Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Reportase
Wajah Juang Transpuan Merebut Ruang Hidup
Dari tubuh lelaki yang dipaksa berdamai dengan panggung perempuan, Lusi menapaki hidup penuh luka —KDRT, hinaan, pengusiran, hingga kehilangan keluarga. Namun dari panggung ke panggung hajatan, ia mengumpulkan serpihan harga diri, membangun rumah, dan bertahan sebagai penghibur.

Malam itu, malam Minggu yang riuh oleh pesta hajatan, Lusi tampil mencolok di atas panggung. Tubuhnya paling besar dibanding anggota Trio Codhot lainnya maupun para penyanyi perempuan yang bergantian mengisi acara. Di bawah lampu yang temaram namun cukup menyilaukan, ia berdiri dengan balutan gaun merah menyala bertabur manik-manik, berkilau setiap kali tubuhnya bergerak mengikuti irama.

Suara musik dangdut menggema, bercampur dengan gelak tawa penonton dan suara anak-anak yang berlarian di sela kursi plastik. Lusi mengambil mikrofon, dan dalam sekejap, perhatian beralih padanya. Suaranya menggelegar—tidak halus, tidak pula merdu dalam pengertian umum—tetapi cukup kuat untuk menguasai suasana. Dipadu aksi kocak Niken dan Puspa, ketiganya menjadi bunga panggung. 

Ia mungkin bukan yang paling cantik malam itu. Wajahnya juga tidak seanggun pengantin yang duduk di pelaminan, atau sehalus biduan lain yang tampil dengan riasan sempurna. Namun Lusi memiliki sesuatu yang tak bisa ditiru, yakni cara ia menghidupkan panggung. Ia melontarkan guyonan, bergerak lincah, kadang sengaja menjatuhkan diri, kadang membuat gerakan berlebihan seperti kayang atau koprol, berguling-guling di antara para penonton.

Lusi dan anggota Trio Codhot lainnya, Puspa serta Niken selalu berpenampilan sebaik mungkin untuk setiap tuan rumah hajatan yang mengundang mereka. Tidak ada kata main-main, termasuk dalam hal berdandan demi penampilan maksimal dan tidak mengecewakan pengundang. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Justru itu semua mengundang gelak tawa. Semua terasa spontan, tanpa dibuat-buat. Penonton menyukainya. Mereka tertawa, bersorak, bahkan memanggil-manggil namanya. Bahkan tak sedikit tergerak untuk memberinya saweran. Beberapa lelaki maju mendekat, menyelipkan uang saweran, sebagian lain tak segan menyentuh lengannya, pinggangnya, bahkan mencoba menarik perhatian lebih.

BACA JUGA : Ludruk, Bissu dan Batas yang Digugat

Namun Lusi tidak pernah terlihat terganggu. Suitan demi suitan terdengar. Ia tertawa, menanggapi dengan celetukan ringan, seolah semua itu bagian dari pertunjukan. Prilaku penontonnya itulah yang sedikit banyak menghidupinya. Panggung seni jalanan, terkhusus bagi transpuan. Keras, bahkan teramat keras, kata Lusi. Bukan hanya soal persaingan, menjadi transpuan, memiliki tekanan yang lebih besar.

Lusi, Niken dan Puspa tahu betul kerasnya persaingan di dunia panggung hiburan jalanan, lebih-lebih sebagai transpuan. Penolakan demi penolakan pernah mereka lalui. Itu yang membuat mereka selalu berjuang keras tampil maksimal dan profesional. (Robertus Risky/Project Arek)

 

 

“Biar saja dicolek-colek,” kata Lusi kemudian, saat ditemui di balik panggung. Wajahnya mulai luntur bercampur keringat, riasannya sedikit memudar, tapi senyumnya tetap lebar. “Wong ini semua sumpelan, bukan asli, apalagi hasil operasi.” Ia tertawa. Tawa yang ringan. Tawa yang mungkin menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam.

Gelak Tawa Penutup Luka

Tidak ada yang benar-benar tahu, di balik tawa itu, Lusi pernah jatuh sedalam-dalamnya. Ia lahir sebagai Lucky Lukman, seorang laki-laki dari Lamongan, 42 tahun silam . Masa kecilnya tidak istimewa, tapi cukup untuk mengenalnya sebagai seseorang yang pernah punya rumah, pernah punya keluarga, pernah merasa utuh.

