SEORANG PEREMPUAN di Intan Jaya, Papua Tengah, kehilangan nyawanya saat mengandung seorang bayi. Dalam sejumlah pemberitaan, Melkiana Duwitau disebut sebagai warga sipil yang tewas akibat terkena peluru nyasar ketika terjadi kontak senjata di wilayah tersebut. Di dalam rahim perempuan berusia 31 tahun itu, bayi yang belum sempat mengenal dunia turut kehilangan kesempatan untuk dilahirkan.
Berita itu datang sebagaimana berita-berita duka lainnya. Singkat, padat, dan perlahan menghilang di antara derasnya arus informasi yang berganti setiap menit. Mungkin, sebagian dari kita hanya berhenti sejenak untuk membaca judulnya. Sebagian lain menghela napas, lalu menggulir layar menuju kabar berikutnya.
Dunia digital telah mengajarkan kita satu kebiasaan yang ganjil. Kita mampu merasa iba, tetapi hanya selama beberapa detik. Setelah itu, tragedi berubah menjadi arsip. Nama korban perlahan dilupakan. Yang tertinggal hanyalah angka dan kronologi.
Namun, setiap kali membaca berita tentang perempuan yang meninggal di tengah konflik, ada pertanyaan yang selalu mengganggu pikiranku. Mengapa perempuan begitu sering menjadi pihak yang menanggung akibat dari kekerasan yang tidak pernah mereka mulai?
Pertanyaan itu tidak hanya lahir dari tragedi di Intan Jaya, Papua Tengah. Ia lahir dari sejarah yang berulang. Dari perang yang selalu menemukan jalannya menuju ruang-ruang paling sunyi. Dari konflik yang tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga kehidupan-kehidupan yang bahkan tidak pernah mengenal medan tempur.
Ketika manusia berbicara tentang perang, perhatian kita hampir selalu tertuju pada strategi militer, wilayah kekuasaan, jumlah korban, atau siapa yang dianggap menang dan kalah. Sejarah ditulis melalui nama para jenderal, pemimpin, dan negosiator. Kita menghafal tanggal dimulainya konflik, tetapi jarang mengingat nama perempuan yang kehilangan anaknya. Kita mengingat kemenangan, tetapi lupa menghitung berapa banyak ibu yang harus menguburkan masa depan keluarganya. Seolah-olah sejarah hanya bergerak di atas meja perundingan.
Padahal, sejarah yang sesungguhnya sering kali terjadi di dapur yang tiba-tiba sunyi karena seseorang tak lagi pulang. Ia terjadi di ruang bersalin yang tak pernah sempat digunakan. Ia terjadi di rumah-rumah sederhana ketika seorang anak menunggu ibunya yang tak lagi kembali. Barangkali, inilah ironi terbesar dari setiap konflik.
BACA JUGA : Beban Ganda Mahasiswa Orang Asli Papua
Mereka yang paling sedikit memiliki kuasa justru menjadi mereka yang paling banyak menanggung akibatnya. Perempuan, anak-anak, lansia, dan masyarakat sipil hampir selalu menjadi kelompok yang berada di garis depan penderitaan, meskipun mereka tidak pernah berdiri di garis depan peperangan.
Dalam banyak masyarakat patriarkal, perempuan sejak lama diposisikan sebagai penjaga kehidupan. Mereka merawat, mengandung, membesarkan, dan memastikan generasi berikutnya tetap hidup. Akan tetapi, pada saat yang sama, dunia juga menjadikan tubuh perempuan sebagai ruang yang paling mudah dikorbankan.
Tubuh itu dipuji ketika mampu melahirkan. Dikontrol ketika dianggap melampaui norma. Diperdebatkan ketika berbicara tentang hak reproduksi. Dan tidak jarang, menjadi lokasi pertama yang menerima dampak dari konflik yang bahkan tidak mereka ciptakan. Di titik inilah patriarki bekerja dengan cara yang nyaris tak terlihat.
Kita sering membayangkan patriarki sebagai relasi antara laki-laki dan perempuan di dalam rumah tangga. Padahal, patriarki jauh lebih luas daripada itu. Ia adalah cara pandang yang menempatkan pengalaman laki-laki sebagai pusat kehidupan sosial, sementara pengalaman perempuan dianggap sebagai pelengkap.
Akibatnya, penderitaan perempuan sering kali baru dianggap penting sejauh ia berkaitan dengan laki-laki di sekitarnya. Seorang perempuan dikenang sebagai istri seseorang, ibu dari seseorang, atau anak dari seseorang. Jarang sekali ia dikenang sebagai individu yang memiliki dunia batin, cita-cita, ketakutan, dan impiannya sendiri.
