Skip to main content
Foto : Ihsanulhaq Fadhlurrohman/LPM MuseEdsa
Arek Kampus
Pulau Palsu dan Bahaya Bagi Budaya Pesisir
Proyek Surabaya Waterfront Land (SWL) memicu kekhawatiran warga pesisir akan hilangnya ruang hidup dan identitas budaya mereka. Sedimentasi lumpur yang kian menebal merusak ekosistem serta melenyapkan biota laut, ini mengancam mata pencaharian nelayan tradisional yang terjebak dalam ketidakpastian ekonomi akibat masifnya pembangunan.

JIDA (23) termangu di pesisir Pantai Kenjeran, memandang ombak yang bergulung dan pecah di antara bebatuan. Pemandangan itu membawanya kembali ke masa kecil, ketika ia bisa berenang bebas tanpa takut terjebak lumpur atau terseret arus.

Kini, kenangan tersebut justru memunculkan kekhawatiran. Jida takut kampung halamannya diratakan atas nama pembangunan dan kemajuan, yang menurutnya bukan hanya mengancam ruang hidup, tetapi juga mengikis identitas budaya yang selama ini dijaga.

Kekhawatiran itu berhadapan dengan geliat Kampung Wisata Bahari Terpadu Sukolilo Baru yang masih hidup. Pedagang asongan memenuhi tepian jalan menuju pesisir, sementara aroma ikan asin dari warung-warung bercampur dengan hembusan angin laut. Di tengah suasana tersebut, Jida melihat kampungnya bukan sekadar kawasan tempat tinggal, melainkan ruang yang menyimpan kenangan, kehidupan, dan identitas masyarakat pesisir.

Pembangunan yang besar-besar itu yang lebih berpengaruh. Bahkan, dulu ada gunung pasir. Jadi dulu kalau air surut itu kelihatan gunung pasirnya. Sekarang gunung pasirnya sudah jadi lumpur,” kata Jida, pada Minggu, 21 Juni 2026.

Namun, di balik kehidupannya itu, perubahan demi perubahan mulai terasa. Warga pesisir telah merasakan kehadiran proyek Surabaya Waterfront Land (SWL) jauh sebelum perhatian publik tertuju pada potensi dampak yang mungkin ditimbulkannya.

Dalam laporan Project Arek berjudul Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya menyebut konflik SWL berakar dari penolakan warga pesisir terhadap rencana reklamasi seluas 1.084 hektare yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) pada 2024. Proyek senilai Rp72 triliun yang digarap PT Granting Jaya itu dinilai lebih menguntungkan kepentingan komersial dan berpotensi menggusur ruang hidup ribuan nelayan serta petambak. Warga juga mempersoalkan proses penyusunan AMDAL yang dianggap tidak transparan dan minim pelibatan masyarakat.

BACA JUGA : Di Mana Islam saat Petani dan Nelayan Ditindas

Dari sisi ekologis, reklamasi dikhawatirkan merusak mangrove dan habitat udang rebon serta ikan bandeng. Warga juga mengkhawatirkan risiko banjir rob, backwater, dan penurunan muka tanah. Sementara secara ekonomi, proyek berpotensi mengancam mata pencaharian sekitar 1.896 nelayan dan ribuan petambak yang bergantung pada pesisir. Penolakan pun terus dilakukan melalui aksi massa dan jalur hukum.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sempat mengirim surat pertimbangan kepada pemerintah pusat pada 2024 lalu. Surat ini berisikan soal dampak-dampak yang terjadi jika proyek SWL terus dijalankan. Salah satu dampak yang disampaikan adalah kerusakan mangrove akibat pembangunan SWL yang berakibat memperparah banjir rob.

“Surat yang saya sampaikan sama seperti apa yang disampaikan nelayan. Ketika yang namanya mangrove dihilangkan, mangrove ini kan mencegah rob, ketika hilang apa enggak makin dahsyat robnya, apa yang menahan air kalau tidak mangrove,” ujarnya, awal Januari 2025.

Namun, beberapa pegiat lingkungan mengkritik sikap Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi tersebut karena dianggap hanya sebatas menyampaikan aspirasi warga tanpa langkah hukum yang tegas demi keamanan politis.

Pada Jumat, 7 Agustus 2026, dan Minggu, 9 Agustus 2026, LPM MuseEdsa Universitas Muhammadiyah Surabaya telah mengirim permohonan wawancara kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Muhamad Fikser. Namun, hingga artikel ini dipublikasikan, kami belum menerima tanggapan.