Semua itu berubah ketika ia menikah. Alih-alih menemukan ketenangan, ia justru masuk ke dalam lingkaran kekerasan. “Saya terjun ke dunia ini sejak broken home, KDRT rumah tangga,” tuturnya pelan, seolah mengulang luka yang tak pernah benar-benar sembuh. “Saya orang miskin… sering dihina sama mantan istri saya,” akunya dengan suara yang seperti ada yang ditahan.

Kekerasan itu bukan hanya soal pukulan, tapi juga tentang kata-kata yang terus merendahkan. Tentang posisi yang timpang—tentang dirinya yang merasa kecil, miskin, tidak berdaya, dan terus dipandang rendah. Pengalaman hidup itu membekas menjadi luka. Bertahan sejadi-jadinya dalam benak Lucky muda. “Saya ini dulu miskin, jadi dihina terus,” tukas Lusi.

Ia bertahan, sampai akhirnya tidak lagi mampu. “Aku lari dari sana. Enggak kuat.” Kepergiannya bukan kemenangan. Ia tidak pergi dengan gagah. Ia pergi karena tidak punya pilihan lain. Ia meninggalkan rumah, meninggalkan status, anak istri, termasuk meninggalkan dirinya yang lama.

Di kota baru, ia memulai dari bawah. Menjadi buruh pabrik. Bangun pagi, bekerja, pulang dengan tubuh lelah, lalu mengulangnya lagi keesokan hari. Menjadi bagian kelas pekerja, membuat hidupnya tertempa. Ia mengalami betul bagaimana jibaku seorang buruh. Hidup dihimpit sistem kapitalis. Kerja kerasnya, diupah seadanya.

BACA JUGA : Doa Jawa dari Suara yang Pernah Luka

Hanya saja, hidup tidak pernah sesederhana rutinitas. Ada kegelisahan yang terus mengendap. Ada luka yang tidak selesai hanya dengan bekerja. Di sela-sela itulah ia mulai mengenal dunia salon. Ia masuk ke dunia yang sama sekali asing. Dunia baru yang tak pernah ia pikirkan. Namun, kata Lusi, entah mengapa dunia ini menawarkan kenyamanan baginya.

Menjadi Trio Codhot bukan semata pekerjaan bagi mereka. Ketiganya memiliki kesamaan nasib, menjadi orang yang dimarjinalkan karena kondisi mereka. Berkarya di Trio Codhot membuat mereka bisa mengekspresikan diri mereka yang sebanarnya. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Dunia kecil yang perlahan membuka jalan ke panggung hiburan. Ia mencoba. Awalnya hanya sekadar pelarian. Namun dari sana, ia menemukan sesuatu yang tak ia duga—ruang aman bagi jiwanya sebagai tempat bertahan. Semua dilakukannya untuk bertahan hidup, karena ia sadari menjadi buruh pabrik tak akan membawanya pada sejahtera, bahkan sebaliknya.

Sebelum dikenal sebagai penyanyi, Lusi bahkan pernah menjadi penari ular. Ya ular. Mungkin terdengar naif, tapi ular yang berbahaya itu menjadi pelarian sekaligus membawa rasa aman bagi jiwanya. Ia berdiri di depan penonton dengan ular melilit tubuhnya—sebuah pertunjukan yang membutuhkan keberanian, sekaligus keputusasaan. Di sana, ia belajar satu hal: rasa takut bisa dikalahkan jika hidup memaksa.

Dari penari ular, ia beralih menjadi penyanyi. Dari penyanyi solo, ia mulai masuk ke grup. Ia pernah bergabung di Trio Bajul, sebuah fase yang sempat mengangkat namanya, tapi juga mengajarkannya tentang pahitnya ketidakadilan. Dunia hiburan, tertutama bagi transpuan, tak seindah yang dibayangkan penontonnya. Jerih payahnya sebagai pekerja panggung, tak sebanding dengan yang didapatnya.

Saya merasa diperas. Kita yang kerja, yang lain yang menikmati. Ya saya memilih pergi saja, meskipun harus mulai lagi dari nol. Tidak apa-apa,” kenang ayah 1 anak ini.

Ketimpangan itu membuatnya pergi. Lagi-lagi ia harus memulai dari nol. Namun kali ini, ia tidak sendiri. Ia bertemu dua orang yang senasib, Puspa dan Niken. Yang sama-sama ingin bertahan, sama-sama tidak punya banyak pilihan dan sama-sama transpuan. Perasaan senasib membawa mereka ke babak baru di dunia panggung hiburan jalanan. Dari sanalah Trio Codhot lahir.