Mungkin karena itulah, ketika seorang perempuan meninggal dalam konflik, pemberitaan sering kali lebih sibuk menjelaskan bagaimana ia meninggal daripada bagaimana ia hidup.
Kita mengetahui arah datangnya peluru. Namun, kita tidak pernah tahu buku apa yang terakhir kali ia baca. Kita mengetahui waktu kematiannya. Namun, kita tidak pernah tahu impian apa yang sedang ia simpan.
Kita mengetahui lokasi tubuhnya ditemukan. Namun, kita tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang sedang ia bangun sebelum semuanya berhenti. Bukankah itu menyedihkan?
Seolah-olah seseorang baru benar-benar dianggap penting ketika ia telah menjadi korban. Padahal, sebelum menjadi korban, ia terlebih dahulu adalah manusia.
Ia mungkin memiliki kebiasaan sederhana yang tak pernah masuk ke dalam laporan berita. Barangkali ia menyukai hujan. Barangkali ia sedang menyiapkan pakaian bayi yang akan lahir beberapa bulan lagi. Mungkin ia telah memilih nama untuk anaknya. Atau mungkin ia masih berdebat dengan pasangannya mengenai masa depan keluarga mereka.
Semua kemungkinan itu hilang begitu saja ketika kematian mereduksi seluruh hidupnya menjadi beberapa paragraf pemberitaan. Di sinilah aku percaya, patriarki tidak selalu bekerja melalui kekerasan yang kasatmata. Kadang-kadang ia bekerja melalui cara kita mengingat. Atau, lebih tepatnya, melalui cara kita melupakan.
Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk berduka. Setiap hari, layar telepon genggam kita dipenuhi gambar-gambar penderitaan. Ada perang di satu wilayah. Kelaparan di wilayah lain. Kekerasan seksual. Penggusuran. Bencana alam. Kematian demi kematian datang silih berganti hingga perlahan kita kehilangan kemampuan untuk benar-benar berhenti dan mengenang satu kehidupan.
Filsuf Judith Butler pernah mengajukan pertanyaan yang menggugah dalam Frames of War. Mengapa ada kehidupan yang diratapi secara luas, sementara kehidupan lain berlalu begitu saja tanpa memperoleh ruang yang sama untuk dikenang? Butler menyebutnya sebagai persoalan tentang grievable lives, yaitu kehidupan-kehidupan yang dianggap layak untuk diratapi.
Pertanyaan itu terasa begitu relevan ketika kita melihat bagaimana sebagian korban segera menjadi simbol kemanusiaan, sementara sebagian lainnya tenggelam dalam sunyi, seolah kehilangan mereka tidak cukup penting untuk diingat. Mungkin, perempuan yang meninggal di Intan Jaya adalah salah satu dari sekian banyak nama yang perlahan akan menghilang dari ingatan publik.
Tetapi, esai ini tidak sedang berusaha mengabadikan satu nama. Esai ini ingin mengingatkan kita, di balik setiap berita tentang perempuan yang meninggal, selalu ada kehidupan yang jauh lebih besar daripada kronologi kematiannya. Dan mungkin, selama kita masih lebih mudah mengingat bagaimana seorang perempuan mati daripada bagaimana ia hidup, di situlah “kematian kedua” telah dimulai.
Jika kita menelusuri sejarah lebih jauh, kita akan menemukan satu pola yang nyaris tidak pernah berubah. Dalam setiap perang, setiap konflik, setiap perebutan kekuasaan, tubuh perempuan hampir selalu menjadi ruang yang paling mudah disentuh kekerasan. Rumah-rumah dapat dibangun kembali. Jembatan dapat diperbaiki.
Jalan-jalan dapat diaspal ulang. Namun, tidak ada yang benar-benar mampu mengembalikan kehidupan seorang perempuan yang telah direnggut, terlebih ketika bersama dirinya turut hilang kehidupan lain yang bahkan belum sempat membuka mata.
BACA JUGA : #KAMISAN| Tiada Henti Bunuh Rakyat Papua
Barangkali karena itu, perang tidak pernah berhenti pada dentuman senjata. Ia berlanjut jauh setelah suara tembakan menghilang. Ia tinggal di dalam tubuh mereka yang selamat. Ia menetap di dalam ingatan anak-anak yang kehilangan ibu. Ia tumbuh bersama keluarga yang setiap hari harus belajar menerima kursi makan yang kini kosong.
