Skip to main content
Ilustrasi: Nano Banana 2
Arek Kampus
Rantai Trauma Kemiskinan Anak
Fenomena "manusia silver" cilik membuktikan betapa mitos "banyak anak banyak rezeki" sering kali menjebak keluarga dalam kemiskinan struktural. Tanpa perencanaan matang, keegoisan orang tua justru mewariskan trauma lintas generasi dan merampas hak dasar anak. Memutus rantai penderitaan ini adalah kewajiban moral demi melahirkan generasi yang lebih berdaya.

JUJUR terkadang dada saya terasa begitu berat setiap kali berhenti di perempatan lampu merah dan melihat rombongan balita berbalut cat silver meminta-minta di bawah terik matahari. Rasanya ada yang salah dengan struktur sosial kita saat anak-anak yang seharusnya asyik belajar malah dipaksa bertarung nyawa di jalanan berdebu.

Fenomena miris ini seolah jadi pemandangan lumrah yang sayangnya lebih sering kita abaikan begitu saja. Entah sejak kapan masyarakat kita begitu memuja pepatah usang yang menyebutkan kalau banyak anak itu otomatis berarti banyak rezeki. Padahal, kalau kita mau sedikit saja membuka mata dan melihat realita di lapangan, pepatah itu sering kali malah menjadi jebakan maut bagi keluarga ekonomi menengah ke bawah.

Imbasnya, anak-anak harus lahir dan langsung dihadapkan pada kerasnya jurang kemiskinan yang seolah tak ada ujungnya. Kita sering lupa bahwa membawa nyawa baru ke dunia ini adalah sebuah tanggung jawab moral yang luar biasa berat dan bukan sekadar ajang pamer kesuburan. Jurnal dari Pusat Studi Kependudukan sudah lama menyoroti bagaimana lonjakan angka kelahiran di kelompok rentan selalu berbanding lurus dengan tingginya angka putus sekolah.

Rasanya ironis sekali ketika keegoisan untuk memiliki keluarga besar justru mengorbankan masa depan darah daging sendiri. ​Banyak sekali orang tua di negara berkembang ini yang masih menganggap anak sebagai aset investasi masa tua yang bisa diperah tenaganya kapan saja.

Pola pikir beracun inilah yang pelan-pelan melahirkan apa yang kita kenal sebagai trauma lintas generasi atau generational trauma, anak-anak ini tidak pernah diminta persetujuannya untuk lahir namun sejak tarikan napas pertamanya mereka sudah dibebani hutang budi raksasa.

​Kalau kita membedah masalah ini dari sudut pandang panduan agama sebenarnya dalil yang ada justru sangat melarang kita menelantarkan hak anak, mari kita tengok sejenak pesan dalam surat QS An-Nisa ayat 9 yang secara tegas memperingatkan kita agar takut jika harus meninggalkan generasi penerus yang lemah di belakang kita.

BACA JUGA : Apa Orang Miskin Boleh Punya Anak?

Lemah di sini tentu saja bermakna sangat luas mencakup lemah ekonomi, lemah pendidikan, hingga lemah mental. Nah, sayangnya pesan luhur dari dalil tersebut sering kali tertimbun oleh dogma keliru yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat akar rumput kita yang kurang edukasi.

Rezeki itu memang sudah ada yang mengatur.Tapi Tuhan juga membekali kita dengan akal sehat untuk mengukur kapasitas finansial sebelum memutuskan punya belasan anak, sungguh sebuah keegoisan yang nyata ketika hak dasar anak seperti gizi seimbang harus terampas paksa.

​Mari kita lihat contoh kasus paling nyata yang terjadi belum lama ini tentang fenomena manusia silver cilik di berbagai sudut kota-kota besar nusantara, balita hingga usia sekolah dasar itu sengaja dilumuri cat kimia berbahaya oleh orang tuanya demi memancing belas kasihan para pengguna jalan, tubuh mungil mereka dipaksa menjadi mesin pencetak uang harian sementara sang orang tua hanya duduk mengawasi dari kejauhan.

​Kenyataan pahit seperti itu adalah bukti telak betapa hak asasi manusia paling dasar bagi seorang anak telah direnggut secara brutal oleh kemiskinan struktural, mereka tidak punya suara untuk menolak apalagi kekuatan untuk melawan represi dari orang tua yang seharusnya menjadi pelindung utama, di titik inilah lingkaran setan trauma itu mulai berputar kencang menghancurkan mental mereka dari dalam secara perlahan namun pasti.