Perahu nelayan tradisional berbendera Merah Putih berlayar di pesisir Surabaya, simbol kehidupan masyarakat pesisir yang kini terancam hilang akibat proyek Surabaya Waterfront Land (SWL). (Ihsanulhaq Fadhlurrohman/LPM MuseEdsa Umsura)

Di sisi lain, proyek tersebut juga berpotensi merangsek Kampung Wisata Bahari Terpadu Sukolilo Baru, tempat tinggal Jida. Baginya, SWL bukan sekadar pembangunan yang akan mengubah bentang pesisir Sukolilo, Kenjeran. Proyek itu juga memunculkan kekhawatiran akan hilangnya hamparan pasir yang kini perlahan hanya tersisa dalam ingatan kolektif warga.

Selain itu, dalam penelitian berjudul Pendampingan Identifikasi Potensi Wisata dalam Perancangan Grand Design Kampung Wisata Bahari Terpadu Sukolilo Baru Kota Surabaya karya lima peneliti UPN “Veteran” Jawa Timur pada 2022 menjelaskan, Kampung Wisata Bahari Terpadu Sukolilo Baru merupakan konsep pengembangan pesisir berbasis masyarakat yang mengandalkan potensi nelayan, hasil laut, budaya, dan lingkungan pantai.

Di dalamnya, Kampung Wisata Bahari Terpadu Sukolilo Baru mencakup wisata kampung nelayan, perahu, edukasi pengolahan teripang, sentra UMKM, serta pemandangan pesisir. Gagasan itu bertujuan mengembangkan ekonomi tanpa menghilangkan mata pencaharian dan identitas masyarakat pesisir.

Karena itu, jika proyek SWL berjalan, yang terancam bukan hanya ruang fisik. Ada sesuatu yang jauh lebih sulit diukur secara materiil, yaitu budaya, ingatan kolektif, serta cara masyarakat pesisir Sukolilo, Kenjeran memaknai ruang hidup dan membentuk identitas mereka selama bertahun-tahun.

Kawasan pesisir Surabaya, khususnya Sukolilo, Kenjeran, memiliki khazanah bahasa khas yang lahir dari kehidupan masyarakat yang erat dengan laut. Kosakata seperti bitatos (udang mantis), blonyo (teripang), kepideng (yuyu), garit (alat tangkap teripang), hingga kur-kuran (kerang darah) menunjukkan adanya istilah spesifik yang tidak lazim ditemukan di masyarakat agraris maupun perkotaan. Begitu pula dalam aktivitas dan kuliner, terdapat istilah seperti candon atau andar (mengobrol), jerebeng (menjemur ikan), karang (mencari karang), callon (sate lilit), dan keloan (masakan berkuah kuning).

BACA JUGA : Proyek SWL dan Ancaman Krisis Gizi

Ragam tutur ini bukan sekadar varian bahasa Suroboyoan atau Madura, melainkan dialek khas yang terbentuk dari interaksi panjang masyarakat dengan lingkungan pesisir. Namun, keberadaannya terancam jika proyek SWL mengubah ruang hidup masyarakat. Hilangnya wilayah seperti gacaran (tanah reklamasi), tempat jerebeng atau mencari karang, juga dapat memutus aktivitas yang menjadi sumber lahir dan bertahannya kosakata tersebut. Karena itu, ancaman terhadap pesisir bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga berpotensi menghapus warisan bahasa dan identitas budaya masyarakat pesisir yang diwariskan antargenerasi.

 

📖 Daftar Kata Kamus Bahasa Sukolilo

Kumpulan kosakata lokal Bahasa Sukolilo beserta maknanya

Menampilkan 88 kata Kamus Sukolilo
 
Kata atau arti yang Anda cari tidak ditemukan.

 

Biota Laut yang Mulai Menghilang

Jida memahami perubahan itu dari pengalaman hidupnya sendiri. Ia seorang anak nelayan. Ayahnya hampir setiap waktu melaut, sementara ibunya mengolah terung dan teripang di rumah. Pekerjaan itu terkadang baru selesai siang hari, bahkan hingga sore, terutama ketika musim melaut tiba.

Di luar rutinitas tersebut, Jida aktif dalam kelompok pemuda-pemudi pesisir, Pojok Literasi Pesisir. Ini adalah ruang atau fasilitas baca sederhana yang didirikan di berbagai titik, seperti di kawasan pesisir pantai, sekolah, atau lingkungan masyarakat, untuk meningkatkan minat baca dan menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak.