Dan ironisnya, penderitaan seperti ini sering kali tidak dianggap sebagai bagian dari sejarah besar. Kita lebih mudah mengingat nama operasi militer dibandingkan nama perempuan yang menjadi korban. Kita lebih hafal tanggal perjanjian damai dibandingkan hari ketika seorang anak kehilangan ibunya. Sejarah terlalu sering ditulis dari sudut pandang mereka yang memegang kuasa.
Padahal, sebagaimana diingatkan Simone de Beauvoir dalam The Second Sex, perempuan sejak lama ditempatkan sebagai the Other. Laki-laki diposisikan sebagai ukuran utama tentang manusia, sedangkan perempuan dipahami melalui hubungannya dengan laki-laki. Cara pandang ini tidak hanya bekerja dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memengaruhi bagaimana masyarakat mengingat sebuah tragedi.
Ketika seorang laki-laki meninggal dalam konflik, ia kerap dikenang sebagai pejuang, prajurit, atau tokoh. Namun ketika perempuan meninggal, identitas yang pertama kali dilekatkan kepadanya sering kali adalah "istri", "ibu", atau "perempuan hamil". Sekilas, penyebutan itu terdengar penuh empati. Namun tanpa kita sadari, identitas tersebut juga memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam.
Kita merasa kehilangan karena relasi yang ia miliki dengan orang lain, bukan karena ia sendiri adalah manusia yang utuh. Seolah-olah nilai hidup seorang perempuan baru tampak ketika ia dapat dikaitkan dengan kehidupan orang lain. Cara pandang seperti ini perlahan membentuk kebiasaan yang berbahaya.
Kita belajar melihat perempuan sebagai fungsi.
Sebagai pengasuh.
Sebagai pendamping.
Sebagai ibu.
Sebagai rahim.
Sebagai penjaga rumah.
Tetapi terlalu jarang melihat perempuan sebagai seseorang yang memiliki hak untuk hidup, bermimpi, gagal, marah, mencintai, dan dikenang atas dirinya sendiri. Di sinilah patriarki bekerja dengan sangat halus. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk larangan. Ia tidak selalu muncul sebagai kekerasan fisik.
Sering kali ia hadir melalui bahasa. Melalui berita. Melalui cara kita memilih kata. Melalui siapa yang diberi ruang untuk bercerita, dan siapa yang hanya dijadikan objek cerita. Bahasa ternyata tidak pernah benar-benar netral. Ia mampu menentukan siapa yang dianggap penting. Siapa yang memperoleh simpati. Dan siapa yang perlahan dilupakan.
Karena itu, setiap kali membaca berita tentang perempuan yang meninggal dalam konflik, aku selalu bertanya, mengapa kita lebih banyak mengetahui bagaimana tubuhnya ditemukan daripada bagaimana kehidupannya dijalani? Mengapa kronologi kematian lebih mudah ditemukan daripada kisah tentang cita-citanya? Mengapa seorang perempuan lebih cepat berubah menjadi statistik dibandingkan menjadi kenangan?
Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkanku pada gagasan Judith Butler mengenai grievable lives. Butler berpendapat, tidak semua kehidupan memperoleh kesempatan yang sama untuk diratapi. Ada kehidupan yang kehilangan dirinya segera menjadi perhatian dunia. Ada pula kehidupan yang hanya hadir sebagai angka dalam laporan, sebelum akhirnya tenggelam bersama berita-berita baru.
Perbedaan itu tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh politik. Oleh media. Oleh relasi kuasa. Dan sering kali, oleh cara masyarakat menentukan siapa yang dianggap layak untuk dikenang. Dalam situasi konflik, perempuan sering kali berada di posisi yang paling rapuh.
Mereka kehilangan pasangan.
Mereka kehilangan rumah.
Mereka kehilangan akses terhadap layanan kesehatan.
Mereka menghadapi risiko kekerasan seksual yang meningkat.
Mereka tetap harus merawat anak-anak, memastikan keluarga bertahan hidup, bahkan ketika dunia di sekitar mereka telah runtuh.
Namun, semua beban itu jarang memperoleh ruang sebesar narasi tentang strategi perang, kemenangan militer, atau perdebatan politik. Seolah-olah pengalaman perempuan hanyalah catatan tambahan dalam sejarah konflik. Padahal, sebagaimana diingatkan Cynthia Enloe, perang tidak pernah hanya terjadi di medan tempur. Perang juga hadir di dapur, di ruang bersalin, di tempat pengungsian, dan di rumah-rumah yang kehilangan rasa aman.
Ketika kita hanya memusatkan perhatian pada senjata dan pelaku konflik, kita kehilangan kesempatan untuk melihat bagaimana kekerasan bekerja secara lebih luas, terutama terhadap mereka yang tidak pernah mengangkat senjata.