Anak-anak yang tumbuh besar dalam kondisi penuh tekanan ekonomi dan minim apresiasi ini, kelak akan membawa luka batin yang menganga hingga mereka dewasa. Tanpa adanya intervensi psikologis mereka sangat rentan untuk mengulangi pola asuh kasar yang sama kepada anak-anak mereka kelak. Begitulah seterusnya, racun kemiskinan dan kebodohan ini diwariskan turun-temurun bagaikan sebuah kutukan keluarga yang seakan tidak ada penawarnya.

Situasi ini tentu semakin diperparah dengan kondisi ekonomi Indonesia belakangan ini yang rasanya semakin mencekik leher rakyat kecil tak berdaya. Harga kebutuhan bahan pokok terus meroket gila-gilaan, sementara upah pekerja serabutan seolah membeku tak pernah beranjak naik sedikit pun.

Keluarga-keluarga prasejahtera ini akhirnya makin terpojok dan jalan pintas paling gampang yang biasa mereka ambil adalah mengorbankan pendidikan anak-anaknya demi bertahan hidup.

Banyak sosiolog dan pakar psikologi keluarga seperti yang tertulis dalam Buku The Body Keeps The Score menjelaskan, betapa destruktifnya trauma kemiskinan bagi perkembangan otak. Anak yang selalu hidup dalam mode bertahan hidup karena kelaparan tidak akan pernah mampu menyerap pelajaran di sekolah dengan baik, sistem saraf mereka selalu dalam keadaan siaga tinggi yang membuat fungsi kognitif mereka perlahan menurun drastis.

​Lalu, ketika nilai rapor mereka hancur, orang tua yang kelelahan bekerja seharian ini sering kali melampiaskan rasa frustasinya dengan memberikan hukuman fisik atau makian. Anak itu akhirnya makin merasa dirinya tidak berharga dan menganggap, dunia ini adalah tempat yang sangat kejam serta tidak aman. Luka emosional yang terus menumpuk inilah yang nantinya akan meledak menjadi berbagai masalah patologis di masyarakat kita.

Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap fakta, anak-anak dari keluarga miskin dengan anggota keluarga yang membludak sangat rentan mengalami gagal tumbuh. Data resmi dari Kementerian Kesehatan berulang kali menyoroti bahaya stunting kronis yang mengancam generasi masa depan kita ini akibat kurangnya asupan protein.

Gizi yang buruk bukan cuma membuat tubuh mereka kerdil, tapi juga mematikan potensi kecerdasan yang sangat berharga. Memajukan hak asasi manusia (HAM) itu tidak selalu lewat orasi berapi-api di depan gedung parlemen. Kadang perjuangan HAM itu dimulai dengan berani menyuarakan kebenaran yang pahit di lingkungan terdekat kita soal pentingnya merencanakan keluarga.

​Membela mereka yang dimarjinalkan berarti kita bersedia menjadi suara lantang bagi anak-anak jalanan yang dipaksa bekerja memulung sampah di kawasan Bantar Gebang. Mereka sering kali tidak paham kalau apa yang menimpa mereka adalah sebuah bentuk eksploitasi karena mereka mengira begitulah memang cara dunia bekerja.

Sungguh sebuah tragedi kemanusiaan yang sunyi ketika kejahatan terhadap anak dinormalisasi dengan alasan demi menyambung hidup.

Program bantuan sosial memang sesekali turun, tapi itu sifatnya hanya seperti obat pereda nyeri sesaat yang tidak pernah benar-benar menyembuhkan akar penyakitnya. Kemiskinan ekstrem dan trauma generasi ini butuh intervensi struktural yang masif, mulai dari akses lapangan kerja yang manusiawi.

​Tapi, tentu saja kita tidak bisa hanya pasrah menunggu keajaiban dari tangan pemerintah yang sering kali kelewat lambat bergerak merespon krisis kemanusiaan. Kesadaran itu harus ditumbuhkan dari akar rumput lewat percakapan santai di pos ronda atau di pertemuan warga kampung kita sendiri. Kita harus pelan-pelan menggeser paradigma usang tersebut dengan empati bahwa memberikan kehidupan yang layak bagi dua anak itu jauh lebih mulia.

BACA JUGA : Bom Waktu Krisis Hunian Surabaya

​Rasanya memang agak menyebalkan kalau kita mencoba menasihati orang tua zaman dulu soal gizi atau kesehatan mental anak-anak mereka, biasanya kita bakal langsung diceramahi balik dengan kalimat klise seperti ‘dulu anak saya sepuluh juga pada hidup semua buktinya’.

Mereka gagal paham kalau sekadar bernapas, itu beda jauh dengan tumbuh kembang secara optimal tanpa membawa beban trauma kemiskinan masa lalu.

