Skip to main content
Ilustrasi: Taufan Bahari/Project Arek
Arek Kampus
Ragam Saraf, Ragam Manusia
Acap kali dada terasa sesak melihat bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yang memiliki keberagaman saraf atau neurodivergent. Mereka kerap dianggap aneh hanya karena cara berpikir dan merasakan dunia berbeda dari kebanyakan orang.

BELAKANGAN ini saya sering merenung tentang nasib teman-teman neurodivergent yang nyaris setiap hari harus menelan pil pahit diskriminasi di negeri sendiri. Padahal mereka memiliki cara kerja otak yang tidak sama—entah itu autisme, ADHD, hingga disleksia yang sama sekali bukan penyakit menular dan tidak untuk dijauhi—dengan orang kebanyakan.

Namun, stigma ini masih sangat kental dan diperparah oleh minimnya literasi tentang keragaman saraf di tengah masyarakat kita yang cenderung homogen secara pemikiran.

Perlu diketahui, neurodivergent adalah istilah untuk orang yang cara kerja atau perkembangan otaknya berbeda dari kebanyakan orang. Istilah ini bukan diagnosis medis, melainkan cara memahami bahwa perbedaan neurologis adalah bagian dari keragaman manusia.

BACA JUGA : Lumbung Padi Jadi Lumbung Dolar

Ya, realita di lapangan justru sering kali menunjukkan wajah yang cukup bopeng bagi para pemilik otak yang bekerja dengan irama berbeda ini. Di negara kita membicarakan isu kesehatan mental atau kondisi neurologis rasanya masih sama tabunya dengan membicarakan aib keluarga yang harus dikubur dalam-dalam.

Ada semacam tembok tak kasat mata yang sengaja dibangun oleh konstruksi sosial kita selama berpuluh-puluh tahun lamanya, tembok arogan inilah yang akhirnya terus memarjinalkan mereka yang kebetulan memiliki sistem saraf yang bekerja dengan cara unik, hal ini diperparah dengan pandangan bahwa kondisi ini adalah bentuk kegagalan produk manusia.

Hal yang paling membuat nurani ini terasa ngilu adalah ketika melihat bagaimana generasi yang lebih tua merespon kondisi neurodivergent ini dengan kacamata prasangka yang sangat sempit, sering kali kita mendengar celetukan tajam yang menyakitkan hati dari para tetangga atau bahkan kerabat sendiri.

Mereka dengan entengnya melabeli anak-anak atau individu neurodivergent ini sebagai orang yang kurang iman atau sekadar mencari perhatian belaka, padahal ucapan asal njeplak semacam itu bisa menghancurkan mental seseorang hingga berkeping-keping, pandangan kolot ini seolah mengabaikan fakta biologis yang sudah terbukti secara saintifik.

Kita bisa mengambil contoh nyata dari kasus yang sempat viral mengenai penolakan siswa autis di sekolah umum yang masih sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Meskipun undang-undang sudah menjamin pendidikan inklusif, namun praktiknya banyak sekolah yang berdalih tidak memiliki guru pendamping khusus atau takut mengganggu kenyamanan siswa lain.

Penolakan secara halus maupun kasar ini adalah bentuk nyata dari diskriminasi struktural yang membunuh masa depan anak-anak bangsa, hal ini selaras dengan temuan dalam Jurnal dari Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menyoroti betapa kuatnya stigma terhadap disabilitas intelektual dan perkembangan di lingkungan pendidikan.

Generasi pendahulu kita sepertinya memang punya kecenderungan yang lumayan kaku untuk meremehkan segala sesuatu yang tidak bisa mereka pahami secara instan, kalau ada anak muda yang kesulitan fokus atau punya cara komunikasi yang eksentrik biasanya mereka langsung dicaci maki dan dituduh sebagai generasi manja yang kurang tempaan hidup.

Padahal kalau kita mau meluangkan waktu sejenak saja untuk membuka literatur medis yang valid, kondisinya sama sekali tidak sesederhana itu. Ini murni soal variasi genetik alami manusia yang seharusnya dirangkul, bukan malah dimusuhi atau dianggap sebagai beban sosial yang memalukan.

Pakar pendidikan seperti Dr Adriana Ginanjar telah lama menyuarakan, masyarakat kita sering kali terjebak dalam mitos bahwa neurodivergent tidak bisa mandiri. Persepsi ini sangat menyesatkan karena banyak sekali individu neurodivergent yang justru memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata jika diberikan lingkungan yang tepat.

