 kali lipat—dibandingkan pada organ hati dan ginjal.

Sofi Azilan Aini, salah satu peneliti ECOTON mendapati kandungan mikriplastik di air ketuban manusia. Penelitian ini adalah lanjutan dari apa yang dilakukan ECOTON sejak 2017, di mana mereka menemukan mikroplastik di dalam feses manusia. (dok. ECOTON)

Konsentrasi plastik pada sampel otak tahun 2024 ditemukan meningkat hingga 50% dibandingkan sampel dari tahun 2016. Matthew Campen, profesor ilmu farmasi dari University of New Mexico, menyebut ini sebagai cerminan dari penumpukan sampah di lingkungan yang semakin ekstrem. Produksi plastik global kini melampaui 300 juta ton per tahun dengan 2,5 juta ton di antaranya mengapung di lautan.

Plastik tidak seharusnya berada dalam tubuh manusia, namun faktanya remahan kecil plastik bahkan telah ditemukan di dalam rahim manusia, tempat yang sebelumnya dianggap aman. Langka pencegahan adalah dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghindari kontak langsung dengan udara yang saat ini telah terkontaminasi mikroplastik.

“Sebagai gen Z kita harus mau menghindari produk kosmetik yang mengandung scrub plastik, karena mikroplastik bisa masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, melalui mulut, dan melalui kulit,” ungkap Sofi Azilan Aini, peneliti ECOTON.

Beragam kontaminasi mikroplastik dalam tubuh manusia sebenarnya sudah ditemukan peneliti ECOTON sejak 2017. Tim peneliti mendeteksi adanya mikroplastik dalam feses yang menjadi bukti mikroplastik masuk rantai makanan manusia. Penelitian terus dikembangkan hingga mendapati, air susu ibu, air seni, ketuban, dan darah perempuan juga terkontaminasi mikroplastik.

“Ini seperti kutukan akibat kita menyia-nyiakan sampah plastik, pemakaian plastik sekali pakai dan membuang tanpa pengolahan yang layak pada akhirnya plastik yang kita buang akan kembali ketubuh kita,” ujarnya.

Sofi mengungkapkan, Indonesia saat ini menjadi negara penyumbang sampah plastik kelautan global tertinggi ketiga setelah India dan Nigeria. Kebiasaan membakar dan membuang sampah ke sungai menjadikan sungai, udara, dan air hujan telah tercemar mikroplastik. Bahkan penduduk Indonesia merupakan manusia yang paling banyak mengkonsumsi mikroplastik, sekitar 15 gram per bulan.

Infiltrasi mikroplastik dalam darah adalah yang paling mengkhawatirkan terhadap ancaman kesehatan masa depan Indonesia, karena masuknya mikroplastik ke aliran darah dan berpotensi menetap di organ-organ vital. Kondisi ini akan menimbulkan kerusakan sel dan tidak berfungsinya organ vital manusia.

Hari Peduli Sampah Nasional

Setiap 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Tanggal ini diperingati untuk mengingat tragedi longsornya tumpukan sampah di TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat pada 21 Februari 2005 silam. Peristiwa itu menewaskan 157 jiwa akibat pengelolaan sampah yang sembrono. HPSN ditetapkan melalui Kepres RI No 21 tahun 2018.

Aktivis dari berbagai organisasi tak henti-hentinya menggelar aksi demonstrasi untuk mengingatkan pemerintah agar segera membuat kebijakan pengendalian plastik dan mikroplastik. Hingga saat ini, belum ada regulasi yang kuat untuk mengendalikan pencemar terbesar bagi lingungan ini. (Robertus Risky/Project Arek)

Dua puluh tahun lebih sejak tragedi TPA Leuwigajah, ECOTON menilai pemerintah Indonesia tidak pernah belajar. Menurut ECOTON, pemerintah masih berkutat pada masalah besarnya volume sampah, ketergantungan pada open dumping, lemahnya pengelolaan di hulu, dan ketidakmampuan pemerintah dalam menertibkan perilaku masyarakat.

Data terakhir dari Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan, pada 2023, timbunan sampah nasional telah menyentuh angka 31,9 juta ton, di mana 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola dan lebih dari 7,8 juta ton merupakan sampah plastik. Sampah plastik ini sebagian besar belum ditangani secara layak dan masih dikelola melalui pembakaran (57%), pembuangan sembarangan, atau penimbunan tanpa pengolahan memadai.

Di tingkat lokal, berbagai wilayah di Jawa Timur juga menghadapi persoalan serupa, termasuk tingginya kontribusi sampah plastik terhadap total timbulan sampah harian. Kondisi ini berpotensi meningkatkan paparan mikroplastik pada manusia.