Kita harus menyuarakan lewat acara-acara seperti Literasea Fest 2026. Lalu, menyuarakannya lewat dokumentasi digital. Sebab, dari pemerintah itu sendiri seperti tutup mata dengan apa yang terjadi (terhadap para nelayan di sini),” ujarnya.

Ya, Literasea Fest 2026 adalah kegiatan edukasi dan ekspresi masyarakat pesisir Sukolilo, Kenjeran, yang diadakan pada 21 Juni 2026 lalu. Kegiatannya mencakup aksi bersih pantai, pernyataan menolak reklamasi SWL, panggung seni, serta pameran budaya. Acara ini bertujuan mengadvokasi isu lingkungan sekaligus menjadi ruang aspirasi nelayan dalam menjaga kedaulatan wilayah pesisir mereka.

Keresahan Jida tidak hanya berkaitan dengan ancaman terhadap ruang hidup. Kehidupan keluarganya sendiri sangat bergantung pada hasil laut yang tidak pernah benar-benar menentu. “Dulu pernah, satu hari bisa dapat Rp1 juta. Tapi kalau hari biasa, dan bukan musimnya, hasil tangkapan bisa jatuh ke angka Rp50.000 saja,” ujarnya.

Angka itu menggambarkan betapa rentannya kehidupan keluarga nelayan terhadap perubahan musim dan kondisi laut. Bagi Jida, situasinya terasa semakin berat karena perubahan lingkungan yang dalam beberapa tahun terakhir kian dirasakan warga pesisir Surabaya.

Perubahan itu bahkan terlihat dari jenis biota laut yang semakin sulit ditemukan. Jida menyebut satu per satu nama kerang yang dulu akrab di pesisir Sukolilo, Kenjeran, yaitu gelatik, lurjuk, dan kupang. Tiga jenis kerang yang, menurutnya, kini hilang sama sekali.

Lurjuk, yang dulu mudah ditemukan, kini semakin sulit dicari. Menurut Jida, kerang itu bahkan baru ramai muncul menjelang Lebaran, ketika harganya bisa mencapai sekitar Rp150.000 per kilogram.

“Ada pula kimo, siput laut yang berukuran sebesar genggaman tangan. Harganya bisa menembus Rp700.000 per kilogram, tetapi keberadaannya kini semakin langka. Lurjuk itu dimakannya bisa digodok dulu, terus dikeringin, terus jadi kayak kerupuk. Cemilan,” katanya.

Perahu nelayan berhias graffiti bersandar di pesisir Surabaya yang berlumpur. Pemandangan ini mencerminkan potensi hilangnya mata pencaharian dan budaya lokal masyarakat pesisir akibat proyek reklamasi Surabaya Waterfront Land. (Ihsanulhaq Fadhlurrohman/LPM MuseEdsa Umsura)

Perubahan bentang pesisir tersebut, bagi Jida, bukan sekadar persoalan lingkungan. Hilangnya pasir dan menumpuknya lumpur turut mengubah habitat berbagai biota laut yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Gelatik, lurjuk, dan kupang, yang dahulu mudah ditemukan, kini disebut semakin sulit dijumpai.

Hilangnya biota laut itu sekaligus menghilangkan sumber pangan dan penghasilan yang sebelumnya dekat dengan kehidupan warga pesisir. Lurjuk, misalnya, tidak hanya dicari untuk dijual, tetapi juga biasa diolah menjadi makanan sehari-hari.

Itu juga disadari Dini (30), pedagang di sekitar Pantai Kenjeran yang ikut menaiki perahu bersama kami untuk melihat-lihat lautan pesisir, merasakan perubahan itu melalui sesuatu yang sederhana, yakni kerang-kerang yang dulu mudah ditemukan di sepanjang pesisir.

BACA JUGA : Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (1)

“Waktu saya kecil, kerang-kerang masih banyak di sekitar sini. Sekarang, akibat adanya proyek, jadi makin sedikit,” ujarnya, pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Dulu, ketika air laut surut, warga akan melihat gundukan pasir yang mereka sebut karangan. Di tempat itulah mereka naik dan mencari kerang. Kini, gundukan pasir tersebut berubah menjadi lumpur. Bersamaan dengan hilangnya hamparan pasir di pesisir Sukolilo, Kenjeran, habitat yang menjadi tempat hidup ketiga jenis kerang itu ikut menghilang.