Nama yang terdengar sederhana, bahkan cenderung aneh. Tapi bagi mereka, itu adalah kenangan—tentang masa ketika mereka sering memanjat pohon, makan buah bersama, seperti Codhot yang bergelantungan. “Kita enggak jual cantik, enggak jual suara. Kita jual aksi, bagaimana menghibur penonton membuat mereka tertawa dan bahagia,” jelas Lusi.

 

Lusi mengakui, jika sekedar bernyanyi, penonton tak mungkin suka dan membosankan. Itulah yang membuatnya tampil beda. Memanjat tembok dan berguling di kampung mereka lakukan. Semua demi tetap bisa bertahan di dunia panggung jalanan yang keras. Penonton pun bahagia dan tertawa. (Robertus Risky/Project Arek)

Dan memang itu yang mereka lakukan. Di atas panggung, mereka jungkir balik, berguling, melucu tanpa batas. Mereka tidak mencoba menjadi sempurna. Mereka hanya mencoba membuat orang tertawa. Dan dari situlah, mereka hidup. Sekali lagi, Lusi sadar, sebagai transpuan tidaklah banyak pilihan yang bisa diambil. Mereka harus bertahan di tengah tekanan, termasuk diskriminasi.

Dalam satu kali manggung, penghasilan yang ia terima tidak selalu pasti. Jika sedang beruntung, satu paket pertunjukan bisa bernilai sekitar dua juta rupiah. Namun angka itu bukan untuk dirinya sendiri. Biasanya ia tampil bersama tim dibagi untuk beberapa orang, termasuk pemain musik.

Kalau paling minim, satu paket itu dibagi enam, jadi ya enggak seberapa. Paling terima 200 hingga 300 ribu saja. Hanya di bulan-bulan tertentu di weekend hajatan bisa 2 hingga 3 kali manggung dalam sehari,” jelas Lusi.

Lusi mengaku, beberapa bulan terakhir undangan hajatan terus menurun. Belum tentu setiap hari ada panggilan. Dia sendiri tak tahu apa sebabnya, dan hanya bisa menduga-duga. Ia tak menyangkal, tidak sedikit kelompok masyarakat yang tidak menerima kehadiran transpuan sehingga enggan mengundang. “Dulu bisa tiap weekend ada, Sekarang sudah jarang,” ujarnya.

Karena itu, panggung bukan satu-satunya sumber penghidupan. Di luar gemerlap malam, lepas dari sorot warna-warni cahaya panggung, Lusi tetap bekerja sebagai buruh pabrik. Ia bangun pagi, bekerja seperti kebanyakan lelaki lain, dengan penghasilan yang juga pas-pasan, tetapi ia menjalaninya dengan rasa syukur. “Ya cukup buat makan sehari-hari,” katanya singkat.

Dua dunia itu ia jalani bersamaan—siang Lucky sebagai buruh, malam sebagai Lusi sang penghibur. Tubuhnya bekerja tanpa banyak istirahat, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ini menjadi cermin bagaimana kelas pekerja menjalani hidupnya. Hidup tidak pernah berhenti menguji. Saat bekerja sebagai operator telepon, ia tidak lepas dari perundungan. Ia difitnah. Dijatuhkan. Disudutkan oleh orang-orang di sekitarnya.

BACA JUGA : Doakan Saya Agar Cepat Bebas

Hingga akhirnya, ia harus menerima kenyataan pahit, diturunkan dari posisinya menjadi office boy. Sebuah kemunduran yang tidak hanya soal pekerjaan, tapi juga harga diri. Namun Lusi tidak melawan dengan amarah. Ia hanya diam, menerima, dan kembali ke panggung. Karena di sana, setidaknya ia masih bisa berdiri.

Stigma dan Dijauhi Keluarga

Hinaan terus datang. Dari masyarakat, tokoh agama, dari siapa saja yang merasa berhak menghakimi. “Waria itu hina… pendosa… menyalahi kodrat.” Ia mendengar itu berkali-kali. Namun ia punya cara sendiri untuk menjawab. “Yang mencaci belum tentu suci,” ucapnya berkali-kali dalam hati.