Mungkin karena itu, tubuh perempuan selalu menjadi medan yang diperebutkan. Di luar konflik, tubuh itu diatur norma. Di pasar, tubuh itu diperdagangkan melalui industri yang memperoleh keuntungan dari standar kecantikan yang nyaris mustahil dicapai. Di ruang politik, tubuh itu menjadi objek perdebatan mengenai moralitas dan reproduksi.
BACA JUGA : #KAMISAN| Barisan Perempuan Melawan
Dalam konflik bersenjata, tubuh itu kembali kehilangan otonominya karena menjadi pihak yang paling rentan menerima dampak kekerasan. Seakan-akan perempuan tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk hidup tanpa campur tangan orang lain atas tubuhnya sendiri. Yang berubah hanyalah bentuk penguasaannya.
Hari ini, ia diatur oleh budaya.
Besok, oleh negara.
Lusa, oleh perang.
Namun, tubuh yang diperebutkan tetap tubuh yang sama.
Barangkali inilah sebabnya mengapa aku mengatakan, perempuan harus mati dua kali. Kematian pertama adalah ketika tubuhnya berhenti bernapas. Tetapi “kematian kedua” jauh lebih sunyi. Ia terjadi ketika seluruh kehidupannya dipadatkan menjadi identitas yang paling mudah dikonsumsi publik.
"Ibu hamil."
"Warga sipil."
"Korban peluru nyasar."
Kalimat-kalimat itu memang benar. Namun, apakah seluruh hidup seseorang dapat diringkas hanya dalam tiga atau empat kata? Di mana tawa yang pernah ia miliki? Di mana cerita masa kecilnya? Di mana kegelisahan yang pernah membuatnya sulit tidur? Di mana nama yang mungkin telah ia siapkan untuk anaknya? Semuanya menghilang. Yang tersisa hanyalah label.
Dan mungkin, tidak ada bentuk kehilangan yang lebih menyedihkan daripada ketika seorang manusia berhenti dikenang sebagai manusia, lalu perlahan berubah menjadi sekadar kategori. Di titik itulah, “kematian kedua” benar-benar terjadi.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah siapa yang melepaskan peluru itu. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah mengapa dunia begitu mudah melanjutkan hidup setelah seorang perempuan kehilangan hidupnya.
Barangkali karena kita telah terlalu lama terbiasa memandang perempuan sebagai seseorang yang harus selalu kuat. Kita memuji ibu yang tetap tersenyum meski lelah. Kita mengagumi perempuan yang mampu bertahan di tengah kemiskinan.
Kita menganggap biasa perempuan yang mengorbankan mimpi-mimpinya demi keluarga. Lama-kelamaan, pengorbanan itu tidak lagi dipandang sebagai pengorbanan. Ia berubah menjadi kewajiban yang tak pernah dipertanyakan.
Ketika seorang perempuan meninggal, dunia sering kali berkata ia adalah korban. Namun, kata "korban" ternyata terlalu sempit untuk menggambarkan apa yang benar-benar hilang. Yang hilang bukan hanya seseorang. Yang hilang adalah seluruh kemungkinan yang dibawanya.
Mungkin ia akan mengajarkan anaknya membaca. Mungkin ia akan menjadi tempat pulang bagi seseorang yang sedang kehilangan arah. Mungkin ia akan menanam pohon yang baru berbuah dua puluh tahun lagi. Mungkin ia akan menulis surat yang kelak menyelamatkan seseorang dari keputusasaan. Atau mungkin, semua kemungkinan itu tidak pernah terjadi. Dan justru karena kita tidak akan pernah mengetahuinya, kehilangan itu menjadi jauh lebih besar daripada yang mampu dituliskan laporan mana pun.
Sejarah sering mengukur kehilangan dengan angka. Satu korban. Sepuluh korban. Seratus korban. Padahal, tidak ada satu pun kehidupan yang dapat diterjemahkan menjadi statistik. Sebab setiap manusia membawa semesta kecilnya sendiri. Ada kebiasaan-kebiasaan yang hanya diketahui keluarganya. Ada tawa yang hanya dipahami sahabatnya. Ada doa yang tidak pernah selesai dipanjatkan. Ada rencana yang masih tersimpan di dalam buku catatan. Dan ada masa depan yang ikut berhenti pada hari ketika napas terakhir dihembuskan.
