Skip to main content
Perjalanan Menuju Makna yang Tak Terbatas
#MOCOREK| Mencari Nama Tuhan yang Keseratus
Sejak berabad-abad lamanya, manusia berusaha mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui nama-nama dan sifat-sifat yang telah diwahyukan serta diwariskan dari generasi ke generasi. Di tengah keyakinan yang telah mengakar kuat itu, terselip satu pertanyaan yang terus mengusik sanubari: apakah masih ada satu nama lagi yang tersembunyi, yang melampaui segala pengetahuan dan pemahaman yang telah kita miliki?

INILAH GAGASAN mendasar yang diangkat Amin Maalouf dalam novelnya yang mendalam ini. Karya ini bukan sekadar kisah perjalanan fisik yang melintasi samudra dan benua, melainkan penelusuran panjang tentang makna iman, arti toleransi, serta pengakuan akan keterbatasan akal manusia dalam memahami keagungan Sang Pencipta.

Cerita berlangsung pertengahan abad ke-17, tepatnya menjelang tahun 1666. Pada masa itu, suasana di berbagai penjuru dunia diliputi rasa gelisah dan takut yang luar biasa. Banyak kelompok masyarakat meyakini, angka tahun tersebut adalah lambang kedatangan malapetaka besar, bahkan menjadi tanda kiamat yang telah diprediksi dalam berbagai kitab dan kepercayaan kuno.

Di tengah kekhawatiran yang meluas itu, terdapat sebuah kota pelabuhan kecil bernama Gibelet, yang terletak di pesisir Laut Tengah. Di sanalah hidup Baldassare Embriaco, seorang saudagar buku dan naskah-naskah kuno yang langka. Sebagai keturunan bangsa Genoa yang telah lama menetap di wilayah itu, ia terbiasa hidup berdampingan dengan tetangga dari latar belakang agama dan budaya yang beragam—ada yang menganut agama Kristen, Islam, maupun Yahudi.

BACA JUGA : #MOCOREK| Alhambra: Sepotong Surga di Bumi

Kehidupannya berjalan tenang dan damai, tanpa pertentangan berarti, hingga sebuah peristiwa mengubah seluruh arah perjalanannya. Saat itulah, sebuah naskah tua yang sangat langka masuk ke dalam tokonya. Naskah itu diberi judul Nama yang Keseratus, dan kabarnya memuat satu sebutan rahasia Tuhan yang belum pernah diketahui oleh manusia mana pun.

Berbagai cerita beredar menyebutkan, siapa pun yang mengetahui nama tersebut akan memperoleh perlindungan abadi, kedamaian batin yang tiada tara, serta keselamatan dari segala bencana yang mengancam dunia. Tanpa menyadari sepenuhnya makna dan dampak dari benda yang dipegangnya, Baldassare tergoda iming-iming keuntungan dan akhirnya menjual naskah itu kepada seorang pembeli asing yang datang dari jauh.

Namun, segera setelah transaksi selesai, hatinya diliputi rasa sesal yang mendalam dan tak tertahankan. Ia merasa telah melepaskan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar barang dagangan biasa. Maka dimulailah perjalanan panjang dan penuh tantangan: ia melintasi kota-kota besar seperti Konstantinopel, Smyrna, Genoa, hingga sampai ke kota London, semata-mata demi mengejar kembali naskah yang telah berpindah tangan.

Sepanjang perjalanan itu, Baldassare tidak hanya menghadapi rintangan jarak, cuaca yang tak menentu, serta bahaya yang mengintai di jalanan. Ia justru mendapatkan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga melalui pertemuannya dengan berbagai jenis manusia.

Ada ulama yang teguh memegang tafsirnya sendiri dan merasa hanya dirinya yang memiliki kebenaran; ada pendeta yang diliputi keraguan mendalam terhadap ajaran yang selama ini diajarkan; ada pedagang yang mengukur segala sesuatu hanya dari sisi keuntungan materi; hingga rakyat biasa yang tetap tersenyum dan bersyukur meski hidup dalam keterbatasan dan penderitaan.

BACA JUGA : Mengenang Marga Oei yang ‘Murtad’

Dari setiap percakapan dan pengalaman itu, tumbuhlah pertanyaan-pertanyaan yang semakin tajam: mengapa ajaran yang sama bisa ditafsirkan sedemikian rupa hingga melahirkan perselisihan dan permusuhan? Mengapa manusia sering merasa memiliki hak mutlak atas kebenaran, sementara orang lain dianggap sesat hanya karena berbeda cara pandang?