BACA JUGA : Hegemoni Pasar Industri Menutup Prodi

Namun, di Indonesia mereka justru sering dipaksa untuk sembuh atau menjadi normal melalui berbagai terapi yang kadang tidak manusiawi, seolah-olah keunikan cara berpikir mereka adalah sebuah kesalahan sistem yang harus segera diperbaiki agar sesuai dengan standar industri.

Berbagai laporan dari lembaga hak asasi manusia dan yayasan peduli kesehatan mental di Indonesia sebenarnya sudah sering kali membunyikan alarm peringatan yang sangat keras. Catatan dari akademisi atau organisasi pembela hak asasi manusia menyoroti rentannya kelompok neurodivergent ini terhadap perundungan dan diskriminasi/eksklusi sosial yang bersifat sistemik.

Bukti-bukti di lapangan secara gamblang menunjukkan betapa susahnya mereka mendapatkan akses pendidikan inklusif atau kesempatan kerja yang setara, sistem kita ini seolah dirancang rapi untuk menyingkirkan mereka secara perlahan dari panggung partisipasi publik yang seharusnya terbuka bagi siapa saja.

Mari kita sedikit bergeser membicarakan aspek paling mendasar yang entah kenapa sering dilupakan oleh masyarakat kita yang kadang sok suci ini. Ya, teman-teman neurodivergent itu adalah manusia seutuhnya yang memiliki hati dan perasaan yang sama persis dengan kita semua.

Mereka juga bisa merasa hancur lebur ketika ditatap dengan pandangan aneh di tempat umum atau saat kemampuan mereka diremehkan secara brutal di lingkungan kerja. Rasa sakit akibat penolakan sosial itu nyata dan sangat menguras energi emosional mereka setiap harinya, kita harus sadar bahwa setiap kata hinaan adalah luka yang membekas dalam.

Padahal kalau kita mau jujur dan melepaskan kacamata kuda prasangka itu, ada begitu banyak potensi luar biasa yang tersembunyi rapat di balik kondisi neurodivergent. Banyak dari mereka yang justru dianugerahi kemampuan spesifik tingkat tinggi yang bahkan sangat sulit untuk dikuasai oleh orang-orang neurotypical pada umumnya.

Sebut saja kemampuan hyperfocus yang membuat mereka sanggup membedah detail rumit sebuah masalah hingga tuntas tanpa merasa lelah, atau daya imajinasi spasial yang sering kali melahirkan terobosan teknologi yang mencengangkan dunia. Kelebihan ini sering kali disebut sebagai neurodiversity advantage.

Bayangkan betapa ruginya peradaban kita, jika terus-menerus mematikan potensi raksasa ini hanya karena kita terlalu malas untuk belajar memahami sebuah perbedaan. Sejarah dunia sebenarnya sudah berulang kali membuktikan bahwa pemikiran-pemikiran brilian yang mengubah zaman sering kali lahir dari otak yang bekerja dengan cara tidak biasa.

Namun, sayangnya di Indonesia kita masih lebih sibuk mendikte mereka agar mau berbaur dan bersikap senormal mungkin demi memuaskan ekspektasi sosial. Dan, kita sering kali lupa bahwa kemajuan lahir dari keberanian untuk berpikir di luar kotak konvensional.

BACA JUGA : Pabrik itu Bernama Sekolah

Ironi terbesarnya, kita sering kali koar-koar soal pentingnya menjaga kerukunan dan menghargai nilai-nilai luhur ketimuran di setiap pidato resmi kenegaraan, tapi begitu dihadapkan pada tetangga yang anaknya hiperaktif atau rekan kerja yang sulit menatap mata saat berbicara, mendadak semua toleransi itu menguap begitu saja.

Kita rupanya masih terjebak pada mentalitas usang yang menganggap keseragaman sebagai satu-satunya jalan menuju harmoni sosial yang semu, padahal harmoni sejati itu justru lahir dari kelapangan dada merayakan keberagaman yang ada di sekitar kita tanpa syarat apapun.

Sudut pandang hak asasi manusia seharusnya selalu menjadi pijakan utama kita dalam menyikapi fenomena sosial yang sudah mengakar kuat ini. Mendapatkan perlakuan yang adil serta ruang hidup yang aman dari diskriminasi itu bukanlah sebuah keistimewaan yang harus mengemis dulu untuk didapatkan.

Itu adalah hak paling dasar yang melekat pada setiap individu sejak tarikan napas pertamanya di dunia ini tanpa terkecuali. Merampas hak tersebut melalui stigma negatif atau pengucilan adalah bentuk pelanggaran kemanusiaan yang sangat kejam dan tidak bisa dibenarkan oleh alasan apapun.