Mungkin karena itulah, perang selalu lebih kejam daripada yang dapat kita bayangkan. Ia tidak hanya membunuh mereka yang hidup pada hari ini. Ia juga membunuh semua hari esok yang seharusnya masih mungkin terjadi. Dalam tubuh seorang perempuan yang sedang mengandung, perang bahkan merampas dua waktu sekaligus. Masa kini. Dan masa depan.
Namun, di antara semua bentuk kekerasan itu, ada satu yang menurutku paling sunyi. Saat dunia perlahan melupakan. Hari ini, nama seseorang memenuhi pemberitaan. Esok, ia mulai tergeser kabar lain. Lusa, hanya keluarganya yang masih mengingat. Beberapa tahun kemudian, mungkin hanya ada sebaris arsip yang tersisa, sementara dunia telah berjalan begitu jauh tanpa pernah menoleh kembali.
Di titik itulah, “kematian kedua” benar-benar terjadi. Bukan karena tubuhnya kembali direnggut. Melainkan karena ingatan kolektif memutuskan hidupnya tidak lagi cukup penting untuk dikenang.
Judith Butler pernah mengingatkan, tidak semua kehidupan memperoleh kesempatan yang sama untuk diratapi. Gagasan itu mengajak kita bertanya, bukan hanya tentang bagaimana seseorang meninggal, tetapi juga tentang siapa yang kita anggap layak untuk terus diingat.
BACA JUGA : Drupadi di Ujung Jari 16 Kurawa
Pertanyaan ini menjadi semakin mendesak ketika perempuan dalam konflik lebih sering hadir sebagai angka, label, atau identitas sosial, sementara kisah hidupnya perlahan menghilang dari ruang publik. Mungkin itulah pekerjaan kita sebagai manusia. Bukan mengingat setiap tragedi. Itu mustahil. Tetapi menolak membiarkan siapapun kehilangan kemanusiaannya hanya karena dunia terlalu cepat bergerak.
Esai ini tidak akan menghentikan perang. Ia juga tidak akan mengembalikan seorang ibu kepada keluarganya. Tulisan tidak pernah mampu melakukan itu. Namun, tulisan masih memiliki satu kemampuan yang tidak dimiliki peluru. Tulisan dapat menolak lupa.
Ia dapat menyimpan nama ketika berita telah berhenti memberitakannya. Ia dapat mengingatkan, sebelum seseorang menjadi korban, ia terlebih dahulu adalah manusia. Dan mungkin, selama kita masih bersedia mengingat mereka sebagai manusia, “kematian kedua” itu belum benar-benar selesai.
Barangkali, Tuhan memang menciptakan perempuan sebagai rumah. Tempat manusia pertama kali belajar tentang kehidupan. Namun rumah tidak hanya dibangun oleh dinding. Ia dibangun oleh harapan. Oleh kasih sayang. Oleh mimpi-mimpi yang dirawat setiap hari.
Karena itu, setiap kali seorang perempuan kehilangan hidupnya, dunia tidak sekadar kehilangan satu tubuh. Dunia kehilangan satu rumah. Rumah yang mungkin sedang menumbuhkan masa depan. Rumah yang mungkin sedang mengajarkan cinta. Rumah yang mungkin sedang mempersiapkan seseorang untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Sayangnya, sejarah terlalu sering sibuk menghitung peluru. Hingga lupa menghitung berapa banyak rumah yang telah runtuh. Dan mungkin, selama tubuh perempuan masih dipandang sebagai objek yang dapat diatur, diperdebatkan, dikendalikan, atau dikorbankan, kita akan terus hidup di dunia yang memaksa perempuan mati dua kali. Sekali ketika tubuhnya direnggut. Dan sekali lagi, ketika kita berhenti mengingat, ia pernah hidup.
*Penulis merupakan mahasiswa Sosiologi di Universitas Brawijaya yang memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial, kemanusiaan, dan gender. Ia juga aktif di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Perspektif.
Daftar Pustaka:
Butler, J. (2009). Frames of War: When Is Life Grievable? Verso.
de Beauvoir, S. (2011). The Second Sex (C. Borde & S. Malovany-Chevallier, Trans.). Vintage Books. (Karya asli diterbitkan tahun 1949).
Enloe, C. (2014). Bananas, Beaches and Bases: Making Feminist Sense of International Politics (2nd ed.). University of California Press.
International Committee of the Red Cross. (2024). How International Humanitarian Law Protects Women in Armed Conflict.
United Nations Security Council. (2000). Resolution 1325 (2000) on Women, Peace and Security.
UN Women. (2023). Women, Peace and Security Facts and Figures.
Detik News. (2025). Ibu Hamil di Intan Jaya Tewas Kena Peluru Nyasar, TNI Ungkap Tembakan dari OPM.