Proyek SWL memang mengancam keberlangsungan berbagai biota laut yang menjadi tumpuan hidup masyarakat pesisir Surabaya. Spesies yang juga berpotensi menghilang meliputi udang rebon, kupang, teripang, ubur-ubur (terung), cumi-cumi, serta berbagai jenis kerang dan ikan dukang.

Musnahnya biota ini dipicu kerusakan ekosistem pendukung utama seperti hutan mangrove dan terumbu karang yang selama ini berfungsi sebagai rumah, tempat berlindung, serta lokasi pemijahan alami bagi berbagai organisme laut. Ini mengakibatkan matinya plankton yang merupakan pakan alami bagi ikan, sehingga berdampak langsung pada kualitas budidaya ikan bandeng, udang windu, dan vaname.

Ketika Generasi Muda Enggan Melaut

Izza Mukmin (26), anak nelayan di Sukolilo, Kenjeran, menjelaskan perubahan yang dibawa proyek SWL tidak bisa dilihat semata-mata sebagai pembangunan fisik. Menurut dia, kehadiran proyek tersebut berpotensi mengubah tata ruang sekaligus budaya masyarakat pesisir Sukolilo, Kenjeran. Kekhawatiran itu terutama dirasakan generasi muda yang tumbuh di tengah perubahan kondisi pesisir.

Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, generasi muda akan kesulitan untuk hidup sebagai nelayan. Pertama, karena ekosistemnya sudah rusak. Kedua, adanya isu reklamasi yang jelas akan mengganggu nelayan muda ketika datang dan pergi melaut. Akhirnya, hidup mereka semakin tidak pasti,” katanya, pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Meski menghadapi perubahan lingkungan, warga Sukolilo, Kenjeran, tidak sepenuhnya tinggal diam. Mereka berupaya mengurangi persoalan sampah dengan mengolah limbah plastik yang menumpuk di sekitar pesisir secara bersama-sama. Sampah dipilah dan diolah kembali menjadi berbagai produk yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi Izza, pengolahan limbah menjadi salah satu cara untuk bertahan di tengah kondisi pesisir yang perlahan berubah. Namun, persoalan yang dihadapi keluarga nelayan tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Mereka juga harus berhadapan dengan pendapatan yang tidak menentu.

Dirinya menjelaskan, berbeda dengan pekerjaan yang memiliki penghasilan tetap setiap bulan, pendapatan nelayan sangat bergantung pada musim, kondisi laut, dan hasil tangkapan. Ketika hasil tangkapan berkurang, nelayan harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebenarnya, nelayan dari segi gaji itu nggak setiap hari dapat sama. ASN kan pasti, nelayan gak pasti. Jadi, kalau misalnya hari ini gak dapat, di bulan ini karena lagi bukan musimnya, mereka harus kerja dua kali. Maksudnya, mengambil (kerja) sampingan,” ujarnya.

Ketidakpastian pendapatan itu tidak hanya dirasakan nelayan yang bekerja sendiri. Dalam keluarga yang suami dan istrinya sama-sama menjadi nelayan, keduanya tetap harus mencari pekerjaan tambahan ketika hasil tangkapan sedang sedikit.

“Jadi, misalnya ada sepasang suami-istri, dua-duanya nelayan, ya mereka mau gak mau harus bekerja. Karena nelayan gak setiap hari tangkapannya banyak, kan?” katanya.

Bagi Izza, kondisi tersebut menunjukkan, menjadi nelayan bukan hanya berarti menghadapi risiko di laut. Mereka juga harus berhadapan dengan ketidakpastian ekonomi yang membuat keluarga nelayan terus mencari cara untuk bertahan hidup. Ketika lingkungan pesisir berubah, beban itu menjadi semakin berat karena perubahan ekologis turut memengaruhi aktivitas mereka sehari-hari.

Hal serupa dirasakan Jida. Menurut dia, kehidupan nelayan Sukolilo, Kenjeran, kini menjadi semakin berat karena mereka harus menghadapi beberapa persoalan sekaligus.

Mereka harus bertahan hidup, harus menghidupi mereka sendiri. Mereka juga harus melawan orang-orang besar dan menghadapi kerusakan ekologi lingkungan. Jadi, nelayan itu kerjanya berat, melawan orang-orang besar itu tambah berat lagi. Ditambah lingkungannya seperti ini. Jadi, beratnya itu semakin berat,” ujarnya.