Saya sering berpikir keras dari mana sebenarnya kita harus memulai langkah perbaikan untuk membongkar stigma yang sudah terlanjur mengeras menjadi karang abadi ini. Rasanya perubahan besar itu tidak akan pernah terwujud kalau kita hanya terus mengandalkan program penyuluhan dari instansi pemerintah yang seringnya cuma sebatas formalitas. Revolusi empati yang sesungguhnya ini harus segera dimulai dari ruang lingkup terkecil, yaitu di dalam ruang keluarga kita sendiri, di meja makan tempat kita bercengkrama dan mendidik generasi penerus agar memiliki hati yang jauh lebih terbuka.

Edukasi sejak dini tentang fakta bahwa tidak semua otak manusia diprogram dengan bahasa pemrograman yang sama adalah kunci yang paling krusial saat ini. Kita harus mulai berani membiasakan anak-anak kita untuk berinteraksi dengan teman-temannya yang neurodivergent tanpa menanamkan rasa kasihan yang sifatnya merendahkan.

Yang mereka butuhkan sama sekali bukanlah belas kasihan artifisial, melainkan penerimaan utuh dan kesempatan yang sama untuk bersinar. Rasa hormat yang sejajar itulah fondasi kemanusiaan utamanya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam sanubari.

Langkah selanjutnya tentu saja memberanikan diri menantang narasi-narasi keliru yang masih sering dilontarkan secara bebas oleh generasi tua di lingkungan sekitar kita. Memang butuh kesabaran ekstra tebal untuk menjelaskan konsep kesehatan mental kepada mereka yang tumbuh di era di mana depresi saja masih dianggap sebagai penyakit kurang ibadah. Namun, kita tidak boleh menyerah untuk terus menyuarakan kebenaran medis dan fakta kemanusiaan ini dengan bahasa yang santun namun tetap tegas, demi masa depan teman-teman kita yang sering kali dibungkam secara paksa.

Jangan pernah biarkan lelucon-lelucon murahan yang menjadikan autisme atau kondisi mental lainnya sebagai bahan tertawaan itu lewat begitu saja di tongkrongan malam kita. Menegur teman yang menggunakan istilah-istilah medis neurologis sebagai bahan ejekan adalah langkah paling nyata untuk memutus rantai normalisasi diskriminasi ini. Perubahan kultur masyarakat memang selalu membutuhkan keberanian untuk tampil beda dan menjadi pihak yang sedikit menyebalkan demi membela mereka yang suaranya selalu dibungkam oleh mayoritas.

Keberanian individu adalah modal awal untuk perubahan kolektif. Ketersediaan ruang publik yang ramah sensorik dan inklusif juga masih menjadi pekerjaan rumah raksasa yang menanti untuk segera digarap amat serius oleh negara. Kita sangat membutuhkan lebih banyak lingkungan sekolah atau tempat kerja yang paham betul bagaimana mengakomodasi kebutuhan khusus individu neurodivergent tanpa membuat mereka merasa menjadi beban.

Fleksibilitas kebijakan semacam ini nyatanya tidak akan merugikan siapapun, justru akan menciptakan iklim kerja yang jauh lebih dinamis. Hal ini juga didorong oleh kampanye masyarakat neurodivergent Indonesia yang aktif mengedukasi publik.

Sudah saatnya kita membuang jauh-jauh ilusi tentang kesempurnaan manusia yang selalu melulu diukur dengan standar konvensional yang kaku dan membosankan itu, keberagaman neuro kognitif pada dasarnya adalah anugerah evolusi yang membuat spesies kita mampu bertahan melintasi berbagai zaman dengan segala tantangannya yang luar biasa rumit.

Menolak kehadiran teman-teman neurodivergent secara sistematis sama saja dengan mengamputasi salah satu potensi terbaik dari kemanusiaan kita sendiri. Kita harus belajar bahwa perbedaan adalah bahan bakar inovasi paling murni yang kita miliki.

Fakta lapangan dari berbagai riset psikologi kontemporer seperti yang dibahas dalam buku NeuroTribes karya Steve Silberman semakin mempertegas bahwa lingkungan yang suportif adalah faktor penentu utama bagi kesejahteraan mental. Ketika mereka berada di tempat yang mau mendengarkan dan sungguh menghargai batasan-batasan mereka maka potensi luar biasa itu akan meledak menjadi karya nyata. Ini bukan sekadar teori kosong penyemangat hidup, tapi sudah dibuktikan oleh banyak komunitas inklusif yang mulai perlahan tumbuh dan bernapas di kota-kota besar di Indonesia.

