PERNYATAAN ini tidak sekadar berfungsi sebagai pengantar, melainkan sebagai penanda posisi eksistensial subjek lirik, di mana sebuah titik ambang di mana masa lalu tidak sepenuhnya dapat diakses, sementara masa kini terus bergerak menjauh.
Dalam kerangka tersebut, keseluruhan buku puisi yang terbit di Langgam Pustaka ini seperti bisa dibaca sebagai upaya artikulasi atas pengalaman yang telah terfragmentasi atau terbagi-bagi. Bahasa tidak lagi merepresentasikan keutuhan melainkan memperlihatkan kondisi retaknya.
Dalam kerangka itu, kemunculan diksi Timur menjadi sangat signifikan. Hampir seluruh puisi dalam buku ini mengulang kata tersebut, seolah-olah ia adalah pusat gravitasi dari seluruh pengalaman puitik yang dihadirkan.
Yang menarik, ada empat puisi yaitu nomor tiga belas, dua puluh, tiga puluh dua, dan tiga puluh tujuh yang justru tidak menyebut Timur sama sekali. Ketidakhadiran ini bukan sekadar variasi stilistika1, melainkan sebuah strategi estetik yang mengandung makna lebih dalam.
Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul, siapa atau apa Timur itu? Apakah ia seorang figur yang mungkin pernah hadir dalam kehidupan penyair? Ataukah ia sebuah ruang geografis, kampung halaman, atau asal-usul kultural? Bisa juga ia adalah bilangan simbolik, penanda arah, atau bahkan metafora bagi sesuatu yang lebih abstrak seperti masa lalu itu sendiri.
BACA JUGA : #SASTRA| Sisi Melankolis Si Anarkis
Jika kita membaca keseluruhan puisi sebagai satu kesatuan, Timur tampaknya menolak untuk dipakukan pada satu makna tunggal. Ia bergerak cair seperti bergeser dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain. Dalam beberapa fragmen, ia terasa seperti sosok yang intim, dekat, seolah bisa disentuh.
Dalam fragmen lain, ia menjelma menjadi ruang yang jauh, samar, dan tidak lagi bisa dijangkau. Di titik tertentu, ia bahkan terasa seperti konsep yang sepenuhnya abstrak, sebuah arah yang tidak lagi menunjuk ke tempat mana pun selain ke dalam ingatan yang retak.
Fragmen-fragmen yang ada dalam puisi awal, muncul dengan citraan seperti /porak-poranda/, /keping-keping/, /baluwarti/, dan /fana/ menguatkan kesan bahwa yang sedang dihadapi bukanlah sesuatu yang utuh. Bahasa tidak lagi menjadi alat representasi yang stabil, melainkan ruang di mana kerusakan itu justru dipertontonkan.
Lewat satu puisi itu, seperti mengarahkan bahwa puisi-puisi yang terdapat dalam buku ini berusaha menyusun kembali kepingan-kepingan tersebut menjadi narasi yang rapi. Sebaliknya, ia mempertahankan fragmentasi itu sebagai bentuk paling jujur dari pengalaman mengingat.
Di sinilah absennya Timur dalam empat puisi menjadi sangat penting. Ketika hampir seluruh buku dipenuhi oleh pengulangan kata tersebut, ketidakhadirannya justru terasa lebih nyaring. Ia seperti lubang dalam ingatan sesuatu yang tidak bisa diisi, tidak bisa disebut, bahkan tidak bisa didekati melalui bahasa. Jika kehadiran Timur menandai upaya untuk mengingat, maka ketidakhadirannya menandai kegagalan dari upaya itu.
Dengan demikian, empat puisi tanpa Timur dapat dibaca sebagai titik patah dalam keseluruhan struktur buku. Ia adalah momen ketika bahasa berhenti bekerja, ketika subjek lirik tidak lagi mampu memanggil apa yang hilang. Namun, alih-alih menjadi kelemahan, justru di situlah letak kekuatan estetiknya bahwa penyair mengakui, ada bagian dari pengalaman yang memang tidak bisa diartikulasikan.
Pembacaan semacam ini menjadi semakin menarik jika kita kaitkan dengan konsep melankolia yang diperkenalkan Sigmund Freud. Ia membedakan antara kehilangan yang bisa diselesaikan (duka) dan kehilangan yang menetap sebagai luka terbuka (melankolia). Dalam duka, subjek perlahan melepaskan objek yang hilang dan melanjutkan hidup.
Namun dalam melankolia, kehilangan itu justru diinternalisasi menjadi bagian dari diri yang tidak pernah benar-benar pulih.
Timur dalam buku ini tampaknya bergerak dalam wilayah melankolia tersebut. Ia bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, tetapi juga tidak bisa dimiliki kembali. Ia terus muncul dalam bahasa, tetapi selalu dalam bentuk yang tidak utuh. Bahkan, pengulangan kata timur bisa dibaca sebagai gejala dari keterjebakan itu adalah sebuah upaya terus-menerus untuk menyebut sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada.
BACA JUGA : SASTRA| Jamet dan Stigma Orang Madura Lainnya
Lebih jauh lagi, ketidakhadiran Timur dalam empat puisi justru mempertegas kondisi melankolis ini. Dalam melankolia, ada momen ketika objek yang hilang tidak lagi bisa dikenali, bahkan oleh subjek itu sendiri. Kehilangan menjadi begitu dalam sehingga ia tidak lagi memiliki bentuk. Empat puisi tersebut bisa dibaca sebagai representasi dari momen itu ketika Timur tidak hanya hilang, tetapi juga kehilangan kemungkinan untuk disebut.
Dalam konteks ini, timur tidak lagi bisa dipahami sebagai entitas yang stabil. Ia adalah pengalaman kehilangan itu sendiri. Pada akhirnya, kekuatan buku ini terlihat pada bagaimana penyair mencoba bermain dengan tidak untuk menyelesaikan apa pun. Penyair tidak langsung memberikan jawaban pasti tentang siapa atau apa Timur itu. Justru, dengan membiarkan pertanyaan itu tetap terbuka, puisi-puisi disini mengajak pembaca untuk mengalami sendiri ketidakpastian tersebut.
***
1Stilistika adalah ilmu yang mengkaji fungsi artistik penggunaan bahasa dalam berbagai konteks.
Kumpulan Puisi : TIMUR DARI MASA LALU
Penulis : Toto ST Radik
Penerbit : Langgam Pustaka
Tahun Terbit : Maret, 2026
ISBN : 9786342511824
ISBN : 9796342511817 (PDF)