Saya tidak pernah merasa benar. Tapi saya tidak pantas dihina. Yang penting saya enggak mencuri. Saya hanya bekerja,” tukas Lusi.

Keluarga bagi Lusi juga menorah luka yang paling sunyi. Ia berujar, “Semua saudara menjauh.” Ia tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Anak kandungnya pun tumbuh dengan jarak yang tak bisa ia jembatani. “Anakku cuma butuh uangku saja,” tuturnya pilu. Lusi tetap memberi. Tetap mengirimkan uang. Tanpa menuntut apa pun.

“Aku buat ikhlas saja.” Ikhlas—kata yang mudah diucapkan, tapi sulit dijalani.

Bahkan, saat pernah hampir mati karena sakit, tak ada satupun keluarga datang menemani atau sekedar menjenguk. Lusi pernah dirawat akibat sakit lambung yang menjalar ke ginjal membuatnya harus keluar-masuk rumah sakit. Hampir menjalani operasi berkali-kali.

Saya pikir waktu itu sudah selesai. Sedihnya itu bukan sakitnya tapi yang lebih menyakitkan dari sakit itu adalah kesendirian. Tidak ada satu pun keluarga yang jenguk,” paparnya.

Namun, Tuhan Maha Kuasa. Di saat kesendiriannya menghadapi penyakit ia dipertemukan dengan sepasang suami istri yang kala itu sedang menjenguk pasien, justru iba melihat kesendirian Lusi. Dari sanalah hubungan baik terbina. Orang yang baru dikenal justru merawatnya hingga sembuh bahkan ketika dibolehkan pulang dari rumah sakit, keduanya merawat Lusi di rumah mereka selama pemulihan.

 

Hidup sebagai pekerja jalanan menempa mereka di jalan solidaritas. Uang saweran penonton yang dikumpulkan, dibagi rata antara penyanyi dan pemain musik. Semua menikmati jerih payah malam itu. Bagi Lusi, panggung hiburan jalanan adalah ruang hidup bersama. Lusi sendiri memilih menjadikan uang saweran itu untuk tabungan di masa tuanya kelak, termasuk mimpinya ke Tanah Suci. (Robertus Risky/Project Arek)

“Sungguh sebuah berkah Tuhan yang tak pernah diduga. Entah bagaimana saya bisa selamat jika saat itu saya tidak bertemu mereka,” katanya bersyukur. Dari panggung ke panggung, dari luka ke luka, ia mengumpulkan hidupnya kembali.

Sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, ia bisa membeli rumah. Rumah tempatnya pulang, ya begitu kata Lusi. Sebelum memiliki rumah, ia hidup dari kamar kos ke kamar kos lain. Dari kontrakan ke kontrakan lain. Dari satu pengusiran ke pengusiran lainnya. Ia lalui semuanya.

“Setelah drama berkali-kali diusir dari kos dan kontrakan, Alhamdulillah sekarang saya punya rumah sendiri,” ucap Lusi. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah bukti bahwa ia tidak lagi bergantung pada siapa pun.

BACA JUGA : Drupadi di Ujung Jari 16 Kurawa

Di lingkungan barunya, ia mulai diterima. Ia ikut kegiatan mengaji, bergabung dengan jamaah, kembali menjadi bagian dari kehidupan yang lebih tenang. Namun di dalam dirinya, kesunyian itu tetap ada. Ia masih berharap. Tentang keluarga, tentang anak, tentang seseorang yang bisa menerimanya.

“Masih ingin ada perempuan yang mau menerima saya apa adanya,” harapnya. Namun jika tidak, ia sudah siap. “Kalau tua nanti enggak ada yang rawat, saya masuk panti jompo saja,” harapnya sembari tersenyum.

Di tengah semua itu, ada satu harapan yang ia simpan pelan. Kalimat itu tidak ia ucapkan dengan suara besar. Tidak dengan semangat berlebihan. Hanya seperti seseorang yang menyimpan doa lama di dalam hati. “Aku kepengin umroh.”

Barangkali, di sana, ia tidak perlu lagi menjadi siapa-siapa. Tidak perlu berdandan. Tidak perlu menghibur, tanpa riasan, tanpa peran, tanpa luka. Tidak perlu menahan hinaan, dan hanya menjadi dirinya sendiri. Hanya menjadi seorang hamba yang ingin pulang dari beban pekerjaan, beban hidup yang ia panggul selama ini.