BACA JUGA : Babak Belur Sarjana Seni Dihantam Realitas

Sayangnya, arus utama masyarakat kita nampaknya masih lebih suka memelihara ketidaktahuan, karena memang rasanya jauh lebih nyaman dan tidak menuntut banyak perubahan sikap mental. Kita sering kali sengaja menutup telinga rapat-rapat saat ada yang mencoba menjelaskan bahwa tantrum pada “anak spektrum autis” itu berbeda jauh dengan rengekan anak nakal biasa. Keengganan egois untuk mencerna informasi baru inilah yang menjadi akar subur bagi tumbuhnya pohon diskriminasi yang buahnya sangat beracun, ketidaktahuan yang dipelihara adalah benih dari ketidakadilan yang sistemik.

Menyuarakan hak-hak mereka yang dimarjinalkan bukanlah sekadar tren sosial kekinian agar kita terlihat peduli dan keren di mata orang lain melalui layar media sosial. Ini adalah murni panggilan nurani yang sangat mendesak untuk memastikan bahwa tidak ada satupun anak bangsa yang harus merasa benci pada dirinya sendiri hanya karena otaknya bekerja unik.

Setiap tetes air mata frustasi yang jatuh membentur bumi karena penolakan sosial adalah hutang moral yang sangat besar bagi kita semua. Kita berhutang pada masa depan yang lebih inklusif dan ramah.

Proses untuk menyembuhkan luka sosial yang bernanah ini pastinya akan memakan waktu yang tidak sebentar karena kita sedang melawan sistem kepercayaan usang yang mendarah daging. Tapi, bukan berarti kita boleh diam pasrah dan menyerah pada keadaan struktural yang sangat tidak adil ini.

Setiap percakapan kecil yang kita buka dengan berani tentang pentingnya kesadaran neurodivergent adalah sebuah pukulan telak bagi stigma. Kita harus terus konsisten menyuarakan kebenaran ini meskipun suara kita sering kali bergetar karena menahan amarah yang mendalam terhadap ketidakadilan. Peran media massa juga nyatanya sangat krusial dalam membentuk opini publik yang lebih sehat dan tidak bias terhadap isu-isu kesehatan mental di tanah air kita saat ini.

Kita sangat butuh lebih banyak representasi neurodivergent yang jujur dan manusiawi di layar kaca maupun ruang publik kita. Bukan lagi sekadar memunculkan karakter karikatur yang hanya dieksploitasi keanehannya demi memancing tawa murahan penonton. Narasi yang berempati tinggi pasti akan membuka mata jutaan orang bahwa perbedaan itu sesungguhnya adalah sebuah kekuatan besar yang harus dirayakan.

Memahami kompleksitas isu-isu ini pada akhirnya menuntut kita untuk menelan ego dalam-dalam dan mengakui bahwa cara kita melihat dunia bukanlah satu-satunya kebenaran mutlak. Saat kita mulai mengizinkan diri kita untuk melihat peliknya realita dari kacamata mereka yang memiliki pikiran bercabang dan perasaan yang berlapis-lapis kita akan menemukan makna baru. Di titik refleksi itulah kemanusiaan kita benar-benar diuji dan ditempa menjadi sesuatu yang jauh lebih bernilai, kemanusiaan yang tidak mengenal batas label dan diagnosa medis semata.

Sebagai renungan penutup dari segala keluh-kesah panjang ini, mari kita tanamkan dalam hati sanubari bahwa menjadi neurodivergent bukanlah sebuah tragedi hidup yang harus diratapi.

Tragedi yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat yang mengaku modern dan beragama masih saja gemar menyiksa mental sesamanya hanya karena gagal memahami indahnya keberagaman kognitif. Mari kita ciptakan ruang yang benar-benar aman bagi semua karena setiap manusia berhak untuk diterima seutuhnya tanpa harus kelelahan bersandiwara menjadi orang lain, demi Indonesia yang lebih manusiawi dan adil bagi semua jiwa yang unik.

 


*Penulis kelahiran Jepara, adalah penikmat sastra dan musik yang kini menempuh S1 Bahasa Inggris di Universitas Terbuka. Setelah tiga tahun berkarier sebagai Assistant Chief of Store Alfamart, ia kini menjalani peran baru sebagai pemandu wisata di SEKUKUSAN Desa Wisata Lerep, memadukan pengalaman profesional dengan minat belajarnya.