Padahal kalau kita merujuk pada pandangan para ahli seperti Dr Jiemi Ardian yang sering mengedukasi publik, ia sangat menekankan pentingnya kesiapan emosional orang tua. Punya anak itu ibarat menekan tombol komitmen seumur hidup yang tak bisa dibatalkan saat kita merasa lelah atau kehabisan uang. Mental yang belum matang ditambah himpitan ekonomi adalah resep paling sempurna untuk melahirkan trauma baru yang lebih kelam.

​Sebagai masyarakat yang mengklaim diri punya adab, kita sudah saatnya berhenti mewajarkan penderitaan anak dengan dalih kepasrahan pada takdir Tuhan. Takdir itu urusan Sang Pencipta, tapi memutus rantai kemiskinan dan merencanakan keluarga dengan matang adalah murni wilayah ikhtiar yang diwajibkan bagi manusia.

​Coba bayangkan saja seorang anak perempuan usia belasan yang terpaksa putus sekolah demi menjaga adik-adiknya yang berjumlah tujuh orang di rumah petak. Haknya untuk bermain dan merajut cita-cita dirampas paksa sementara teman sebayanya sedang sibuk mempersiapkan masa depan yang cerah. Ini adalah bentuk diskriminasi paling kejam yang ironisnya dilakukan oleh darah dagingnya sendiri bersembunyi di balik kata bakti.

Melawan diskriminasi semacam ini memang butuh napas panjang karena kita berhadapan langsung dengan benteng tradisi dan salah kaprah agama yang kadung mengakar. Setiap obrolan yang kita lempar ke ruang publik tentang isu ini adalah upaya kecil untuk mengikis karang kebodohan tersebut pelan-pelan. Kita berhutang pada masa depan anak-anak itu untuk terus berbicara membela hak mereka yang selama ini diinjak-injak oleh ego orang dewasa.

BACA JUGA : Ragam Saraf, Ragam Manusia

​Tidak ada hal yang lebih memilukan selain melihat sorot mata kosong dari anak-anak yang masa kecilnya terampas kejamnya tuntutan perut, luka batin akibat penelantaran emosional dan fisik ini akan terus membekas menjadi semacam tato tak kasat mata yang mempengaruhi cara mereka melihat dunia, hanya dengan memutus siklus kebodohan inilah kita bisa berharap rantai kutukan trauma generasi ini benar-benar bisa dihentikan.

​Desakan sosial yang sangat masif ini akhirnya membuat banyak pasangan muda menyerah dan mengikuti arus norma tanpa persiapan mental finansial yang memadai. Akibatnya, ketika badai resesi menerjang keluarga ini langsung hancur berkeping keping tak terselamatkan siapapun. Anak-anaklah yang pada akhirnya menjadi bantalan paling rapuh yang harus menanggung semua benturan keras dari kegagalan orang tua mereka merencanakan kehidupan.

Ada sebuah riset memilukan dari Smeru Research Institute yang pernah membedah, bagaimana kemiskinan bisa diwariskan layaknya sebuah genetika penyakit menular. Temuan mereka sangat menampar nurani kita karena memperlihatkan siklus di mana anak miskin berpotensi sangat besar akan melahirkan anak miskin lagi kelak, rantai penderitaan ini amat sulit diputus jika tidak ada akses pendidikan merata yang mampu mengangkat mereka dari kubangan ketidaktahuan.

​Rasanya dada ini makin ngilu kalau kita menghubungkan rentetan masalah ini dengan kondisi ekonomi makro kita sekarang yang sedang babak belur. Gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, membuat banyak kepala keluarga kelabakan mencari sepiring nasi untuk mengganjal perut belasan anaknya. Situasi yang serba kacau ini sering kali memicu kekerasan dalam rumah tangga yang korbannya selalu saja anak-anak kecil yang cuma bisa menangis.

Membicarakan hak asasi manusia itu esensinya adalah memanusiakan manusia sejak mereka masih berada di dalam kandungan hingga mereka bisa berdiri tegakMasa depan bangsa ini sangat bergantung pada keberanian kita hari ini untuk memutus lingkaran setan penderitaan itu demi melahirkan generasi baru yang waras.

 


*Penulis kelahiran Jepara, adalah penikmat sastra dan musik yang kini menempuh S1 Bahasa Inggris di Universitas Terbuka. Setelah tiga tahun berkarier sebagai Assistant Chief of Store Alfamart, ia kini menjalani peran baru sebagai pemandu wisata di SEKUKUSAN Desa Wisata Lerep, memadukan pengalaman profesional dengan minat belajarnya.