Perubahan kondisi pesisir bahkan dirasakan langsung ketika nelayan hendak melaut. Menurut Jida, endapan lumpur membuat perahu tidak lagi bisa mendekati tepian seperti dulu. Nelayan kini harus melewati sungai dan menunggu lebih lama sebelum dapat melanjutkan perjalanan ke laut.

“Dulu misalnya bisa turun, bisa ke sini. Sekarang harus lewat sungai. Lumpur berpengaruh. Jadi, perahunya itu kayak gak bisa semakin dekat ke sini, harus nunggu lebih lama. Nah, sedangkan kalau nunggu lebih lama, ikannya kan kualitasnya jadi buruk,” katanya.

BACA JUGA : Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (1)

Waktu tunggu yang semakin panjang itu pada akhirnya tidak hanya mengubah cara nelayan melaut, tetapi juga dapat memengaruhi hasil tangkapan. Bagi Jida, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pekerjaan sebagai nelayan semakin berat dan tidak lagi mudah dibayangkan sebagai pekerjaan yang akan diteruskan generasi berikutnya.

Kekhawatiran itu bahkan ia rasakan sendiri. Meski tumbuh sebagai anak nelayan dan sejak kecil turut membantu orang tuanya, Jida tidak menutup kemungkinan untuk memilih pekerjaan lain apabila mendapat kesempatan yang dianggap lebih baik.

Papan Kamus Bahasa Sukolilo mendokumentasikan tradisi tutur pesisir Surabaya. Warisan bahasa unik ini terancam punah seiring bergulirnya proyek reklamasi Surabaya Waterfront Land (SWL). (Ihsanulhaq Fadhlurrohman/LPM MuseEdsa Umsura)

 

“Kalau ada pekerjaan yang lebih enak, kenapa gak coba diambil. Kan nelayan butuh tenaga lebih, terus intinya kayak susah gitulah,” katanya.

Bagi Gilang (24), generasi muda asal Sukolilo, Kenjeran, kini menganggap laut hanyalah latar belakang pemandangan dari kehidupannya, bukan lagi sumber utama penghasilannya. Meski tumbuh besar di tepi pantai, Gilang lebih memilih terjun ke dunia swasta dan perdagangan ketimbang meneruskan tradisi melaut.

"Dari kecil aku tidak dididik untuk itu (menjadi nelayan), jadi memang tidak ada kepikiran ke sana," ungkap Gilang, pada Minggu, 21 Juni 2026.

Ia mengamati, pemuda yang benar-benar terjun menjadi nelayan biasanya adalah mereka yang tidak menamatkan sekolah. Mereka umumnya bekerja membantu nelayan lainnya, mulai dari menyiapkan bahan bakar hingga mengangkut hasil tangkapan dari perahu ke daratan.

Pendidikan menjadi faktor pembeda bagi Gilang. Setelah lulus dari SMP, ia melanjutkan pendidikan ke SMK. Selepas sekolah, ia sempat mencicipi kerasnya industri Food and Beverage (FnB). Meski merasa pekerjaan di bidang tersebut cukup berat, pengalaman itu membentuk etos kerjanya di sektor swasta. Kini, ia memilih melanjutkan usaha peninggalan orang tuanya, yakni berjualan kacamata di kawasan Pantai Lama.

Transformasi profesi ini sebenarnya sudah dimulai sejak generasi orang tuanya. Dahulu, orang tua Gilang adalah nelayan, namun saat Gilang mulai bersekolah, mereka beralih menjadi pedagang kaki lima yang menjual berbagai barang, mulai dari sandal hingga makanan ringan.

Selain profesi, Gilang juga menyaksikan perubahan fisik lingkungannya yang drastis. Ia mengenang bagaimana dulu air laut berada tepat di balik tembok belakang rumahnya.

"Dulu rumahku itu benar-benar di belakangnya sudah laut. Tapi seiring tahun, rumah-rumah bertambah banyak. Orang-orang menutup (menguruk) laut dengan sampah supaya bisa dibangun rumah di atasnya," pungkasnya.

 

*Penulis merupakan jurnalis di LPM MuseEdsa, Universitas Muhammadiyah Surabaya


Artikel ini merupakan satu dari tiga karya liputan pemenang sayembara Karya Jurnalistik Pers Mahasiswa bertema Krisis Iklim yang diselenggarakan projectarek.id berkolaborasi dengan iklimkita.org dan PPMI DK Surabaya.