Di sinilah letak keunikan sekaligus hal yang mengundang perdebatan dalam karya ini. Amin Maalouf menuliskan pemikiran yang cukup berani dan mendalam:

“Mencari nama yang keseratus bukanlah usaha untuk menemukan kata baru yang belum pernah didengar oleh telinga manusia. Ia adalah upaya untuk menyadari bahwa segala nama dan sifat yang kita kenal hanyalah gambaran kecil, sebatas cahaya yang dipantulkan, dari kebesaran yang tak terhingga luasnya. Membatasi Tuhan hanya pada satu sebutan, satu tafsir, atau satu cara pandang tertentu, sama saja dengan mengecilkan keagungan-Nya yang sesungguhnya.”

Bagi sebagian kalangan, pandangan ini dianggap terlalu luas dan membingungkan. Mereka khawatir gagasan semacam ini dapat mengaburkan batas keyakinan yang sudah mapan, serta memicu keraguan di hati orang-orang yang telah memegang ajaran tertentu secara turun-temurun.

Namun, di sisi lain, banyak pembaca dan pengamat melihatnya sebagai ajakan menuju kedewasaan beragama yang sesungguhnya. Penulis tidak mengajak pembaca untuk meninggalkan keimanan yang dianut, melainkan mengingatkan bahwa kebenaran Ilahi terlalu luas, terlalu dalam, dan terlalu sempurna untuk dimiliki sepenuhnya oleh satu kelompok atau satu aliran pemikiran saja.

Gaya bahasa yang digunakan Amin Maalouf mengalir lembut namun sarat makna, memadukan latar sejarah yang akurat dengan pergulatan batin yang terasa sangat nyata. Pembaca diajak merasakan langsung hiruk-pikuk pasar kota kuno, kekakuan kehidupan di istana, hingga kepedihan akibat wabah penyakit dan perselisihan politik yang melanda zaman itu.

Semua unsur itu bukan sekadar hiasan cerita, melainkan menjadi cerminan dari perjalanan jiwa Baldassare sendiri yang terus bertanya dan mencari jawaban. Pada akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Baldassare menyadari bahwa tujuannya bukanlah sekadar mendapatkan kembali lembaran kertas tua yang sudah menjadi obsesinya.

BACA JUGA : #MOCOREK| Timur dari Masa Lalu

Ia justru menemukan makna yang jauh lebih berharga: bahwa “nama yang keseratus” itu bukanlah sesuatu yang tersembunyi di balik naskah atau harus dicari di tempat-tempat yang jauh dan asing. Ia terwujud dalam cara pandang yang luas, hati yang lapang, serta sikap saling menghormati dan mengasihi sesama makhluk tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Secara keseluruhan, Mencari Nama Tuhan yang Keseratus adalah karya yang mengajak kita melangkah keluar dari ruang sempit pemikiran sendiri. Ia mengingatkan bahwa iman yang sejati bukanlah iman yang bebas dari pertanyaan, melainkan iman yang mampu tumbuh semakin kuat ketika kita menyadari keterbatasan akal manusia di hadapan kebesaran Sang Pencipta.

Bagi siapa saja yang ingin merenungkan makna keagamaan yang mendalam dan arti hidup berdampingan dalam keberagaman, buku ini menjadi bacaan yang menyentuh hati serta meninggalkan kesan yang tak mudah dilupakan.

 

Spesifikasi Buku

- Judul Asli: Le Périple de Baldassare

- Judul Terjemahan: Mencari Nama Tuhan yang Keseratus

- Penulis: Amin Maalouf

- Penerbit Indonesia: Serambi Ilmu (2006), Diva Press (2021)

- Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin

- Jumlah Halaman: 484 halaman

 


Khairul A. El Maliky, Novelis, cerpenis, dan esais. Bukunya yang telah terbit antara lain berjudul, Akad, Kalam Kalam Cinta, Pintu Tauhid, Sweet Girl, Semesta Cinta Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Cahaya Lentera Cinta, Beda Tapi Cinta, Mahar Cinta untuk Afifah, Kulabuhkan Cintaku di Hatimu, Rasulullah & Pendidikan Hati Anak, dll yang tersedia di toko buku Gramedia, NBS Book Store Malang, dan Imajinasiku Books. Selain menulis, penulis juga aktif sebagai guru Sastra Inggris di salah satu Madrasah Aliyah di Probolinggo.